7. Serba Salah

816 Words
"Jangan melotot kayak gitu. Nanti mama pikir kamu melotot sama Beliau," bisik Shaka dengan senyum geli. Aneska segera mengedipkan kedua mata. Ia tidak sedang melotot pada wanita cantik yang merupakan ibu dari pria menyebalkan itu. Hanya terkejut dengan pengakuan sang wanita yang mengaku calon ibu mertuanya. Atas dasar apa? "Ayo, duduk. Jangan berdiri saja," ajak Marta. "Makasihh, Bu," sahut Aneska seraya duduk di kursi yang ada di ruangan itu. "Jangan panggil ibu. Panggil mama aja," balas Marta dengan ramah. Hah? Mama? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa yang dilakukan pria itu? Aneska benar-benar bingung sekarang. "Tunggu sebentar. Mama tadi bikin kue. Sengaja karena tahu Shaka mau datang sama kamu. Tunggu sebentar, ya?!" Marta beranjak. Aneska langsung mengalihkan tatapan pada sang pria saat Wanita paruh baya itu pergi. "Apa maksudnya ini? Mama? Calon mertua? Apa sebenarnya yang udah kamu lakukan?" kesalnya dengan suara tertahan karena tidak ingin sampai terdengar oleh orang lain. "Nanti aku jelaskan semua. Sekarang tolong kerja samanya. Pura-pura dulu jadi calon istri aku di depan mama." Shaka bakas berbisik. "APA?" pekik Aneska dengan suara nyaring tetapi segera menutup mulut sembari menoleh ke arah pintu tempat ibunda Shaka menghilang. "Kamu udah gak waras!" "Terserah kamu mau bilang apa. Yang pasti sekarang aku pengen kamu jadi calon istri pura-pura aku sebagai imbalan karena aku udah selamatkan kamu dari tempat tadi!" tegas pria itu. Aneska menatap tidak suka pada pria pemaksa di depannya. Tidak ingin lagi mereka terlibat dalam urusan apa pun. Tetapi semuanya justru semakin rumit. Bukan tanpa alasan, beberapa kali Aneska pernah mendapati sang pria bersamaan wanita yang berbeda. Sejak saat itu ia berpikir bahwa Shaka adalah pria yang harus ia hindari. Cukup saling mengenal, tidak lebih. "Harusnya kamu biarin saya di sana tadi. Siapa tahu orang yang menebus saya nanti orang baik yang menolong tanpa pamrih. Enggak kayak kamu," sungut Aneksa. "Apa? Orang baik kamu bilang? Di tempat seperti itu kamu berharap bertemu orang baik?" Shaka menatap wanita yang menampakkan dengan jelas rasa tidak suka padanya. Aneska diam. Benar juga. Rasanya orang baik tidak mungkin ada di tempat itu. "Kamu sendiri ada di tempat itu. Kamu pasti bagian dari mereka. Suka jajan," sindirnya. Shaka menghela panjang, tetapi memilih tidak menjelaskan bahwa ia ada di sana karena mengikuti. Rasanya percuma, apa pun yang ia lakukan tetap salah di mata gadis yang sejak awal terkesan tidak menyukainya itu. "Intinya aku cuma butuh kamu pura-pura. Cuma sekarang. Yang penting mama gak jadi jodohin aku sama temannya yang udah nenek-nenek," ujar Shaka, mengalihkan topik pembicaraan. "Hah? Maksudnya ibu kamu mau jodohin kamu sama nenek-nenek?" tanya Aneska untuk memastikan. Siapa tahu saja ia salah mendengar. Shaka menganggu dengan raut wajah masam. "Iya. Kalau hari ini aku gak kenalin calon istri ke mama." Aneska seketika tertawa terbahak hingga lupa bahwa ia sedang bertamu. Shaka melongo saat untuk pertama kalinya melihat gadis itu tertawa. "Lagi pada ngomongin apa sih? Seneng banget kayaknya," komentar Marta sembari membawa nampan di tangan. Aneska langsung berhenti tertawa, merasa tidak enak karena membuat keributan di rumah orang lain. "Maaf, Bu." Marta tersenyum. " Gak usah minta maaf. Mama malah seneng lihat kedekatan kalian. Jadi gak sabar pengen lihat kalian nikah." "Ini kue buatan Ibu?" tanya Aneska, mengalikan topik pembicaraan sang pemilik rumah yang mulai melantur. "Iya. Kamu cobain," angguk Marta sembari mengambil piring kecil dan mengisinya dengan cake lalu menyodorkannya pada sang gadis yang konon adalah calon menantunya. *** "Ikbal! Ngapain kamu ke sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang membuka pintu saat ada yang mengetuknya. Ikbal tidak menjawab, begitu sampai masuk ke dalam rumah. "Gak usah ikut campur!" Melewati wanita yang bertanya begitu saja. Jangan ikut campur gimana? Kamu masuk ke rumahku seenak dan kamu bilang jangan ikut campur?" semprot wanita itu sambil mengikuti langkah tamu tidak sopan itu. "Udah deh. Mbak Ratih jangan ikut campur. Mana BPKB mobil Anes?" Ikbal menatap wanita bernama Ratih yang merupakan kakak iparnya. "BPKB? Buat apa?" tanya Ratih. "Mau aku jual. Aku butuh uang!" jawab Ikbal dengan santai. Ratih menatap tidak suka pada adik ipar yang seringkali datang dan memaksa meminta apa pun ke sana. "Buruan, Mbak! Aku kalah juddi. Aku butuh uang," bentak pria itu. "Mana aku tau Anes yang simpan. Lagian kalau aku tau pun gak akan aku kasih tahu," sahut Ratih dengan ketus. "ARGH! Anak itu memang pelit. Bagus dia aku jual ke rentennir." "Ap-apa? Kamu bilang apa?" gagal Ranti sembari menatap penuh perhatian pada adik iparnya itu. "Iya. Anak kesayangan Mbak itu udah aku jual. Aku pinjam uang sama renntenir dan Anes aku jadikan jaminan. Biar tahu rasa dia! Keponakan durhaka! Sama om sendiri gak pernah ngasih uang kalau diminta. Kalau aku datang dia suka seenaknya daja ngusir. Gak ada sopan santunnya sama yang lebih tua," gerutu Ikbal. Kaki Ratih seketika menjadi lemas saat mendengar jawaban adik ipar. Tetapi di detik berikutnya ia terkejut saat mendengar bunyi. Ia pun menoleh. "Mas!" jeritnya saat melihat sang suami jatuh dan tidak sadarkan diri di depan pintu kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD