46. Prahara

1203 Words

Aneska berjalan bulak balik di ruang tamu. Sesekali melihat benda penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah pukul sembilan malam lebih dan suaminya belum juga kembali. "Bener-bener itu orang. Emang gak pernah berubah," ujarnya sambil menahan emosi. Kedua tangan terkepal ketika teringat kejadian tadi sore. Sejak tiba di rumah setelah melihat suami dan mantannya berada di hotel yang sama, Aneska merasa tidak tenang. Pikiran burruk terus memenuhi kepala. berbagai rasa kini mengusik hati. Ia kemudian duduk di kursi. Terus berpikir hingga akhirnya tiba pada satu keputusan. Gegas pergi ke kamar dan mengambil sesuatu dari dalam laci nakas yang ada di samping tempat tidur. Menghempaskan napas berat. "Semoga ini adalah jalan terbaik. Mungkin ini petunjuk dari rasa bimbang yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD