Aku ingin menceritakan kisahku ketika baru lulus dari jenjang SMP, di SMA Harapan Satu. Orang-orang biasa memanggilku Elin, dari Adelina Herminia Agatha. Aku biasa saja, tidak ada yang bisa kubanggakan. Sedangkan cowok yang fotonya bertengger manis di meja kamarku adalah Alan Vegar. Dia juga satu kelas denganku. Bisa dibilang, Alan itu paket lengkap. Ganteng, baik hati, tidak sombong, dan juga..., hemat. Ya benar. Dia pintar mengelola keuangan. Coba bayangkan kalau kamu jadi pasangannya di masa depan, pasti segalanya terkontrol dengan baik.
Seperti manusia paket lengkap lainnya, Alan sudah punya pacar.
"You belong with mee~!" Rasanya aku ingin meneriakkan itu di depan Alan.
Mohon maaf Mbak Taylor Swift, karena aku mencemari lagu bagusmu dengan suara cemprengku. Aku melirik jam dinding warna kuning bermotif matahari dan ternyata sudah jamnya Alan pulang sekolah. Kutolehkan kepalaku ke arah jendela, dan dia ada di sana. Alan yang biasanya tersenyum, kali ini bibirnya mengerucut.
“Are you okay?”
Kutuliskan kalimat itu di kertas kosong, persis seperti yang dilakukan Taylor dalam music video-nya. Kalau kami mau, kami bisa keluar ke balkon dan berbicara bertatap muka. Tetapi memang sudah dasarnya kami malas, jadilah kami boros kertas. Menyedihkan sekali. Sesaat setelah aku membentangkan kertas itu ke arahnya, dia tersenyum kecut.
“Tired of drama”
Aku tak bisa menahan tawaku. Tepat ketika aku ingin membalas, dia menutup gorden dan mematikan lampu. Hm, dia bukan tipe yang gampang marah, kok. Aku yakin sekali dengan hal itu. Mungkin dia ingin menyendiri karena sedang berselisih paham dengan pacarnya. Yah, aku harus memaklumi itu walau sesungguhnya aku sangat tidak rela dia punya pacar.
***
“Lama banget sih di kamar mandi? Bertapa?” Alan mengomel tepat ketika aku tiba di lantai satu.
Rutinitas kami setiap pagi, saling menjemput sebelum berangkat sekolah. Tapi sebenarnya lebih sering Alan yang menjemput karena--yah, tahu sendiri lah cewek itu kalau siap-siap bisa sampai cowok menghabiskan satu game-nya.
“Sarapan dulu yuk sebelum kalian berangkat sekolah,” ajak Mama, karena sudah tahu betul kalau orang tua Alan sering berpergian ke luar negeri. Jadi, sudah sangat biasa jika cowok itu makan tiga kali sehari di rumahku.
“Udah, nggak ada waktu buat makan di sini. Aku udah bawain kamu s**u kotak.”
Alan menyambar tanganku yang bebas. Padahal satu tanganku baru berhasil mengambil satu lembar roti bakar selai cokelat. Sambil cemberut, aku mengikuti Alan dan duduk di kursi penumpang sepeda miliknya.
“Al, kayaknya hape aku ketinggalan,” ujarku tepat setelah Alan duduk.
Alan menghela napas panjang. “Ya udah buruan. Lima menit nggak turun, kutinggal.”
“Dasar ngeselin,” gerutuku lalu segera melesar masuk ke dalam rumah.
Jarak rumah dan sekolah yang tidak begitu jauh membuat kita enggan menggunakan motor. Lagipula, kebanyakan tetangga kami menggunakan sepeda sebagai transportasi utama. Lebih sehat, itu yang digalangkan oleh Ketua RT kami. Satu hal yang paling menyebalkan ketika dibonceng oleh Alah adalah, dia yang hobi mengebut.
“ALAAAN! PELAN-PELAN, DONG!”
“APAAA? NGGAK KEDENGERAN?!” sahutnya, dengan volume yang lebih besar dariku.
“DI DEPAN TURUNAN, AL! PELANIN WOOOOY!” teriakku takut, karena Alan tampaknya tidak mengindahkan permintaanku dan tetap melajukan sepedanya dengan cepat. Jika kuingat-ingat, aku selalu jatuh di sini ketika diboncengi oleh Alan. Dan bukannya minta maaf, dia justru tertawa dengan manisnya! Ah, bikin aku gemas dan ingin memilikinya!
Sayang sekali dia sudah memiliki pacar, namanya Lauren. Cantik sekali, dan mereka seperti sepasang model jika tengah berjalaan bersisian di sekolah.
"Mau sampai kapan meluk pacar orang?"
Aku mengerjap ketika sadar tanganku sudah melingkar erat di pinggangnya. Kami sudah tiba di parkiran sepeda sekolah. Spontan saja, aku langsung melempar pandanganku ke asal suara. Lauren. Dengan cepat, aku turun dan menepuk pelan pundak Alan.
“Thank you tumpangannya,” sahutku sebelum berjalan melewati Lauren--tanpa menyapa.
Aku tidak tahan dengan tatapan sinisnya yang melihatku seakan-akan aku adalah manusia paling hina dan jelek di muka bumi ini. Setiap kali aku sedang bersama dengan Alan, ada saja ucapan buruknya yang terlontar untukku.
“Kamu kok bisa sih Al temenan sama si jelek itu?” Samar-samar, aku mendengar ucapan Lauren. “Kamu kan pacarku, jangan deket-deket sama dia, dong. Nggak level, ah.”
Rasanya, aku ingin melempar wajah Lauren dengan sepatuku.
Tapi nyatanya aku hanya bisa menghela napas dan berlalu pergi. Pasrah.
***
“Kamu kenapa Lin mukanya ditekuk aja? Udah jelek makin jelek, deh,” ejek Redi, sahabatku.
“Ngeselin, nih. Kamu ngajak ribut?” sahutku galak. Redi tertawa dan mengacak rambutku. “Re! Aku lagi nggak mood bercanda, nih.”
“Uuu, kenapa kenapa? Sini cerita,” goda Redi.
Cowok satu ini memang menyebalkannya tingkat dewa, deh. Kalau aku dalam keadaan seperti ini, pasti makin menjadi-jadi hingga akhirnya aku menyerah dan tertawa terbahak dengannya. Singkatnya, Redi ini paling jago membalikkan mood-ku yang jelek.
“Hm, kayaknya aku tau.” Aku mengikuti arah pandang Redi. “Dia, bukan?”
Lauren dan teman-temannya muncul dari ambang pintu. Aku menghela napas. Lauren pasti datang ingin membahas hal yang sama. Jauhi Alan. Sampai kapan ini akan berakhir? Memang apa salahnya aku berteman dengan Alan, si ganteng seantero sekolah? Tepat ketika dia sudah tiba di mejaku, aku menatapnya lurus-lurus.
“Ada apa?’ tanyaku sambil mengangkat alis.
“Kamu bisa nggak sih jauh-jauh dari Alan?” tanyanya sambil memainkan jari, angkuh.
Aku menyipitkan mata. “Nggak bisa. Masalah?”
Gadis itu tersenyum dengan satu sudut bibirnya terangkat sembari berjalan mendekatiku. Tapi siapa sangka, dia menarik rambutku dan mendekati telingaku, berbisik, “Jauhin Alan. Kamu nggak penting di hidupnya, dan cuma membebani dia.”
Tanganku mengepal keras.
“Jangan kurang ajar, ya!” seru Redi kesal.
Kedua teman Lauren menghalangi Redi yang berusaha memisahkanku dan Lauren. Rasanya ingin sekali menjambak balik rambutnya, tapi segera merenggang tepat ketika teman-temannya membisikkan sesuatu. Ternyata Alen datang dan masuk ke dalam kelasku.
“Lauren, kamu di sini? Bukannya tadi bilang mau langsung ke kelas?”
Dan dalam sepersekian detik, Lauren mengubah jambakannya menjadi elusan lembut di kepalaku. Terima kasih Alan, kamu menyelamatkanku dari kebotakan dini.
"Sayang, ini Elin rambutnya berantakan. Makanya aku bantuin dia beresin," katanya sok manis.
Aku butuh sesuatu untuk menampung muntahanku atas sikapnya.
“Oh, gitu. Mau kutemenin ke kelas?” tanya Alan lembut.
Hatiku rasanya panas sekali mendengarnya. Tetapi tak lama setelah itu, Redi langsung merangkulku. Ekspresi Alan tidak terbaca ketika melihat rangkulan Redi. Aku hanya bisa melengos ketika Alan tersenyum padaku. Dia memang tidak salah apa-apa, tetapi aku tetap kesal.
“Nggak usah dianterin deh, Sayang. Kelas kamu kan udah deket. Nanti kamu capek kalau bolak-balik nganterin aku,” ucap Lauren lembut lalu segera mengecup pipi Alan sekilas sebelum meninggalkan kami semua.
Lebay banget deh dia,” celetuk Redi sambil geleng-geleng kepala.
Alan tersenyum tipis. “Dia manis banget, tau.”
Sementara Alan sedang membanggakan pacarnya yang super duper manis itu, aku dan Redi memilih untuk duduk di bangku kami masing-masing. Meminta anak-anak yang masih berbisik-bisik di kelas untuk segera kembali dan tidak usah menggosipkan apa yang baru saja terjadi.
***
“Tadi ada apa sama Lauren? Kok tumben dia ke kelasmu?” tanya Alan ketika kami berjalan pulang. Dia menuntun sepedanya karena malas mengayuh.
Aku hanya membalas dengan kedikan bahu.
“Aku nanya serius loh, Elin,” ucap Alan sungguh-sungguh.
“Kalau aku cerita memangnya kamu bakal percaya?”
Dia menoleh. “Aku coba, deh.”
“Percaya nggak kalau dia ngebully aku?” tanyaku terus terang.
Alan sempat berhenti sejenak, memandangku dengan heran. “Kamu kalau nggak suka sama Lauren jangan segitunya dong, Elin. Dia itu nggak mungkin kayak gitu. Lauren itu baik.”
“Iya, di depan kamu dia baik,” cibirku.
“Aku percaya dengan apa yang aku lihat,” ucap Alan tegas.
Yah, begitulah Alan. Makanya, walau Lauren sering menjelekkanku di depan Alan, dia tetap mau berteman denganku. Karena Alan lebih mengenalku dibanding siapapun di dunia ini. Setelah itu, perjalanan kami menuju rumah berakhir dalam keheningan. Setelah saling melambaikan tangan, aku hanya bisa memandangi Alan yang memasuki rumah tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.
***
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah sendirian. Alan tidak menjemputku, dan ketika aku datang ke rumahnya untuk membawakan sarapan, rumahnya sudah kosong melompong. Akibatnya, aku harus meletakkan kotak bekal milik Alan di kelasnya. Aneh sekali ketika melihat tempat duduk Alan kosong. Biasanya dia sedang duduk sambil membaca buku.
Tetapi aku langsung paham ketika melihat Alan yang tengah berbicara serius dengan Lauren. Cewek itu, tentu saja, ketika melihat wajahku langsung melenggang pergi--meninggalkan Alan dengan muka lesunya. Mereka berantem, aku yakin sekali itu.
“Heh, pagi-pagi udah suram banget tampangnya!” sapa Redi.
“Sedih aku liat si Alan sama Lauren.”
Redi berdeham. “Sedih apa cemburu?”
“Keduanya, sih. Tapi lebih ke sedih karena keliatannya Lauren sering marah-marah sama Alan gitu,” aku berjeda, mencari pembenaran dari Redi. “Ya, kan?”
Namun, Redi hanya menaikkan kedua bahu. “Nggak tau.”
“Apa sih yang kamu tau?” tanyaku sambil mencebik.
“Aku tau kalo kamu suka sama dia,” celetuknya sambil terkikik geli.
“Ih, aku nanya serius, tau!”
“Aku juga serius ngasihtau ke kamu…” Wajah Redi semakin serius. “Tau banget kalo kamu udah suka dari jaman batu.”
Aku dan Redi ini sudah bersahabat sejak masih SMP. Kami sering bertemu di UKS karena aku yang sakit-sakitan, dan Redi yang hobi bolos kelas. Dari sana lah kami menjadi dekat. Dan tanpa disangka, kami satu sekolah lagi di SMA, satu kelas pula! Oh, satu bangku.
“Ngomong-ngomong, kalian lagi berantem?”
Aku menggelengkan kepala. “Nggak, sih. Kenapa emang?”
“Kalian nggak berangkat bareng sih soalnya.” Redi benar sekali. Aku dan Alan tidak pernah sekalipun berangkat terpisah kecuali sedang berantem atau salah satu diantara kita tidak masuk sekolah. Ya, kami sedekat itu.
“Oh, ya karena mungkin dia ada urusan.”
“Urusan baikan sama Lauren?” Redi terkekeh.
Aku mengembangkan senyum. “Kira-kira kapan ya Alan sadar kalau Lauren itu nggak pantes buat dia?”
“Karena hanya lo yang pantes buat dia?”
“Iya, dong--ehh nggak gitu juga!” ucapku kesal sambil memukul Redi dengan gemas.
Redi tertawa lepas dan terus melancarkan godaannya padaku. Sudah berulang kali Redi memintaku untuk menyatakan perasaan, tapi sayangnya itu adalah hal yang sangat bertolak belakang dengan prinsipku. Lebih baik aku menyimpannya sendirian. Aku tersenyum.Kembali menatap Alan yang tampaknya seperti tengah meminta maaf pada Lauren, entah karena apa. Sesuatu yang kuyakin adalah, bukan Alan yang salah.
***
Ketika malam tiba, terkadang aku hanya berbaring sambil bermain ponsel atau latihan karaoke kalau saat ada kumpul-kumpul aku disuruh memeriahkan acara dengan bernyanyi. Kadangkala, aku hanya berdiam diri sambil mengenang masa lalu--terutama ketika Alan belum mulai berpacaran. Hm, Lauren ini kalau tidak salah adalah pacar kedua dia setelah dicampakkan.
Tuk. Tuk. Tuk.
Aku menoleh. Ternyata Alan yang melempari jendela kamarku dengan kerikil. Alan duduk di balkon sambil memandangiku dengan wajah melas. Ekspresi yang paling sulit untuk kutolak jika dia menginginkan sesuatu. Tapi benar deh, hari ini rasanya aku malas sekali untuk keluar.
“What?” tanyaku lewat kertas HVS.
“Ke balkon dong, pengen ngobrol.”
Aku menghela napas dan memerhatikan jam di ponsel. Sudah pukul sepuluh malam.
“Nggak mau, ngantuk.”
“Please? :(“
Tatapan memelas orang ganteng itu memang mematikan, ya. Akhirnya dengan pasrah aku mengangguk dan membiarkan dia tertawa lebar. Cowok itu membuka jendela kamarnya lalu melompat keluar dan duduk di balkon. Begitu pula denganku, yang langsung menarik selimut untuk duduk berhadapan dengannya.
“Kenapa nggak lewat pintu aja, sih? Kamu ngajarin maling, tau,” celetukku.
“Biar lebih keren?” sahutnya jenaka, sambil memiringkan kepala. Manis.
“Jangan sok keren, deh,” aku terkikik geli dan memandangnya yang hanya diam. “Jadi, kenapa?”
“Apanya?” tanyanya, sok-sok polos.
“Tadi aku lihat kamu sama Lauren kayak lagi ada masalah.”
Dia hanya diam membisu beberapa detik, lalu kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil gitar. “Boleh nyanyi aja nggak?” tanyanya dengan wajah sendu. Mungkin dia memang butuh ditemani saja. Aku mengangguk, menunggu dia memetik gitarnya dan mulai bernyanyi. Suaranya merdu, dan sangat membuatku ketagihan.
Seperti hari-hari sebelumnya, Alan menyanyikan lagu You Belong With Me. Kadang aku berpikir bahwa Alan hanya bisa menyanyikan lagu ini, tetapi nyatanya dia hanya gemar memainkannya. Entahlan, hanya dia yang tahu alasannya. Aku paling senang melihat wajahnya yang teduh dan penuh penghayatan ketika bernyanyi. Terutama ketika dia selesai dengan lagunya, dia akan mendongak dan menatapku dengan pandangan dalam--seakan ingin berkata sesuatu padaku. Jenis tatapan yang membius dan memabukkan.
“Kasihan ya cewek di lagu ini?” tanya dia tiba-tiba.
Aku tersenyum. “Iya.”
“Cewek itu lebih ngerti perasaan si cowok dari pada pacarnya. Andai aku menemukan orang kayak gitu, mungkin Lauren udah aku putusin,” ujarnya sambil menerawang, menatap langit tak berbintang.
Aku tersenyum pahit. “Nggak yakin sih, kalau itu.”
“Kenapa?” tanyanya getir.
“Karena kamu bukan orang yang seperti itu,” aku berjeda, kali ini menunduk memainkan selimut. “Aku yakin kamu akan mempertahankan sesuatu selama itu masih benar. Dan terutama, hatimu itu nggak bisa bohong. Kamu masih ingin bersama Lauren.”
Aku bisa melihat bibirnya terbuka setengah, kemudian tertutup kembali.
“Aku bener, kan?” tanyaku sambil terkekeh.
“Apa sih, kamu kayak yang pernah suka atau ngejalanin hubungan sama seseorang aja.”
Aku udah suka sama kamu dari lama, Al, batinku berteriak. Mungkin karena aku hanya diam, Alan membuka percakapan.
“Lauren tadi marah sama aku karena aku dekat sama kamu,” akunya.
Aku menghela napas. Sudah tertebak. “Oh, yauda… Kalau gitu mulai sekarang kita jaga jarak aja. Nggak usah berangkat atau pulang bareng,” aku berjeda, “jadinya kamu bisa lebih banyak waktu dengan Lauren.”
Alan terkesiap. “Kok tanggepan kamu dingin gitu?”
“Bukannya dingin, aku cuma capek kalau harus berada di antara kalian terus.”
Aku bisa melihat tatapan sendu di wajah Alan.
“Bukan berarti aku marah sama Lauren,” bohong, aku marah sekali pada gadis menyebalkan itu. “Tapi aku cuma mau coba ngertiin aja. Kalau aku di posisi Lauren juga pasti bakalan sebel sih kalo pacarku deket sama cewek lain.”
Cowok itu diam beberapa saat. “Tapi kan kita tetanggaan.”
“Iya, terus kenapa? Kita kan masih bisa ngobrol dan hal lainnya. Cuma jaga jarak, kan.”
“Tapi, El--”
Aku menguap lebar, ingin memutuskan pembicaraan ini. “Aku ngantuk.”
“Kamu marah?” tanyanya terus terang.
“Aku nggak marah,” ucapku lembut sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar setelah berpamitan dengan singkat. Dalam kamar, aku hanya bisa bergelung dan menekan dadaku yang terasa sesak. Air mata mengalir tanpa kuizinkan, tetapi tidak ada niatan untuk kuseka.
***
Sudah beberapa hari aku berangkat pagi-pagi buta, menghindari kedatangan Alan. Meski awalnya Mama mengira kami bermusuhan, tapi akhirnya dia paham kalau aku melakukan ini untuk menghormati hubungan Alan dan pacarnya. Lauren. Si gadis menyebalkan itu kemarin sore menyerahkan undangan kartu ulang tahun padaku. Dia ingin aku datang ke pestanya. Aku sangat tidak ingin, tetapi Redi dengan menyebalkannya mengomporiku.
Dia bilang, “Kalau kamu nggak dateng, sama aja kamu kalah! Tunjukkin kalau kamu ini mampu lebih baik daripada dia!” Oke, aku memang anaknya mudah sekali terpancing.
“Elin,” panggilan Mama membuyarkan lamunanku. “Mama pikir, nggak baik jika kayak gini terus.”
“Apanya, Ma?” tanyaku bingung.
“Hubunganmu dengan Alan,” jedanya, menunggu aku merespon tapi hanya keheningan yang menjawab. “Sepertinya Alan nggak terima kamu jauhin seperti ini. Keputusan sepihak?”
Aku menggeleng. “Alan setuju kok, Ma.”
“Tapi, Nak--”
“Aku berangkat dulu ya, Ma. Biar nggak telat.”
Aku bisa merasakan tatapan sedih Mama ketika mengantarku pergi. Belakangan aku memang jalan kaki ke sekolah dan memakai rute memutar agar Alan tidak menemukanku. Tetapi pagi ini sepertinya aku kurang beruntung karena Alan sudah duduk manis di atas sepedanya, menungguku.
“Pagi, El,” sapanya ramah.
“Iya, pagi.” Aku mengangguk sekilas ketika dia menyapa. Tepat ketika aku akan berjalan melewatinya, Alan menahan lenganku. “Apa?” tanyaku akhirnya.
“Ternyata kamu berangkat sepagi ini, ya,” dia berjeda, “Yuk bareng.”
Dengan cepat aku menggeleng. “Nggak Al, makasih ya. Aku duluan.”
Ini yang terbaik, aku sangat yakin itu. Tetapi sepertinya Alan tidak berpikir demikian karena ia malah menuntun sepedanya dan berjalan mengikutiku. Persis seperti anak kecil yang tidak tahu jalan. Selama perjalanan menuju sekolah, kami diselimuti hening.
***
Plakk. Sampai akhirnya keheningan dan jarak yang kuciptakan kuhancurkan dengan tamparan keras di pipi Lauren. Gadis itu mundur beberapa langkah, bibirnya melongo dan menatapku tak percaya. Ini adalah kali pertamanya aku menampar seseorang, terlebih dengan sekuat tenaga hingga telapak tanganku menyisakan bekas kemerahan di pipi Lauren. Tapi aku sama sekali tidak menyesal.
“Dasar kamu cewek sial!” teriaknya marah.
“Kamu yang sialan! Siapa kamu sampai berani melakukan hal itu ke Alan?!” teriakku berang, volumeku teramat tinggi hingga anak-anak yang bercengkrama di sekitar kami langsung menoleh dan berbisik-bisik. “Kamu nggak tahu gimana perjuangan dia untuk pertahanin kamu, kan? Tapi sekarang, kamu malah main-main sama cowok lain! Dasar murahan!”
Lauren melotot, cowok di sebelahnya yang kalau tidak salah namanya Andy, ingin berbicara tetapi langsung kutepis. “Kamu juga! Cowok cemen, bisanya ngambil pacar orang! Yah, emang sih orang pasti bakal ketemu sama yang sejenisnya.”
“Aku tau kamu diem-diem suka sama Alan, kan, makanya nempelin dia terus? Kita nggak beda jauh, jadi nggak usah sok suci!” semprot Lauren.
“Nggak ada hubungannya sama itu! Kalau selingkuh ya selingkuh aja,” aku menatap Andy yang sepertinya ingin ikut adu mulut, tetapi ditahan Lauren. “Segala peluk-pelukan di depan umum. Cari kamar sana!” Aku tak memberi izin mereka untuk berbicara. Mataku beralih pada Alan yang masih menunduk diam seperti orang bodoh. “Kamu juga Al, kenapa diem aja sih digituin?”
“Ayo Sayang, kita pergi aja. Males ngurus yang begituan,” ajak Andy sambil menarik lengan Lauren.
“Aku masih belum selesai ya ngomong sama dia!” tambah Lauren.
“CUKUP!” kali ini Alan berteriak. “Lauren, kita putus.”
Lauren terkejut. “Eh maaf ya, aku yang berhak menentukan hubungan kita. Aku yang mutusin kamu, bukan kamu yang mutusin aku. Mulai hari ini kita putus!”
Bersamaan dengan kepergian Lauren dan Andy, aku menarik Alan menjauh dari kerumunan, mencari tempat sepi untuk menenangkan Alan yang sepertinya masih shock. Dia tampak sangat terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa sampai detik ini. Beberapa kali dia meneguk air mineral dari botol minumku, lalu memejamkan mata.
“Lauren selingkuh,” gumamnya.
Aku hanya bisa menunduk dalam. Tidak tahu harus menanggapi apa.
“Kupikir hubunganku sama dia bisa menjadi lebih baik jika aku menjaga jarak denganmu, tapi sepertinya malah semakin parah,” Alan bicara tanpa memerhatikan poin utama, seperti banyak hal yang ingin disampaikan tetapi bingung harus memulai dari mana.
“Maafkan aku,” Alan mengambil tanganku dan menggenggamnya.
“Aku udah maafin bahkan sebelum kamu minta maaf,” ucapku diikuti kekehan.
Namun, tak ada tanggapan apapun dari Alan. Aku menoleh, meneliti wajahnya yang semakin sendu. Bisa kulihat matanya mulai berkaca-kaca dan menitikkan air mata. Tiba-tiba saja, dia menggeleng, “Aduh, aku bodoh banget ya, El.”
Aku menggeleng. “Lauren yang bodoh, menyia-nyiakan cowok seperti kamu.”
Rasanya sakit sekali melihat laki-laki yang kucintai menangisi perempuan lain. Kini aku tahu, sebesar apa perasaan Alan pada Lauren. Sepertinya, aku benar-benar hanya sebatas sahabat di matanya. Aku memeluk Alan ketika keningnya terjatuh di pundakku. Dia menangis dalam diam, tetapi hatiku sangat sakit.
***
Dua minggu setelah Alan dan Lauren putus. Keceriaan cowok itu sudah mulai kembali, membuatku seribu kali lebih lega. Sangat berbeda dengan ketika dia masih berpacaran dengan Lauren. Seminggu tiga kali mungkin, wajah dia cemberut. Tapi menyebalkannya, Alan sering kali rusuh di kamarku, seperti saat ini.
“Ih, pulang sana! Udah sore gini belum mandi, bau!” sambitku dengan bantal.
“Sabtu dan minggu itu hari libur, waktunya bermalas-malasan,” belanya.
“Tapi bukan artinya nggak mandi seharian juga kali, Al,” ucapku malas sambil memutar mata.
Dia terkekeh, lalu bergerak mendekatiku yang duduk di pinggir jendela. Membaca novel yang sudah lama tersimpan di lemari buku. Alan ikut duduk di hadapanku, memandangiku sambil tersenyum. Aku menatap dengan sorot bertanya, dihadiahi gelengan kepala dan senyuman. Membuatku penasaran dan langsung menutup novel.
“Apa sih? Mau bilang apa?” tanyaku gemas.
“Kamu nggak mau dateng ke pesta Lauren?” Dia bertanya untuk kesekian kali. Ya benar, ini adalah harinya. Aku menggeleng. “Tapi aku denger, Lova mau ke sini buat dandanin kamu.”
Keningku berkerut. “Lova pacarnya Redi?”
Dia mengangguk.
“Aku nggak pernah dapet informasi apapun tuh tentang itu,” Bibirku mencebik. “Pokoknya aku nggak mau dateng, ogah banget ya!”
Tapi sepertinya, keinginanku untuk mendekam di dalam kamar tak terpenuhi. Buktinya cewek itu dan pacarnya sudah menerobos masuk ke kamarku dengan senyum lebar.
“HAII MAAF NIH KITA GANGGU ORANG PACARAN!” seru Redi dengan cengiran lebar.
Lova menghampiriku dengan satu kotak besar tas make up dan beberapa gaun yang tersampir di lengannya. Serius? Dia bener-bener mau ngajak aku dan menyuruhku pakai baju berenda-renda itu?
“Aku nggak bilang mau dateng ke pesta Lauren,” ucapku lagi.
Love cemberut. “Tapi aku sudah bawa banyak barang untuk kamu….”
Setelah berulang kali membujukku akhirnya Lova berhasil meruntuhkan keegoisanku. Redi dan Alan langsung keluar kamar dengan perasaan gembira, sementara aku langsung mengambil handuk untuk mandi. Selesai mandi, aku masuk ke kamar dan benar-benar kaget melihat peralatan make up Lova yang begitu lengkap.
“Kamu suka make up, ya?” tanyaku, kemudian menuruti Lova yang memintaku duduk di meja rias.
Dia mengangguk lalu mulai meriasku. “Aku mau bikin Alan pangling dan terpesona sama kamu, sampai kamu akhirnya percaya diri untuk menyatakan perasaanmu ke Alan.”
“Aku bukannya nggak percaya diri, aku cuma nggak mau.”
“Kenapa? Kulihat Alan sudah sedikit berbeda padamu.”
“Bagaimana? Dia masih sama kayak biasanya.”
“Matanya beda, Elin,” ucapan Lova membungkamku.
***
“Kenapa kita nggak barengan sama mereka aja sih, Lov?” tanyaku ketika memasuki taksi.
Lova tersenyum. “Kejutan untuk mereka dong, Elin. Terutama Alan.”
“Kejutan apanya? Kayaknya aku biasa aja, deh,” Elin kembali mengintip pantulan wajahnya di cermin.
Lova merengut. “Jadi maksudnya kamu bilang hasil riasanku jelek?”
“Bu-bukannya gitu,” anehnya, aku gugup. “Aku cuma merasa nggak percaya diri. Apalagi berdandan ini niatnya buat memikat Alan. Mana mungkin kan dia suka sama aku, apalagi mantan-mantan dia itu--”
“Udah El, udah. Aku udah nggak mau ya denger segala keluhanmu.”
Setelahnya, Lova menasehati hingga aku benar-benar paham dan keluar dari taksi dengan percaya diri. Mataku spontan mencari keberadaan Alan, yang ternyata berada di hadapan Lauren. Gadis itu tampak memukau malam ini dengan gaun merahnya. Sedangkan aku, hanya berbalut gaun putih. Mungkin akan terlihat biasa saja jika disandingkan dengan Lauren.
Namun nyatanya, manik cowok itu langsung mengarah kepadaku begitu mendapat sinyal dari Redi. Dua cowok itu meninggalkan Lauren dan Andy yang tampak kesal karena diabaikan. Lauren memang terbiasa menjadi pusat perhatian. Dan mungkin kedatangan kami yang telat ini menjadi salah satu daya tarik para tamu pestanya, terutama teman-teman sekolahku. Mungkin mereka terkejut melihat penampilanku malam ini yang tidak biasa.
“Kerjaku bagus, kan?” Lova tersenyum lebar begitu Redi menghampirinya.
“Mantap. Pangling banget liat Elin. Padahal riasannya tipis ya, tapi bisa sebagus ini,” Redi memerhatikanku dari atas sampai bawah, lalu senyum jahilnya kembali muncul. “Tapi masih cantikkan Lova dong.”
Lova tersenyum geli menanggapinya, kemudian melirik Alan yang sejak tadi menatapku tanpa banyak bicara. Dia berdehem. “Hm, tapi kayaknya hal itu nggak berlaku buat Alan, deh. Yuk ah, kita kayaknya ganggu deh di sini.”
Setelah itu, sepasang Lova dan Redi meninggalkan kami berdua.
“Kamu udah di sini dari tadi?” tanyaku basa-basi.
“Iya, nunggu seseorang lama banget,” jawabnya sambil tersenyum manis. “Tapi aku nggak nyesel sih kalau yang kutunggu ternyata secantik ini.”
Alisku naik sebelah. “Siapa?”
“Kamu,” jawabnya lugas.
Aku merasa pipiku memanas saat itu juga. Janji Lova padaku akhirnya ditepati. Alan akhirnya melihatku. Tidak hanya sebatas teman, mungkin juga dia mulai membuka hatinya untukku. Semoga firasatku benar, karena matanya yang kini menatapku sangat lembut, berbeda dengan biasanya. Tangannya juga perlahan terjulur, menggenggamku dengan erat.
Ketika lagu kebangsaan Alan terdengar, cowok itu tertawa.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Aku baru sadar kalau lagu ini kamu banget,” gumamnya. Tangan kami masih bertautan, aku yang tadinya menunduk langsung mendongak untuk menatapnya. “Selama ini aku bener-bener bodoh sih, ya. Nyari cewek lain dan berusaha agar mereka bisa mengerti aku seutuhnya. Tapi ternyata, kamu yang lebih ngertiin aku dari siapapun.”
Aku hanya bisa tersenyum.
Alan tiba-tiba melepaskan kaitan tangan kami dan merogoh sakunya. Mengeluarkan selembar kertas yang biasa kami gunakan untuk berkomunikasi di rumah.
"I LOVE YOU"
Mataku terbelalak. “Kamu nggak salah?”
“Sama sekali enggak.”
Akhirnya aku menunduk dan mengambil sebuah kertas lusuh karena terlalu sering kubawa ke mana-mana. Kubuka di hadapan Alan yang sepertinya, menunggu jawabanku.
“I LOVE YOU”
*** END ***