Aku berjalan perlahan ke arah laki-laki tersebut dan sesekali memanggilnya, sambil membawa handycam kesayanganku. Pria itu tengah duduk di kursi taman, sedang memandang laptop acer kesayangannya. Dia terlihat sedang mengetik sesuatu yang pasti aku tak mengerti. Dia adalah seorang programmer. Sekarang dia merupakan asisten dosen, merangkap sebagai asisten laboratorium komputer kampus.
Ketika aku sampai di dekatnya, dia masih saja berkutik dengan laptopnya. Dia tak sadar akan keberadaanku.
"Hei. Lagi sibuk?" aku mencolek bahunya yang lebar, terlihat nyaman jika aku bersandar di dadanya yang bidang.
"Eh, Al. Sejak kapan disini?" dia menoleh sekilas kepadaku, kemudian pandangannya kembali ke layar itu.
Aku mendesah pelan. "Daritadi aku manggil kamu loh Le. Kamunya aja ga sadar."
Dia terkekeh dan menoleh ke arahku lagi. "Yaelah jangan ngambek kenapa. Ntar cepet tua loh."
Aku mengenalnya baru beberapa bulan ini, setelah aku putus dengan pacarku. Saat itu aku dikenalkan oleh salah satu sahabatku. Rencananya dia ingin membuat kami menjadi sepasang kekasih. Alih-alih menjadi kekasih, aku dan Leo malahan berjanji tidak pacaran. Haha. Sungguh konyol. Sahabatku kecewa pada kami. Tapi kami hanya bisa tertawa lebar. Kami sudah saling nyaman satu sama lain tanpa ada ikatan lebih. Hanya sebatas sahabat.
"Hey, gimana sama Nisa?" aku bertanya sambil mengeluarkan sandwich-ku, aku belum sarapan dan siang ini aku benar-benar merasa lapar. Dia berhenti mengetik dan memandangku.
"Uhm, entahlah. Dia bersikap baik sama aku dan kita juga udah deket banget. Tapi sikapnya dia seperti berkata 'jangan dekati aku'" aku yang sedang mengunyah menyerit bingung. Ini orang, ngomong kok gabisa dingertiin banget.
Aku menelah kunyahan sandwich-ku, dan langsung bertanya kepadanya "Maksudnya apaan coba? Kok aku ga ngerti ya maksud omongan kamu.."
Dia menghela napasnya, seperti ada beban yang sangat berat. "Otak kamu tuh, lemotnya ga ketulungan deh." dia menyentil keningku, dan tertawa.
"Ih! Sakit tau. Nyebelin banget." aku mengusap keningku yang agak memerah karena kelakuan anak ini.
"Jadi intinya, dia kaya ngasih harapan kosong gitu.." dia berkata dengan perlahan, dan menatap langit yang cerah. Dia termenung sebentar sebelum melanjutkan perkataannya "Ngerti ga?"
Aku menaruh sandwich-ku, dan mengambil handycamku. Ingin mengabadikan suasana musim gugur hari ini.
"Iya ngerti.. Le! Nengok sini dong.." aku menghadapkan handycamku ke arahnya, dia hanya melirikku sekilas, dan tersenyum kecut. Aku tau, dia paling benci direkam seperti ini.
"Ih.." dia berusaha menutup lensa yang merekam tingkahnya, sedangkan aku terus berusaha untuk merekam dirinya. Aku sedang menggodanya. Entah kenapa, aku senang melihat wajahnya yang cemberut seperti itu. Ketika aku dan dia sedang berkelahi tak jelas, ada suara yang mengagetkan kami.
"Leo.." sontan, aku langsung menengok. Sedangkan yang dipanggil masih berusaha merebut handycam milikku ini. Aku tersenyum ke arahnya, ke arah wanita yang senyumnya seperti dewi.
"Hei, Nis.." aku menyapanya. Dan akhirnya si Leo bego itu menengok ke arah aku memandang. Dia terdiam, ada semburat merah ketika Leo memandang wajah manis Nisa itu. Ya ampun, gitu aja udah malu. Gimana bisa dapetin Nisa? Aku berdecak kesal.
Tak lama terdiam, Leo akhirnya angkat bicara. "Eh, ada apaan Nis?" dia tersenyum kepada gadis itu. Aku terkikik geli yang langsung disambut senggolan keras yang mampu membuatku terjatuh kalau saja aku tak siap siaga memegang kursi tempatku duduk.
"Dipanggil sama Pak Alex, katanya dia mau minta kunci Lab." Nisa menatap kami bergantian. Mungkin takut mengganggu kegiatan kami.
"Yaudah, bentar ya Nis." diapun segera merapihkan barang-barangnya, dan memasukkannya di dalam tas hitamnya yang besar.
Diapun berdiri, dan menepuk pelan kepalaku. "Aku duluan ya Al." dia berdadah ria dan pergi bersama Nisa, meninggalkan aku sendirian di bawah pohon Maple yang terus menggugurkan daunya. Pohon itu seperti menangis, itulah yang dipikirkan oleh Allamanda.
*****
Sudah beberapa jam aku pandanganku penuh tertuju pada laptop, ketika handphoneku rewel ingin kuperhatikan juga.
"Ally~ Kamu dimana?" ketika kuangkat, suara berat dengan intonasi yang tinggi membuatku menjauhkan handphone ku, tak ingin telinga ini menjadi korban keganasan si empunya suara.
"Biasa aja dong Ray! Mau bikin gendang telingaku pecah ya?!" aku membalasnya garang.
"Wow, selow dong yang.." dia memang selalu memanggilku dengan Yang, singkatan dari Sayang. Dia bukan pacarku, dia sahabatku yang menjodohkanku dengan Leo. Dia memang suka memanggilku seperti itu. Dan aku tak tahu bagaimana kalau pacarnya, Frista mengetahui panggilan "mesra"nya padaku.
Kuakui, dulu saat kami masih di sekolah dasar, dia pernah menyatakan sukanya kepadaku. Dan kedua kalinya ketika kuliah semester dua. Namun aku tak pernah menerimanya. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku. Akhirnya dia mulai berpacaran dengan Frista, dan hubungan mereka sudah berlangsung selama tiga tahun. Oke, back to topic.
"Ada apaan Ray?" aku berdiri dari tempatku duduk dan berjalan ke arah kulkas, ingin mengambil jus jerukku.
"Jalan yuk! Kangen deh." diapun terkekeh pelan, aku mendengus dan meneguk habis jus jerukku. Sangat haus, aku tak sadar kalau belum minum semenjak bangun tidur tadi.
"Jalan kemana? Males ah.." oh ayolah, ini hari minggu. Aku ingin bersantai ria setelah berhasil menyelesaikan laopranku, tugas kuliah. Terkadang Ray meminta jalan kalau aku sedang dalam keadaan malas.
Tiba-tiba bel apartemenku bunyi, dan aku segera mengambil langkah seribu ke pintu depan. Sepertinya tamuku sangat tidak sabar, dia menekan bel berkali-kali.
Dan ketika kubuka pintu, aku menganga. Melihat pria dengan kaos dan celana jeans, dengan sendat jepit kesukaanya. Sedang berdiri melambai ke arahku, dan tangan kirinya menggenggam erat handphone miliknya. Pria itu langsung masuk tanpa aku menyuruhnya masuk. Seperti rumah sendiri.
Aku menurunkan ponselku, dan menutup pintu. "Heh, ngapain kesini?" aku berkata dengan judes.
"Ish, dibilang aku lagi kangen sama kamu." dia terkekeh pelan, dan bersandar nikmat di sofa ruang tamuku.
Aku pergi meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Aku hendak berjalan ke kamar, ingin berganti baju. Yap, Ray selalu saja datang secara tiba-tiba seperti ini. Dan aku tak mungkin menolak untuk jalan dengannya, yang artinya dia akan tetap di apartemenku sampai malam tiba. Dan aku tak ingin diganggu oleh ocehannya yang membuat kepalaku pening.
"Pake baju yang cakep ya Al!" dia berteriak dari ruang tamu. Benar-benar seperti berada di rumahnya sendiri.
Aku keluar kamar dengan T-shirt yang kebesaran berwarna putih dan celana jeans hitam yang pas di kakiku yang jenjang. Tak lupa aku memakai topi, aku tau kalau anak ini akan mengajakku berkeliling saat siang hari ini. Ray sangat suka berjalan di tempat terbuka, bukan duduk di cafe atau semacamnya.
"Kamu gada kencan sama Frista?" aku membetulkan tas kecilku yang kulampirkan di pundakku. Mencari kunci apartemen dan berjalan mendekatinya.
Dia mengangkat bahunya tak peduli. "Dia lagi di London, ngunjungin neneknya." Hanya "oh" yang keluar dari mulutku, dan aku segera berjalan ke arah pintu, diikuti Ray dibelakangku.
"Jadi, kita mau kemana?" aku bertanya antusias padanya ketika kami sudah berada di depan lift.
Dia terlihat berpikir sebentar, dan menoleh kepadaku. "Disneyland, yuk?" matanya tampak berbinar, dan itu benar-benar membuatku ingin tertawa. Dia seperti anak kecil.
Akupun hanya mengangguk, menyetujui keinginan dia. "Ceritakan ya." aku tersenyum kepadanya, dan dia hanya menoleh tak mengerti. Aku tau benar, dia selalu mengajakku ke taman bermain jika sedang ada masalah. Dia ingin melepaskan bebannya dengan berteriak.
Tak lama kemudian liftpun terbuka, dan kami menuju parkiran dimana mobilnya sedang beristirahat.
Tak lama kemudian, kami sampai di Disneyland. Aku mengerjap kaget ketika Ray mengeluarkan tiket yang langsung di scan ketika kita baru tiba di entrance gate. Ternyata anak ini sudah bersiap untuk pergi denganku har ini, buktinya dia sufah memiliki tiket yang pasti dipesan secara online. Anak ini, benar-benar deh.
Ketika kami masuk, kami disuguhi pemandangan kumpulan orang yang sepertinya sedang menunggu sesuatu. Dan ternyata itu adalah Parade yang dipertunjukkan oleh pihak taman bermain ini. Aku langsung mengambil handycamku dan merekam dengan antusias ketika ada tiga orang gadis yang memakai gaun berwarna merah muda, hijau dan biru membawa tongkat seperti dia memerankan tokoh peri di dalam animasi disney.
Tak lama kemudian, keluarlah mobil dengan bentuk buku dogeng yang sedang dibaca, diatasnya terdapat beberapa orang yang kuyakin sedang memerankan sebagai seorang putri dan pengawalnya. Diikuti oleh kereta kuda yang membawa Cinderella dan Snow White. Aku begitu antusias melihat parade ini, hingga tak sadar dengan wajar Ray yang sudah masam. Dia sedang memberengut.
"Ayolah Al.. Aku bosan disini, kita langsung main aja yuk?" dia memarik-narik lengan bajuku, merengek. Aku menoleh sebentar ke arahnya tanpa membuat handycamku melewatkan hal ini. Aku sangat suka dengan Disney, apalagi cerita tentang Princess. Dulu ketika aku kecil, aku sangat ingin hidup seperti mereka. Yang akhirnya bertemu dengan pangeran tampan.
Aku mendesah dan menatap wajahnya dengan mendongak. Mengingat tinggiku yang hanya sebahu dia. "Bentar Ray, sedikiit lagi."
Akhirnya dia pasrah dan menemaniku yang sedang asik menonon parade. Tunggu, sepertinya ada yang salah disini. Bukankah aku ingin menghibur dan menemaninya? Dia juga sudah berbaik hati mau mentraktirku masuk kesini.
Aku menghela napas dan menggandengnya, menarik dia keluar dari kerumunan yang sudah semakin berkurang karena parade sudah akan selesai.
"Mau naik apa dulu nih?" dia yang tadinya berwajah masam, langsung memberikan tatapan tak kalah dengan sinar mentari. Huah, benar-benar membuatku silau.
"Uhm, ayo ayo~" dia langsung menarikku ke wahana yang pasti membuatku merinding disko. Aku tak seberani Ray, walaupun aku memiliki kesamaan hobi ataupun hal lainnya yang membuat kita menjadi tambah akrab.
Ray mengajakku naik wahana mulai dari "Rock n Roll n Roller Coaster", "Motor, Action!", "RC Race in Toy Story Playland", hingga "The Twilight Zone Tower of Terror." Aku hanya pasrah dengan dirinya yang menarikku kesana kemari. Tak apa, asalkan dia bisa senang. Asalkan sahabatku ini bisa melupakan masalahnya.
Setelah puas dengan beberapa wahana, akhirnya aku menyerah karena kelelahan. Aku terduduk di kursi yang dekat dengan wahana yang kami naiki terakhir kali.
"Ray.. Beliin es krim dong.." aku menatapnya yang sedang berdiri di depanku. Sepertinya dia khawatir karena membuatku kecapean. Dia tak ingin penyakitku kambuh. Aku punya asma, jika terlalu capek pasti akan kambuh.
Dia berjongkok agar sejajar denganku, dan menatapku. "Kamu bawa obat kan?" aku hanya mengangguk dan mengibaskan tanganku, menyuruhnya segera pergi untuk membelikan es krim.
"Iya, bentar ya. Vanilla kan?" dia berdiri dan melangkah pergi setelah aku mengangguk menyetujui tawarannya.
Dan saat itu, ketika aku sedang menatap orang-orang yang berlalu lalang, aku melihat Leo yang sedang membaca suatu selembaran. Sepertinya dia sendirian. Kenapa tidak mengajak kami saja? Aku hendak berdiri untuk menyapanya. Namun tindakanku berhenti ketika melihat seorang gadis di sampingnya. Nisa.
Aku menghela napas, ternyata dia sedang kencan, pikirku. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka handycam dan merekam kejadian langka itu. Moment saat Leo berhasil mengajak kencan Nisa, setelah enam bulan dia mengenal Nisa-itu berdasarkan cerita Leo.
Ketika aku sedang asik merekam pasangan itu dari kejauhan, seseorang menepuk bahuku, aku menoleh dan mendapati Ray yang sedang memegang dua es krim dengan rasa vanilla dan coklat.
Dengan kecepatan kilat, aku menutup handycamku dan mengambil ice cream vanilla kesukaanku.
"Sedang melihat apa?" Ray bertanya sambil mengikuti kemana arah pandanganku tadi.
Aku yang sedang menjilat es cream ku, langsung sedikit tersedak dan menoleh ke arahnya. Aku melihatnya menyipitkan mata, dan dia terlihat kaget. Kemudian dia menoleh kembali ke arahku.
"Apa hubungan mereka sudah jelas?" Ray memandangku dengan tatapan tak bisa diartikan. Es creamnya mulai mencair, walaupun suhu sudah agak dingin.
Aku mengangkat kedua bahuku "Aku tak tau." aku menunduk dan kembali memakan ice creamku. Ray menyentuh pelan pundakku dengan tangannya yang bebas, dan berkata dengan pelan.
"Kau harus mengatakannya, Al.." aku hanya tersenyum kecut ketika Ray mengucapkan itu.
*****
Aku sedang di perpustakaan saat itu, mencari buku Kimia Pangan. Aku ada tugas untuk membuat paper yang bertemakan Makanan dan Bahan Kimia yang Terkandung di Dalamnya. Ketika aku sedang berjalan dan tak lupa dengan handycam yang selalu kubawa kemana-mana. Ya, aku sangat menyukai merekam lingkungan sekitarku yang membuatku tertarik, semacam hobi. Dan akhir-akhir ini perhatianku tersita oleh satu orang.
Dia.
Sedang berdiri diantara buku-buku tebal dengan kacamata bacanya, mendongak ke atas mencari buku. Aku menatapnya lama, hingga tak sadar kalau dia sudah berjalan mendekatiku, namun tak menyadari kehadiranku. Perhatiannya masih terfokus oleh buku.
Ketika aku ingin mengagetkannya, dia sudah menoleh ke arahku dan memperlihatkan wajahnya yang kaget.
"Al? Lagi ngapain?" dia bertanya sambil melihat ke arah handycamku. "Ah,, pasti lagi ngerekam ya." dia tersenyum manis. Membuatku terbang melayang dan langsung terjatuh ketika mendengar suara yang tak asing ditelingaku.
"Udah dapet bukunya, belum Le?" Itu suara Nisa, entah sejak kapan mereka jadi menempel satu sama lain. Sepetinya baru seminggu yang lalu Leo bercerita kalau Nisa memberikan harapan kosong kepadanya. Aku menatapnya dengan tatapan penuh selidik, dan dia salah tingkah ketika aku menatapnya dengan intens.
Dia menoleh ke Nisa "Udah nih, bentar ya Nis. Aku mau ngomong dulu sama Ally." Nisapun mengangguk dan pergi berlalu meninggalkan kami berdua.
Aku menatapnya sambil menyilangkan tanganku di depan dadaku. Memberi isyarat untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi diantara dia dan Nisa.
"Kupikir dia memberimu harapan kosong, hm?" aku menatapnya dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Aku dan dia sudah berjanji bahwa takkan ada hal yang ditutupi diantara kita, dan aku selalu memegang janjiku.
Dia menggaruk tenguknya yang terlihat tak gatal, kemudian terkekeh perlahan. "Uhm, ya.. Tapi dia sudah menyatakan perasaannya padaku, dan kami sudah resmi berpacaran." dia memperlihatkan tawanya yang indah sambil memberiku lambang "peace" dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Aku yang mendengar perkataannya serasa disambar oleh petir. Sangat menyakitkan. Tak terasa mataku terasa panas dan aku mengepalkan tanganku, berusaha memendam emosi yang meminta untuk segera dikeluarkan melalu mataku. Aku ingin menangis. Tiba-tiba saja pandanganku gelap, ada tangan yang menutupi pandanganku. Awalnya aku kaget dan aku kembali rileks ketika mencium parfum yang sudah tak asing di penciumanku.
"Yo Leo! Lagi ngapain?" Ray menyapa ramah Leo, dan aku hanya terdiam, tak mampu berkutik apa-apa. Aku hanya ingin pergi dari sini, tak ingin bertemu dengan Leo.
Leo sepertinya kaget, dia terdiam sebentar dan kembali bersuara. "Harusnya aku kan yang nanya begitu?" aku mendengar suara Leo. Aku masih belum bisa melihatnya, tangan Ray masih menutup mataku.
"Aku cuma jemput pacarku ini nih.." Ray menyenggolku pelan, membuatku sedikit tertawa.
Dan terakhir kudengar Leo pamit untuk meninggalkan kami berdua. Dia tak ingin membuat Nisa menunggu, walau hanya sebentar. Kemudian, Ray menuntunku untuk keluar dari perpustakaan ini, dengan pipi yang sudah basah oleh airmata. Yang akupun tak sadar jika sudah mengalir sederas ini.
Aku menyesap cangkir hot chocolateku, di cafe dekat dengan kampusku. Aku sedang bersama dengan Ray. Setelah diperpustkaan tadi, Ray membawaku ke cafe favorrite kami bertiga. Disini tempatnya sangat nyaman. Di depan cafe, akan terlihat tanaman menjalar yang indah menghiasi gerbang masuk cafe ini. Ketika masuk ke dalam, terdapat kolam ikan di tengah ruangan, dan di pinggiran di dekat meja pengunjung terdapat pajangan waterfall, yang sengaja diletakkan untuk pengunjung yang membutuhkan privasi,
Seperti aku ini.
"Wajahku buruk sekali ya?" aku memandang cermin di tanganku, dan melihat Ray yang sedang memandang ke arah taman kecil yang asri.
Aku meletakkan cerminku dan ikut memandang ke arah pandangan Ray.
"Kau boleh mengutarakannya padaku, Al. Aku mengenalmu. Jangan memaksakan diri." dia menggenggam tanganku lembut, sambil memandangku dengan tatapan yang teduh.
Aku tersenyum sekilas kepadanya, dan kembali menerawang.
"Aku hanya ingin dia bahagia Ray.. Dia salah satu sahabat terbaikku.." aku berkata dengan bibir bergetar. Seketika itu juga, genggaman tangan Ray makin erat, dan kemudian mengendur. Sampai akhirnya dia melepaskan tangannya.
Dia bersandar pada kursi kayu dan menghela napas. "Kau bohong Al. Aku tau, dia kebahagiaanmu. Dia adalah oksigenmu." dia berkata dengan menatap tajam ke kedalaman mataku.
Tak terasa, airmataku jatuh. "Tapi kebahagiaan dia ada pada gadis itu, bukan padaku.." aku menutup wajahku dengan tanganku, dan mengeluarkan semua airmata, yang kuyakin sama seperti aku menangis ketika keluar dari perpustakaan.
"Minimal kau harus mengatakannya kalau kau menyukainya.." Ray berkata lembut, kemudian menggeleng. "Bukan, kau mencintainya."
Aku menggeleng keras. "Apa kau ingin persahabatanku dan dia hancur?" aku manatapnya dengan nanar.
"Tidak, kau tidak akan merusak persahabatan kalian. Aku tau bagaimana sikapnya, dia bisa menerima dan dia tak akan menjauhimu atau hal serupa lainnya." Ray mencoba meyakinkanku sedari beberapa bulan yang lalu. Setelah sebulan aku sadar bahwa aku menyukainya. Namun aku tak berani menyatakannya kepada Leo. Sungguh pengecut.
Aku menghapus airmataku, dan kemudian mengambil tasku dan aku berdiri. Melihat aku yang bersiap pergi, Ray berusaha untuk ikut bersamaku.
"Kau disini saja. Aku ingin sendiri dulu." tanpa menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Ray, aku segera pergi meninggalkannya.
+++ Leo POV +++
Pandanganku tak bisa lepas dari pintu yang tetdapat Ally didalamnya. Aku menunggu sudah hampir empat jam, terduduk diam memandang tanganku yang penuh dengan darah. Seketika itu juga, aku merasa marah. Aku menutup kedua mataku dan mengepalkan tangan, berusaha untuk memendam emosiku yang bercampur. Tak lama kemudian, seseorang yang sangat kukenal berlari dengan terengah-engah, bersama dengan wanita yang dikasihinya. Ray dan Frista.
Ketika dia berada di depanku, dia langsung menarik kerah kemejaku, dan tangannya langsung menghajar wajahku. "LO! KENAPA GA LINDUNGIN ALLY!" dia berkata sambil terus-terusan menghantamkan bogemnya ke wajahku. Aku hanya terdiam, tak sanggup menatapnya. Apalagi menjawab perkataannya.
Frista mencoba menenangkan Ray. Dia tau benar kalau Ally adalah salah satu orang yang sangat penting bagi kekasihnya. Awalnya dia cemburu, namun dia mengerti bahwa Ray menyayanginya seperti menyayangi seorang adik kecil.
"Ray, udah..Semua udah terjadi.." Frista berkata sambil menarik lembut lengan Ray. Sementara aku, mencoba menghapus darah segar yang keluar dari hidungku. Sepertinya hidungku retak.
Ray terduduk lemas di sebelah kursi yang aku duduki, dan keheningan mulai hadir diantara kami.
"All tiba-tiba berlari ke arahku, dan dia.. yang tertabrak truk itu.." aku berkata dengan airmata yang mengalir begitu saja, airmata yang sudah kubendung daritadi. Aku berkata dengan suara bergetar. Tak apa, mau dibilang sebagai cowok lemah. Tak apa. Aku memang sedang dalam keadaan lemah.
Ray menoleh ke arahku "Seandainya aku tak pernah mengenalkanmu kepadanya, dia takkan berakhir seperti ini." dia menghela napasnya.
"Dia sudah cukup menderita melihatmu dengan Nisa. Dia sudah mengorbankan perasaannya. Kenapa dia juga mengorbankan hidupnya untukmu?" Ray berkata dengan suara parau. Aku menoleh, tak mengerti dengan ucapannya.
"Maksudmu?" akhirnya aku berani menatapnya. Namun dia hanya menutup matanya dan memijit pelipisnya. Dan suasana kembali hening, aku tak bisa bertanya lebih lanjut kepadanya.
Tak lama kemudian dokter keluar dari UGD, dia membuka masker dan sarung tangannya. Kemudian menatap kami dengan tatapan sendu. Sungguh, aku tak suka melihat tatapan dokter itu. Memperlihatkan ekspresi bersalah.
"Dimana keluarganya?" dokter tersebut bertanya kepada kami. Kami saling pandang tanpa mampu berkata apa-apa. Akhirnya Frista yang angkat bicara.
"Keluarganya di Indonesia dok. Kami orang terdekat dari pasien." dokter tersebut menghela napasnya, dan berkata dengan parau.
"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa. Namun pendarahan yang terjadi terlalu hebat. Organ dalam pasien sudah tak bisa diselamatkan lagi. Saya minta maaf sekali lagi."
Apa katanya?
Dia tak bisa menyelamatkan Ally?
Ally meninggal?
Meninggal?
Aku terpaku di tempat, sementara Ray dan Frista sudah masuk ke dalam ruang operasi, dimana terdapat tubuh Ally yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.
*****
Aku menatap pintu apartemen yang sepi. Sudah beberapa minggu ini apartemen itu tidak ditempati oleh pemiliknya. Karena pemiliknya sudah pergi dan takkan kembali lagi. Apartemen ini sengaja tak dibersihkan selama beberapa minggu, aku dan Ray mmohon kepada orangtuanya agar memberikan waktu untuk mai, mengenang kenangan terakhir yang kami miliki dengan Ally. Aku memegang kunci apartemen yang diberikan Ray kepadaku.
Tanpa dia berkata, aku mengerti maksudnya. Dia ingin aku masuk ke dalam apartemennya. Setelah berdiam diri aku menatap pintu kayu itu, akhirnya aku memberanikan diri untuk memutar kenop dan masuk ke dalamnya. Disana, aku melihat laptop yang masih tergeletak manis di ruang tamu.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, mengingat ketika Ally masih ada disini. Aku ingat dia sangat menyukai hot chocolate, dia takkan bisa tidur sebelum minum minuman manis itu. Aku terduduk di sofa, dan kemudian iseng membuka laptop miliknya. Aku mengutak ngatik, ingin tau apa isi dari laptop ini.
Aku terpaku ketika melihat satu folder yang banyak memuat foto-fotoku. Mulai dari aku berjalan di kejauhan di kampus ketika memakai jaket hitam. Aku ingat ini hari dimana aku pertama kali bertemu dengannya. Dan masih banyak lagi fotoku yang sepertinya dia ambil secara diam-diam. Ada fotoku yang sedang memandang laptop dengan serius.
Kemudian mataku tertuju pada video berdurasi pendek dalam folder itu. Dan aku langsung membukanya.
Pertama kali, wajahnya yang manis dengan lesung pipi hadir dalam video itu. Dia melambai-lambai, berkata kepada rekamannya sendiri.
"Hallo~ aku sedang berada di kampus. Mau ketemu sama dia. Wah! Ga sabar banget deh." dia tertawa bahagia sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian ditampilkan suatu jalan, dan dia merekam seorang pria yang sedang duduk di bawah pohon. Dalam video itu, Ally berjalan perlahan sambil memanggil namaku. Ya, pria itu adalah aku.
Namun aku sama sekali tak menyadarinya ketika dia memanggilku berkali-kali. Aku hanya sibuk dengan laptop ditanganku. Entah kenapa ada perasaan menyesal karena tak menyadari kehadirannya. Kemudian dia menepukku, dan aku menengok. Aku ingat kejadian itu.. Tak lama kemudian, Nisa datang dan mengajakku pergi. Pandangan Ally tak lepas dari aku yang berjalan bersama dengan Nisa, sampai hilang masuk ke dalam gedung.
"Hei Leo. Bisakah kau melihatku?" hatiku berdenyut sakit ketika aku mendengar suaranya.
Kemudian aku melihat rekaman dengan suasana yang ramai. Dan tiba-tiba pandangan kamera itu mengarah ke arah kerumunan orang yang tidak ada aku kenal sama sekali. Namun dia zoom pandangan kamera, agar terlihat siapa sebenarnya yang sedang dia rekam.
Disana, aku, sedang membaca selebaran dengan teliti. "Apa aku harus mengajaknya bergabung denganku dan Ray, ya?" dia berbicara sendiri. Aku tersenyum, ternyata dia ada di Disneyland saat aku kencan dengan Nisa.
Setelah itu, aku melihat diriku yang sedang mencari buku di perpustakaan. Hei, bukannya ini dimana Ray menutup mata Ally? Sangat aneh ketika Ray menutup matanya. Terlihat aku yang berjalan mendekat, dan dia tetap diam. Kemudian dia berkata. "Kau selalu meninggalkanku, untuk gadismu yang kau cintai.."
Aku ingat saat itu, aku pergi meninggalkannya karena aku tak mau Nisa marah jika menungguku. Nisa sangat tak suka jika dibuat menunggu. Dan yang terakhir, wajahnya terpampang jelas di layar laptop, seakan-akan dia berada di depanku saat ini.
"Wah.. sudah lihat hasil rekamanku?" dia menunjukku dengan jari telunjuknya. Aku tersenyum. "Ini projek pertamaku. Dan aku akan terus merekam orang yang aku cintai ini." bagai tersambar petir, aku membesarkan pandanganku ke arahnya.
Dia.. mencintaiku?
Benarkah?
"Hei, kau pasti kaget ya. Asal kau tau, aku sudah menyukainya sejak pertemuan pertama. Tapi dia sedang tak ingin memiliki hubungan apapun dengan wanita. Aku bisa apa? Aku hanya bisa terdiam dan mencoba untuk menutup hatiku." dia merubah posisinya yang tadinya berdiri, kemudian duduk di kursi di bawah pohon. Sepertinya dia berada di taman.
"Namun tak semudah berbicara. Hatiku menghianatiku. Dia tetap ingin mencintaimu, Leo." dia menghembuskan nafasnya. "Aku sadar aku tak bisa menjadi orang yang kau cintai. Aku sudah puas ketika berada di dekatmu, sebagai sahabatmu.." dia tersenyum sendu.
"Kau tau tidak? Berat banget ketika aku tau kalo kamu suka sama Nisa.. Dan akhirnya pacaran dengannya. Aku berusaha bahagia dan berusaha untuk melepasmu. Namun aku tak bisa.. Kau masih ada di hati dan pikiranku.." dia menyelipkan rambut ikalnya yang berantakan karena hembusan angin.
"Ray sudah berusaha meyakinkanku untuk mengatakannya lagsung padamu. Namun aku tak bisa. Hanya di dekatmu saja sudah buat bahagia. Bagaimana kalau kau tidak menerimaku sebagai sahabatmu lagi? Bagaimana kalau kau menjauhiku? Dan aku tak bisa melihat senyunmu lagi? Aku takut akan kenyataan itu." dia berdehem sebentar. Kemudian melanjutkan bicaranya.
"Aku mencintaimu, Alexandro Leo Edmund.." dia berkata dengan satu tarikan napas, dan tak terasa air mataku jatuh.
Dan video itu terhenti dengan wajah tersenyum Ally yang manis. Aku menyesal telah berbohong pada hatiku. Aku hanya takut dia takkan menerima perasaanku setelah disakiti oleh cinta.. Harusnya aku memperjuangkan cintaku, bukan menyerah akan segalanya.
"Aku juga mencintaimu, Allamanda Putri Xavie.."
*** END ***