BAB 5 [21+] - Tiket Menuju Kedamaian

1221 Words
Suara klik dari kunci biometrik di pintu mahoni itu terdengar seperti letusan senjata api di telinga Sarah. Jantungnya melompat, menghantam kerongkongan. Dalam kepanikan yang murni, ia menyambar kotak berisi botol racun di atas meja dan melemparkannya ke kolong meja kopi, menyembunyikannya di balik bayangan marmer. Dengan jemari gemetar dan tubuh yang masih bersimpuh di lantai, ia segera memunguti serpihan surat cerai yang berserakan—sisa-sisa harga diri yang telah dirobek-robek tanpa ampun. Bulu kuduknya meremang. Udara di sekitarnya mendadak terasa berat dan beracun saat langkah kaki yang berat dan tidak stabil menggema di atas lantai marmer. Aroma alkohol yang menyengat mendahului kedatangan sosok itu. Wilson Corx. Sarah menelan ludah, berusaha menekan isak tangis yang masih tersisa di dadanya. Setiap langkah Wilson yang mendekat terasa seperti detak jam menuju eksekusi mati. Sarah masih menunduk, tangannya yang gemetar masih mencengkeram robekan kertas, ketika tiba-tiba sebuah tangan besar yang kasar menyambar lengannya. Wilson menarik Sarah berdiri dengan sentakan yang begitu kuat hingga tubuh wanita itu nyaris terpelanting. Kini, Wilson berdiri tepat di depannya, napasnya yang berbau whiskey menyapu wajah Sarah yang pucat. Lelaki itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Secara insting, Sarah mematung, memejamkan mata dengan erat. Ia sudah bersiap menerima hantaman atau tamparan susulan yang akan menambah lebam di pipi kirinya setelah kejadian tadi pagi. Namun, rasa sakit itu tidak datang. Sebaliknya, jemari Wilson yang dingin justru mengelus pipi yang memar itu dengan sangat lembut. Sentuhan yang seharusnya penuh kasih sayang itu justru terasa lebih mengerikan daripada pukulan mana pun. Wilson tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tampak tulus namun menyimpan kegilaan di matanya. Ia menatap bekas tamparannya sendiri seolah-olah itu adalah karya seni yang ia banggakan. "Makanya, jangan bertingkah, Sayang," ujar Wilson, suaranya rendah dan merdu, sangat kontras dengan kekejaman yang baru saja ia lakukan. "Aku kan sudah bilang... Kau tidak akan bisa lepas dariku sampai aku sendiri yang membuangmu." Tiba-tiba, Wilson tertawa. Tawa yang pecah di kesunyian penthouse itu, terdengar mengerikan sekaligus memuakkan. "Dan kau tahu apa? Aku tidak punya rencana membuangmu sampai aku mati!" Tanpa peringatan, Wilson merangsek maju. Ia menyambar tengkuk Sarah dan menciumnya dengan brutal. Itu bukan ciuman; itu adalah penaklukan. Kasar, penuh tuntutan, dan tanpa setitik pun rasa hormat. Sarah memberontak, tangannya memukul d**a Wilson, bibirnya terkatup rapat sebagai pertahanan terakhir terhadap bibir menjijikan suaminya. "Buka mulutmu, wanita si*lan!" maki Wilson di sela cumbuan kasarnya. Cengkeraman tangan Wilson berpindah ke rambut Sarah, menjambaknya ke belakang hingga kepala Sarah mendongak paksa. Rasa perih menjalar di kulit kepalanya. Saat bibir Sarah terbuka sedikit karena rasa sakit, Wilson menggigit bibirnya dengan keras hingga rasa amis darah mulai terasa. Lidah lelaki itu kemudian menerobos masuk, menginvasi ruang pribadinya tanpa ampun, sementara tangan lainnya dengan tergesa menurunkan resleting celananya. Sarah menyerah. Tubuhnya mendadak lemas, bukan karena gairah, melainkan karena jiwanya yang perlahan-lahan meninggalkan raganya. Ia membiarkan dirinya menjadi boneka kayu, tanpa reaksi, tanpa perlawanan lagi. Wilson mendorongnya jatuh ke atas sofa beludru yang empuk, sofa yang sama tempat Sarah biasanya duduk merenungi nasibnya. Dengan kasar, Wilson menaikkan gaun terusan Sarah hingga ke pinggang. Matanya yang merah karena mabuk menatap tubuh Sarah dengan nafsu yang menghina. Saat ia menurunkan satu-satunya penghalang yang tersisa dan melakukan penyatuan itu secara paksa, Sarah hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Setiap hujaman, Wilson berikan dengan desahan lantang yang memenuhi ruangan. Namun bagi Sarah, setiap gerakan itu terasa seperti paku yang dipantek ke dalam tubuhnya. Pori-porinya bergetar hebat, bukan karena kenikmatan, melainkan karena rasa jijik yang mendarah daging. Ia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, berusaha menelan suara apa pun agar tidak menyatu dengan desahan lelaki yang sedang menghancurkannya itu. Tiba-tiba, sebelum mencapai puncak, Wilson berhenti. Ia menarik Sarah bangun dari sofa dengan menjambak rambutnya kembali, memaksanya menatap wajahnya yang merah padam. PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sarah yang satunya, membuat kepalanya tersentak ke samping. "Mendes*hlah, jalang! Aku sudah sering mengingatkanmu untuk mendesah, kan? Kalau bukan mendesah untukku, memang untuk siapa lagi kau akan mendesah?" teriak Wilson tepat di telinganya. Namun, bukannya menurut, Sarah hanya menatap Wilson dengan pandangan nanar, sebuah lubang hitam kehampaan di matanya. Di detik itu, sisa-sisa harapan yang pernah ia simpan untuk Wilson menguap menjadi abu. Lelaki ini bukan suaminya; ia hanyalah sampah yang terbungkus setelan mahal. Wilson mendorong Sarah kembali ke sofa hingga wanita itu tersungkur dalam posisi yang menyedihkan. Wilson meludah, dan ludah itu jatuh tepat di samping kaki Sarah yang telanjang. "Kau bahkan tidak lebih baik dari boneka kayu! Benar-benar membuatku kehilangan nafsu," maki Wilson lagi sambil tergesa merapikan celananya. Ia mengambil selembar tisu dari meja, mengelap tangannya yang terkena sisa-sisa cairan mereka dengan ekspresi seolah ia baru saja menyentuh sesuatu yang busuk. "Belajarlah dari Amanda! Kalian bersaudara tapi sangat berbeda! Aku benar-benar heran..." Wilson melirik Sarah yang masih teronggok tak berdaya, lalu suara tawa mengejek keluar dari bibirnya. "Oh iya. Kalian tidak benar-benar bersaudara, ya? Kau hanya pengganti, kan? Anak pungut yang diambil untuk menggantikan anak asli yang hilang." Wilson berjongkok, merangkak mendekati Sarah yang tampak seperti boneka rusak di atas sofa. Ia kembali mengelus pipi Sarah dengan kelembutan yang memuakkan, kontras dengan makian yang baru saja ia lontarkan. "Kenapa? Kau marah karena aku membanding-bandingkanmu dengan Amanda?" Sarah tidak menjawab. Tatapannya kosong, menembus meja marmer di hadapannya. "Jangan pernah meminta hal bodoh seperti perceraian lagi, mengerti?" bisik Wilson penuh ancaman. "Amanda..." Sarah akhirnya bersuara, memberanikan diri mendesiskan nama itu. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Kau bisa menikahinya, kalau kita bercerai, kan?" Wilson menaikkan salah satu ujung bibirnya, membentuk senyum miring yang sombong. "Jangan mengaturku! Kalau memang aku ingin menikahinya, aku sudah melakukannya tiga tahun lalu saat dia kembali. Tapi lihat? Aku memilihmu, bukan? Jadi, jaga sikapmu, dan perbaiki kelakuanmu yang seperti mayat itu." Wilson mengecup singkat bibir Sarah yang masih berdarah, lalu bangkit dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan keheningan yang lebih mematikan daripada badai. Sarah tetap dalam posisinya selama waktu yang terasa seperti keabadian. Pikirannya hampa, dunianya yang tidak lagi menampilkan warna apa pun, sudah lama runtuh. Jika tahu takdir harus sehina ini, ia lebih baik tidak pernah dipilih untuk menjadi "pengganti" sejak awal. Jika tahu hidup adalah deretan penderitaan tanpa akhir, maka ia lebih baik tidak pernah dipilih dari panti asuhan itu, sejak awal. Ia lebih baik mati kedinginan di sana daripada membusuk di dalam istana kaca ini. Perlahan, dengan gerakan yang patah dan lesu, Sarah bangkit. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap sel di dalamnya menolak untuk terus hidup. Ia merosot ke lantai, merangkak dengan sisa tenaga menuju kolong meja kopi. Jemarinya merogoh kegelapan dan menemukan kotak merah itu. Racun tikus. Sarah mengeluarkan botol cokelat gelap dari kotak itu, dan menggenggamnya dengan erat. Botol itu terasa dingin, namun bagi Sarah, itu adalah benda paling hangat yang ia miliki saat ini—satu-satunya jalan keluar yang dapat menyelamatkannya. Tidak ada kata nanti. Sarah tidak ingin kembali bangun esok hari, dan menghirup udara menyesakkan di penthouse yang terasa seperti penjara mewah ini. Sarah berdiri, menyeret kakinya ke dapur dengan sisa tenaga yang ia punya. Mengambil segelas air, lalu kembali ke ruang tamu. Di ruang tamu, Sarah menatap botol cokelat itu dengan pandangan yang kabur karena air mata. Isaknya pecah, bukan karena takut mati, tapi karena betapa menyedihkannya hidup yang harus ia akhiri dengan cara seperti ini. "Sekarang," bisiknya parau di tengah sunyi. "Atau tidak sama sekali." Sarah membuka tutup botol itu, aromanya tajam menusuk, namun Sarah hanya melihatnya sebagai tiket menuju kedamaian yang tidak pernah ia dapatkan selama tiga tahun ini. ............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD