Episode 5 : Recovery

2111 Words
Sesore ini Genta sudah rapih akan berangkat ke rumah sakit. Mumpung hari ini libur, jadi ia akan datang hanya untuk menengok Kanika. Ia sudah janji akan menengok pada Bhima, namun sayang Bhima ataupun Bian tak ada satupun yang jaga hari ini karena gantian lagi dengan Mama. Ia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah dengan kemeja putih dan celana warna khaki lengkap dengan sepatu sneakersnya.   "Mau ke mana, Gen? Udah mau buka." tanya Gandhi--Papinya Genta. "Pamit dulu, Pi. Genta ada urusan, sekalian nengokin teman yang sakit sama buka di luar." sahutnya sambil membawa tas Tupperware berisi bubur juga pure buah naga merah, mirip makanan bayi. "Yawes, papi buka berdua sama mami mu aja." jawabnya lagi, Genta hanya tersenyum sekedarnya lalu keluar dari rumah setelah mengucap salam.   Ia memacu mobilnya dengan tidak begitu kencang. Ya gimana, jalanan sudah macet begini padahal masih jam 4 sore. "Ini orang pada mau ke mana sih?" gumamnya.   Jakarta sore hari memang selalu seperti ini. Tak kenal sepi, kecuali dini hari menjelang shubuh dan lebaran tiba. Setelah berkutak di jalan hampir satu jam lebih, Genta sampai di KMC. Ia turun dan berjalan masuk ke dalam sana dihiasi dengan tatapan yang tak lepas darinya.   Ya walaupun Genta terbilang baru di KMC, dia sudah punya fans yang antre untuk sekedar foto. Siapa lagi kalau bukan suster atau cecurut KMC yang masih bau kencur. Atau bahkan pasien ABG yang belum mau di periksa kalau bukan Genta yang datang.  Mata Genta menyipit sedikit begitu melihat seseorang yang akhir-akhir ini begitu familiar. Secercah senyum terbit di wajah Genta, ia menghampiri seseorang itu lalu menyapanya.   "Assalamualaikum, sore dr. Mai." sapanya sopan lalu mengulurkan tangan agar bisa mencium tangan beliau. "Wa'alaikumsalam. Eh kamu, nak Genta." sahutnya, mata Mama menyipit. "Jangan panggil dokter, tante kan nggak lagi kerja."   Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sambil terkekeh pelan. "Tante dari mana?" tanyanya. "Oh ini. Cari makan buat buka puasa, le. Kamu sendiri?" Mama malah bertanya balik. "Saya mau nengokin Kanika, tante. Bolehkan? Keadaannya gimana sekarang?" "Tadi pagi jahitannya rembes, jadi kemungkinan pulang besok atau lusa." jelas Mama. "Astagfirullah, kok bisa tante?" "Ya dia nggak bisa diam. Bosan lah, apa lah, ada aja alasannya buat segera pulang. Eh bukannya segera malah diundur,"   Genta tertawa pelan mendengar penuturan Mama. Ya, Kanika memang lain, ia super manja, apalagi dengan Mama dan Papanya.   "Ya udah yuk, Gen. Kita ke atas." ajak Mama, Genta mengangguk dan mengekor di belakang Mama. . . .   Ini sudah memasuki hari ketiga Kanika di rawat harusnya ia sudah bisa pulang, tapi tadi pagi jahitannya kembali rembes karena Kanika sendiri tidak bisa diam karena bosan lama-lama di ruang rawat. Mau tidak mau saat jahitannya tadi pagi merembes Kanika harus diam di bednya tidak boleh turun kecuali untuk ke toilet. Matahari mulai kembali ke peraduannya. Semburat jingga menelusup masuk dari sela-sela jendela kamar rawat yang nampak sepi ini. Mama sedang keluar membeli makanan untuk buka puasa dan tinggalah Kani seorang diri di sini, berdiam diri dengan bosan.   "Hhh, bosan." Kanika berusaha memejamkan matanya sebentar namun... "ASTAGFIRULLAH!" Kanika mengusap-usap dadanya. "Kenapa tiba-tiba dia muncul?? Astagfirullah,"    "Kenapa kamu jadi sering muncul di kepala saya? Kamu mau apa sebenarnya?" batin Kanika menatap jendela dengan tatapan kosong. Sudah beberapa kali memang, lelaki itu muncul dalam mimpi Kanika atau dalam lamunannya, lelaki yang tak lain adalah, Genta Daniswara.   Pintu terbuka. Mama datang.   "Ma, kok la--ma?" Kanika terbata begitu melihat seseorang yang muncul setelah Mama masuk. Ia bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali sambil hatinya merapal Istighfar. "Iya nih, tadi mama ketemu sama Nak Genta. Katanya dia mau ke sini, nengokin kamu, as a friend not a doctor." sahut Mama membuat Kanika menatapnya heran.   Mengapa semua orang di sini sepertinya berkonspirasi untuk mendekatkan dirinya pada Genta, hey?? Kenapaa?!!!   Mama yang paham situasi segera menaikkan posisi bed Kanika agar ia nyaman mengobrol dengan Genta. "Assalamualaikum?"  sapa Genta mendekat ke bed Kanika. "Wa'alaikumsalam." sahut Kanika pelan, ia masih mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Genta mencoba tersenyum. "Gimana keadaan kamu hari ini? Mama kamu bilang tadi sempat rembes lukanya? Padahal kemarin saya jahitnya sudah rapi lho." ujar Genta mencoba mencairkan suasana yang mendadak akward begini.   Kanika jadi bingung harus jawab yang mana duluan. Tapi ternyata, Genta ramah, Kanika jadi merasa bersalah karena menghindarinya kemarin-kemarin. Namun, menghindarnya Kanika bukan tanpa alasan, ia punya alasan kuat mengapa namun rasanya tak pantas bila diumbar sekarang.   "Saya udah ngerasa lebih baik kok. Cuma, ya, luka tadi pagi emang rembes aja karena saya banyak gerak." sahut Kanika pelan sambil menunduk ke arah perutnya, tak berani menatap Genta sama sekali.   Genta tersenyum, mencoba untuk memaklumi Kanika yang begini adanya. Tak masalah, toh jika mereka terlalu banyak bertatap mata akan menimbulkan Zina Mata, bukan?   "Alhamdulillah kalau gitu. Ini saya ada makanan buat kamu jangan makan yang keras-keras dulu ya." jelasnya, sambil meletakkan Tupperware yang dibawanya tadi. Kanika hanya mengangguk saja lalu tak lama kemudian, adzan maghrib berkumandang.   Mama segera mengajak Genta untuk membatalkan puasanya terlebih dahulu baru nanti mengobrol lagi. Mama juga menyiapkan makan Kanika, ia tahu, putrinya yang satu ini tak mau memakan makanan rumah sakit yang rasanya bisa dibilang oke namun semua serba kurang rasa.   "Dimakan ya. Mama buka dulu," ujarnya, Kanika mengangguk lalu menyuap sesuap bubur di sendoknya.   Enakkk! Lidah Kanika langsung sesuai dengan rasa yang ada di dalam mulutnya. Ternyata Genta juga jago masak, yaiya sih nggak salah karena dia juga lama tinggal di Belanda dengan Bhima, toh? Sampai separuh habis, Kanika memakan pure buah naganya dengan lahap. Genta yang sesekali memperhatikan curi pandang melihat Kanika makan dengan lahap sambil menonton televisi.   Ada rasa hangat menyeruak begitu ia melihat Kanika sangat menikmati makanannya. Ia juga tahu, rasa makanan di rumah sakit memang ya begitu adanya. Genta juga tadi sudah memasak dengan takaran yang pas agar tak ada rasa yang mendominasi di dalam masakan itu.   Kecuali rasa yang mendominasi dari aku buat kamu kan? Cieh. Uhuy...     Selepas maghrib, Genta masih berada di sana sembari menunggu Papa datang. Ia masih duduk di samping bed Kanika sambil sesekali mengobrol dengan Mama padahal di kepalanya sedang berpikir bagaimana caranya agar ia tak cepat pulang dan bisa mengobrol dengan Kanika. Genta merubah posisi duduknya menghadap Kanika yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya. Berselancar di dunia maya, mencoba mengalihkan sesuatu.   "Denger-denger dr. Nadia itu galak ya?" tanya Genta lagi-lagi mencoba mencairkan suasana. "Ah, nggak juga." jawab Kanika. "Cuma orang yang nggak kenal beliau yang bilang begitu." tambahnya. "Habis saya denger dari suster sama koas yang pernah stase Obsgyn sama beliau kayaknya galak ya?" "Beliau bukan galak. Coba bedakan mana tegas mana galak."   Skak.   Genta mengulum senyumnya. Sedangkan Mama hanya memperhatikan dari jauh sambil menonton televisi yang sedang menayangkan tayangan komedi di jam prime time seperti ini. "Gimana rasanya jadi bidan?" "Yaa sama kayak jadi tenaga kesehatan lain aja. Tapi sejauh ini aku bahagia jadi bidan, bahagia juga pas bayi yang di tunggu lahir sehat sempurna." sahut Kanika pelan. "Nggak semua orang bisa ya?" tanyanya, Kanika mengangguk. "Kamu pernah baper pas nolong ibu-ibu itu melahirkan? Atau karena di maki-maki sama pasien karena dia kesakitan?" "Yaa ada sih baper, dikit kok. Terus kalau di maki-maki atau di marahin ya risiko, terima aja. Walau kadang ada yang teriaknya sampai rambut suaminya di jenggut." "Hahaha saya pernah nemuin yang begitu dulu pas masih di Belanda. Ya suaminya harus siap jadi samsak sampai bayinya lahir." sahutnya, Kanika hanya tersenyum saja tanpa menatap Genta.   Menit berikutnya Papa sampai di ruang rawat Kanika. Beliau mengambil duduk di sebelah Mama setelah menghapiri putrinya dan Genta menyalaminya. Merasa sepertinya akward, Genta berusaha mengobrol dengan Papa. Yaa hitung-hitung sambil menyelam minum air, bisa saja setelah ini malah Papa yang menyodorkan Kanika untuk di jodohkan dengan Genta. Siapa tahu kan?   "Om suka olahraga apa?" "Kalau om sih olahraga outdoornya seneng golf, Gen. Kalau santai di rumah ya main catur lah sama Bian atau Bhima atau kadang juga Adrian." jelas Papa. "Oh, om suka golf ya? Wah kapan-kapan boleh om kita main bareng." ajak Genta. "Wah, boleh-boleh. Nanti ya kalau sama-sama ada waktu luang." Papa bersemangat, Genta mengangguk setuju.   Sampai tak terasa karena mengobrol terlalu lama ternyata sudah jam 9. Obrolannya dengan Papa juga Mama sudah kemana-mana karena Kanika sudah pulas tertidur setelah minum obat tadi.   "Om, tante, udah malam. Saya pamit pulang kalau gitu. Besok saya visit pagi-pagi." Genta bangkit dari duduknya berpamitan pada Mama dan Papa. "Makasi banyak ya nak Genta. Udah mau mampir dan nemenin Kanika ngobrol juga, walaupun ya dia masih kaku." sahut Mama kemudian. "Tante juga udah dengar dari Bhima soal niat kamu itu, semoga secepatnya ya? Niat baik nggak pantas di tunda lama-lama." "Om tunggu kamu di rumah ya." ujar Papa to the point membuat Genta tersenyum lebar. "Jadi, boleh om, tante?" tanyanya sekali lagi. "Nanti kami bicarakan lagi ya." putus Mama.   Genta mengangguk seraya mengucapkan terimakasih dan menyalami Mama juga Papa sebelum ia berlalu meninggalkan ruang rawat Kanika dengan hati yang senang walau sempat muram karena Kanika masih kaku.     Genta sampai di rumah pukul 10 malam, jalanan Jakarta masih saja macet apalagi dekat pintu masuk salah satu mall yang bisa memakan waktu setengah jam untuk berada stuck di situ. Setelah si putih terparkir sempurna di carport, Genta segera turun dan masuk ke rumah lewat pintu penghubung. Masih terang, di ruang tengah juga masih ada Mami yang tengah menonton.   "Dari mana kamu?" tanya Eva-- Maminya Genta begitu melihat anaknya ada di tangga, hendak naik ke lantai dua. "Mami kok blm tidur? Papi mana?" Genta bertanya balik. "Kamu dari mana?" tanya Mami lagi. "Dari luar aja, mi. Biasa," sahutnya santai. "Dari sebelum buka sampai jam segini?" "Ya biasanya juga gitu kan, Mi?" "Mami curiga? Kamu udah punya pacar?" Mami menatap Genta penuh curiga sambil memicingkan mata. "Pacar apaan sih, mi? Nggak kok," elaknya. "Terus? Kenapa nggak ada cerita? Anak siapa?" Mami terus mencecar Genta bertubi-tubi. "Ya Genta juga biasa pulang jam segini kok, mi." "Dokter juga?" "Mami, please?" mohon Genta jengah. "Kamu? Nggak ada main kan, Genta?" "Astagfirullah! Astagfirullah. Nggak mami! Sumpah demi Allah nggak, mi." sahut Genta mulai frustasi. "Terus apa? Ceritakan detail."  Genta menarik nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Maminya ini. "Genta habis main terus jenguk teman Genta yang sakit. Udah itu aja,"   "Siapa yang sakit? Bagus Genta, sekarang udah nggak pernah terbuka sama Mami." ujarnya kecewa. "Teman Genta, mami nggak kenal. Kan mami nggak pernah nanya sejauh ini, kan? Baru kali ini kayaknya mami kepo sama Genta dan care?"   Eva terdiam. Dulu, Genta memang selalu terbuka dalam hal apapun pada Mami dan Papinya. Namun sayang, Maminya bahkan lebih asik memandangi ponsel, membaca curhat teman-teman arisannya di bandingkan mendengarkan anaknya yang bercerita. Merasa tak di tanggapi, karena terjadi bukan satu dua kali, Genta memilih diam dan memendam semua yang ia rasa sendiri. Termasuk soal ia suka pada Kanika.   "Terserah lah. Udah gede juga." jawab Mami seolah tak peduli lagi.   Genta mengernyit dalam mendengar kata-kata dari mulut Maminya. "Lagian, mami kenapa nanya-nanya? Tumben? Biasanya mami cuek aja." "Ya mami kan, pengen tahu." Genta mendesah lelah. "Sudah mi, genta capek. Mau istirahat," Genta meninggalkan Mami yang mematung di tempatnya dan segera masuk ke kamarnya. "Genta pulang, mi?" tanya Papi tiba-tiba ada di sampingnya. "Iya udah." sahut Mami pendek lalu duduk kembali di sofa. "Terus kenapa tadi kayak ribut-ribut gitu?" "Mami curiga deh, pap. Dia udah punya pacar kayaknya." "Pacar? Siapa?" "Nggak tahu." Mami mengedikkan bahunya. "Ya udah. Biar aja kalau dia udah punya. Emang kenapa?" "Mami kan kepo!" "Kamu lho mi.. mi.. giliran anaknya cerita kamu iya iya aja, sibuk sama hape. Giliran gini, kepo, nggak di jawab marah. Piye toh?" "Udah lah, pap." "Jangan gitu, mi. Terus kamu curiga apalagi sama Genta?" "Main cewek tuh anakmu!" "Astagfirullah!! Mami?" "Habis, wangi parfum cewek." "Ya kali aja dia habis jalan-jalan sama temen kerjanya. Curigamu berlebihan mi sampek segitunya, Genta nggak sejahat itu mainin cewek."  "Iyaa, oke oke!" "Kalau dia udah punya pacar, terus kamu mau apa?" "Pengen tahu lah! Pacarnya siapa, bibit bobot bebet. Minimal sesama dokter okelah," "Pahitnya. Kalau bukan dokter? Kamu mau apa? Kalau keluarganya biasa aja kamu mau apa?" "Ya lihat dulu anaknya gimana?" "Yakin kamu nggak bakal misahin mereka?" "Udahlah pi lihat nanti aja." "Selalu, menghindar. Ckckck, Eva.. Eva. Kayaknya dulu kamu yang nggak setuju deh, Genta jadi dokter. Karena pusing mikirin siapa yang jalanin perusahaan kalau kita udah nggak ada. Terus sekarang pengin mantu dokter? Sumpah serapahmu mau di kemanakan?" repet Gandhi panjang lebar membuat istrinya jengah. "Papi udah deh! Ngomong sama kamu tuh gini! Nggak ada solusinya! Kalau anak kita dapat cewek matre gimana, pap?" "Perempuan itu nggak ada yang matre, Eva. Itu namanya realistis selagi mereka mempergunakan uang dari Suaminya untuk keperluan rumah tangga, apa itu di sebut matre?"   Skak.   Eva terdiam dan lebih memilih meninggalkan Suaminya sambil misuh-misuh masuk ke dalam kamarnya.   ❤️❤️❤️❤️❤️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD