Keheningan yang menyusul setelah kepergian tim medis terasa jauh lebih memekakkan telinga daripada raungan sirine ambulans tadi. Maxime masih berdiri mematung di tengah Unit 3402, sebuah istana yang kini terasa lebih menyesakkan daripada sel penjara mana pun.
Roda tandu yang melesat menuju lift pribadi masih menyisakan gema di lantai koridor, namun kaki Maxime terasa seperti dipaku ke lantai marmer yang dingin. Ia ingin berlari, ingin mengejar sosok pucat yang baru saja dengan egoisnya ia tarik dari ambang maut. Tetapi tubuhnya menolak untuk bergerak.
Matanya yang buram mulai menyapu sekeliling ruangan yang kini sunyi, menatap puing-puing kehidupan Sarah yang berserakan. Bungkus-bungkus kondom perak yang sudah disobek kasar berserakan tanpa rasa malu. Kain-kain lingerie yang teronggok menyedihkan di atas karpet persia. Maxime tidak tahu hidup macam apa yang Sarah jalani, tapi mengingat tatapan Sarah yang penuh kemarahan pekat saat ditandu keluar, membuat Maxime dapat mengambil kesimpulan kasar, bahwa Sarah menjalani kehidupan yang jauh dari kesan bahagia. Dan Sarah menyalahkan Maxime karena telah mencuri kesempatan emasnya untuk bebas dari neraka ini.
Hanya selang dua atau tiga menit kemudian, dua orang petugas polisi memasuki penthouse dengan langkah teratur. Suasana yang tadinya sunyi kembali tegang. Salah satu polisi, yang memegang buku catatan, memandang Maxime yang tampak mengenaskan dengan pakaian yang ternoda muntahan dan keringat.
"Tuan, Anda siapa? Dan bagaimana Anda bisa menemukan Nyonya Corx dalam kondisi seperti ini?" tanya petugas itu dengan nada menyelidik.
Maxime menarik napas dalam, berusaha menstabilkan suaranya yang serak karena emosi. "Saya Maxime Thorne, tetangga di Unit 3401," jawabnya seraya menunjuk ke arah pintu depan. "Saya baru saja keluar apartemen saat mendengar suara pecahan kaca yang nyaring dari dalam."
Maxime melanjutkan dengan tatapan yang tetap terjaga, meski hatinya bergolak. "Pintu apartemen terlihat tidak tertutup sepenuhnya, akhirnya saya memutuskan untuk masuk karena merasa ada yang tidak beres. Saat saya masuk, saya menemukan Nyonya Corx. Dia terlihat tidak fokus, dan terlihat kesakitan." Ia mengarahkan pandangan polisi itu ke arah meja. "Saya melihat botol kimia di meja. Dia tidak sadarkan diri. Saya akhirnya menelepon 911 dan memaksanya muntah."
Polisi itu berhenti mencatat, dahinya berkerut dalam. "Memaksanya muntah? Anda tahu itu bahaya tanpa arahan medis?"
"Saya mengikuti instruksi dari operator 911 di telepon. Anda bisa cek sendiri. Ponsel saya ada di atas meja itu," sahut Maxime tenang, menunjuk ponsel hitam yang masih tergeletak di atas meja ruang tamu.
Petugas itu berjalan ke meja, mengambil ponsel Maxime yang memang masih dalam mode speaker dan merekam panggilan darurat. Itu adalah langkah cerdik yang tidak disengaja oleh Maxime—setidaknya rekaman itu membenarkan tindakan paksa dan brutal yang ia lakukan demi menyelamatkan nyawa Sarah.
Polisi itu melihat layar ponsel Maxime sambil mengangguk-angguk, merasa semuanya masuk akal. Tidak ada yang mencurigakan pada diri Maxime selain seorang tetangga yang bertindak cepat. Polisi kemudian mulai melontarkan serangkaian pertanyaan seputar rutinitas Sarah; apakah ia sedang kesulitan, memiliki masalah kesehatan mental, atau seberapa dekat hubungan mereka sebagai tetangga.
Maxime mulai menenun jaringan kebohongan dengan benang kebenaran yang tipis: ia mengaku sebagai tetangga baru, hanya sesekali bertemu, dan kebetulan lewat. Sambil memberikan jawaban-jawaban palsu itu, mata Maxime tanpa sengaja menangkap foto pernikahan Sarah dan Wilson yang dipajang dalam pigura besar di dinding ruang tamu.
Melihat senyum palsu Wilson dalam foto itu, Maxime merasa perutnya bergolak seperti diaduk-aduk. Di dalam ruangan ini, di tengah kekacauan yang tersembunyi di balik kemewahan, ia adalah satu-satunya yang tahu kebenaran penuh. Bahwa Sarah hidup dalam dongeng palsu yang busuk, sangat jauh dari kesan bahagia yang dipamerkan di foto itu. Sarah bukan seorang putri di istana ini; dia adalah tawanan yang baru saja mencoba membakar penjaranya sendiri.
Setelah polisi tampak puas dengan semua jawaban Maxime, salah satu petugas beralih menatap botol racun tikus dan serpihan gelas di lantai. "Kejadian ini tampaknya merupakan percobaan bunuh diri. Kita perlu segera menghubungi wali pasien atau kerabat terdekatnya."
Petugas satunya sudah mengangkat radio panggilnya. "Hubungi pusat, minta data kontak suami Nyonya Corx. Kita harus mengabarkan kondisi darurat ini sekarang juga."
"Tunggu! Jangan hubungi suaminya sekarang," cegat Maxime. Teriakan panik Maxime membuat kedua polisi itu tersentak. Maxime melangkah maju dengan tangan terangkat, berusaha mencegah tindakan mereka. Pikirannya berputar cepat mencari alasan agar Wilson Corx tidak segera hadir di rumah sakit sebelum ia sempat memastikan keamanan Sarah. Maxime kemudian berujar dengan nada setenang mungkin.
"Tuan Wilson sepertinya sedang dalam perjalanan bisnis penting. Jika Anda tiba-tiba menghubunginya dengan berita seperti ini saat dia sedang mengemudi atau berada di pesawat, saya takut dia akan sangat terkejut dan berisiko mengalami kecelakaan di jalan."
Kedua polisi itu saling pandang, menimbang argumen Maxime.
"Saya memiliki kontak pribadinya," lanjut Maxime berbohong demi melindungi Sarah. "Saya yang akan menghubunginya secara bertahap agar dia tidak shock. Saya juga yang akan sementara menjaga Sarah di rumah sakit dan mengurus administrasinya sebagai tetangga dekat. Saya menjamin semuanya akan tertangani dengan baik sampai walinya tiba."
Setelah menimbang sejenak dan melihat penampilan Maxime yang tampak sangat peduli, petugas polisi itu akhirnya mengangguk. "Baiklah, Tuan Thorne. Pastikan Anda segera memberikan keterangan lebih lanjut di kantor, setelah kondisi pasien stabil. Kami akan meninggalkan satu petugas di lobi, untuk memantau situasi."
Begitu pintu mahoni itu tertutup, Maxime mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melihat botol racun tikus itu sekali lagi. Sarah, wanita yang dulu ia kenal sangat suka tertawa, kini telah berubah menjadi bayangan hampa yang lebih memilih mati daripada bernapas satu detik lagi di samping pria bernama Wilson. Amarah yang sedari tadi ia tahan di depan para petugas kini meledak di dadanya, membakar seluruh keraguan yang tersisa.
"Aku bersumpah, Sarah..." bisik Maxime menatap puing-puing kehancuran di atas karpet Persia itu. "Jika kau tidak bisa menemukan alasan untuk hidup, maka aku yang akan menjadi alasan bagimu untuk menghancurkan mereka semua."
Maxime menunduk, mengabaikan noda menjijikkan di pakaiannya, dan mulai mengelap sisa muntahan di karpet, seadanya, dengan tisu. Setelah mengambil kotak dan botol racun tikus, ia berlari menuju unitnya sendiri untuk mengambil kunci mobil. Langkah kaki yang tadinya berat, kini dipacu oleh tekad baja.
Ia tidak akan membiarkan Sarah sendirian di rumah sakit, dikelilingi oleh perawat asing dan dinding putih yang dingin. Ia tidak akan membiarkan Wilson Corx kembali menyentuh seujung rambut pun dari wanita itu tanpa melewati mayatnya terlebih dahulu.
Maxime menekan tombol lift dengan kasar. Pintu emas itu terbuka, membawanya meluncur turun dari puncak menara gading yang hampir menjadi makam bagi cintanya. Takdir telah memberinya kesempatan kedua melalui pintu apartemen yang tak terkunci, dan kali ini, ia bersumpah tidak akan membiarkan "dongeng palsu" ini membunuh jiwa Sarah sepenuhnya.
.............................