6. Ibu Paling Absurd (Masih Flashback)

804 Words
"Mama kebangetan deh. Masa mau jodohin aku sama nenek-nenek. Memangnya Mama mau punya menantu yang usianya sebaya mama?" protes Shaka. "Mau-mau aja tuh. Malah bagus. Nanti mama bisa shopping bareng, bisa jalan-jalan bareng. Akur sama menantu. Enggak ada tuh drama mertua sama menantu yang gak akur," sahut Marta dengan santai. "Ya enggak sama nenek-nenek juga kali, Ma." "Jadi menurut kamu mama ini nenek-nenek?" semprot Marta, tidak terima. "Iya kan memang begitu," sahut Shaka, "Mama itu udah pantas jadi nenek," ejeknya. "Iya memang, makanya mama pengen punya cucu. Tapi kamu sudah umur segini masih aja betah sendirian. Malah main gilla sama laki-laki. Mana bisa laki-laki ngasih mama cucu." Shaka memutar bola mata malas. "Berapa kali sih aku harus bilang sama Mama? Aku itu nggak main gilla sama laki-laki seperti yang Mama pikirin. Aku ini masih normal." Niat hati hanya ingin mencibir sang ibu tapi justru menjadi bumerang yang akhirnya membuat wanita itu mengungkit kembali hal yang dianggap salah. "Ya udah kalau gitu, buktiin dong. Bawa perempuan yang kamu bilang calon istri itu ke hadapan mama. Baru mama percaya." "Oke! Nanti aku bawa. Kalau perlu besok kita lamar ke orang tuanya!" sungut Shaka dengan kesal, tanpa pikir panjang. "Bagus. Kalau gitu mama akan persiapkan semuanya," sahut Marta. Sengaja meladeni ocehan sang anak mesti tahu bahwa itu semua hanyalah gertakan semata. Rasanya tidak mungkin putranya itu memiliki perempuan baik-baik yang dikatakan calon istri. Ingin tahu apa yang akan dilakukan sang anak kali ini. "Mama pulang dulu. Ingat janji kamu. Nanti sore bawa perempuan itu ke rumah. Kalau enggak, mama jodohin kamu dengan teman mama. Kalau perlu besok langsung mama nikahin kamu sama dia." "Hem." Shaka hanya bergumam tanpa menanggapi perkataan ibunya. Marta berlalu, menutup pintu ruangan anaknya tanpa diminta. Shaka menggaruk kepalanya dengan kasar selepas kepergian sang ibu. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Menemukan wanita baik-baik yang sesuai dengan kriteria menantu idaman sang mama bukanlah hal yang mudah. Selama ini ia sering bergonta-ganti teman wanita tanpa sepengetahuan sang ibu. Tak ada satu pun yang ia ajak ke rumah meski para wanita itu sering memaksa. Itu semua karena Shaka tahu ibunya tidak akan suka dengan gadis-gadis yang ia kencani. "Bapak mau saya bantu carikan wanita yang cocok untuk Ibu Marta?" tawar Amanda, menatap prihatin ke arah sang atasan. "Gak usah. Kamu gak akan tahu cewek seperti apa yang mama saya mau," tolak Shaka. "Lalu? Bapak mau nerima gitu aja dijodohin sama temennya ibu?" "Ya enggak lah. Kamu ini mengada-ada. Mana mungkin. Masa saya harus nikah sama nenek-nenek. Nanti gimana kalau baru sebentar nikah saya udah jadi duda keren karena ditinggal meninggal." "Tapi 'kan umur nggak ada yang tahu Pak. Siapa tahu malah Bapak duluan," celetuk polos Amanda. Shaka membulatkan kedua bola mata. "Kamu nyumpahin saya mati duluan?" "Eh? Enggak, Pak. Maaf. Saya 'kan cuma bilang umur itu rahasia Allah," kilah Amanda, panik. "Gaji kamu saya potong!" "Eh? Jangan dong, Pak. Saya butuh gaji saya utuh biar saya enggak tergoda jadi ani-ani," ceplos gadis itu lagi dan langsung menutup mulut ketika ia menyadari bahwa telah kelepasan bicara. Shaka menatap tajam. "Kalau sampai kamu jadi ani-ani, saya pecat kamu. Saya nggak mau punya karyawan yang bermasalah seperti itu." "Enggak kok, Pak. Makanya Bapak jangan potong gaji saya dong." Amanda menggeleng cepat. "Saya mau keluar. Mumet saya di sini. Urusan mama juga belum kelar ditambah sama kamu yang mau jadi ani-ani. Saya laporin kakak kamu, baru tau rasa." "Jangan, Pak. Saya cuma bercanda tadi. Saya gak ada niatan jadi ani-ani kok," sambar Amanda dengan cepat. Ia tahu atasannya itu mengenal sang kakak. Shaka abai. Ia sedang pusing memikirkan cara menyelesaikan masalah dengan ibunya. Tak ia tanggapi sang sekretaris sang terus memanggil namanya sembari memohon ini dan itu. "Dasar Bos Resek!" Amanda menatap kesal ke arah pintu lift yang sudah tertutup di mana di dalamnya terdapat sang atasan. "Aduh ... gimana ya kalau Pak Shaka cerita sama Mbak. Bisa habis aku diomeli. Aku kan cuma bercanda tadi." *** Shaka menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari terus memikirkan cara untuk masalah dengan sang ibu. Ia tahu wanita yang melahirkannya itu tidak main-main. Jika tidak membawa seorang gadis, ia pasti bener-bener akan dinikahkan dengan wanita tua. Untuk melawan pun ia tidak berani. Takut terkena azab anak durhaka. Bagaimana jika ibunya yang ceplas-ceplos itu mengutuknya menjadi batu? Bukankah itu mengerikan? Shaka menajamkan indra penglihatan ketika di depan sebuah hotel berbintang ia melihat seseorang yang ia kenal. "Itu ... bukannya si dokter judes itu? Tapi kenapa dia di sini?" Melihat dari gerak tubuh, ia tahu orang yang ia lihat itu dipaksa untuk masuk. Shaka dilema. Antara mencari tahu atau pura-pura tidak tahu saja. Toh gadis itu tak pernah menunjuk sikap bersahabat padanya. Selalu saja bersikap dingin dan acuh. "Ah. Tapi aku penasaran. Masa bodo lah kalau dia nanti makin gak suka sama aku gara-gara ikut campur urusan pribadinya." Shaka akhirnya memutuskan untuk mencari tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD