8. Semakin Kacau

804 Words
"Saya mau pulang!" Aneska bangkit berdiri saat Marta sedang pergi karena harus mengurus suami yang baru saja tiba di rumah. "Eh! Tunggu dulu!" Pria itu mencegah, menghadang langkah. "Apa lagi?" "Ya masa kamu pulang gak bilang dulu sama mama." "Kamu bilang aja kalau saya ada urusan penting," balas Aneska. "Kenapa gak kamu sendiri aja yang bilang?" "Ya gak apa-apa. Kan ada kamu," balas Aneska. "Tapi masa kamu ujug-ujug pulang tanpa pamit sama calon mertua?" "Cuma pura-pura. Ingat itu!'' ralat Aneska, "itu juga terpaksa," ketusnya kemudian. "Biarpun cuma pura-pura, harus total dong aktingnya," bahas Shaka. "Pokoknya—" "Aka, Anes! Ayo, makan dulu. Papa udah nunggu," ujat Marta, tanpa sengaja memotong ucapan Aneska. "Iya, Bu." Aneska yang tidak enakan, hanya mampu mengiyakan. Disertai helaan napas panjang, ia terpaksa mengikuti keinginan wanita paruh baya itu. Aneska duduk di samping Marta, berhadapan dengan Shaka. Sementara Rudi duduk di dekat istri. Ayahanda Shaka itu menatap gadis yang tadi sempat dikenalkan sebagai calon istri putranya. Seperti pernah bertemu tetapi entah di mana. Mencoba menggali ingatan hingga akhirnya, ''Saya ingat sekarang." Semua orang menatap pria yang masih tampak gagah di usianya yang sudah tak lagi muda. "Ingat apa, Pa?" tanya Shaka. "Kamu kerja di rumah sakit tempat Damar kan?" Rudi menatap sang gadis. Mita mengangguk. "Benar, Pak." "Lebih baik kita makan dulu aja. Baru nanti ngobrol abis makan. Biar santai," ujar Marta. Aneska sebenarnya merasa tidak nyaman. Perasaan tiba-tiba saja menjadi gelisah. Tetapi untuk menolak pun ia tidak enak. Diraihnya gelas yang ada di atas meja lalu diteguk. "Besok jadi kan kita melamar Anes pada orangtuanya?" tanya Marta, teringat perkataan sang anak tadi pagi. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Aneksa yanh masih sedang minum pun seketika tersedak air minum. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Marta sambil mengusap punggung gadis di sampingnya. "Udah oke?'' Aneska mengangguk. "Saya tidak apa-apa," ujarnya sambil mengusap dadda lalu menatap tajam pada pria di depannya. 'Dia pasti ngomong yang enggak-enggak makanya ibunya bisa bicara kayak gitu. Pakai acara bahas lamaran segala. Dia bilang cuma sekali ini pura-puranya,' batin Aneska. Karena kesal, ia menendang kaki di bawah meja. "Akh!" pekik Shaka saat ujung sepatu gadis itu mengenai tulang keringnya. "Kenapa?" tanya Marta dengan bingung dan juga cemas sekaligus. "Akh, ini. Nasinya panas, Ma," kilah Shaka. "Ish! Kamu ini. Bikin orang kaget aja," omel Marta, "jadi gimana soal lamaran itu? Kamu bilang mau langsung lamar aja setelah kamu kenalin ke mama." Shaka mengernyit. ''Kapan aku bilang kayak gitu?" "Tadi. Kamu bilang mau kenalin ke mama kalau perlu langsung lamar aja." Shaka memijat pangkal hidung. Ia spontan mengatakan hal itu hanya karena kesal. Dan sekarang semuanya justru menjadi semakin rumit. Apalagi gadis di depannya terus saja melayangkan tatapan tidak suka. "Sudah! Katanya tadi mau mau makan dulu. Kok malah pada ngobrol." Rudi akhir angkat bicara. Suara dering ponsel berbunyi. "Maaf, saya terima telepon dulu. Silakan makan terlebih dahulu, tidak perlu menunggu saya," ujar Aneksa s dengan sopan kemudian beranjak dari kursinya, mengambil ponsel dari dalam tas yang ia tinggalkan di ruang tamu. "Ibu," gumamnya saat melihat nama ibunya tertera di layar sebagai pemanggil. Menggeser layar lalu menempelkan benda itu ke telinga. "Assalamualaikum, Bu." 'Waalaikumsalam, Alhamdulillah akhirnya kamu angkat telepon juga. Kamu gak apa-apa kan Sayangm' Dari seberang sana, Aneska mendengar Helaan napas panjang sang ibu. "Aku gak apa-apa, Bu. Memangnya kenapa?" 'Tadi om kamu datang ke rumah dan bilang kamu dijual untuk bayar utang.' Aneska begitu kesal mendengar perkataan ibu. Pamannya itu benar-benar keterlaluan. "Ibu gak usah khawatir, aku gak apa-apa. Semua sudah beres kok." Aneska tidak ingin ibunya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ingin menambah beban pikiran orang tuanya. "Tapi karena itu ayah kamu sakit lagi." "Apa? Ibu kenapa gak bilang dari tadi? Sekarang ayah di mana?" "Di rumah, Nak. Ibu gak mau ganggu kerjaan kamu. Lagian ayah juga sudah gak apa-apa. Sekarang lagi istirahat." "Ya udah. Aku pulang sekarang. Aku tutup dulu teleponnya, Bu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Aneska mengakhiri panggilan lalu berbalik. Seketika ia mundur karena terkejut. "Kenapa harus berdiri di situ sih?!" omelnya dengan kesal. "Ada apa?" tanya Shaka tanpa menanggapi kekesalan wanita itu. ''Saya harus pulang. Ayah saya sakit dan semua ini gara-gara kamu. Kalau aja kamu gak ajak saya ke sini, ayah saya gak mungkin sakit." Gadis itu mengalahkan pria di depannya. "Hah? Kenapa jadi aku?'' protes Shaka. Namun Aneska tidak menanggapi, kembali ke meja makan dengan segera. "Maaf, saya harus segera pulang. Ayah saya sakit. Permisi, Pak, Bu," pamitnya denga sopan. "Aku antar," ujar Shaka. "Gak—" "Mama juga ikut," sambar Marta, "Gak usah. Saya bisa pulang sendiri kok. Ibu dan Bapak silakan lanjut makan. Kamu juga." Terakhir Aneska mengalihkan tatapan pada Shaka. "Gak apa-apa, Sayang. Makan bisa nanti," balas Marta, "ayo, Mas, kita ikut juga sekalian jenguk calon besan." Kali ini ia bicara pada suami yang hanya mengangguki ucapannya. Aneska hanya bisa tersenyum meringis tanpa bisa melarang. Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD