Sepeda lipat

581 Words
“Jika ada uang sebaiknya ganti sepeda lipat saja, ini sudah ketujuh kalinya ban sepedamu dirobek.” Aku meringis melihat sepeda berwarna putih dengan keranjang hitam pada bagian depan itu, benar ini ketujuh kalinya aku harus mengganti ban sepedaku. Sepeda lipat terdengar menjanjikan tetapi aku tidak pernah melihat bagaimana bentuknya. Tuan Hugart pemilik toko sepeda dan juga bengkel sepeda yang sudah menjadi langgananku mengeluarkan sepeda yang belum pernah kulihat. Sebuah sepeda lipat yang segera menarik perhatianku. Bentuknya yang terlihat mungil dan dapat dilipat menjad dua, ban yang dimiliki sepeda tersebut juga lebih kecil dari sepeda biasa. “Ini sepeda model baru, harganya memang mahal makanya aku bilang jika ada uang lebih baik ganti sepedamu dengan sepeda lipat ini, kamu bisa menyimpannya dikamarmu jadi tidak ada lagi yang bisa iseng denganmu." “Berapa harganya, Tuan Hugart?” “Jika mau ditukar saja dengan sepedamu dan kamu cukup menambah seribu shining.” “Seribu shining?” mataku membulat sempurna, seribu shining sama saja dengan uang saku yang diberikan Miss Hurley padaku selama tiga bulan. Jika uang itu kugunakan untuk membeli sepeda, bagaimana dengan makan siang dan makan malam yang sering kubeli sendiri. Kemudian aku teringat brankas milik orangtuaku didalam apartement kami. Aku akan mencoba peruntunganku dan semoga saja didalam brankas itu ada hal yang bermanfaat untukku. Setelah menitipkan sepedaku pada pemilik bengkel dan juga toko sepeda aku segera mencegat taksi menuju gedung apartemen yang masih kuingat dengan baik. Sebenarnya selama berada di Finnest beberapa kali ibu juga mengunjungi Sovernia meskipun tanpa diriku, sekarang aku berada dihadapan gedung yang terlihat masih seperti sepuluh tahun yang lalu saat aku meninggalkan kota ini. Kunci apartemen yang berupa kartu ada di dalam buku agenda peninggalan ibu, buku agenda yang berisi catatan-catatan perjalanan ibu selama ini. Antara ragu dan penuh rasa percaya diri aku mengikuti pria yang berjalan masuk kedalam gedung, pria itu menempelkan kartunya pada panel khusus dipintu lift dan tentu saja aku mengikuti langkahnya. Pria itu menekan tombol yang kuduga adalah lantai apartemennya berada begitu juga dengan diriku dan berhasil. Lantai delapan. Aku berada dilantai delapan dari sepuluh lantai yang berada di gedung ini, mataku segera mencari nomor kamar, tidak sulit karena hanya ada dua unit lantai ini. Kali ini aku menekan nomor yang terdiri dari tanggal ulang tahun ayahku, ibuku dan tanggal ulang tahunku sendiri. Aku mengingatnya dengan baik karena pin kartu bank milikku juga menggunakan nomor sandi yang sama. Perabotan yang ditutup dengan kain putih tetap kubiarkan tertutup, aku belum berniat menempati tempat ini ditambah aku masih dalam status perwalian karena usiaku yang belum masuk usia dewasa menurut hukum negara ini. Tujuanku adalah kabinet yang tersembunyi dibawah meja dapur. Aku mengingatnya sedikit demi sedikit sambil mengingat setiap kata-kata ibuku. Aku tidak habis pikir bagaimana ayahku bisa membuat brankas dibalik penyimpanan botol wine, bahkan masih ada beberapa botol wine yang tampaknya begitu berharga. Kembali kumasukan kata sandi yang sama dan terbuka. Mataku membulat melihat perhiasan dan juga uang tunai didalam brankas itu. Segera kukeluarkan jam tangan milik ibuku dan gelang yang aku dapatkan dari pria misterius bernama Ethan untuk kusimpan kedalam brankas tersebut, juga kalung milik ibu. Kuputuskan tidak menyimpan sedikitpun barang berharga di dalam kediaman Young. Lebih baik untukku jika mereka tidak mengetahui tentang apapun tentangku, cukup saja mereka mengetahui jika setiap bulan aku mendapatkan uang saku bulanan sebesar lima ratus shiling. Aku ingin menepis rasa khawatir dimana bisa saja mereka membongkar barang-barangku saat aku berada di sekolah, aku juga mengambil uang secukupnya dari brankas untuk membeli sepeda lipat dan juga jam tangan baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD