Shaka berbalik dan tersenyum meringis. "Maaf, Tante. Saya ... em ... anu. Saya tadinya mau nengok om. Tapi tidak enak ganggu Anes,'' cengirnya sambil mengusap tengkuk.
Ratih menatap datar pria muda itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya bicara, "Bisa ikut saya sebentar? Ada yang mau saya tanyakan."
Shaka mengangguk meski sedikit ragu dan juga berdebar. Hati bertanya-tanya tentang apa yang akan ditanyakan wanita paruh baya itu.
"Silakan duduk," ujar Ratih saat mereka tiba di meja makan.
"Makasih, Tante." Shaka mendaratkan diri di atas kursi, berhadapan dengan Ratih.
"Kalau boleh saya tahu, Nak ...." Ratih lupa nama pemuda itu.
"Shaka, Tante," sahut Shaka.
"Nak Shaka ini siapanya Anes? Kenapa bisa ikut ke sini dan bawa orang tua juga. Apa Nak Shaka ini rentenir yang mau menagih hutang omnya Anes? Kalau benar, Nak Shaka salah rumah. Ikbal gak tinggal di sini." Tanpa basa-basi, Ratih berceloteh. Ingin segera menuntaskan rasa penasaran yang sejak tadi menggelayuti pikiran.
"Hah?" Shaka melongo. Apa tampangnya ada bakat jadi rentenir? Memangnya ada rentenir yang wajahnya tampan rupawan dan menawan seperti dirinya? Ah, ada-ada saja.
"Bukan, Tante. Saya bukan rentenir." Tentu saja Shaka menyangkal.
"Lalu?"
"Saya temannya Damar. Tante kenal Damar?"
"Dokter Damar?"
"Iya." Shaka mengangguk. "Bisa dibilang saya teman Anes dan ingin ikut menjenguk om."
Ratih mengerutkan kening. "Kenapa terdengar tidak yakin jika Nak Shaka ini temannya Anes."
Shaka menghela napas panjang. "Mungkin karena muka saya mirip rentenir, makanya Anes malu punya taman kayak saya," candanya lalu terkekeh.
Ratih tertawa kecil. "Maaf. Saya salah paham. Saya pikir Nak Shaka rentenir yang akan membawa Anes sebagai jaminan hutang."
" Anes bukan barang yang pantas dijaminkan, Bu," sahut Shaka.
Ratih menghela napas panjang. Benar, anaknya manusia, tetapi diperlakukan seperti barang oleh adik ipar.
"Ibu lagi ngapain?"
Shaka dan Ratih menoleh hampir bersamaan ke arah sumber suara.
"Lagi ngobrol sama teman kamu," jawab Ratih.
Aneksa menatap tajam ke arah pria yang duduk di depan ibunya. Khawatir mereka bicara hal yang macam-macam. "Kamu ngapain di sini?"
"Ajak Nak Shaka ke kamar. Katanya mau jenguk ayah." Ratih yang menyahuti.
"Gak usah, Bu. Biar dia pulang aja," balas Aneska dengan lirikan tidak suka.
"Aku akan pulang kalau udah jenguk ayah kamu," sambar Shaka.
"Kamu tadi cuma bilang mau anterin saya pulang. Gak bilang kalau mau jenguk juga."
"Ya sekalian, Anes," sahut Shaka.
"Gak usah!"
"Eh, ini kenapa malah berdebat," lerai Ratih, "Sayang, sudah sana kamu ajak temannya. Ibu mau ke depan."
"Tapi, Bu—"
"Orang sakit itu punya hak untuk dijenguk loh. Makin banyak yang jenguk, makin banyak yang doakan biar cepat sembuh," potong Shaka.
"Tuh, teman kamu benar. Sudah, sana. Ibu mau ke depan," sahut Ratih kemudian berlalu.
Sepeninggalan sang ibu, Aneska kembali menatap tajam sang pria. "Kamu ngomong apa sama ibu?" tanyanya, menaruh curiga karena ibunya bersikap baik.
"Gak ngomong apa-apa," jawab Shaka.
"Bohong!"
Shaka memutar bola mata. "Kamu ini kenapa sih suka banget berpikir negatif sama aku? Salah aku apa sama kamu?"
Aneska menatap sinis. "Kamu tanya salah kamu apa setelah kamu membuat saya terjebak dalam situasi kayak sekarang? Gak salah? Kalau soal uang yang udah kamu keluarkan buat saya, saya bisa kembalikan meski tidak bisa langsung semaunya."
"Bukan cuma kamu yang terjebak dalam situasi ini. Aku juga."
"Kamu yang bikin ulah duluan, sekarang kamu bilang kamu terjebak juga?"
"Memang kenyataannya kayak gitu. Aku cuma berencana mengenalkan kamu ke mama sebagai calon istri. Hanya agar mama tidak lagi menjodohkan aku dengan temannya. Setelah itu masalah selesai. Yang terjadi selebihnya itu benar-benar di luar kuasaku."
"Tapi nyatanya semua jadi runyam. Kalau sampai orang tua kamu bicara macam-macam sama orang tuaku, awas aja!" Telunjuk gadis itu mengacung dengan raut wajah kesal yang kentara jelas.
"Tapi aku gak bisa mengatur—"
"Ini kenapa masih pada di sini?" Suara Ratih tanpa sengaja memotong kalimat Shaka yang belum selesai bicara.
Aneska membuang napas kasar. Ia benar-benar tidak suka dengan keadaan ini. "Bu, ade udah pulang belum?" Mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum. Katanya ada temannya yang sakit, jadi pulang kerja dia mampir dulu ke rumah sakit," jawab Ratih sembari pergi ke dapur dan kembali dengan membawa satu gelas air putih. "Tolong kasih ini buat Ayah. Udah waktunya minum obat. Nanti keburu tidur."
Aneska mengambil gelas dari tangan sang ibu tanpa mengatakan apa-apa.
"Nak Shaka, ikut Anes aja sekalian kalau mau jenguk om,'' ujar Ratih.
"Iya, Tante." Shaka mengekori sang gadis .
Meski keberatan, Aneska tidak bisa menolak perintah ibunya. Membiarkan pria itu mengikuti hingga ke dalam kamar.
"Ayah, udah waktunya minum obat," ujar Aneska sembari menyimpan gelas di atas nakas lalu duduk di tepi tempat tidur. Sama sekali tidak memperkenalkan Shaka pada sang ayah.
Pria yang baru beberapa hari pulang dari rumah sakit setelah mengalami kecelakaan itu menurut buku yang sedang iya baca lalu menoleh. Seketika keningnya mengernyit saat melihat orang yang datang bersama putrinya.
"Loh? Nak Shaka? Kok bisa ada di rumah om?" tanya pria bernama Ahmad itu.