BAB 8 - Sisa Luka di Balik Tirai Putih

1122 Words
Lampu-lampu jalanan London yang berpendar kuning keemasan terasa kabur di pelupuk mata Maxime saat ia memacu mobilnya membelah malam. Pikirannya tertinggal di lorong The Royal Pinnacle, pada noda muntahan di pakaiannya, dan pada sepasang mata redup yang menatapnya dengan kebencian murni. Begitu sampai di rumah sakit, ia tidak membuang waktu. Setelah menanyakan nomor kamar Sarah pada petugas customer service di lobi, lima menit kemudian, langkah-langkah tergesa Maxime terhenti tepat di depan pintu kamar nomor 401. Maxime mematung di ambangnya. Napasnya memburu, bukan karena lelah berlari, melainkan karena beban moral yang kini menghimpit dadanya. Dia akui keegoisannya menarik Sarah hidup kembali tanpa memedulikan perasaan wanita itu sebenarnya. Ia tahu Sarah ingin bebas, dan ia baru saja menutup paksa pintu pelarian itu. Akan diterimanya seluruh caci maki karena ia memang merasa pantas mendapatkannya. Tapi ia tidak menyesal telah menyelamatkannya. Jika waktu terulang, bahkan puluhan kali pun, ia akan tetap berada di sisi Sarah dan menariknya kembali dari maut. Tanpa bunyi, Maxime mendorong pintu itu dan memasuki ruangan. Kedua matanya seketika tertancap pada salah satu dari dua tempat tidur yang ada, terletak paling tepi dan tertutup tirai putih pekat. Satu kasur yang lain kosong, menyisakan kesunyian yang mencekam. Seorang perawat yang baru saja keluar dari balik tirai itu mendongak dan sontak terkejut mendapati seseorang berdiri di hadapannya dengan pakaian berantakan. “Pasien saat ini perlu istirahat total, dan belum bisa dijenguk,” ujar perawat itu tegas namun berbisik. “Sebentar saja. Saya hanya akan melihat wajahnya, kemudian keluar,” ucap Maxime pelan, suaranya serak menahan emosi. Perawat itu menatap Maxime sejenak, melihat gurat keputusasaan di wajah pria itu, lalu mengangguk pelan dan keluar dari kamar rawat. Begitu perawat itu melewati ambang pintu, Maxime segera menutupnya tanpa suara. Perlahan, ia menghampiri tempat tidur itu. Di depan tirai tipis yang menutupi sosok di baliknya, langkah Maxime terhenti. Ia menarik napas panjang, berusaha meredam gemuruh detak jantungnya yang menggila, tapi sia-sia. Dunianya seolah menyempit hanya pada apa yang ada di balik tirai putih tipis itu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengulurkan tangan. Detik-detik terasa seperti selamanya sampai tirai itu akhirnya tersibak pelan. Maxime membeku. Di depannya, dalam jarak yang teramat dekat, terbaring seseorang yang telah menjadi korban dari begitu banyak keserakahan dan keegoisan orang lain. Seseorang yang ia tahu tidak bersalah sedikit pun, yang sebenarnya tidak harus menderita seperti ini, namun dengan paksa telah diseret masuk ke dalam pusaran badai tanpa bisa melawan. Wajah Sarah yang biasanya pucat kini tampak seputih kertas di bawah lampu neon rumah sakit yang dingin. Tiba-tiba, dua kelopak mata yang tertutup itu membuka. Sepasang mata redup di baliknya seketika terbelalak saat menangkap sosok Maxime. Keduanya saling tatap dalam keheningan yang menyakitkan. Untuk pertama kalinya, Maxime melihat seluruh luka dan kesakitan Sarah yang transparan dalam tatapan itu. Hanya beberapa detik keheningan itu bertahan. Seperti tersengat listrik, Sarah langsung mencoba bangkit dari baringnya. Reaksi alam bawah sadar Maxime bergerak lebih cepat; kedua tangannya terulur mencekal kedua bahu Sarah, menahan wanita itu agar tetap dalam posisi berbaring. "Berbaringlah. Kau... perlu istirahat..." ujar Maxime lembut, mencoba menenangkan badai yang ia lihat di mata Sarah. Sarah membuang wajahnya, menatap ke arah jendela, berusaha sekuat tenaga menghilangkan Maxime dari fokusnya. "Aku berharap ini hanya mimpi," suara Sarah terdengar serak, pecah, dan penuh kepedihan. "Ternyata itu benar kau." "Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu," lanjutnya dengan nada dingin yang menusuk. "Sarah... Lihat aku, Sarah..." Maxime duduk di kursi di sebelah ranjang. Ia mencoba meraih satu tangan Sarah yang tidak tertancap selang infus, hendak menggenggamnya untuk memberikan kekuatan. Namun, dengan gerakan cepat yang menyakitkan, Sarah menepis tangannya. "Aku sudah menikah, Maxime. Jangan melewati batas," jawab Sarah dingin, suaranya terdengar seperti vonis mati bagi Maxime. Maxime terdiam, berusaha menahan amarah yang mulai merayap di dadanya saat teringat sosok Wilson yang keluar dari penthouse dengan kemeja kusut tadi. Mati-matian ia menahan diri, namun amarah itu—yang merupakan akumulasi kerinduan, rasa bersalah, dan kepasrahan selama enam tahun—mendadak meledak. "Oh ya? Lalu di mana suamimu sekarang?" tanya Maxime dengan suara yang bergetar karena terluka. "Apa dia ada di sini untukmu? Apa dia ada di sini untuk menjagamu?" Maxime menatap Sarah dengan sorot mata yang menuntut jawaban. Apa bagusnya lelaki b******n yang menyakitinya itu, dibanding dirinya yang rela mati demi keselamatannya? Sarah menoleh cepat. Matanya yang merah kini dipenuhi kilat kemarahan. "Kenapa?! Kau senang melihat kondisiku saat ini? Aku telah meninggalkanmu dulu, dan sekarang keadaanku seperti sampah, kau bahagia?" tanya Sarah dengan sindiran yang tajam dan getir. Pertahanan Sarah runtuh. Air mata mulai menggenang di matanya. Sekalipun otaknya memerintahkan dengan jelas untuk tetap kuat dan mengusir pria ini, pelupuk matanya mengkhianati perintah itu. Air mata tetap bersikeras mendesak keluar, tumpah membasahi pipinya yang pucat dan memar. Perlahan, jari-jari tangan kiri Maxime mendekat. Ia menghapus sisa butiran bening itu dengan sangat hati-hati, seakan jejak-jejak air mata itu adalah luka terbuka yang harus ia obati. Sarah menggigit bibir, memalingkan wajahnya sejauh mungkin. Sebelah pipi itu, menyadarkan Maxime betapa pucat dan rapuhnya Sarah. "Maaf, Sarah. Aku salah bicara... aku... terlalu kaget melihat keadaanmu sekarang," bisik Maxime parau. "Kenapa... kenapa semua jadi begini, Sarah?" Sarah menepis sekali lagi tangan Maxime yang mendekat. Gerakan itu membuat bagian dalam pergelangan tangannya terlihat. Saat itulah! Saat itulah Maxime merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Di antara selang infus dan gelang identitas rumah sakit, ia melihat guratan-guratan halus di pergelangan tangan Sarah—guratan bekas menyakiti diri sendiri. Guratan itu terlalu banyak, terukir tumpang tindih antara luka lama yang sudah memudar dan luka baru yang masih kemerahan. Maxime menekan seluruh luka yang mencengkeram dadanya dan bertanya lagi dengan suara bergetar karena menahan perih. "Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?" Sarah menghela napas panjang. Masih tak melihat ke arah Maxime. "Pergilah, Maxime. Aku tidak butuh belas kasihan darimu," ujar Sarah, suaranya kini terdengar hampa. "Dan ingat, aku adalah orang yang sudah membuangmu dulu. Aku adalah penjahat dalam hidupmu. Ke depannya, berpura-puralah tidak mengenalku." Jantung Maxime mencelos. Ditatapnya wanita yang meringkuk rapat di sudut tempat tidur itu, dengan sepasang mata yang mulai berkabut. "Jangan begini, Sarah. Aku hanya ingin membantu." Seketika Sarah menoleh dan menatap Maxime dengan wajah kelam. "Membantu?!" Ada humor getir yang sangat menyakitkan dalam tawanya. "Kalau kau memang ingin membantuku, seharusnya kau membiarkanku mati! Kau sudah mengembalikan aku lagi, ke neraka ini, dengan sikap sok pelindungmu yang tidak perlu itu!" Maxime gemetar di tempatnya, menatap mata Sarah yang begitu sarat akan kepedihan. "Kalau aku berkata, aku menyesal melihat keadaanmu sekarang, kau percaya?" tanya Maxime dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti hembusan angin. Namun Sarah tidak lagi peduli. Ia kembali menatap ke arah yang sama, pada tirai putih jendela yang tidak memberinya pemandangan apa pun selain kehampaan. Di kamar itu, hanya ada hening yang menusuk dan aroma obat-obatan yang menjadi saksi bisu dua jiwa yang hancur dalam penyesalan masing-masing. ...........................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD