Bab. 12 Dibully Lagi

1244 Words
Chloe turun dari mobil Adam dengan wajah datar. Nyaris tanpa ekspresi. Blak! Ia membanting pintu mobil itu setelah melewatinya. "Thank you, Dad," ujar Chloe tanpa bersemangat. Kemudian ia balik dan dan hendak melangkahkan kakinya menuju Aberdeen High School tempatnya menimba ilmu. Namun, belum sempat menggerakkan kakinya menjauh. Tiba-tiba ucapan Adam menghentikan langkahnya. "Chloe," panggil lelaki berusia empat puluh tahun itu. Chloe pun segera menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya lagi. "Ada apa lagi, Dad?" "Daddy cuma mau mengingatkan kamu. Jangan terlalu keras mencari Sharon. Ingat juga dengan kesehatanmu," pesan Adam. Chloe tak menjawab. Ia malah menghembuskan nafasnya dengan berat. "Iya, Dad. Aku mengerti," jawab Chloe tak bersemangat. "Baguslah kalau begitu." "Jadi, ada yang mau Daddy katakan lagi?" tanya Chloe cepat. "Tidak. Tidak ada." "Ya, sudah. Kalau begitu Chloe masuk kelas dulu," timpal Chloe lalu membalikkan badannya lagi dan berjalan masuk. Adam tak langsung pergi. Ia malah menatap punggung Chloe yang kian menjauh. Chloe sendiri tau jika Daddy-nya masih berada di tempat tadi. Namun, ia enggan membalikkan badannya untuk sekedar melambaikan tangan dan mengucapkan sampai jumpa. Chloe terus berjalan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pikirannya kacau memikirkan Sharon yang tidak kunjung ditemukan. Padahal, ia sudah mencarinya hampir di seluruh penjuru kota Aberdeen. Namun, tetap saja ia tidak menemukan apapun tentang menghilangnya anjing-anjing itu. Di saat Chloe sedang berjalan gontai tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Lalu menyeret Chloe hingga ke belakang sekolah. Sampai di tempat sepi dan kumuh itu badan Chloe langsung dipepetkan di tembok sekolah. "Hello, losers," ujar Sarah dengan nada meremehkan. Dengan melipat kedua tangannya di depan d**a ia menatap Chloe dengan tatapan mengintimidasi. Sedangkan di kedua sisi Chloe, teman-teman Alice mencengkram lengannya dengan cukup kuat. Sedangkan Alice berdiri di belakang Sarah dengan ekspresi yang sama dengan mantan Damian itu. "Sarah. Sarah kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku, Sarah? Apa salahku?" ujar Chloe panik. "Tidak usah sok polos kamu ya? Jangan pikir wajah kamu yang culun ini bisa membohongiku. Karena aku nggak akan percaya sama kamu! Mengerti!" kata Sarah dengan nada tinggi. Sambil memegangi rahang Chloe dengan satu tangannya. "Sarah. Aku benar-benar tidak tau apa yang sedang kamu bicarakan. Tolong jelaskan padaku kenapa kamu seperti ini?" "Hahahaha." Alice tertawa garing sambil berjalan ke sisi Sarah. "Hei, losers ini sepertinya memang butuh sedikit penjelasan biar dia mengerti dengan apa yang kita katakan," ujar Alice memanasi suasana. "Sepertinya kamu benar Alice. Gadis pintar yang satu ini butuh sedikit penjelasan biar dia mengerti apa yang kita maksud," timpal Sarah sambil merenggangkan otot-otot di jari-jari kedua tangannya. Chloe yang sudah mengerti apa yang sebenarnya akan terjadi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak. Tidak Sarah. Aku mohon. Jangan apa-apakan aku. Aku benar-benar tidak tau apa yang kalian bicarakan." "Benarkah?" kata Sarah sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Chloe. "Iya, Sarah. Iya. Aku memang tidak tau apa yang kamu katakan itu. Tolong! Tolong percaya sama aku…." Plak!!! Satu tamparan keras mendarat di pipi Chloe, sampai-sampai pipi mulusnya tampak menimbulkan bekas tangan yang berwarna merah. "Hahaha." Bukannya iba. Mereka malah menertawakan Chloe tanpa perasaan. "Haha. Rasakan! Rasa sakit itu tidak sebanding dengan sakit hatiku. Karena putus sama Damian." "Apa?! Kamu putus sama Damian?!!" ujar Chloe bingung. "Heh?!! Nggak usah sok nggak tau ya kamu!!" bentak Sarah sambil menarik rambut Chloe dengan sekuat tenaga. "Aw. Aw. Sakit…. Sakit Sarah. Tolong lepaskan!" rintih Chloe terus memohon. "Lepaskan? Sakit ya? Aduh. Aduh. Aduh. Sarah sebaiknya kamu lepaskan saja dia. Kasihan lho," ujar Alice dengan ekspresi kasihan, tapi sesaat kemudian.... "Tapi sakit hatimu lebih kasihan lagi. Hahaha. Tarik aja rambutnya lebih kencang!" tambah Alice yang membuat Sarah semakin memperkuat cengkraman di rambut Chloe. "Aw. Aw. Sarah ampun. Sarah sakit!!! Sarah percaya sama aku. Aku benar-benar tidak tau kenapa kamu sampai putus dengan Damian. Tolong ampuni aku," rengek Chloe terus menerus. "Kamu tidak usah munafik. Aku tau apa yang membuatmu memilih masuk ke sekolahan elit ini. Kamu ingin selalu dekat sama Damian, kan?!" ujar Sarah dengan nada tinggi. Chloe tak menjawab, ia malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ayo, jawab!!!" teriak Sarah sambil menarik rambut Chloe lebih kencang lagi. "Aw. Sakit, Sarah. Sakit. Tolong lepaskan aku." "Sudahlah, Sarah. Sepertinya dia tidak akan mengaku kalau hanya dibeginikan. Kita harus bertindak lebih tegas agar mulutnya yang mungil itu mau terbuka lebih lebar lagi," saran Alice dengan nada penuh ancaman. "Tidak. Tidak!!! Jangan Sarah. Jangan!!" sahut Chloe sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dulu saat masih menjadi pacar Damian. Sarah tidak pernah membully Chloe seperti ini. Bahkan, mereka sempat berteman meskipun tidak terlalu akrab. Tentu saja karena saat itu Sarah mengira hubungan Damian dan Chloe hanya sekedar teman masa kecil. Namun, setelah mendapatkan hasutan dari Alice. Sarah jadi membenci Chloe dan menganggap Chloe adalah dalang dari putusnya hubungan dia dan Damian. "Maaf, Chloe. Karena kamu sudah benar-benar mengecewakan aku. Aku tidak punya pilihan lain," kata Sarah mantap. "Bawa dia!" titah Sarah pada kedua teman-teman Alice yang memegangi lengan Chloe dengan kuat. Mendengar perintah Sarah. Mereka berdua pun segera menyeret tubuh Chloe lagi. Dengan sekuat tenaga Chloe berusaha untuk melepaskan diri. Namun, saat ia hampir berhasil mengibaskan tangan teman-teman Alice. Mendadak Alice menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah disemprot obat bius. Tak butuh waktu lama. Tubuh Chloe yang semula berontak pun berangsur melemah dan akhirnya pingsan. Sehingga memudahkan mereka untuk menyeret badan Chloe ke tempat yang tidak pernah dibayangkan Chloe sebelumnya. Waktu pun semakin berlalu. Siang pun sudah berganti malam. Chloe yang tergantung di atas pohon mulai membuka matanya perlahan. Ketika Chloe sadar dia tengah digantung di atas pohon. Sontak Chloe kaget lalu menggerakkan badannya hingga gantungannya bergerak kesana-kemari. "Ehmpbb…..!!! Ehmmbbbb…!!!!" Chloe berusaha berteriak, tapi mulutnya disumpal oleh kain. Sehingga ia tidak bisa berkata dengan benar. "Ehmmbbbb!!!! Ehhhmmmmbbb!!" Chloe tetap berusaha keras untuk berteriak. Meskipun usahanya sia-sia. Chloe menatap ke sekeliling dan mencoba mencoba mengira-ngira dimana ia sekarang berada. "Hiks! Hiks! Hiks!" Seketika air mata Chloe menetes dengan deras. Ia baru ingat jika tempat ini adalah hutan belakang sekolah yang sering ditemukan hewan-hewan liar. "Aaauuuu….!!!" Tak lama kemudian terdengar suara anjing yang melolong dengan kerasnya. Chloe pun segera menggerakkan badannya agar ia bisa meloloskan diri. Kemudian pergi dari tempat ini. Namun, tetap saja tenaganya hanya terbuang percuma. 'Sharon! Sharon kamu dimana? Hiks. Hiks. Hiks. Aku takut. Hiks. Hiks. Hiks,' ujar Chloe dalam hati. Krek! Krek! Krek! Bunyi ranting dan daun-daun kering yang diinjak oleh seseorang. 'Siapa itu? Jangan-jangan ada orang jahat atau hewan buas? Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membuka ikatan tali ini,' batin Chloe sambil berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Karena Chloe terus bergerak, ranting yang menahan berat badannya patah. "Aaaa!!!" Brukkk! Mau tidak mau badan Chloe terjatuh di tanah. Chloe segera membuka ikatan tangan, kaki dan sumpalan di mulutnya. "Herrrrr…. Herrrr…." Suara hewan liar itu pun terdengar semakin mendekat. Diantara gelapnya malam di hutan itu, Chloe memundurkan badannya pelan-pelan. "Siapa disana?! Jangan ganguin aku! Hiks. Hiks. Hiks." Chloe menangis sambil terus memundurkan tubuhnya yang masih dalam posisi duduk. Bruk! Punggung Chloe pun menabrak pohon di belakangnya. Sehingga ia tidak bisa mundur lagi. Krek! Krek! Krek! Langkah kaki hewan itu semakin dekat, dekat dan dekat. Chloe pun semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, detak jantungnya berdegup kencang, sedangkan keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. "Jangan!!! Jangan mendekat!!!" teriak Chloe sambil mengibaskan tangannya ke depan. Berusaha menghalau. "Guk! Guk! Guk!" Suara hewan itu pun berada tepat di depan Chloe. Namun, mendengar suara yang sangat fenomenal itu. Chloe pun membuka matanya. Sedetik kemudian kedua mata belo itu membulat sempurna. "Sharon!" kata Chloe saat menatap sosok anjing yang tersinari cahaya rembulan dari sela-sela pepohonan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD