Nadira masih berdiri terdiam di depan kaca ruang rawat sang ibu. Ia bisa bernafas lega karena biaya rumah sakit serta biaya operasi telah di lunasi.
"Sebentar lagi Mama pasti sembuh! Ma, Dira rindu,"
"Jangan bersedih lagi! Jika kamu seperti ini, siapa yang akan memberikan semangat kepada ibu kamu," seorang pria berseragam medis menyentuh bahu Nadira.
Gadis itu mengangkat wajahnya. Ia langsung terpesona melihat wajah tampan pria tersebut. Hidung mancung, alis tebal, dan rahang yang sangat tegas. Kulit kuning langsat dan tubuh tinggi berotot. Mampu membuat gadis berusia delapan belas tahun itu terpesona. Bahkan Nadira tidak mampu mengatupkan mulutnya.
"Riswan Pradipta," dokter muda itu mengulurkan tangannya.
"Na-dira Almaira, Dok," menyambut uluran tangan dokter muda yang ada di hadapannya.
"Panggil kak Iwan saja," ucap Iwan. "Kamu sendirian saja?" tanyanya lagi. Masih menggenggam tangan Nadira.
Gadis itu mengangguk, "Ibu baru saja pulang untuk mengabari ayah, kalau biaya operasi mama sudah dibayar oleh teman mama."
Iwan mengernyitkan dahinya, "Mama kamu istri kedua?"
"Bukan, Dok! Eh, Kak. Ibu dan ayah adalah orang tua angkatku, yang membantu aku dan mama bisa bertahan di kota ini."
Iwan mengangguk pelan. "Kakak kira …,"
"Dokter ingin nyebrang?" Marcel melepaskan tautan tangan Nadira dan Iwan.
"Ah, ya, Maaf." Iwan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja merinding karena kedatangan Marcel. "Kalau begitu Kakak permisi dulu, ya …,"
"Nadira, Kak," jawab Nadira cepat.
"Baik, Nadira! Kakak permisi dulu, ya. Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk bercerita." Iwan menepuk pundak Marcel, "Saya pamit dulu, ya. Kakak ipar." Meninggalkan Marcel dan Nadira.
Marcel yang dipanggil kakak oleh Iwan, mengerucut bibirnya. Pria itu bahkan menggerutu tidak jelas di hadapan Nadira.
"Kakak ipar? Enak saja! Aku calon suaminya!" dengan setengah berteriak, Marcel meralat perkataan Iwan. Akan tetapi, dokter muda itu tidak bisa mendengar perkataan Marcel, karena ia telah menghilang di balik dinding lorong.
Nadira menggeleng dan mendudukkan bokongnya di atas kursi yang ada di depan ruangan tersebut. Wajahnya langsung bersemu merah mengingat pertemuannya dengan Iwan. Gadis itu bahkan mengusap telapak tangannya yang tadi di genggam oleh Iwan.
"Apa dia lebih tampan dariku?" Marcel menghempaskan tubuhnya di samping Nadira.
"Tepatnya, sangat tampan dan mempesona," jawabnya jujur.
"Tetapi, setampan apapun dia, tetap aku yang akan menjadi suami kamu."
"Kakak, jangan mengada-ada. Aku tidak suka itu."
"Aku tidak mengada-ada, Dira. Aku serius, aku jatuh cinta kepadamu."
"Kita baru bertemu tadi siang lo, Kak. Masak udah ngomongin cinta aja? Lagian nih, ya. Kakak tenang saja, aku tidak akan mungkin berjodoh dengan dokter Riswan. Dia itu, tampan, baik, dan dia juga dokter. Masa depannya cerah, sedangkan aku? Aku cukup sadar diri dengan keadaanku, Kak," ucapnya lesu.
"Tapi bagiku, kamu sangat istimewa." Marcel meraih tangan Nadira dan menggenggamnya dengan erat, "Jadilah istriku!" menatap dalam manik hitam Nadira.
Nadira menarik tangannya dari genggaman Marcel, "Aku tidak bisa, Kak. Aku masih belum ingin melangkah ke arah sana. Aku masih ingin melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda. Usiaku masih sangat muda untuk menuju pernikahan."
"Kamu tenang saja, Dira. Kamu masih bisa melanjutkan pendidikan kamu. Aku hanya butuh status agar tidak ada satupun pria yang bisa merebutmu dariku. Karena aku, jatuh cinta kepadamu."
"Tetapi aku tidak, Kak!" jawab Nadira cepat.
Wajah Marcel berubah masam. "Kamu jatuh cinta kepada dokter tadi?"
Nadira menggeleng.
Marcel menarik nafasnya dalam-dalam, "Aku mohon, belajarlah mencintaiku, Dira!" semakin mempererat genggamannya pada tangan Nadira.
"Baiklah! Aku akan mencobanya, tetapi …."
Marcel mengangkat satu alisnya, "Apa?"
" …, jangan terlalu berharap banyak dariku, ya, Kak! Dan Kakak jangan desak aku. Biarkan waktu yang akan menjawab ini semua."
Marcel mengangguk mantap. "Aku berjanji tidak akan pernah memaksa kamu."
Nadira tersenyum, "Sekarang Kakak pulang, ya. Sudah malam."
"Tidak! Aku ingin tetap disini menemanimu,"
"Pulanglah, Kak!" Nadira bangkit dari tempat duduknya, "bukankah Kakak sudah berjanji untuk tidak memaksa?"
Kedua bahu Marcel turun, "Ya, baiklah. Aku pulang," ucapnya lemah. Dengan langkah gontai Marcel meninggalkan Nadira.
……………
Berkat bantuan dari Marcel dan ibunya, operasi Ningsih dapat dilakukan. Operasi itu pun berjalan dengan sangat lancar. Hari ini, kondisi Ningsih jauh lebih baik. Bahkan, ibu satu anak itu sudah bisa diajak berbicara. Walaupun hanya satu dua kata. Dokter pun sudah mengizinkan Ningsih pulang kerumah. Akan tetapi ia harus tetap melakukan rawat jalan untuk memulihkan kondisinya. Sesuai dengan keinginan Berta, ibunya Marcel, Nadira dan Ningsih tinggal di rumah Marcel. Mulai dari hari itu, seluruh biaya hidup ibu dan anak itu murni di tanggung oleh Marcel. Bahkan, Marcel telah mendaftarkan Nadira kuliah di sebuah universitas ternama di Jakarta.
Beberapa bulan belakangan ini kondisi Ningsih semakin membaik. Sehingga ia hanya perlu kontrol ke rumah sakit, satu bulan sekali. Membuat Nadira kesulitan untuk bertemu dengan Riswan, dokter yang selama ini merawat Ningsih, sekaligus pria yang telah berhasil membuat Nadira jatuh cinta.
"Selamat ya, Bu. Keadaan Ibu semakin membaik." Riswan mengulurkan tangannya kepada Ningsih.
"Terimakasih ya, Dok. Berkat Dokter saya bisa pulih dengan sangat cepat." Ningsih menerima uluran tangan dokter muda yang ada di hadapannya. "Kalau begitu saya permisi ya, Dok."
Riswan mengangguk, "Ibu sendirian saja?" Membukakan pintu ruangannya dan mengantarkan Ningsih keluar.
"Tidak, Dok. Saya datang kemari bersama Marcel, kakaknya Nadira. Itu dia." Menunjuk Marcel yang sedang fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.
"Bu …," Riswan meraih tangan Ningsih.
"Ya, Dok?"
"Saya mencintai Nadira anak Ibuk, saya berencana untuk melamarnya dalam waktu dekat ini!" jawab Riswan cepat. Hubungannya dan Nadira beberapa bulan ini meningkat. Setiap mengantarkan Ningsih untuk berobat, selalu diakhiri dengan makan bersama. Bahkan Riswan tidak segan untuk menggenggam tangan Nadira saat berjalan beriringan.
"Apakah Nadira sudah mengetahui rencana Dokter?"
Riswan menggeleng. Belum, Buk. Saya takut untuk mengungkapkannya, Buk!"
"Baiklah, nanti akan Ibu bicarakan dengan Nadira."
"Terimakasih ya, Buk." Riswan meraih tangan Ningsih dan mencium punggung tangannya. "Ibuk hati-hati, ya …."
Ningsih mengangguk dan tersenyum kepada Riswan.
"Ibu bicara apa saja dengan dokter tadi?" Marcel mulai menjalankan mobilnya.
"Membicarakan masalah Nadira, Cel."
"Nadira?" Marcel membeo.
"Iya, Nak. Dokter Riswan ingin melamar Nadira."
Deg.
Jantung Marcel seketika berhenti berdetak.
' Melamar Nadira? What? Ini tidak bisa dibiarkan, Ibu harus turun tangan!
"Cel …." Ningsih mengusap lengan Marcel. "Kamu melamun?"
"Ah …, tidak, Bu. Marcel hanya berpikir, apakah Nadira akan menerima lamaran dokter tadi."
"Sepertinya Nadira akan menerimanya, Cel. Karena Ibu bisa melihat Nadira juga mencintainya. Selama ini mereka berdua terlihat sangat dekat."
Wajah Marcel yang tadinya santai berubah tegang. Mata pria itu juga mulai memerah.
"Bu …." Marcel menepikan mobilnya dan menggenggam tangan Ningsih. "Aku juga mencintai Nadira, anak Ibu." Ucapnya mengiba.
Mata Ningsih membesar. Ia tidak menyangka Marcel juga mencintai anaknya, Nadira.
"Aku mohon, Bu. Jangan beritahukan ini semua kepada Nadira. Marcel belum siap untuk kehilangan Nadira."
Dengan berat hati, Ningsih mengangguk.
Mendapat persetujuan, wajah Marcel yang tadinya sendu kini kembali bersinar. Bahkan pria itu, mencium punggung tangan Ningsih berkali-kali.