Ratih tampak bingung saat putrinya pulang bersama beberapa orang yang tidak ia kenal. Atau jangan-jangan, mereka adalah penagihan hutang yang datang untuk menagih hutang adik iparnya?
"Nanti aku jelaskan, Bu," bisik Aneska, mengerti dengan kebingungan sang ibu yang tampak jelas di wajahnya yang tidak lagi muda.
"Mari silakan masuk," ujar Ratih, mempersilakan ketiga orang tamunya.
"Terima kasih." Marta mengangguk sopan sembari tersenyum manis. "Oh, iya. Ini ada sedikit buah-buahan."
Ratih menerima satu keranjang buah yang disodorkan tamunya. "Terima kasih. Maaf jadi merepotkan ...."
"Marta. Saya Marta. Ibunya Shaka." Wanita paruh baya yang cantik dan anggun itu menyodorkan tangan, melirik sekilas ke arah putranya.
"Saya Ratih," balas ibunda Aneska tersebut, menyambut uluran tangan salah satu tamunya. Pun melirik sekilas ke arah pria muda yang juga tidak ia kenali. Tetapi tidak mengatakan apa-apa. Saat ini tidak ada waktu untuk bertanya.
Shaka merasa lega karena ibunda gadis yang ia akukan sebagai calon istri pada sang ibu itu tidak memperlihatkan bahwa mereka sebelumnya tidak saling mengenal. Pasalnya, ia mengatakan pada sang ibu bahwa ia sudah kenal dengan orang tua Aneska.
"Dan ini suami saya. Rudi." Tak lupa Marta memperkenalkan sang suami.
Ratih mengangguk sopan pada Rudi sembari tersenyum ramah. "Mari, silakan duduk. Saya buatkan dulu minuman."
"Terima kasih. Maaf merepotkan," ujar Marta sembari duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Tidak repot kok, Bu. Sebentar, ya?! Saya permisi ke belakang dulu," pamit Ratih kemudian berlalu diikuti oleh Aneska.
"Aku mau lihat ayah dulu, Bu," ujar gadis itu sembari berlalu menuju kamar di mana ayahnya berada.
Ratih mengangguk kemudian berlalu menuju dapur untuk membuat minuman bagi tamu-tamunya.
"Kamu sana jenguk ayahnya Anes. Malah duduk di sini,'' ujar Marta pada putranya.
"Gak enak, Ma. Masa aku tiba-tiba masuk."
"Ya kamu izin dulu lalu bilang mau nengok calon mertua. Gimana sih kamu ini?! Masa gitu aja harus mama kasih tau?!" omel Marta.
Shaka menggaruk kening dengan telunjuk. Semua ini benar-benar di luar dugaan. Niat awal hanya mengenalkan Aneska pada ibunya sebagai calon istri lalu semua masalah akan selesai.
Namun yang terjadi ternyata jauh melenceng dari rencana dan ia tidak tahu bagaimana cara keluar dari situasi ini. Bingung langkah apa yang harus dilakukan sekarang.
"Aka! Malah planga-plongo. Sana pergi!" Marta mendorong pelan bahu putranya.
"Tapi, Ma—" Shaka tidak melanjutkan aksi protes saat sang ibu membulatkan kedua bola mata hingga tampak seperti akan keluar dari tempatnya.
Dihelanya napas panjang lalu bangkit berdiri. Sebelum beranjak, ia mengalihkan tatapan pada sang ibu yang masih saja memelototinya seperti anak kecil.
Pandangan kemudian beralih pada sang ayah, meminta bantuan lewat sorot mata. Tetapi pria paruh baya itu justru mengangguk samar, memberinya isyarat untuk mengikuti keinginan sang ibu.
Sekali lagi Shaka menghembuskan napas berat lalu beranjak, menuruti permintaan ibu meski dengan langkah ragu.
Memasuki bagian dalam rumah, dibuat bingung saat melihat ada tiga pintu kamar yang letaknya tidak berjauhan. "Kamarnya yang mana, ya?!" gumamnya hingga melihat sebuah pintu yang tidak tertutup rapat. Memutuskan untuk mendekati.
"Ayah gak apa-apa?"
Shaka memutuskan untuk berdiri di dekat pintu saat mendengar suara Aneska dari dalam sana.
"Harusnya ayah yang tanya sama kamu, Sayang. Om kamu tadi ke sini dan dia bilang udah jual kamu ke rentennir."
Suara lirih seorang pria terdengar jelas di indra pendengaran Shaka. Jadi semua ini gara-gara orang yang sama. Tidak habis pikir, ternyata ada orang seperti paman Aneska.
"Aku gak apa-apa, Yah. Ayah gak perlu khawatir. Aku udah selesaikan semuanya."
"Bagaimana kalau rentennir itu datang lagi?"
"Enggak mungkin, Yah. Urusan sama rentenir itu udah selesai. Gak ada lagi hutang Om Ikbal."
"Maafkan ayah, Nak. Harusnya ayah yang jagain kamu. Andai kecelakaan itu gak terjadi, ayah pasti bisa jaga kamu dan adik kamu."
Suara ayah Aneska terdengar lirih. Bisa Shaka tangkap jelas kesedihan dan kekecewaan dari suaranya. ''Jadi Beliau kecelakaan, pantas saja," gumamnya lagi setelah menguping pembicaraan ayah dan anak yang ada di dalam kamar.
"Ayah ... jangan bicara kayak gitu. Ayah selama ini selalu jagain kami. Ayah juga yang ajarin kamu membela diri saat ada yang mengganggu. Soal Om Ikbal itu, aku gak bisa melawan mereka, Yah. Mereka bilang, kalau aku gak ikut, maka mereka akan datangi rumah kita dan bawa siapa aja sebagai gantinya."
"Ikbal itu benar-benar! Kamu tenang aja, Sayang. Kalau ayah udah sembuh, ayah pukul dia nanti sampai kapok!''
"Makanya ayah harus banyak makan biar cepat sembuh."
"Ayah pasti akan cepat sembuh dan merasa tenang kalau bisa memastikan bahwa putri ayah yang satu ini aman dari ancaman apa pun."
"Ayah gak usah lebay deh."
Terdengar suara kekehan sang gadis yang membuat lengkung bibir Shaka tercipta. Ia suka melihat gadis itu tersenyum meski senyum itu tak pernah ditujukan untuknya.
Selama mereka saling mengenal, sekalipun tidak pernah Aneska tersenyum padanya. Padahal gadis itu adalah pribadi yang ceria. Yang ia dapatkan justru tatapan tidak suka yang tersirat jelas.
"Kamu lagi apa di sini?"
Shaka terperanjat, terkejut saat sedang asik dengan pikirannya sendiri dan mendengar suara seorang wanita.