Part 9

1126 Words
Disaat pengantin lainnya sangat bahagia di hari pernikahannya, Nadira justru menangis. Harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Karena cinta yang ia miliki sudah terlanjur terpaut pada seorang dokter muda. Sekaligus merupakan cinta pertama baginya. Namun, cinta tersebut harus kandas sebelum berkembang. Nadira kembali meratapi nasibnya yang begitu buruk Sedari dulu tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan sekarang harus menikah dengan seorang pria yang tidak dicintainya. Meskipun pria tersebut begitu baik dan sempurna. Nadira mati-matian mencegah air matanya mengalir, agar tidak merusak riasan di wajahnya. Karena sudah yang kedua kalinya sang penata rias memperbaiki riasan di wajahnya cantiknya. Lagipula sebentar lagi ia akan turun dan melakukan akad nikah bersama Marcel. Dengan langkah yang begitu gontai dan berat, Nadira berjalan menuruni anak tangga. Menemui Marcel yang telah bersiap di depan penghulu, yang akan menjadi wali untuknya. Karena semenjak kejadian di hotel tersebut, tidak ada seorang pun yang bisa menemukan keberadaan Anton. "Kak Iwan?" gumam Nadira. Saat melihat Iwan ikut menghadiri pesta pernikahannya. Entah siapa yang sengaja mengundang pria tersebut. Dari tempat duduknya Iwan tampak melambaikan tangannya kepada Nadira. Setelah itu mengacungkan kedua jempol tangannya, sebagai ganti pujian atas betapa cantiknya ia hari ini. Dari tempat duduknya Nadira pun hanya bisa mengulas senyumnya. Tanpa tahu bahwa hari ini bukan hanya Ia yang terluka, melainkan Iwan juga. Bukan cintanya saja yang kandas, melainkan pria berbaju batik tersebut pun merasakan hal yang sama. Saat Nadira duduk bersama Marcel di depan penghulu, dan akad nikah berjalan dengan baik, tentu saat ini mereka berdua sudah sah menjadi suami istri. Marcel pun memberikan sebuah kecupan di dahinya. Sebagai pelengkap akad nikah tersebut. Kecupan tersebut juga beriringan dengan air mata yang mengalir di kedua pipi Nadira. Melepaskan kesedihannya saat resmi menjadi istri sahnya seorang Marcel Prayoga. Dan rasa itu semakin terasa sesak saat Nadira melihat ke arah tamu undangan. Tepatnya di tempat tadi Iwan duduk dan tersenyum padanya. Kini tempat tersebut sudah digantikan oleh orang lain. Iwan telah pergi. Persis seperti pria itu di hatinya Harus pergi dan kini ditempati oleh Marcel. Akad nikah tersebut langsung dilanjutkan dengan pesta yang begitu mewah. Kini Nadira sudah tampil begitu cantik dengan gaun pengantin berwarna putih cerah. Sangat serasi dengan setelan tuxedo yang dikenakan oleh Marcel. Mereka berdua benar-benar tampak serasi saat duduk bersanding di pelaminan. Begitu banyak tamu undangan yang naik ke atas panggung. Memberikan selamat atas pernikahan mereka berdua. Dan Berta yang duduk sebagai pendamping bagi sepasang pengantin tersebut tampak sangat antusias menyambut tamu-tamu yang datang. Meskipun kini Ia duduk di sebuah kursi roda. Disisi Nadira, ada Mita dan Darto yang mendampinginya, sebagai kedua orangtuanya. Meskipun pasangan suami istri itu berat melepaskan Nadira menikah dengan Marcel, tetap saja mereka tidak bisa melarang apalagi menghentikan acara pernikahan tersebut. Karena Nadira mengaku ini keinginannya dan sang ibu. Disaat para tamu undangan undangan mulai sepi, Nadira langsung berpamitan untuk pergi ke kamar. Ia benar-benar lelah berdiri seharian dan memasang wajah pura-pura bahagia. Sehingga Ia ingin membuang rasa lelah di tubuh dan hatinya dengan beristirahat. Jika pengantin baru lainnya tidak sabar untuk berduaan di kamar, Nadira justru melarang Marcel menemaninya. Gadis itu berdalih masih ada tamu undangan yang harus ditemui. sebelum naik ke lantai dua untuk istirahat, Nadira terlebih dahulu berpamitan dengan Mita dan Darto. Ia juga tidak akan turun lagi karena akan langsung tidur di kamar. Mendengar hal tersebut, Mita dan Darto langsung pamitan dengan Nadira untuk pulang. Untuk apa mereka berada di sana jika Nadira tidak ada di sana. Apalagi tamu yang datang sebagian besar dari kalangan elit. Terutama rekan bisnis dan keluarga besar ayahnya Marcel. Usai saling berpamitan dengan orang tua angkatnya, Nadira pun langsung menuju ke kamar. Untuk menghindari adegan seperti di novel-novel, Nadira berusaha sendiri membuka gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Tidak lupa Ia langsung membawa setelan piyama lengan panjangnya. Sambil menunggu bathtub terisi penuh, Nadira mati-matian berusaha untuk membuka gaun pengantinnya. Tidak peduli gaun tersebut akan rusak di tangannya. "Akhirnya …" gumam Nadhira. Saat gaunnya berhasil terlepas, meskipun rusak di bagian resleting dan lengannya. Nadira tidak peduli itu.. Yang penting ia bisa lepas tanpa bantuan Marcel. "Benci, nikah, malam pertama, cinta mati, tidak akan ada di hidupku. Itu hanya ada di novel-novel saja. Contohnya saja mama dan papa yang menikah tanpa cinta. Mama malah terluka karena papa yang katanya sangat mencintai mama," gumam Nadira. Seraya membersihkan wajahnya dari riasan pengantin yang melekat di wajah cantiknya. Selesai dengan riasan, Nadira beralih ke tubuhnya. Ia berendam sejenak sebelum mandi dan mengenakan piyama merah muda miliknya. Cukup ampuh. Berendam sejenak ternyata sangatlah ampuh untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya. Meskipun tidak berpengaruh terhadap luka patah hati yang ia rasakan. Dan ketika Marcel masuk ke kamar, setelah menyelesaikan tugasnya menemani para tamu, Ia harus kecewa karena Nadira sudah tidur. Gadis itu tampak lelap dalam tidurnya, meskipun sejatinya ia hanya berpura-pura saja. Agar Marcel tidak meminta haknya malam ini. Lancar. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan bagaimana rencana Nadira yang sedang berlangsung.. Marcel sama sekali tidak membangunkannya untuk mengajaknya melakukan rutinitas sebagai pasangan pengantin baru. Karena Marcel sepertinya tahu kalau ia lelah menghadapi pesta pernikahannya satu hari ini. Berdiri seharian untuk menerima tamu dan membalas ucapan selamat dari mereka Belum lagi hak sepatunya yang sangat tinggi sehingga kakinya terasa ingin patah karena pegal. Namun, tetap saja Marcel tidur seraya memeluk Nadira. Kini dadaa bidang pria itu sudah berada tepat di hadapan wajahnya. Begitu dekat dan nyata. Saking dekatnya Nadira bisa mencium aroma maskulin yang menguap dari tubuh Marcel. Begitu wangi dan menenangkan. Tanpa disadari Nadira terlelap dalam tidurnya. Rasa lelah dan letih yang sempat mengganggu niatnya untuk tidur, kini hilang begitu saja. Hilang karena rasa hangat dan nyaman saat berada di pelukan Marcel. *** "Pagi, Sayang …" sapa Marcel. Sebelum mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Nadira yang baru saja terbangun. Padahal gadis itu sudah berusaha untuk bangun secepat yang ia mampu. Namun, tetap saja Marcel lebih dahulu bangun dan menyapanya. Padahal di luar langit masih gelap karena bulan belum menyelesaikan tugasnya. "Subuh, Kak," ucap Nadira. Seraya menyingkirkan tangan Marcel dari perut rampingnya. "Oke, aku ulangi. Selamat subuh Nadira Almaira Prayoga,* ucap Marcel. Mengulang sapaannya pada sang istri. Sekaligus menarik Nadira ke dalam pelukannya. Sungguh. Marcel sangat menyukai Nadira yang menolak kehadirannya. Semakin membuatnya gemas dan ingin semakin menggoda istrinya itu. "Iya, selamat subuh, Kak," sahut Nadira. Berusaha untuk melepaskan diri dari Marcel. "Nah, begitu baru istriku yang begitu menggemaskan." Marcel semakin mengeratkan pelukannya. "Berhubung langit masih gelap, mari kita tidur lagi. Agar terbangun dalam keadaan lebih baik. Dan aku juga berjanji tidak akan meminta hakku padamu, sebelum kamu siap dan menerimaku sebagai seorang suami," sambungnya. Nadira yang tidak bisa melakukan apapun karena Marcel yang memeluknya begitu erat, memilih pasrah saja. Mau disentuh atau tidak, lagipula mereka sudah menikah. Sehingga Nadira kembali menyusul Marcel ke alam mimpi dan berharap ketika terbangun Marcel menepati janjinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD