Nadira tertunduk saat Berta menyampaikan keinginannya untuk menjodohkannya dengan Marcel. Ingin rasanya ia menolak. Akan tetapi, gadis itu tidak memiliki alasan untuk menolak pinangan tersebut.
"Jika kamu setuju …, Ibu segera mengurus pernikahan kalian berdua. Ibu sangat berharap kamu mau menjadi menantu Ibu, Dira." Berta yang duduk di sebelah Nadira, menggenggam tangannya.
Hening. Nadira tidak menerima walaupun menolak. Gadis itu masih setia menunduk. Seakan lantai tempat ia berpijak lebih menarik saat ini.
"Tidak usah dijawab sekarang, Dira." Marcel membuka suara. "Kakak akan setia menunggu jawaban darimu. Apapun jawaban dari kamu, Kakak akan menghargai itu." Jelasnya lagi.
Dengan perlahan kepala Nadira terangkat "Terimakasih, Kak!" sebuah senyuman manis dihadiahkan Nadira untuk Marcel. Sebagai tanda terimakasih karena telah mengerti perasaannya.
Sejak hari itu, Nadira semakin menutup diri dari Marcel. Ia bahkan menghindar dari pria itu jika tidak sengaja berpapasan. Nadira tidak ingin Marcel terlalu berharap banyak padanya, hingga saat ini. Walaupun waktu telah berlalu satu bulan lamanya, tetapi gadis itu belum bisa memberikan jawaban apapun kepada Marcel. Hatinya yang telah terpaut dengan Riswan, membuat Nadira kesulitan untuk memilih. Antara balas budi dan cinta yg murni tumbuh di hatinya.
Setiap Nadira pulang dari kampus, ia akan dijemput oleh Riswan. Jika dokter muda tersebut tidak dalam keadaan sibuk. Karena hari ini ada jadwal operasi, Riswan tidak bisa menjemput Nadira, sehingga gadis itu terpaksa pulang menggunakan angkutan yang telah ia pesan via online.
Saat Nadira menunggu angkutannya datang, ia dikejutkan dengan datangnya sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di hadapannya.
Kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik itu mengerjap berkali-kali. Saat melihat sosok yang keluar dari dalam mobil tersebut.
"Papa?" Nadira terkejut. Segera ia mengambil ancang-ancang untuk berlari.
"Tunggu, Dira! Papa mohon. Dengarkan Papa untuk satu kali ini saja!" Anton meraih pergelangan tangan putrinya itu. "Papa hanya ingin tahu dimana keberadaan mama kamu. Jika kamu selamat , pasti mama kamu juga, kan? Papa ingin meminta maaf karena tidak bisa menemani kalian berdua di rumah sakit. Karena Papa harus mendekam di penjara karena harus mempertanggungjawabkan perbuatan Papa."
"Aku tahu itu," jawab Nadira cepat. "Dan seharusnya Papa belum masih berada disana!"
Anton menggenggam erat tangan Nadira, "Itu memang benar, Nak. Papa tidak sanggup jika harus menghabiskan waktu selama lima tahun di sana. Jadi Papa memohon kepada bos tua, agar beliau mau mencabut laporannya." Semakin mempererat genggamannya pada pergelangan tangan Nadira.
Gadis itu pun meringis,"Sakit, Papa." Lirihnya lagi.
"Ini belum sebanding dengan apa yang Papa alami selama di penjara. Jadi Papa mohon, menikahlah dengan bos Tua, agar Papa bisa bebas seutuhnya. Papa berjanji, ini tidak akan lama."
Nadira menggeleng. Buliran bening mulai mengalir di pipinya. "Tidak, Pa … aku mohon jangan ganggu kehidupan aku dan mama lagi. Ini semua bukan kesalahan Dira, Pa. Tetapi kesalahan Papa sendiri. Aku mohon lepaskan aku!"
"Tidak akan! Untuk kali ini, Papa akan membawa kamu pergi."
"Tidak, Pa. Dira nggak mau. Lebih baik Dira mati! Lepaskan Dira, atau Dira akan berteriak. Papa sadarkan kita berada di mana?" Dira menatap tajam ke dalam mata Anton.
"Papa sadar, Sayang! Kalau kamu berteriak, Papa akan memberikan sebuah kejutan untukmu." Anton menuju mobil yang tadi ia bawa.
"Mama?"
Mata Nadira kian memanas melihat Ningsih yang terkulai lemas di dalam pelukan seorang pria yang telah berusia senja. Wajah wanita paruh baya yang sangat disayangi oleh Nadira Itu, terlihat babak belur. Diujung bibinya masih mengalir darah segar. Di sebelah lainnya, ada seorang pria lain. Bertubuh kekar dengan kulit gelap. Kedua pria itu mengapit Ningsih yang tidak sadarkan diri.
Anton mengangguk, "Iya …, Papa terpaksa menjual mama kamu untuk melunasi hutang kepada bos Tua. Papa harus merelakan istri tercinta Papa digilir oleh bos Tua beserta kolega bisnisnya .Daripada Papa di penjara." Anton melepaskan genggamannya. Pria paruh baya tersebut segera masuk ke dalam mobil. "Papa beri waktu lima menit untuk berpikir."
Nadira memejamkan matanya. Lalu ia mengangguk, "Baiklah, Pa …."
"Masuklah, Sayang. Kita akan segera menikah." Sahut pria tua yang sedang memeluk Ningsih.
Anton segera membukakan pintu mobil untuk Nadira.
Gadis itu pun berjalan mendekat. Sebelum Nadira memasukkan tubuhnya, tatapannya bertemu dengan Berta, yang baru saja turun dari mobilnya. Nadira menggeleng. Baru ia masuk ke dalam mobil tersebut.
Melihat tatapan nelangsa dari Nadira, membuat Berta sangatlah yakin jika Ningsih ada di dalam mobil yang akan dinaiki oleh Nadira. Berta segera kembali masuk ke dalam mobil untuk mengejar mobil yang telah pergi membawa Nadira. Ia juga segera menghubungi Marcel untuk meminta pertolongan.
Dua jam sebelum kejadian, Berta dan Ningsih pergi berbelanja ke sebuah swalayan untuk membeli bahan makanan. Mereka ingin memberikan kejutan untuk ulang tahun Marcel nanti malam. Namun, saat mereka sibuk memilih bahan belanjaan, Anton yang telah lama mencari keberadaan anak dan istrinya berhasil menemukan Ningsih. Saat situasi aman, Anton membekap mulut istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Pria paruh baya itu segera membawa Ningsih ke hotel. Tempat bos tua menginap selama Anton mencari keberadaan Nadira, calon istrinya.
Di dalam hatinya, Anton berharap, bos tua mau menukar Nadira dengan Ningsih. Ia akan mencoba untuk merelakan istrinya tidur dengan pria lain. Karena ia yakin Nadira akan tetap menolak keras untuk menikah dengan si bos tua. Saat Anton ingin memasukkan Ningsih ke mobil, Berta yang sedang mencari keberadaan Ningsih, melihat Anton yang sedang memasukkan tubuh sahabatnya ke mobil dan membawa Ningsih pergi.
Mengabaikan belanjaannya, Berta segera masuk mobil. Agar ia bisa mengejar mobil Anton. Namun nahas bagi Berta, ia kalah cepat dari Anton. Sehingga pria itu berhasil membawa Ningsih. Setelah Berta lelah mencari jejak mobil Anton, ia memilih untuk menjemput Nadira ke kampus. Untuk menjemput sekaligus memberitahukan tentang Ningsih.
Di tempat lain, Anton membaringkan tubuh lemah Ningsih di atas tempat tidur. Di sana, ada bos tua beserta kolega bisnisnya yang sedang membicarakan lahan untuk membuka usaha mereka di Jakarta.
"Ini bukan Nadira!" segah bos tua kepada Anton.
"Maafkan saya, Bos! Saya belum bisa menemukan Nadira, putri saya." Ucapnya menunduk. Ia tidak mampu mengangkat wajahnya.
Bos tua tersebut terdiam. Tangannya mengepal erat karena belum bisa membawa pulang ke Surabaya. Salah satu rekan bisnis bos tua melirik Ningsih yang sedang terbaring diatas ranjang. Sehingga muncul ide gila di dalam kepalanya. Dengan dagunya, pria bertubuh kekar tersebut menunjuk Ningsih dengan ujung dagunya.
Si bos tua tersenyum miring. Seakan ia bisa membaca isi pikiran rekan bisnisnya itu.
"Anton. Kemarilah!" bos tua melambaikan tangannya kepada Anton yang masih berdiri.
Anton mendekat, "I--ya, Bos." Jawabnya gugup. Ia bisa merasakan hal buruk akan segera menimpa istrinya.
"Karena kamu sudah menghabiskan begitu banyak uangku, jadi …, untuk membayar itu semua, rekan Bisnisku ini rela membayarnya untukmu. Sekaligus ada bonus dariku." Pria berambut putih tersebut mengangkat satu alisnya.
Anton menelan air liurnya, "Ma,--ksud, Bos?"
"Ini untukmu! Bawalah!" bos tua bangkit, dan melemparkan satu ikat uang seratus ribu. "Sekarang pergilah keluar. Aku dan temanku ada acara dengan istrimu." Mengibaskan tangannya, untuk mengusir Anton dan beberapa orang bodyguard yang sedang berjaga.
Ningsih mengerjapkan matanya. Ia memindai ruangan tempat kini ia berbaring. Matanya membesar saat melihat Anton, suaminya. Serta dua orang pria yang berdiri membelakangi dirinya.
"Mas?" lirih Ningsih.
Namun, Anton mengabaikan panggilan tersebut. Dan keluar dari kamar hotel. Meninggalkan istrinya dengan dua orang pria, yang seusia dengan mertuanya jika beliau masih hidup.
"Ka--kalian?" Ucap Ningsih ketakutan.
"Siapa nama kamu, Cantik?" ucap rekan bisnis bos tua.
Ningsih diam.
"Layani kami berdua. Karena suamimu memiliki hutang dan aku juga sudah memberikan bonus padanya." bos tua mulai naik ke atas tempat tidur. Senyuman lebar menghiasi wajahnya.
Ningsih yang ketakutan, segera beringsut turun dari atas tempat tidur. Ia segera berlari ke arah pintu. Namun, nahas bagi Ningsih. Pintu telah dikunci oleh pria satunya lagi. Kedua pria tersebut menarik Ningsih dan melemparkan tubuh Ningsih ke atas tempat tidur.
Ningsih meringis, menahan sakit pada kepalanya. Akibat benturan yang cukup keras.
"Ampuni saya, Tuan. Saya akan melakukan apapun, asalkan Tuan lepaskan saya."
"Katakan dimana Nadira, calon istriku. Jika kau mengatakannya, maka aku akan melepaskanmu!" ucap bos tua. Pria tua itu mulai melepaskan pakaian yang ia kenakan. Melihat bos tua telah polos, temannya juga ikut serta.
Ningsih menangis histeris. "Lebih baik kalian berdua bunuh saya! Daripada kalian melakukan hal b***t ini kepada saya." Melemparkan apa saja yang bisa digapai.
Anton menyandarkan punggungnya ke pintu kamar hotel. Hatinya terasa sakit mendengar teriakan Ningsih dari dalam kamar hotel.
"Maafkan aku, Ningsih …, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Namun, aku sudah tidak memiliki pilihan lain." Tubuh Anton merosot dan terduduk di atas dinginnya lantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku! Maafkan aku, Sayang." Ucapannya memukul dadanya sendiri sebagai sendiri.
"Aku sangat mencintaimu, Ningsih. Maukah kau menang Ibu dari anak-anakku kelak?" Anton berlutut di hadapan Ningsih. Dengan bunga dan sebuah kotak beludru berwarna merah muda di tangannya.
Mengangguk pelan, "Walaupun saat ini hatiku belum bisa seutuhnya menjadi milikmu. Namun, aku berjanji, Mas. Akan selalu belajar untuk mencintaimu
Saat waktu itu tiba, jangan pernah menduakan aku, apa lagi menyakitiku."
Anton mengangguk senang dan memeluk Ningsih. "Terimakasih, Sayang." Ucapnya lagi.
Ingatan masa lalu yang manis, membuat d**a Anton terasa sesak. Lihatlah apa yang telah ia lakukan, disaat wanita yang dulu dicintai setengah mati, telah mampu mencintainya, malah ia sakiti. Sepanjang perjalanan pernikahannya. Bahkan hari ini, wanita yang dulu ia kejar mati-matian telah ia jual. Kepada dua orang pria sekaligus.
"Anton. Masuk!" perintah bos Tua kepada Anton.
Anton mengangkat wajahnya, ia menatap nanar kepada pria tua yang berdiri angkuh di hadapannya. Entah berapa lama ia melamun. sehingga Anton baru sadar pria tersebut memanggilnya.
"Ba--baik, Bos." Jawabnya cepat. Mengikuti langkah bos tua.
"Kemasi istrimu!" ucap bos tua. Menunjuk Ningsih yang terbaring tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Bukan hanya itu, wajah dan tubuh Ningsih juga di penuhi luka lebam. Ibu satu anak itu juga tidak sadarkan diri. Dengan tangan bergetar Anton kembali memasangkan pakaian istrinya itu. Hatinya terasa remuk melihat keadaan wanita yang telah mendampinginya selama belasan tahun. Wanita yang selalu mengutamakan kebahagiannya, dari pada dirinya sendiri.
"Setelah dia sadar, segera tanyakan dimana keberadaan Nadira! Dalam waktu 24 jam Nadira tidak ditemukan, kau akan tahu akibatnya."
Dengan mata yang telah memanas, Anton mengangguk kepalanya.
Maafkan aku Ningsih! Maafkan