Sembilan Puluh Satu Jamima dilanda perasaan yang belum pernah ada sebelumnya. Bayangan kakaknya tengah bersimpuh di depan Gabrian terus saja mengusiknya. Haruskah sejauh itu pengorbanan wanita yang kehormatannya bahkan telah terenggut. Kalau dirinya merasa pantas bahagia, seharusnya Jelita juga pantas bahagia. Bahkan dia selalu lebih pantas bahagia. Berhari-hari, di tengah persiapan pesta pertunangan. Jamima lebih sering mengurung diri di kamar. Dia sudah berada sejengkal dari cita-citanya mendapatkan Gabrian. Tinggal sedikit lagi maka keinginannya akan terkabul. Tapi, perasaan tak enak apa ini?? Ada yang mengganjal dalam hatinya. Kenapa Jamima tak bisa merasakan bahagia meski sudah pasti Gabrian akan jadi miliknya kali ini. Pemandangan di dalam kamar Gabrian lagi-lagi merundungnya, mem

