Hujan mulai turun tipis saat Xavier melangkah keluar dari mobilnya, jas hitamnya tertiup angin dingin malam. Di tempat parkir terbengkalai itu, lampu-lampu jalan berkedip seperti lampu rusak. Suasananya pas untuk memburu seseorang yang tidak pantas hidup. Renard. Xavier memegang pistolnya, tapi bukan itu yang ingin ia pakai malam ini. Ia ingin memukul. Menghajar. Menghancurkan. Dengan tangan kosong. Renard sudah terlalu lama mengintai Ara. Sudah cukup. Bahkan terlalu cukup. Xavier berjalan masuk ke bangunan tua yang sepi. Anak buahnya sudah menyisir lantai bawah, memberi kode aman. “Tuan,” salah satu penjaga mendekat cepat. “Dia ada di lantai tiga. Terpojok.” “Bagus,” suara Xavier dingin. “Jangan ada yang ikut. Gue sendiri yang beresin.” “Baik, Tuan.” Xavier naik tangga perlahan, l

