Part 7

968 Words
Bos Tua dan rekan bisnisnya yang sedang mengangkat tubuh lemah Ningsih, mempersilahkan Nadira dan Anton masuk ke sebuah yang sangat mewah. Di dalam rumah itu, tidak ada satupun orang selain mereka berlima. Begitu sampai di dalam, kolega bisnisnya bos Tua membaringkan Ningsih di atas sofa. Ia tersenyum mengejek kepada Anton, yang kini terlihat seperti pecundang. "Pergilah Anton! Tugasmu sudah selesai! Sepertinya aku berubah pikiran tentang perjanjian kita beberapa bulan yang lalu.. Karena kau sudah menghabiskan begitu banyak uangku, maka mulai detik ini Nadira akan menjadi istriku, dan Ningsih akan menjadi simpanan sahabatku ini." "Tidak bisa begitu, Bos! Saya tidak bisa menyerahkan mereka berdua kepada anda. Bukankah perjanjian kita sudah jelas, anda menikahi putri saya. Dan dia tetap tinggal dengan kami." "Itu dulu Anton! Sebelum kau menghabiskan uangku!" bos Tua tersebut terlihat sedang menghubungi seseorang. Dalam hitungan detik, beberapa orang bertubuh kekar keluar dari arah belakang. "Kalian tahan laki-laki tidak berguna ini sekuat mungkin. Jangan biarkan dia mengganggu acara kami berdua. Jika kalian bertiga berhasil, maka aku akan mengizinkan kalian untuk mencicipi hidangan penutup. Aku ingin memberinya pelajaran karena lalai dalam menjalankan tugasnya." Bos tua menunjuk Ningsih yang telah sedang disentuh oleh kolega bisnisnya. Pria yang seumuran dengannya itu mulai menjamah dan membuka pakaian Ningsih di hadapan Anton sendiri. Anton menggeram. Pria paruh baya itu berusaha untuk menggapai istrimu yang telah berada di bawah kukungan seorang pria. "Jangan lakukan itu! Bukankah kau hanya menginginkan putriku! Kalian …." Bug. Bug. Para bodyguard memukuli Anton dengan membabi-buta. Merasa terusik dengan ucapan Anton, bos Tua mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar ketiga pria bertubuh kekar tersebut memberikan pelajaran untuk Anton. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk membungkam mulut Anton. Sekarang pria itu telah terkulai lemas dengan mulut yang mengeluarkan darah segar. Anton menggelengkan kepalanya. Hatinya begitu hancur melihat istri yang ia cintai melayani nafsu pria lain. Tidak ada penolakan dari Ningsih, wanita paruh baya itu hanya diam dan pasrah. Begitupun dengan Nadira, gadis itu tidak berkedip sedikitpun melihat apa yang terjadi dengan ibu kandungnya sendiri. Karena ulah pria yang di panggilnya 'papa'. "Ayo ikut saya!" bos Tua menarik tangan Nadira masuk ke sebuah kamar yang tidak jauh dari ruangan itu. Sama halnya dengan Ningsih, Nadira tidak menolak. Karena keselamatan ibunya sedang dipertaruhkan saat ini. "Sayang …, andai saja kamu tidak lari di acara pernikahan kita berdua. Bisa dipastikan hidupmu dan ibumu sudah bahagia sekarang. Kamu tahu kenapa ini semua terjadi? Ini semua karena ulah papamu yang tamak dan kesombongan dirimu yang tidak mau menjadi istriku!" bisa Tua menyeringai dan mencium pipi mulus Nadira, yang telah basah dengan air mata. "Sekarang terserah kepadamu, Sayang. Kamu ingin membukanya sendiri? Atau aku yang akan membukanya dengan cara paksa." Nadira menggeleng. Jari-jari lentik gadis tersebut mulai bergerak untuk membuka satu persatu kancing baju kemeja yang ia kenakan. 'Tuhan …, berikan aku kekuatan untuk menghadapi ini semua. Jika boleh aku meminta, tolong bantu aku. Agra aku bisa terlepas dari ini semua.' Mata Nadira terpejam saat kancing terakhir berhasil terlepas dari tempatnya. Senyuman bos Tua semakin lebar saat ia melihat tubuh atas Nadira yang hampir polos. Memamerkan kemolekan tubuh yang selama ini ia dambakan. Dikuasai hawa nafsu, bos Tua tersebut membuka pakaiannya dengan tergesa-gesa. Saat- saat terakhir bos tua tersebut terkejut karena kehadiran seorang pria yang berhasil mendobrak pintu kamar tersebut. Saat bos Tua merasa ketakutan melihat tatapan tajam dan wajah memerah dari pria yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, Nadira justru merasa hangat karena pelukan pria itu. "Tidak apa-apa, Kakak disini!" Marcel memakaikan jas-nya kepada Nadira dan membawa gadis itu keluar. Bos Tua segera memakai kembali pakaiannya untuk mengejar Marcel yang berhasil membawa Nadira keluar. "Ibu …," lirih Nadira. Melihat Berta memeluk bahu Ningsih, untuk membantu sahabatnya itu untuk berjalan. "Kamu dan ibu cepat bawa mama pergi dari sini! Kakak ingin membuat perhitungan dengan mereka semua." Nadira mengangguk dan mengikuti langkah Berta. Ketiga wanita itu segera kabur dengan mobil yang disupiri oleh Berta sendiri. "Kejar gadis itu! Siapa pun yang bisa, akan aku beri imbalan seratus juta rupiah!" teriak bos Tua. Tidak ada yang mau mengikuti keinginan bos Tua, karena mereka semua telah babak belur dipukuli Marcel. Sehingga ia terpaksa mengejarnya sendiri. Hingga akhirnya, kejar-kejaran pun tidak bisa dihindarkan. Berta yang ketakutan tidak bisa mengendalikan mobilnya dengan baik. Padahal ada mobil Marcel yang ikut mengejar bos Tua dari belakang. Saat Berta fokus melihat kebelakang, wanita paruh baya tersebut tidak melihat sebuah truk yang tiba-tiba saja melawan arah. Karena terkejut dan panik, Berta membanting stir hingga membentur pembatas jalan. Melihat mobil Berta menabrak, bos Tua membatalkan niatnya untuk mengejar. Melihat keadaan mobil yang rusak parah, bisa dipastikan tidak ada penumpang yang selamat. Marcel berteriak histeris melihat mobil sang ibu yang hancur karena kecelakaan tersebut. Ia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Hingga Marcel yang berusaha mengeluarkan tubuh terjepit Berta, kehilangan kesadaran. Mata Marcel mengerjap. Karena hidungnya mencium aroma uang sangat menyengat. Kepalanya terasa begitu sakit sekarang. Hingga Marcel melihat seorang wanita berpakaian serba putih. "Akhirnya Bapak sadar juga." "Saya dimana? Astaga, bagaimana keadaan ibu saya. Dimana mereka?" Marcel meremas rambutnya sendiri. "Tenanglah, Pak!" suster tersebut berusaha untuk menenangkan Marcel. "Ibu Bapak dan Nadira selamat. Tetapi, ibu Ningsih tidak bisa kami selamatkan," jelas suster itu lagi. "A--pa? Ti--dak mungkin, Sus!" Marcel segera turun dari ranjang rumah sakit. "Katakan dimana ibu saya dan Nadira!" "Ibu, Bapak masih berada di ruang operasi. Beliau sedang menjalani operasi untuk mengangkat kaki kanannya yang hancur karena terjepit badan mobil. Dan Nadira, terakhir saya tinggalkan berada di ruang jenazah. Dia tidak mau meninggalkan sang ibu." "Terima kasih!" dengan sedikit berlari ia mencari keberadaan Nadira. Marcel begitu menyesal karena ia meminta sang ibu untuk membawa Nadira dan Ningsih kabur. 'Seharusnya aku tidak melibatkan ibu dalam hal ini. Seandainya aku tidak ceroboh, pasti ini semua tidak akan terjadi. Maafkan Marcel, bu. Maafkan kakak, Dira. Sehingga membuat kamu kehilangan orang yang begitu berarti untukmu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD