4. Diam dan Menurut!

806 Words
"Minta nomor rekening," ujar Aneska. Abai dengan komentar Shaka tentang pamannya. "Rekening? Buat apa?" tanya Shaka, menoleh sekilas pada gadis cantik yang tak pernah bersikap ramah padanya itu. "Saya akan bayar sebagian uang yang kamu pakai tadi. Sisanya akan saya ... cicil? Itu juga kalau bisa," cicit Aneska, pelan. "Berapa yang mau kamu bayar sekarang?" "Dua ratus juta saya ada." "Hem ... dua ratus." Shaka mengangguk-angguk. "Kira-kira sisanya itu bakal lunas dalam waktu berapa lama dengan ... maaf, gaji kamu sebagai dokter? Bukan maksud meremehkan." "Lalu? Apa yang kamu mau dari saya?" tanya Aneska dengan tatapan tajam pada pria yang masih setia dengan kemudi mobilnya. Shaka terkekeh tanpa menoleh. "Kamu memang pintar," pujinya. Aneska hanya memutar bola mata malas. Ia sudah bisa menduga jika pertolongan itu akan berakhir dengan kerugian di pihaknya. "Cukup lakukan satu hal. Diam dan menurut, maka semuanya aku anggap lunas. Kamu gak perlu bayar hutang kamu sama aku. Gimana?" tawar Shaka. "Saya gak mau. Nanti kamu minta yang aneh-aneh," tolak Aneska. "Ya udah kalau gitu. Aku antarkan kamu lagi ke tempat tadi. Mumpung aku belum bayar semuanya. Kayaknya dia bakal seneng banget kalau aku balikin kamu ke sana. Dia bakal untung lebih banyak," balas Shaka. Ane menatap keki pada pria yang menurutnya sangat licik itu. Jika mampu, ingin ia tendang saja hingga terlempar dari mobil yang sedang melaju tersebut. "Gimana? Mau aku antar lagi ke tempat tadi?" tanya Shaka. "Menurut kamu?" ketus Aneska. "Oke. Aku anggap kamu nerima tawaran aku," timpal pria itu sembari tersenyum simpul. "Udah saya duga. Kamu punya tujuan lain," sindir Aneska. Shaka tidak langsung menjawab. Awalnya ia memang murni berniat untuk membantu gadis itu. Sedikit pun tidak pernah terbersit untuk memanfaatkan situasi. Tetapi menjelaskan pun percuma karena pada kenyataannya saat ini ia memang butuh bantuan sang gadis. "Simbiosis mutualisme," sahut pria itu kemudian. Aneska tak berniat lagi menyahuti. Mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kembali teringat pada sang paman yang dengan tega menjadikannya sebagai tumbal. "Ayo turun, Anes!" Aneska yang sedang melamun pun terkejut. Anes lagi? Ia pikir tadi sang pria salah memanggil namanya. Tetapi sepertinya tidak. "Ngapain kita ke sini?" tanyanya ketika menyadari bahwa mereka sedang berada di depan sebuah klinik. "Tangan kamu butuh diobati," jawab Shaka. Aneskanmelihat pergelangan tangannya. "Saya bisa obati sendiri." "Benarkah? Bagaimana caranya? Kamu punya empat tangan? Atau ... kamu butuh bantuan tanganku?" Tanpa menunggu, di detik itu juga Ane langsung membuka pintu. Secepatnya turun dari mobil sebelum sang pria berbuat macam-macam. Shaka terkekeh. "Apa dia pikir aku bakal makan dia? Lucu banget," gumamnya sembari turun dan menyusul sang gadis. *** Selepas mengobati tangan, Aneska terpaksa harus setuju saat Shaka mengajak pergi ke suatu tempat. Entah tempat apa, ia tidak tahu pasti. Yang jelas, jika sampai pria itu macam-macam, ia tidak akan tinggal diam. "Ini rumah siapa?" tanya Aneska saat tiba di tujuan. "Rumah orang tuaku," jawab Shaka sambil membuka sabuk keselamatan. "Ayo, turun." "Hah? Rumah orang tua kamu? Ngapain kamu bawa saya ke sini?" "Sssttt." Shaka menyilangkan jari telunjuk di bibirnya. "Mau utangnya lunas gak? Diam dan nurut! Ayo!" Setelah itu ia turun lebih dulu. Aneska mengepalkan kedua tangan dengan kesal. "Argh!" Mengerang frustrasi. Tak beranjak dari tempat hingga pintu mobil di sampingnya terbuka. "Mau turun sendiri atau aku tarik paksa?" tanya Shaka dengan penuh penekanan. Lagi-lagi, bak kerbau dicucuk hidung, Ane menurut meski dengan segenap rasa kesal dan terpaksa. Yakin akan ada masalah yang lebih rumit jika sudah melibatkan orang tua. "Jelaskan dulu, untuk apa kamu bawa saya ke sini?" "Nanti aku jelaskan di dalam," jawab Shaka, "tapi sebelum itu, bisa kan gak usah pakai kata saya? Kaku banget." "Gak bisa. Saya gak bisa sok akrab dengan orang yang baru dikenal," tolak Ane. "Kita udah kenal lama loh." "Kata siapa? Gak usah sok kenal deh. Selama ini kita cuma tau satu sama lain, tapi gak kenal," kilah Ane. "Iya, oke. Terserah kamu. Tapi tolong ganti kata saya biar gak kaku." Aneska tidak menanggapi. "Ayo!" ajak Shaka. Diamnya wanita itu ia anggap sebagai persetujuan. Aneska membuang napas kasar. Dengan terpaksa mengikuti langkah pria itu. Melangkah menuju pintu rumah berlantai dua yang menjulang tinggi. "Assalamualaikum." Shaka membuka pintu lalu masuk ke dalam rumah dan langsung pergi menuju ruangan tengah diikuti oleh Aneska. "Waalaikumsalam," jawab seorang perempuan yang sedang duduk di kursi sofa berwarna hitam itu. Ia adalah Marta—ibunda Shaka. "Anak Nakal, akhirnya datang juga kamu. Padahal mama udah siap-siap mau telepon teman mama buat menyetujui permintaan dia," celotehnya sambil mendekati sang anak yang datang bersama seorang wanita muda nan cantik. "Siapa ini?" "Sesuai janji aku sama Mama ... kenalin, ini Anes. Calon yang aku bilang tadi," ujar Shaka. Ane melirik sekilas. Calon? Apa maksudnya calon asisten rumah tangga? Apa mungkin untuk membayar hutang ia harus bekerja di rumah besar itu? Lalu bagaimana dengan pekerjaannya? Marta menatap gadis di depannya dengan lekat lalu tersenyum ramah. "Halo. Tante ibunya, Shaka. Calon mertua kamu." Apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD