Zahira membuka matanya perlahan ketika sinar matahari masuk memenuhi sudut-sudut kamarnya. Tebalnya gorden berwarna putih tulang nyatanya tak bisa menghalangi cahaya itu masuk ke dalam ruangan. Zahira terbangun masih lengkap dengan dress yang dikenakan saat makan malam bersama keluarga Rafael semalam. Zahira menyibakkan selimutnya, entah siapa yang menyelimutinya karena semalam ia menangis sampai ketiduran. Namun, Zahira baru saja ingat jika Laras sudah pulang ke apartemen. Zahira melirik jam weker di atas nakas, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Zahira beranjak dari duduknya kemudian masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Ingatan Zahira berputar pada kejadian semalam. Hati Zahira merasa teriris, air mata kembali menetes membasahi pipi mulusnya. Ia menatap kaca dan tentu saja matany

