Beberapa jam yang lalu.
"SHAKA!"
Shaka yang sedang berada duduk di kursi kerja, terkejut saat pintu ruangan di buka dengan kasar hingga ia melonjak saking terkejutnya. "Mama?'' Gegas beranjak menghampi. "Mama ngapain sih teriak-teriak di sini?"
Marta langsung menarik rambut di depan telinga sang anak. "Dasar Anak Nakal! Pantes aja kamu gak nikah- nikah. Ternyata kamu gal suka perempuan!" amuknya dengan kesal.
Shaka meringis kesakitan sekaligus terkejut mendengar ucapan sang ibu. Mana ada ia tidak suka perempuan. Teman wanitanya saja bukan hanya satu atau dua orang.
"Aduduh, Bu ... itu kasihan Pak Shaka," ujar seorang wanita muda yang masuk ruangan mengikuti Marta.
"Kamu gak udah ikut campur. Gak usah belain bos kamu ini, Manda!" hardik Marta pada gadis yang merupakan sekretaris anaknya tersebut.
"Tapi, Bu. Itu Pak Shaka kesakitan," sahut Amanda, tidak tega melihat sang atasan meringis kesakitan.
"Ma ... lepasin dulu, Ma! Ini sakit, Ma!" pinta Shaka dengan memelas. Sungguh sakit rasanya saat beberapa helai rambut itu ditarik sang ibu dengan tenaga super yang tidak main-main. "Ma ... tolong lepas. Gimana aku mau jelasin kalau kesakitan kayak gini loh."
Dengan napas terengah, Marta melepaskan sang anak. Ditatapnya dengan penuh emosi. "Sekarang katakan!"
Shaka masih meringis sembari mengusap depan telinga yang terasa panas akibat tangan mematikan sang ibu.
"Buruan ngomong, Shaka!" hardik Marta dengan tidak sabar.
"Ngomong apa, Mama?" tanya Shaka dengan wajah pasrah.
"Kamu ngaku sama mama. Benar 'kan kamu gak suka perempuan?"
"Enggak, Mama!"
"Jadi bener kamu gak suka perempuan? Astagfirullah ... apa dosa hambaMu ini ya Allah ...." Marta mengusap dadda dengan wajah merah menahan emosi yang bercampur aduk saat tahu anaknya menyimpang.
"Eh? Enggak gitu maksudnya. Bukan itu maksud aku," kilah Shaka, menyadari sang ibu salah memahami ucapannya. "Maksud aku, enggak bener berita itu." Memperjelas maksudnya.
"Jangan bohong, kamu!"
"Beneran, Ma. Lagian Mama dengar info dari mana coba?" Shaka menatap ibunya penuh tanya lalu mengalihkan tatapan pada sang sekretaris saat teringat bahwa gadis itu pun mengira ia tidak suka perempuan karena salah paham.
Amanda yang menyadari tatapan sang atasan, langsung menggeleng cepat. "Enggak, Pak. Bukan saya yang bilang kalau Bapak dan Pak Damar ... anu ...." Kalimatnya menggantung.
"Jadi bener? Kamu sama Damar ...." Marta pun tidak sanggup menyelesaikan ucapan.
"Enggak, Mama. Gak usah percaya sama berita gak jejas itu. Mama tau Damar udah menikah lagi," sangkal Shaka.
"Bisa aja Damar udah tobat. Makanya dia nikah dan punya anak. Kamu sendiri? Kenapa masih kayak gitu? Kalau Damar bisa sembuh kamu juga bisa."
"Astagfirullah, Mama ... aku dan Damar itu nggak seperti yang Mama pikirin!" Pria itu lalu mengalihkan tatapan kembali pada sang sekretaris. "Awas kamu! Berani-beraninya kamu ngomong macam-macam sama mama saya."
Amanda menggeleng cepat dan langsung bersembunyi di belakang punggung ibu dari atasannya. "Enggak, Pak Shaka. Bener deh. Suer. Bukan saya yang ngomong kalau Bapak sama Pak Damar ada hubungan spesial."
"Manda!" Shaka kesal karena gadis itu terus saja mengatakan hal yang sama. Ia takut ibunya bener-bener menganggap itu adalah kebenaran.
"Ampun, Pak! Beneran, bukan saya yang ngomong!" Amanda mundur saat sang atasan maju mendekat.
"Sini kamu! jangan kabur!" Shaka mengejar sekretarisnya yang terus menjauh.
"Ampun, Pak. Saya gak salah!'"
"Awas aja, saya potong gaji kamu!" kesal Shaka.
"Jangan dong, Pak. Bener loh bukan saya kok yang bilang sama ibu Bapak. Saya beneran nggak tahu apa-apa loh," elak gadis itu. "Bu Tolong jelasin sama Pak Shaka kalau saya nggak tahu apa-apa," mohon Amanda pada Marta.
"Mama tolong jangan percaya apa pun yang Mama denger. Itu gak benar. Aku suka perempuan. Aku bahkan punya banyak teman perempuan." Shaka membela diri.
"Kalau cuma teman perempuan, bisa aja itu kamu jadikan topeng."
"Astagfirullah, Mama... gimana sih Mama ini?! Kok gak percaya sama anaknya sendiri."
"Ya gimana mama mau percaya, orang kamu aja gak pernah kenalin perempuan sama mama. Kamu bilang punya banyak teman perempuan, tapi mana? Sekali saja Mama nggak pernah tuh lihat kamu jalan sama perempuan kecuali jalan sama Damar kemana-mana."
"Mama kan tahu Damar itu sahabat aku sejak dulu."
"Karena itu Mama khawatir. Kalian sering bersama. Bisa ada kalian jadi berubah haluan."
"Enak aja. Aku ini masih laki-laki normal yang suka sama perempuan."
"Kalau begitu bawa perempuannya dan kenalin sama mama."
"Oke! nanti sore aku akan bawa perempuan ke rumah biar mama percaya kalau anak mama ini masih laki-laki normal."
"Kalau cuma perempuan, percuma. Bisa aja perempuan itu kamu bayar buat pura-pura."'
"Lalu Mama maunya apa?"
"Mama mau kamu ajak calon istri!"
"Oke! Gak masalah. akan aku bawa calon nanti!"
"Kalau tidak, mama akan jodohkan kamu dengan teman mama yang usianya sama dengan mama!"
"Maksud Mama apa?" Shaka menatap sang ibu penuh tanya.
"Iya. Temen mama ada yang baru menjanda dan dia lagi nyari suami baru. Dia itu emang suka berondong. Jadi kalau kamu nggak menepati janji kamu, mama akan jodohkan kamu sama dia."
Shaka melotot tak percaya. Ibunya ingin menjodohkan ia wanita tua? Yang bener saja!