Episode 6 : Manja

1861 Words
Pagi ini giliran Genta dan dr. Agung visit setelah sekian banyak pasien kini giliran Kanika. Entah kenapa semenjak Genta menjenguknya weekend kemarin ada perasaan yang tidak bisa di deskripsikan oleh Kanika sendiri. Ia juga tak paham ada apa dengan perasaannya. Kemarin sebelum ada Genta ia tak pernah merasakan jantungnya berdegup tak karuan seperti itu kalau bukan sedang di marahi Mama Nadia saat dirinya melakukan kesalahan. Hanya saja, pipinya tiba-tiba bersemu merah saat Genta mulai berbicara dan itu salah satu alasan mengapa Kanika enggan menoleh saat berbicara dengan Genta. Maklum, selama ini Kanika juga tidak pernah pacaran. Bahkan dekat dengan seseorang yang potensial untuk diajak ke pelaminan saja tidak ada. Jadi wajar saja jika Kanika sulit membedakan antara deg-degan karena di marahi Mama Nadia atau deg-degan karena jatuh cinta?   Dan Kanika mulai bosan di ruangan ini terlalu lama, ia sudah mulai rindu untuk bercengkerama dengan para bayi-bayi mungil nan lucu di poli Obsgyn. "Permisi, dokter visit." ucap seseorang yang kini Kanika mulai hafal nada bicaranya. "Eh, dr. Genta, dr. Agung. Mari masuk." ujar Mama begitu menyadari keduanya dan mengakhiri sesi baca Qur'an nya, sedang Kanika, ia berusaha tak peduli. "Pagi dok. Kemarin sempet denger katanya jahitannya Kanika rembes?" tanya dr. Agung seraya mendekat ke bed Kanika dan Genta mengekor di belakangnya. "Ah itu. Iya dok, biasa pecicilan nggak bisa diam tapi udah nggak apa-apa kok." sahut Mama, Kanika masih diam saja.   Dr. Agung ber-oh ria dan kini beralih pada pasien yang bersangkutan yang sejak tadi hanya diam tak ada senyumnya. "Kani, how do you feelin'?" tanyanya.   "Biasa aja, dok. Kapan saya boleh pulang? Katanya kalau jahitannya udah nggak rembes lagi saya boleh pulang?" sahut Kanika setenang mungkin. "Oke, saya cek dulu ya," dr. Agung langsung mengecek Kanika, di bantu Genta yang sepertinya hari ini tak banyak bicara. "...ini jahitannya sudah bagus lagi ya. Sejauh ini belum ada pendarahan seperti hari minggu kemarin, kan?" tanyanya, Kanika hanya menggeleng saja. "Jadi boleh pulang, kan, dok?" pinta Kanika sekali lagi sambil melirik Mamanya minta pertolongan agar di izinkan pulang juga. "Kita lihat sampai sore ya? Nanti dr. Genta gantian visit sama saya, saya harus ke rs lain soalnya."   Kanika memutar matanya jengah. Sungguh ia bosan tak bisa melakukan apa-apa seolah lemah tak berdaya. Hhh.   "Bisa nggak, nggak usah nunggu sore, dok? Saya udah bosen!" ujar Kanika membuat Mama ikut kaget juga. "Kanika!"   Kanika lantas menengok ke arah lain, ia tak peduli dengan dua dokter di hadapannya yang tengah terkaget-kaget dengan reaksi Kanika barusan.   "Aduh, dokter, maaf ya. Biasa Kanika kalau sudah badmood begini. Maaf sekali lagi," ucap Mama meminta maaf.   Dr. Agung mengangguk paham sekaligus maklum, sedang Genta hanya tersenyum canggung saja. "Ya nggak apa-apa dr. Mai. Saya paham, daripada nanti nggak bagus buat psikis pasien juga dan malah nggak sembuh-sembuh, nanti siang Kanika saya perbolehkan untuk pulang." jawab dr. Agung akhirnya menuruti permintaan Kanika. "...tapi tetap rehat di rumah ya, sampai jahitannya benar-benar kering dan 3 hari lagi check up ya." pesannya, yang di amini oleh Mama. "Terimakasih banyak, dr. Agung, dr. Genta. Saya akan pastikan kalau Kanika nanti akan terus check up sampai sembuh." sahut Mama.   Kedua dokter itu pamit keluar dari ruang rawat Kanika. Namun seolah tak ingin beranjak, Genta terus saja mencuri pandang pada Kanika yang terus melihat ke arah jendela. Saat sudah di ambang pintu pun Genta masih melihat Kanika dari celah jendela lalu seperti kembali dalam kesadaran penuh begitu mendengar dr. Agung memanggil, Genta lantas beristighfar.   "Astagfirullahaladzim, hhhh." gumamnya sambil berjalan meninggalkan lantai VVIP ini dan kembali menuju bangsal umum di lantai sebelumnya.     "Kamu kenapa sih, dek? Kok jadi gitu sama dr. Agung?" tanya Mama heran mengapa anaknya jadi galak begitu, Pms kah? "Nggak apa-apa. Adek ya bosen mam, mama paham kan kalau pasien lama-lama di rs juga mempengaruhi psikisnya?" "Iyaa, mama paham. Amat sangat paham, tapi bisa kan kamu turuti dulu? Toh, sore nanti juga bisa pulang." sahut Mama lagi.   Malas berdebat, Kanika memlih diam tak menyahuti Mama lagi. Ia ingin pulang siang ini dan tak ingin menunggu hingga sore seperti saran dr. Agung sebelum akhirnya beliau mengizinkan Kanika pulang siang nanti. Sementara di bawah, setelah selesai visit Genta sedang menemani pasien ciliknya di bangsal Anak. Kegiatan rutinnya setiap hari sebelum jam buka poli di mulai. "Dinar nggak takut deket-deket Om terus emangnya?" tanya Genta pada anak lelaki di depannya ini. Usianya baru 5 tahun, ia mengalami masalah pada paru-parunya yang menyebabkan dirinya harus bergantung pada inhaler setiap kali kambuh. Asma akut. Tapi sudah sejak Jumat lalu Dinar di rawat lagi karena asmanya kambuh dan sabtu-minggu kemarin ia selalu mencari Genta karena Genta menenangkannya saat colaps dan masuk UGD kemarin. "Nggak, Om, kan baik. Dinar suka main sama Om, makasi ya hadiahnya." ujar Dinar tulus, ya Genta membawakannya mainan mobil-mobilan Hot Wheels untuk Dinar.   Genta tersenyum mendengar ucapan Dinar, meskipun masker oksigen masih terpasang namun ia tetap ceria seperti sekarang. Genta juga tahu kalau ini berat untuk Dinar, di usianya yang harusnya sedang aktif bermain dan bereksplorasi dengan teman seusianya tapi Dinar justru terhalang asma akutnya yang akan kambuh bila ia kelelahan seperti kemarin.   "Lucu kali ya punya adik." batin Genta. "Tapi lebih lucu dan senang lagi punya anak sendiri, haha." batinnya lagi.   Yaa, di saat teman-teman kuliah dan SMA nya sudah ada yang menikah dan memiliki anak, Genta masih mengejar gelar spesialisnya. Bahkan Bhima saja sudah menikah, kini punya dua anak, sedang Genta? Menyatakan perasaannya ke Kanika saja dia takut! Bagaimana mau punya pasangan? Genta melirik jam tangannya, setengah jam lagi ia harus masuk ke ruang operasi, asisten setia dr. Agung dan nanti setelahnya ia baru akan visit terakhir sebelum Kanika pulang. "Dinar, Om Genta kerja dulu ya? Obatnya diminum biar cepet sembuh, nanti sore Om ke sini lagi, oke?" pamitnya pada Dinar. "Oke, Om! Nanti ke sini lagi ya?" tatapnya penuh harap pada Genta.   Genta mengacak rambut Dinar sambil mengangguk dan tersenyum lalu pamit keluar dari sana.     "Mama, kapan adek keluarnya? Bosen," rengek Kanika sekali lagi, hari sudah semakin siang namun belum ada tanda-tanda ia bisa pulang hari ini juga. "Sabar," sahut Mama lagi untuk yang ke sekian kalinya mengatakan kata sabar jika Kanika merengek hal yang sama. "Iihh mamaaa,"   Mama meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Mengisyaratkan Kanika untuk diam tak merengek lagi minta pulang dan membuat Kanika semakin memajukan bibirnya dengan kesal. Tak lama ada suara pintu terbuka, Kanika masih memunggungi Mama. Mama menyambut seseorang itu, seseorang yang sudah tak asing untuk Mama sekarang.   "Kanika masih ngambek, tante?" tanya Genta begitu melihat Kanika masih saja seperti tadi pagi. "Yah, begitulah. Dia kalau badmood, maklumi ya?" bisik Mama sambil mengelus punggung Genta. Genta tersenyum. "Nggak apa-apa, tante. Oh iya, Kanika boleh pulang. Tadi dr. Agung sudah serahkan semuanya ke saya, resep obat sudah ada nanti diantar ke sini." jelas Genta, Mama tersenyum. "Terimakasih ya, nak." ucap Mama tulus. "Sama-sama, tante. Oh iya, tante pulang sama siapa? Di jemput Om Hardi atau Bhima?" tanya Genta. "Kayaknya naik taksi aja. Pak Amir lagi nemenin Om Hardi meeting di Bogor," sahut Mama. "Oh kalau gitu saya anter pulang ya, tante?" tawar Genta. "Nggak usah, kamu masih ada jadwal kan?" "Udah selesai tante, ini terakhir kok. Saya anterin ya?" tawarnya lagi sambil merapal dalam hati agar Mama Mai tak menolak tawarannya.   Mama terdiam sejenak melirik Kanika yang mulai bangun dan terduduk di bednya, infus sudah di lepas sejak tadi atas permintaan Kanika. "Kalau nggak merepotkan ya boleh," jawab Mama akhirnya.   Genta tersenyum, akhirnya.   Sementara Mama beres-beres, Genta dengan sigap mengambilkan kursi roda. Setelah beres dan obat sudah di antar Kanika berpindah duduk dan siap untuk ke mobil. "Yuk, pegangan mama." Mama mengulurkan tangannya dan membantu Kanika untuk duduk di kursinya.   Ada rasa canggung melingkup di hati Kanika sejak tadi. Kenapa pula Genta repot-repot mengantarnya dan Mama untuk pulang padahal mereka bisa pesan taksi online atau taksi di lobby rs yang berjajar banyak. Kanika diam saja hingga sampai di parkiran. "Kamu duduk di depan ya dek? Temenin Nak Genta," ujar Mama. "Nggak mam, adek duduk di belakang aja. Mama aja yang di depan," Kanika menatap Mama. "Yawes," Pintu mobil sudah terbuka, Kanika masuk dengan menahan perih yang tiba-tiba datang menyerang lukanya. "Shhh," desisnya begitu berhasil duduk. "You okay?" tanya Genta sebelum menutup pintu, Kanika hanya mengangguk saja, lalu Genta menutup pintunya dan mereka segera keluar dari area rumah sakit.   Sepanjang perjalanan yang tidak seberapa lama itu, Mama dan Genta berbicara cukup banyak. Menyangkut pekerjaan tentunya walau kadang menyerempet ke arah Kanika yang membuat Kanika manyun di belakang sana sambil ngedumel. "Ih mama apaan sih. Adek nggak manja!"  kesalnya dan membuat dua orang di kursi depan tertawa.   Sampai akhirnya mereka tiba di rumah, Mama sudah menelepon Bik Sum agar stand by di teras untuk membantunya membawa tas Kanika. Seperti tadi Kanika harus turun dan berjalan pelan-pelan untuk bisa sampai ke dalam rumah, cekit-cekit lukanya masih terasa jika terlalu banyak gerak.   "Hhh, kayaknya adek operasi usus buntu deh, ma. Bukan operasi caesar!" protesnya begitu sudah duduk di ruang tamu. "Ya tapi tetep aja dek, mau lukamu rembes lagi kayak kemarin?" ancam Mama. "Ya habis?" "Habis apa?" Mama membalik pertanyaan, Kanika terdiam di saksikan Genta yang tersenyum geli menyaksikan interaksi Ibu dan Anak ini.   Jadi iri.   Genta segera mengenyahkan pikiran itu. Sepertinya ia harus segera pamit dari sini sebelum semakin iri. "Tante, saya permisi ya?" ujar Genta. "Lho, nggak buka puasa di sini aja?" "Nggak usah tante, masih lama lagian. Kapan-kapan aja insha Allah saya ke sini lagi." tolaknya halus sambil membatin. "Ya, datang dengan orang tua saya sekalian." "Yah, padahal tante mau masak lho habis ini sama Jasmine dan Jihan. Tapi nggak apa, next time buka puasa di sini ya?"   Genta mengangguk mengiyakan ucapan Mama, lalu mencium tangannya sambil pamitan. "Makasi banyak ya," "Iya tante, sama-sama." sahutnya lalu ia menoleh ke kanan dan melihat Kanika sedang menonton televisi. "Kanika, saya pamit dulu." ucapnya, Kanika menegang dan menoleh. "Makasi udah antar kami pulang." ujarnya pelan masih enggan menatap Genta. Genta mengulum senyumnya. "Saya..., Pamit tante, Assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam,"   Tak lama setelahnya Genta menghilang di balik pintu. "Adek, kamu kenapa sih? Mama perhatikan kamu kalau bicara sama Genta nggak mau lihat wajahnya? Nggak sopan, dek!" Kanika memutar matanya jengah. "Ya adek nggak suka aja, mam. Sok kenal gitu," gumamnya. "Ya diakan temannya masmu, wajar dong dekat juga sama mama?" Mama membela Genta. "Ish, mama! Yang anak mama adek apa dia sih? Kok mama jadi belain dia?" repet Kanika, Mama hanya menggeleng saja. Mama tertawa kemudian. "Hahaha kamu ini dek, dek. Dulu juga pernah ketemu waktu masmu di Belanda." "Ya tapi kan lain, mam! Nggak tahu kenapa jadi risih di lihatin kayak gitu, makanya adek nggak mau lihat dia kalau lagi ngomong." "Risih atau karena pipi kamu jadi merah tiap kali denger suara Genta?"   Skak. Kanika terdiam. "..mama tahu lho dek. Mama tinggal sama kamu bukan baru satu dua hari, tapi udah bertahun-tahun dan Mama paham, mana risih, mana kamu malu-malu tapi mau."   Glek.   Kanika menatap Mama dengan sebal. Bisa-bisanya anak sendiri diledekin begitu. "Jahat mama, mah! Anak sendiri di bully," "Ya kamu lho dek," Mama menggantung kalimatnya. "Udah ah, mama mau masak sama mbakmu buat buka puasa. Yang nggak puasa nggak dapat jatah bubur jagung." ujar Mama sambil berjalan ke arah dapur. "Ih mamaaaa, ari jahat si mamah teh!!" protesnya, Mama malah cekikikkan di dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD