BAB 6 - Penyelamat yang Tak Diinginkan

1153 Words
Hari sudah melewati tengah malam, saat Maxime Thorne masih berdiri mematung di balik pintu Unit 3401 miliknya. Jantungnya berdentum keras, menciptakan gema di rongga dadanya yang terasa kosong. Pikirannya terus dihantui oleh bayangan Sarah yang berjalan gontai dengan pipi lebam dan kotak racun tikus di dalam kantong belanjanya. Firasat buruk itu mencekik lehernya, sebuah kegelisahan yang begitu pekat hingga ia merasa oksigen di ruangan itu menipis. Tak kuat lagi menahan kegelisahan di dalam penthouse-nya, Maxime baru saja hendak melangkah keluar, saat pintu Unit 3402 di hadapannya terbuka dengan sentakan kasar. Seorang pria keluar dari sana. Wilson Corx, predator bisnis yang dingin, yang Maxime kenali sebagai suami Sarah. Ia hanya beberapa kali melihat Wilson dari jauh, di acara-acara amal, dimana lelaki itu memakai topeng pebisnis yang sempurna. Namun keadaanya sekarang tampak berantakan; kemeja linen mahalnya kusut masai dan kancing bagian atasnya terbuka. Maxime mengehentikan langkahnya. Ia melihat Wilson yang meludah ke lantai marmer yang mengkilap, dengan wajahnya yang mengeras oleh kebencian yang murni, sedangkan Wilson tidak melihat Maxime yang belum sepenuhnya keluar dari pintu penthouse-nya. "Dasar wanita menyedihkan," desis Wilson dengan nada rendah yang penuh penghinaan sebelum melangkah lebar menuju lift. Jantung Maxime mencelos. Darahnya seolah membeku. Pikirannya langsung melayang pada bekas tamparan di pipi Sarah yang ia lihat di supermarket tadi, dan mulai menyadari kemungkinan terbesar pelaku yang mengukir bekas tamparan itu, adalah Wilson. Kepanikan mulai merayapi syarafnya. Ia melangkah keluar, kakinya terasa berat seolah disemen ke lantai koridor yang sunyi seperti katedral itu. Maxime berdiri di depan pintu Unit 3402, menimbang antara menjaga kesopanan atau menyerah pada instingnya yang mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Sarah, dibalik pintu ini, saat tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar dari dalam. Merobek keheningan lantai paling elite ini. PRANG! Tanpa berpikir lagi, Maxime menerjang pintu Unit 3402. Pintu mahoni raksasa itu ternyata tidak terkunci. Pintu itu berayun terbuka dan seketika menyambutnya dengan kemewahan yang terasa mencekik. Di dalam sana, segalanya adalah simbol kekuasaan: lampu chandelier kristal yang menggantung megah, sofa beludru Italia senilai miliaran, dan karpet Persia tebal yang seharusnya hanya diinjak oleh kaki-kaki bangsawan. Namun, pemandangan di tengah ruangan itu menghancurkan segala kemegahan tersebut. Pemandangan itu, kini berubah menjadi kengerian terbesar yang pernah Maxime saksikan seumur hidupnya. Di tengah hamparan karpet Persia yang ternoda oleh sampah kondom perak, robekan kertas putih, dan serpihan gelas yang pecah, Sarah tergeletak. Wajahnya kini menjadi seputih porselen mati di bawah cahaya chandelier yang bersinar kuning pucat. Napasnya memburu, dangkal, dan tidak beraturan. Di atas meja kopi, kotak merah bergambar tengkorak itu telah terbuka. Di sebelahnya, sebuah botol cokelat yang mengeluarkan aroma kimia menyengat, tergeletak dengan tutup terbuka juga. "Sarah!" Teriak Maxime, suaranya pecah oleh horor, setelah menyadari apa yang sudah terjadi. Ia jatuh berlutut, mengabaikan serpihan kaca yang menusuk celananya. Tangan Maxime gemetar hebat saat menyentuh bahu Sarah yang sedang mengalami kejang ringan. Ia segera merogoh ponselnya, jemarinya yang gemetar nyaris menjatuhkan perangkat itu saat menekan nomor darurat 911. "Halo! 911! Saya membutuhkan ambulans di The Royal Pinnacle, Lantai 34!" teriaknya saat suara operator terhubung. "Tetangga saya... dia sepertinya meminum racun tikus. Ada.. botol racun terbuka di sampingnya. Dia kejang, napasnya sesak! Cepat, tolong!" "Tenang, Tuan. Ambulans sudah dalam perjalanan ke lokasi Anda," sahut suara operator di ujung sana. Mata Maxime diliputi ketakutan menatap tubuh Sarah yang semakin mengejang hebat. "Sarah.. Sarah..." Maxime sedang menggoyang-goyangkan tubuh Sarah, saat suara petugas operator 911 itu kembali terdengar dengan nada mendesak. "Fokus, Tuan! Sekarang keselamatan pasien, ada di tangan anda, tergantung pada pertolongan pertama yang anda lakukan. Sekarang dengarkan saya, apa Anda bisa membantu memiringkan tubuh pasien?" "Ya, ya, saya bisa," jawab Maxime, suaranya pecah oleh kepanikan. "Miringkan tubuhnya ke samping. Ini untuk mencegahnya tersedak jika ia muntah. Jika dia masih sadar atau menunjukkan refleks, Anda harus membantunya mengeluarkan racun itu secepat mungkin sebelum terserap lebih banyak ke sistem tubuhnya. Sogok pangkal tenggorokannya agar dia muntah! Kami sudah mengirim tim medis, jadi percayalah pada saya, dan coba lakukan pertolongan pertama." Dengan napas yang ikut memburu, Maxime memiringkan tubuh Sarah yang terasa ringan dan rapuh, seolah jiwanya sudah setengah terbang meninggalkan raga yang tersiksa itu. Sarah kemudian muntah sedikit, cairan keruh yang berbau tajam muncrat dari mulutnya. "Dia muntah!" Teriak Maxime cepat. "Sekarang sogok, Tuan! Bantu dia muntah!" Tanpa rasa jijik, Maxime memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Sarah, mencari pangkal lidahnya. "Maafkan aku, Sarah... maafkan aku," bisik Maxime parau. Ia memasukkan dua jarinya ke dalam mulut Sarah, dan seketika, jaringan parut di tenggorokan Sarah memberikan refleks penolakan yang mengerikan; tubuh wanita itu melengkung, matanya yang sayu terbuka sedikit, membelalak dengan kengerian yang tak terlukiskan. Maxime mendorong lebih dalam, memaksa muntah lebih banyak lagi. Mengabaikan rasa sakit saat gigi Sarah secara tidak sengaja menggores kulit jarinya. Sarah terbatuk hebat. Cairan keruh dan berbau busuk keluar dari mulutnya, menodai karpet Persia yang tak ternilai harganya itu. "Terus, Tuan! Pastikan semua keluar!" perintah operator dari ponsel. Maxime melakukannya lagi, berulang-ulang, meski hatinya hancur melihat Sarah menderita di bawah tangannya sendiri. Ia memaksanya hingga Sarah memuntahkan lebih banyak cairan beracun tersebut ke lantai marmer Italia yang mengkilap. Ruangan mewah itu kini berbau amis muntahan dan bahan kimia. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, kejang Sarah mereda. Ia terbaring lemas, napasnya perlahan kembali, meski tetap tipis. Maxime menarik tangannya yang gemetar, tubuhnya kehilangan seluruh kekuatan. Ia mundur perlahan, menyeret dirinya hingga punggungnya membentur kaki sofa mahal itu. Ia duduk di lantai, menatap tangannya yang berlumuran muntahan dan keringat. Di kejauhan, raungan sirine ambulans membelah kesunyian malam London, semakin keras, hingga lampu biru dan merah terpantul di jendela kaca raksasa penthouse tersebut. Beberapa menit kemudian, Tim medis menyerbu masuk dalam gerakan cepat. Mereka bergerak teratur, mengepung tubuh Sarah yang tak berdaya. Seorang petugas membantu Maxime berdiri, namun ia hanya bisa bersandar pada dinding kayu mahoni, karena lututnya melemas, seolah kehilangan tulang. Matanya tak bisa lepas dari sosok wanita yang masih ia cintai itu. Saat Sarah diangkat ke atas tandu dan dipasangi masker oksigen, matanya yang berkabut terbuka sekejap. Pandangannya bertemu dengan mata Maxime yang buram karena air mata. Maxime sempat menangkap sorot mata itu dalam sepersekian detik. Tidak ada rasa syukur karena berhasil hidup dan selamat, di sana... Yang ada hanyalah keputusasaan yang lebih dalam dari sebelumnya, sebuah tatapan yang penuh penyesalan karena ia telah gagal untuk mengakhiri penderitaannya sendiri. Sarah menatap Maxime sejenak, matanya yang tak fokus, memancarkan kemarahan yang menyayat hati—sebuah protes bisu karena Maxime telah merampas satu-satunya pintu keluar yang ia miliki. Maxime telah menyelamatkannya, tetapi bagi Sarah, ia hanyalah pria yang menyeretnya kembali ke neraka yang disebut kehidupan. Maxime hanyalah penyelamat yang tak diinginkan. Tak lama tandu itu dibawa pergi, meninggalkan Maxime sendirian di tengah kemewahan yang kini terasa menjijikkan. Ia berdiri gemetar, menyadari bahwa ia baru saja memenangkan pertempuran untuk nyawa Sarah, namun ia dapat merasakan bahwa ia telah kalah telak! Ia tahu, setelah ini ia harus hidup dengan menanggung kebencian Sarah. Maxime telah menang. Tapi ia merasa kemenangan itu, lebih menakutkan dari kekalahan. ...................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD