Part 8

1836 Words
"Dira …," lirih Marcel. Berjalan mendekati Nadira yang termangu melihat jenazah sang ibu, yang kini tertutup kain putih. Hilang sudah tempatnya pulang dan mengadu, bersamaan dengan kakunya jasad sang ibu. Nadira yang sedari tadi tidak pernah memutuskan tatapannya dari jenazah sang istri ibu akhirnya menoleh ke arah suara pria yang menyapanya. "Kak … mama …" Gadis itu mulai terisak. Setelah cukup lama berusaha menelan tangisannya, kini tangisan itu kembali keluar. Tercurah begitu saja di dalam pelukan Marcel, yang beberapa detik lalu memeluknya. "Maafkan aku yang telah lalai menjaga kalian," lirih Marcel. Semakin mengeratkan pelukannya pada Nadira. Ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang menimpa Nadira saat ini. Seandainya Marcel bisa lebih cepat dan tidak ceroboh dengan meminta sang ibu yang membawa Nadira dan ibunya pergi, tentu saja semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Belum lagi Marcel juga harus menghadapi kenyataan bahwa ibu kandungnya setelah ini akan kehilangan satu kakinya. Anak dan kakak macam apa dia, yang tidak mampu menjaga orang terkasihnya dengan baik. Sehingga duka kini datang menghampiri datang menerpa mereka semua. Di dalam pelukan Marcel, Nadira menggelengkan kepalanya. Menepis semua rasa bersalah yang kini menerpa kakak angkatnya itu. Nadira sadar dan tahu bahwa ini bukanlah kesalahan Marcel. Ini semua murni kesalahan sang ayah yang tidak pernah mau belajar dari kesalahannya. Berkali-kali pria paruh baya itu melakukan kesalahan yang sama. Hanya demi sejumlah uang dan kesenangan duniawi. Meskipun Nadira tidak menyalahkannya atas kehilangan tersebut, tetap saja rasa bersalah itu tidak bisa hilang begitu saja dari hati Marcel. Sehingga rasa bersalah tersebut akan tetap bersarang di hatinya. Entah sampai kapan, tidak ada yang tahu. Gerimis yang turun di pagi hari yang cukup cerah, tidak mampu membawa Nadira untuk pergi dari makam sang ibu. Gadis itu tetap saja duduk bersimpuh dengan gumaman halus dari bibirnya. Menyeru sang ibu yang tidak akan pernah menyahut lagi. Menyebut nama sama ibu yang tidak akan pernah kembali lagi. Kepergian sang ibu benar-benar meluluh lantakkan dunia Nadira. Cahaya kehidupannya langsung redup karena kehilangan tersebut. Sehingga kesedihan tersebut begitu besar, dan mengeringkan air mata yang belum sempat menetes. Tidak banyak yang bisa dilakukan Marcel saat ini. Ia hanya bisa menuruti kehendak Nadira yang masih ingin duduk memeluk batu nisan sang ibu. Mencari kedamaian untuk dirinya sendiri. Karena saat ini Nadira merasa seakan sedang tidur di pangkuan sang ibu dan memeluknya. "Ayo kita pulang,* ajak Marcel. Ketika rintikan hujan berganti menjadi tetesan air yang begitu banyak. Namun, itu semua tetap saja tidak mampu membawa Nadira untuk beranjak dari sana. Marcel pun sudah mencoba segala cara, tapi tetap saja gagal membawa Nadira beranjak. Hingga kedatangan seorang pria yang menyentak mereka berdua. Iwan. Tiba-tiba saja datang dan merangkul pundak Nadira dan menuntunnya untuk berdiri. "Kita pulang, ya. Agar kamu tidak sakit dan mama tidak bersedih di alam sana," ucap Iwan. Membawa Nadira pergi dari makam tersebut. Tanpa ada penolakan apalagi perlawanan, Nadira mengikuti langkah Iwan. Menuju ke sebuah mobil yang terparkir di depan pemakaman. Pria itu dengan mudahnya membawa Nadira, sehingga Marcel merasa terasingkan. Sudah jelas. Di sini posisi Iwan lebih berpengaruh bagi Nadira, dibandingkan dengan dirinya. Meskipun begitu, Marcel tetap pada tekad awalnya untuk menikahi gadis itu. Lagipula, sebelum meninggal dunia Ningsih sudah menyetujui keinginannya tersebut. "Kamu ingin Kakak antarkan kemana? Ke rumah sakit atau pulang," ucap Iwan. Seraya memasang sabuk pengaman untuk Nadira. Bukannya menjawab, Nadira malah diam seribu bahasa. Bukannya ia tidak sopan atau tidak mendengar apa yang ditanyakan Iwan, hanya saja ia tidak tahu harus kemana saat ini. Kembali ke rumah Marcel atau ke tempat ibu angkatnya, yang sudah lebih dahulu pulang dibawa ayah angkatnya. Karena wanita paruh baya itu tidak sadarkan diri saat jenazah Ningsih masuk ke liang lahat. "Atau ke tempat Kakak dulu?" usul Iwan. Karena Nadira masih enggan membuka mulutnya. "Nadira tanggung jawabku. Jadi, buka pintunya aku akan membawanya ke tempat ibu kami." Marcel yang langsung berdiri di samping pintu mobil Iwan. Ia tidak ingin Nadira dibawa pergi oleh saingannya tersebut. "Aku akan buka, jika Dira mengizinkan." Iwan menatap tajam kepada Marcel. Saat ini aura persaingan diantara mereka sangat terasa. "Kak, izinkan aku pergi ke tempat mama Mita," lirih Nadira. Menoleh kepada Marcel yang kini berada di sampingnya. "Aku yang akan mengantarkan kamu pergi," sela Marcel. Nadira menghela nafas. "Izinkan satu kali ini aku pergi tanpamu." "Aku akan izinkan jika bukan dia yang membawamu pergi. Karena mama telah menitipkanmu padaku. Dan baru saja aku mendapatkan kabar dari rumah sakit bahwa ibu sudah siuman. Jadi, mari ikut denganku untuk bertemu dengan ibu." Tidak menggunakan kata-kata. Nadira menjawab ajakan Marcel dengan cara membuka pintu mobil tersebut. Dan membiarkan pria itu menggendongnya. Membawanya pergi dari Iwan. Saat tubuhnya yang ada di gendongan Marcel beranjak menjauh, tatapannya masih terpaku pada Iwan yang tersenyum kepadanya. Melepaskannya pergi bersama Marcel, dan mungkin ini adalah kali terakhir mereka berdua bertemu. Sebagai anak dari sahabat ibunya Nadira, Iwan sadar Marcel adalah orang yang paling berhak atas dirinya. Ia juga tahu diri, jika dirinya hanyalah orang luar dari kehidupan Nadira. Meskipun gadis itu juga mencintainya. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit Nadira hanya diam seribu bahasa. Ia hanya berbicara sekenanya saja saat Marcel membawanya ke sebuah toko baju untuk mengganti pakaian. Sebenarnya tadi Marcel mengajaknya untuk pulang, akan tetapi Nadira menolak dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Padahal pakaian yang melekat di tubuhnya sudah basah kuyup. Tidak ingin memperpanjang masalah lagi, Marcel menawarkan untuk berhenti di toko baju. Dan Nadira juga terpaksa setuju karena Marcel tidak ingin berangkat, sebelum ia mengganti pakaian. Padahal pihak rumah sakit telah berkali-kali menghubungi Marcel dan mengabarkan sang ibu sudah siuman. "Aku tidak suka dipaksa-paksa begini, Kak," pinta Nadira. Saat mereka berjalan beriringan menuju ke kamar Berta. "Aku tidak memaksa, Dir. Aku hanya melakukan apa yang terbaik untukmu. Aku tidak ingin kamu masuk angin dan sakit." "Aku tahu itu, Kak. Tapi, yang aku maksud bukan itu. Melainkan yang menyangkut dengan dokter Riswan. Aku tidak ingin dipaksa jika itu berhubungan dengan perasaan. Aku mencintainya, dan aku harap Kakak mengerti dan jangan paksa aku," ucap Nadira lirih. Hidupnya yang penuh dengan paksaan dan tekanan, membuat Nadira lelah saat Marcel ikut memaksanya. Belum lagi saat mengingat sang ibu pernah mengatakan niat baik Marcel untuk mempersunting dirinya. Benar. Marcel adalah pria yang baik dan hangat. Pria yang tampan dan baik hati. Tapi, saat ini cintanya justru bertaut dengan Iwan. Nadira berharap Marcel sedikit bersabar dan memberinya waktu untuk sedikit menghapus nama Riswan di hatinya. Lagipula saat ini ia pun belum ada niat untuk menikah muda. Tidak ingin memperburuk namanya di mata Nadira, Marcel hanya mengangguk seraya membuka pintu ruang rawat sang ibu. Dan seakan tidak ada perdebatan diantara mereka berdua, Nadira dan Marcel berjalan mendekati Berta yang masih terbaring lemah. Wanita paruh baya itu tampak baru selesai menangis. Tepatnya masih ada isakan yang sesekali terdengar. "Ibu kehilangan satu kaki, Cel," lirih Berta. Begitu Marcel menggenggam tangannya. Tangisnya kembali pecah saat menyampaikan kabar tersebut kepada Marcel. "Tidak apa-apa, Bu. Asalkan Ibu masih di sini bersama Marcel. Masih bisa memelukku, Bu. Dan maaf, karena kebodohanku Ibu menjadi seperti ini." Marcel memeluk sang ibu. Entah bagaimana setelah ini jalan cerita hidup yang akan dijalani sang ibu. Karena sang ibu adalah tipe wanita yang lemah. Sering kali ingin menyerah saat musibah menimpa. Seperti saat sang ayah meninggal dunia, sang ibu nyaris saja bunuh diri untuk menyusul belahan jiwanya yang telah pergi untuk selamanya. "Dan aku mohon, Bu. Kali ini Ibu harus bertahan, karena aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini," pinta Marcel. Mengecup lama pucuk kepala sang ibu. Berta menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia akan bertahan demi Marcel. Karena ia masih ingin hidup untuk melihat cucunya terlahir ke dunia ini. Cucu yang akan terlahir dari rahim Nadira, anak dari sahabatnya. "Di mana mamamu, Dira?" tanya Berta. Saat ia mengingat keberadaan sahabatnya itu. Semenjak tadi ia bertanya kepada dokter dan suster, mereka hanya mengatakan untuk menunggu Marcel sejenak. Entah kenapa perasaannya tidak enak setiap kali mengingat Ningsih. Wanita paruh baya itu juga merasa sangat bersalah atas nasib yang menimpa Ningsih. Karena ia ikut andil dalam pernikahan antara Ningsih dan Anton. Dan hutang budi karena telah menyerahkan ayahnya Marcel padanya. Ayahnya Marcel adalah kekasih Ningsih, dan mau menikahi Berta sebagai wujud cinta kepadanya. "Mama sudah tidak ada, Bu. Mama sudah tenang di alam sana," gumam Nadira, dengan air mata yang kembali mengalir di kedua pipinya. Berta menggelengkan kepalanya. "Itu tidak mungkin, Dira." Berta langsung histeris. Saat mengetahui Ningsih telah tiada, sebelum sempat membalas budi dan membahagiakan sahabatnya itu. Ingatan bagaimana keadaan Ningsih saat berada di hotel juga menamparnya dengan kuat. Membuktikan bagaimana kekejaman Anton kepada Ningsih. Belum lagi saat melihat Nadira yang nyaris polos di depan pria tua itu. Berta tidak sanggup membayangkan betapa menderitanya kehidupan Ningsih selama menikah dengan Anton. Pasti sangat berat dan menyeramkan. Berta terus saja menangis histeris. Rasa bersalahnya yang begitu besar tengah menghimpit dadanya. Ia sama sekali tidak menyangka Anton yang tampak begitu baik, ternyata seberengsek itu. Menjual anak dan istrinya demi sejumlah uang. Padahal seingat Berta Anton adalah orang yang sangat kaya raya. Tapi, kenapa hidup Ningsih dan Nadira begitu miris dan menyedihkan. *** Sebesar apapun rasa bersalah yang bersarang di hati Berta tidak akan pernah ada yang tahu. Sehingga rasa bersalah itu semakin memperburuk keadaannya. Ia sama sekali tidak mau makan dan minum meskipun Marcel telah memohon dengan berbagai cara. Hingga akhirnya, setelah satu Minggu tak kunjung ada perubahan, Nadira turun tangan untuk membujuk Berta agar mau makan. Agar bisa lekas sembuh dan pulang ke rumah. Selama satu Minggu ini Nadira tidak bisa mengunjungi Berta ke rumah sakit, karena kondisinya sendiri sedang tidak sehat. Namun, hari ini Nadira datang dengan memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Demi menemui Berta dan memberikan semangat untuknya. Lagipula saat ini Berta juga termasuk orang terpenting bagi Nadira. Orang yang dulu membayar biaya operasi sang ibu, menjaga mereka berdua, membiayai kuliahnya, serta menyelamatkannya dari Bos tua. Meskipun harus kehilangan ibu kandungnya sendiri. "Ibu tidak boleh seperti ini terus, Bu. Kalau Ibu begini terus, kapan kita akan pulang? Apakah Ibu tidak ingin pulang bersama Dira? Apakah Ibu tidak rindu sama Dira?" ucap Nadira, seraya menggenggam tangan Berta. Berta yang sedang melamun, tersentak dari lamunannya. Ia pun menoleh kepada Nadira dan mengulas senyum. Nadira yang sangat mirip dengan Ningsih, seakan melihat keberadaan sahabatnya itu di sana. Seakan Ningsih kini ada dan menatapnya. "Ibu sangat rindu kamu, Dira. Karena saat melihatmu, Ibu seperti melihat mama kamu." "Justru itu, Bu. Ibu harus makan, ya. Biar sembuh dan kita bisa pulang." Berta menggelengkan kepalanya. "Ibu ingin pergi saja. Menyusul mamamu agar bisa meminta maaf." "Tidak, Bu. Aku tidak izinkan itu. Aku mohon Ibu harus makan dan sembuh. Nadira janji akan melakukan apa saja agar Ibu mau semangat untuk sembuh," tutur Nadira. Semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Berta. "Benarkah?" Nadira mengangguk cepat. "Kalau begitu, menikahlah dengan Marcel. Sesuai dengan harapan kami berdua di masa lalu. Sekaligus untuk menebus rasa bersalah Ibu pada mama kamu," lirih Berta. Membuat genggaman tangan Nadira di tangannya terlepas. Gadis itu benar-benar terkejut dengan syarat yang diberikan Berta padanya. Syarat yang ingin ditolak tapi, tidak akan bisa karena begitu banyak kebaikan Berta dan Marcel kepadanya. Di luar masa lalunya dan sang ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD