Malam itu mansion terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Suara angin di luar jendela bahkan terasa menyeramkan, seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kegelapan. Ara duduk di tepi ranjang, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam. Sementara Xavier berdiri tegak di dekat jendela kamar, memandangi pekarangan luar yang diterangi lampu-lampu taman. Setiap detik Xavier tidak bicara, kecemasan Ara makin naik. “Xav…” suara Ara kecil, hampir putus. “Lo belum jawab siapa orang itu.” Xavier tidak menoleh, matanya tetap menatap gelap di luar. “Dia seseorang dari masa lalu kamu, Ara.” Ara langsung pucat. “Masa lalu gue? Maksud lo… Deo?” “Bukan.” Ara menelan ludah. “Vita?” Xavier menggeleng. “Vita terlalu bodoh untuk rencana sebesar ini.” Ara makin merinding. “Tr

