Pagi itu, rumah besar Xavier rasanya terlalu sepi buat hati Ara yang lagi nggak karuan. Xavier udah di kantor, rapat dari jam tujuh pagi. Sementara Ara mondar-mandir depan jendela seperti orang yang kehabisan baterai tapi masih maksa hidup. Aura mansion itu adem, tapi kepala Ara panas kaya panci lupa diangkat dari kompor. “Udah, Ra… tarik napas. Tarik. Buang,” gumam Ara sendiri, tapi pas dia nyoba tarik napas yang keluar malah dengusan panjang penuh emosi. Ia baru mau duduk ketika suara interkom depan berbunyi. Dua ketukan beep tanda ada tamu. Ara mengerutkan dahi. Siapa sih pagi-pagi begini? Kurir? Satpam komplek? Apa Xavier ngirim makanan lagi? Ara melangkah ke layar monitor kecil dekat pintu, mengecek kamera luar. Dan di situ berdiri seseorang yang bikin darah Ara langsung naik sa

