Malam belum sepenuhnya berakhir saat Xavier sudah berdiri di depan jendela kamar, menatap halaman luas yang dikelilingi pagar tinggi dan kamera pengawas. Hujan masih turun, lebih deras dari sebelumnya. Cahaya lampu taman memantul di permukaan basah, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan terlalu pelan untuk membuatnya tenang. Ara tertidur setengah jam lalu. Bukan tidur nyenyak, tapi kelelahan yang memaksanya terpejam. Xavier tahu itu. Napasnya tidak stabil, alisnya sesekali berkerut seolah mimpi buruk siap datang kapan saja. Xavier tidak tidur. Tangannya masih berdenyut. Luka di buku-buku jarinya sudah dibersihkan, dibalut rapi, tapi rasa gagal itu tidak bisa dibungkus perban. Renard lolos. Itu satu-satunya fakta yang berputar di kepalanya. Pintu kamar terbuka tanpa suara.

