Emma kembali menenggak minumannya, hingar bingar Club menjadi tempat menumpahkan kekesalannya pada Douglas.
Dia merasa kecewa dan juga merasa bodoh. Dasar pria bodoh, bjingan arogan mata keranjang. Makinya terus menerus. Emma mencoba berbaur dengan orang-orang di lantai dansa, menari bersama beberapa pria.
“Sweetheart, kau disini?” sapa seseorang menepuk bahunya ketika Emma sedang asik menari dengan seorang pria.
Emma membalikan tubuhnya dan menjerit senang. “Dorian..! Ya Tuhan, kau tampan sekali” kata Emma terkekeh memeluk tubuh Dorian. “kau kemana saja?”
Dorian mengendus Emma dan mengernyitkan hidungnya. “Kau mabuk sweetheart, biar ku antar pulang.”
“Aku tidak mabuk Dorian, aku tidak mau pulang! Aku masih mau disini!” rengek Emma kembali duduk dan memesan minuman lagi.
“Kau harus pulang Em, ini sudah larut malam” Dorian berkata.
“Kau tak ingin membuat Blackwood mengamuk seperti waktu itu bukan?” lanjutnya
Emma mendengus “si tuan arogan itu sedang tidak di rumah, dia sedang bersenang-senang dengan salah satu kekasihnya, naik kapal pesiar, berkeliling-keliling” jawab Emma sinis lalu tertawa tertahan-bahak.
“Ah. Aku mengerti sekarang, kau mabuk-mabukan karena dia meninggalkanmu sendirian.” goda Dorian.
“Terserah kau sajalah ” jawab Emma ketus membuat Dorian terbahak dan semakin yakin akan dugaannya.
“Jangan katakan kau mulai jatuh cinta pada pria seksi itu.” goda Dorian lagi.
“Tidak.. tidak.. tidak” seru Emma.
“Yeah, memang sebaiknya begitu” jawab Dorian tetap tak percaya.
“Apa maksud mu?” Emma mengernyit bingung
“Kau tahu sweetheart, kau terlalu muda dan lugu untuk seorang Blackwood” ucap Dorian menahan tawa saat melihat wajah geram Emma.
“Lagipula, selama ini, pria itu selalu berkencan dengan wanita dewasa bukan dengan gadis – gadis seusiamu” lanjutnya
“Memangnya kenapa dengan gadis seusiaku?” Tanya Emma ketus.
“Jangan karena usia kami muda, lalu kalian para pria berpikir bahwa kami tak bisa memuaskan hasrat kalian!” Desisnya.2
Dorian melihat Emma mengepalkan tangannya dan meraih minumannya, menenggaknya dengan kasar membuat Dorian tersenyum lebar. Sepertinya dia mengerti mengapa gadis itu terlihat gusar.
Emma terus menenggak minumannya walau Dorian sudah berusaha mengingatkannya.
“Ayolah princess, kita pulang sekarang” bujuk Dorian yang merasa khawatir dengan kondisinya.
Emma meletakan gelasnya yang sudah kosong dan berusaha berdiri tapi tubuhnya terasa limbung, semua terasa berputar. Dorian menangkap tubuh emma yang akan terjatuh dan menggendongnya keluar.
^^^
Emma mengerang, kepalanya terasa berat sekali. Rasa mual membuat dia cepat-cepat bangkit dan lari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perut nya. Entah sudah berapa gelas minuman beralkohol yang dia tenggak semalam, itu adalah kali pertamanya dia mabuk.
Emma menyandarkan tubuhnya di wastafel kamar mandi, menggosok giginya dan mencuci wajahnya lalu melepaskan pakaiannya. Kepalanya masih terasa berdenyut sakit.
Dengan tubuh telanjang Emma berjalan gontai kembali ke kamarnya, langkahnya terhenti saat dia melihat Douglas duduk di sofa menatap kearahnya dengan tatapan tajam. Di hadapannya tersedia sarapan pagi.
Emma menelan ludah dengan susah payah, tubuhnya lemas dia bisa melihat aura kemarahan dari Douglas. Dengan menahan malu Emma berjalan perlahan menuju lemari pakaiannya dan menarik salah satu jubah untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Emma membalikan tubuhnya, menunggu Douglas bicara, dilihatnya pria itu masih menatap tajam kearahnya, membuat Emma salah tingkah.
“Duduklah, makan sarapanmu lalu minum obatnya. Setelah itu aku ingin bicara denganmu ” Kata Douglas berjalan keluar.
Emma sarapan dengan lahap, entah kenapa tiba-tiba selera makannya kembali lagi. Dia makan banyak, mempersiapkan dirinya untuk nanti saat dia berhadapan dengan Douglas.
Douglas datang kembali ke kamar nya, setelah Emma selesai makan dan berganti pakaian.
Pria itu terlihat sangat dingin membuat Emma sedikit gemetar. Pria itu melempar sebuah tabloid yang halaman depannya terdapat foto-foto dirinya tadi malam sedang menari dengan beberapa pria dan foto dirinya tengah digendong oleh Dorian.
Emma mengerang ngeri, dia tak menyangka akan menjadi santapan gosip para paparazzi. Emma melirik kearah Douglas yang menatapnya tajam dan sinis.
“Apakah kau biasa bertingkah seperti itu?.” tanyanya tajam.
“Mabuk-mabukan dan pulang dalam pelukan seorang pria?”
Emma menggertakan giginya “jaga ucapanmu Mr. Blackwood”
“Kenyataannya memang begitu Ms. McGrath” potong Douglas tajam.
“Kau bicara seolah-olah aku seorang jalang dan kau seorang yang suci” tukas Emma geram.
“Dengar Mr. Blackwood, aku tidak seperti wanita-wanita jalang yang sering terlihat bersamamu, aku hanya menari di Club dan diantar pulang oleh sahabatku”
“Kita berdua tahu, aku bukan orang yang suci, dan tahu apa kau tentang wanita-wanitaku, heh?” Tanya Douglas tajam, mencengkram tangan Emma erat, menarik tubuh gadis itu hingga membentur dad* bidangnya.
Ekspresi terkejut terpancar di wajah Emma. “Siapapun tahu wanita seperti apa teman kencanmu!” desis Emma
Douglas terkekeh. “Yang pasti, wanita yang kukencani bukan seorang pembangkang, mereka sangat patuh padaku dan tidak kekanakan seperti seseorang yang kukenal”
Emma menggertakkan giginya, tapi lalu mencoba menahan emosinya. “Tipe yang membosankan” dengus Emma mencoba untuk tak terpengaruh oleh ejekan pria itu.
“Dan tentu sudah matang” lanjut Douglas seraya menatap tubuh Emma dengan tatapan mencemooh.
Kali ini dia tak mampu lagi membendung emosinya.”b******k kau!.” Seru Emma kesal, dia mencoba memukul Douglas namun kalah cepat dengan Douglas yang mampu mengantisipasi pukulannya.
Douglas memiting kedua tangan Emma ke belakang lalu mendorong dan menghimpit tubuh gadis itu ke dinding.
“Kau benar-benar harus diberi pelajaran agar bisa lebih mudah dikendalikan” bisik Douglas ditelinga Emma.
Douglas mengangkat kedua tangan Emma keatas, tubuhnya menekan tubuh Emma yang sedari tadi terus meronta berusaha melepaskan diri.
Douglas melepaskan dasinya dan mengikatkannya pada pergelangan tangan Emma lalu menahannya dengan satu tangannya.
Emma meronta mencoba melepaskan ikatan dasi di tangannya, lalu dia mendengar suara sobekan kain, Emma memutar kepalanya dan perasaan ngeri menghinggapi dirinya saat dia melihat gaunnya sudah di sobek oleh Douglas, hanya menyisakan bagian depannya saja.
Emma terus memaki Douglas tapi pria itu seolah tak peduli. Pria itu menekankan tubuhnya ke tubuh Emma
“Lepaskan aku, b******k!.” teriak Emma
Douglas terkekeh, tangannya yang bebas menahan pinggul Emma, bibirnya mengecup bahu gadis itu. Tangannya menyusuri bongkahan bkong Emma, meremasnya kuat membuat Emma meringis.
“Kau tahu little girl, hukuman apa yang selalu daddy beri pada gadis kecilnya saat mereka berulah?” bisik Douglas
“Pergi kau ke neraka!” desis Emma.
Douglas meremas kuat bkong Emma, menggigit kecil bahunya. Emma menjerit kencang saat Douglas menampar bkongnya, rasa perih dan panas menjalar membuat Emma meronta tapi Douglas terus menahan tubuh Emma, menc*mbu lehernya.
Emma kembali menjerit saat Douglas menampar bkongnya lagi lalu membelai bekas tamparannya dengan lembut.
“b******k kau Douglas, bjingan!” teriak Emma.
Douglas mengangkat tubuh Emma menurunkannya diatas ranjang membalikan tubuh gadis itu hingga telungkup dan mengikat tangannya di kepala ranjang. Kaki Emma menendang -nendang saat Douglas duduk diantara kedua kakinya yang terbuka lebar.
Douglas mengangkat bkong Emma, menarik tali G-string Emma dengan kasar hingga terputus.
Tangannya menahan bkong Emma. Emma mendesah, wajahnya merona saat dia bisa merasakan dengus nafas Douglas didepan kewanitaannya, tangannya mengepal erat saat ujung lidah Douglas terjulur membelai kewanitaannya. Emma mengigit bibirnya mencoba menahan erangan yang nyaris keluar dari mulutnya.
Lidah Douglas terus menbelai inti Emma, tangannya meremas bkong gadis itu. Lidahnya menjilati hingga keatas, kesepanjang punggungnya.
Tangannya membuka kaitan bra Emma dan menyingkirkannya ke samping, meraih gundukan payudra gadis itu, mencubit putingnya. Sementara mulutnya sibuk menc*mbu tubuh Emma.
“Kau suka itu little girl?, nikmat bukan?” bisik Douglas meneruskan aksinya dengan lebih kasar saat mendengar Emma mengerang nikmat.
“Please… please… Ohhh Tuhan.. aaahhh” jerit Emma keras saat meraih pelepasannya, tubuhnya berguncang liar, otot-ototnya mengencang, nafasnya terengah.
Tubuh Emma lemas dengan tangan masih terikat, Douglas melebarkan kaki Emma dan kembali menjilati inti Emma yang basah, menghisap habis sisa cairannya membuat tubuh gadis itu kembali gemetar karena terbangkitkan lagi gairhnya
Douglas bangkit bertumpu pada kedua lututnya, melepaskan celananya dan memposisikan dirinya diluar liang kewanitaan Emma. Dia menggesekan miliknya naik turun di inti gadis itu. Emma mendesah dan terengah menahan nikmat, miliknya kembali basah.
Douglas bangun mencengkram erat bkong Emma menahannya hingga tubuh Emma terdorong maju. Douglas menekan kepala kjantanannya di liang Emma, medorongnya sedikit, Emma memekik pelan nafasnya tercekat tangannya mencengkram erat dasi yang mengikatnya, gairhnya kembali bangkit.
Douglas mengerang saat merasakan sempitnya milik Emma, Dia bergerak maju mundur dengan perlahan, meremas dan menampar bkong gadis itu lalu menghujamkan miliknya dengan cepat dan kasar.
Emma menjerit lantang penuh kesakitan. Seketika kesadaran menyergap Douglas, dia berhenti bergerak, tubuhnya membeku
“s**t!. s**t!. Ohhh Tuhan.. Kau perawan!” maki Douglas. Didengarnya gadis itu terisak menahan tangis.
Ya, Tuhan. Apa yang sudah dia lakukan. Erangnya kesal.
^^^