Cermin

4153 Words

“SIAPA yang egois??” Rinai meninggikan nadanya beberapa oktaf. Aku memijit pangkal hidungku mendengar raungan amarahnya dengan berbagai bahasa, tidak terima kusebut egois. Beberapa menit lalu setelah ia pulang dari rumah Larasita untuk menjenguk dan membantunya memasak, ia datang ke rumahku, memintaku segera terbang ke Prancis karena kawan-kawannya ingin berkenalan denganku. Bukankah itu gila? Mengajakku ke Prancis hanya untuk bertemu kawan-kawannya yang segerombolan manusia prestisius didikan Sorbonne? Jika ia mengajakku ke Montmartre, pusat seniman Paris yang pernah dihuni Salvadore Dalí, baru aku tidak akan menolak. “Nai,” aku memanggil perlahan, tapi ia mendominasi percakapan. “Kamu nggak pernah mau ketemu dan kenalan sama kawan-kawanku. Memang apa salahnya bertemu mereka? Hanya sek

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD