Detik Amanda, anak berbaju lusuh itu melangkahkan kaki melewati ambang pintu rumahnya, status Sarah berubah total.
Bayi yang hilang itu telah kembali.
Amanda adalah anak kandung yang selama ini mereka tangisi. Dan seketika itu juga, Sarah tersadar bahwa posisinya hanyalah "obat sementara".
Sarah melihat binar di mata orang tua angkatnya—binar yang dulu hanya miliknya—kini berpindah haluan. Ada rasa bersalah yang begitu besar di mata Tuan dan Nyonya Christie karena telah "menelantarkan" darah daging mereka sendiri selama 18 tahun.
Rasa bersalah itu mereka bayar dengan menenggelamkan Amanda dalam kemewahan. Kamar tamu diubah menjadi suite mewah dalam semalam. Mobil sport terbaru terparkir di garasi untuk Amanda. Perhiasan, tas branded, hingga perhatian... semuanya tersedot ke arah sang putri kandung.
Sarah yang melihatnya hanya mencoba berbesar hati. Ia sadar posisinya. Ia hanyalah anak yang "dipungut" untuk mengisi kekosongan hati ibunya. Kini, setelah yang asli kembali, wajar jika Sarah harus minggir sedikit.
Awalnya, Amanda bersikap manis. Sarah, dengan ketulusan hatinya, mencoba merangkul Amanda sebagai saudari. Ia mengajak Amanda berkeliling London, mengenalkannya pada butik-butik langganannya, mengajarkan tata krama makan malam high-class.
"Terima kasih, Kakak," ucap Amanda waktu itu dengan senyum manis.
Tapi itu semua palsu.
Bulan demi bulan berlalu, Sarah mulai menyadari bahwa ia sedang dihapus perlahan dari lukisan keluarga. Orang tuanya mulai sering pergi berlibur bertiga dengan Amanda, meninggalkan Sarah sendirian di rumah besar yang sepi.
Sarah tak mempermasalahkannya waktu itu, menganggap mereka butuh waktu reuni tanpanya.
Tapi ternyata Sarah salah. Hanya beberapa bulan setelah Amanda datang, orang tuanya berhenti memperhatikannya. Sarah berubah menjadi hantu di rumahnya sendiri. Tak ada yang mengajaknya bicara, tak ada yang menanyakan kabarnya. Tak ada yang menanyakan bagaimana harinya di kampus.
Amanda pun perlahan menunjukkan wajah aslinya. Gadis itu mulai mengacuhkannya, menatap Sarah dengan sorot mata merendahkan seolah Sarah adalah hama yang menumpang makan. Sarah ada, tapi tidak dianggap.
Namun, Sarah bisa bertahan. Karena saat itu, ia memiliki kekasih yang menganggap Sarah adalah dunianya.
Maxime Thorne.
Kekasihnya saat itu. Pria tampan dengan senyum hangat yang selalu menjadi tempat Sarah melarikan diri ketika rumahnya terasa terlalu dingin.
Maxime adalah satu-satunya orang yang melihat Sarah sebagai "Sarah", bukan sebagai "anak angkat yang malang". Bagi Maxime, Sarah adalah dunianya. Dan bagi Sarah, Maxime adalah satu-satunya tempat ia kembali.
Empat tahun Sarah bertahan menjadi bayangan di rumah Christie berkat cinta Maxime. Mereka merencanakan masa depan bersama, bermimpi membangun rumah kecil yang jauh dari kemunafikan keluarga kaya raya.
Sampai malam terkutuk itu tiba. Malam yang menghancurkan sisa-sisa harapan Sarah.
Amanda, yang saat itu berusia 22 tahun, telah bertunangan selama dua tahun dengan Wilson Corx, pewaris tunggal keluarga Corx yang kekayaannya setara dengan keluarga Christie. Pertunangan itu adalah pernikahan bisnis yang diatur oleh kedua orang tua mereka. Semua orang melihat Amanda dan Wilson sebagai pasangan emas. Serasi, kaya, dan sempurna.
Pernikahan tinggal menghitung minggu. Undangan sudah dicetak. Gaun pengantin seharga satu apartemen sudah selesai dijahit.
Namun, tiba-tiba Amanda menghilang.
Pagi itu, Tuan Christie menemukan surat di kamar Amanda. Gadis itu kabur.
Alasannya membuat Sarah ternganga tak percaya: Amanda hamil. Dan itu bukan anak Wilson. Amanda kabur dengan pria lain—seorang musisi jalanan yang ia temui di bar—karena ia tidak mau menggugurkan kandungannya demi menikahi Wilson yang ia sebut "pria kaku yang membosankan".
Kepanikan melanda kediaman Christie. Skandal ini akan menghancurkan reputasi mereka dan membatalkan merger bisnis triliunan rupiah dengan keluarga Corx.
Di tengah kekacauan itu, Tuan Christie memanggil Sarah ke ruang kerjanya.
Sarah masih ingat jelas dinginnya ruangan itu. Ayahnya duduk di balik meja mahoni besar, wajahnya keras dan tidak ada sedikitpun sisa kasih sayang yang dulu pernah ia berikan saat Sarah kecil.
"Amanda pergi," kata Ayahnya dingin, tanpa basa-basi. "Tapi pernikahan dengan keluarga Corx tidak boleh batal. Bisnis kita bergantung pada suntikan dana dari mereka."
Sarah mengernyit bingung. "Lalu apa yang bisa Sarah bantu, Pa? Kita harus segera mencari Amanda... Kita-"
"Tidak ada waktu mencari Amanda!" bentak Ayahnya memotong, membuat Sarah tersentak.
Tuan Christie menatap Sarah tajam. Tatapan seorang pebisnis yang sedang melihat aset, bukan seorang ayah yang melihat putrinya.
"Kau yang akan menggantikannya."
Dunia Sarah berhenti berputar.
"Apa?" suaranya tercekat. "Itu bohong kan, Pa?"
"Kau akan menikah dengan Wilson Corx. Undangan sudah disebar atas nama putri Keluarga Christie. Orang luar tidak terlalu peduli putri yang mana yang akan menikah. Yang penting ada pengantin wanita dari keluarga ini yang berjalan di altar."
"Tapi, Pa..." Sarah gemetar, air mata mulai menggenang. "Aku punya Maxime. Papa tahu aku dan Maxime..."
"Lupakan bocah itu!" potong Ayahnya kejam. "Maxime hanya anak kecil yang tidak selevel dengan Wilson. Dia tidak bisa menyelamatkan perusahaan kita. Kau sudah kami beri makan, kami beri pendidikan, kami beri kemewahan selama puluhan tahun, Sarah. Sekarang saatnya kau membayar hutang budimu."
Hutang budi.
Kata-kata itu menghantam Sarah lebih sakit daripada siksaan fisik mana pun. Apakah selama ini, kasih sayang mereka adalah investasi? Dan kini saatnya hasil investasi itu ditarik?
"Tapi Wilson mencintai Amanda, Pa. Dia pasti menolak..."
"Wilson tidak peduli," sahut Ayahnya datar dan cepat, tanpa emosi. "Keluarga Corx juga butuh merger ini. Asal ada pengantin wanita, pernikahan akan diteruskan." Berhenti sejenak,
"Dulu, kami membiarkanmu menjadi anak pengganti, sekarang lakukanlah tugasmu sebagai pengantin pengganti, dengan baik!"
Sarah mulai terisak di lantai marmer ruang tamu penthouse-nya sekarang, tangisnya pecah mengingat momen di mana harga dirinya dihancurkan sehancur-hancurnya oleh orang yang ia panggil "Papa".
Hari itu, Sarah dipaksa memutuskan Maxime dengan alasan klise agar pria itu membencinya. Hari itu, Sarah menyerahkan lehernya pada takdir, untuk menjadi Nyonya Wilson Corx.
Sarah pikir, dengan berbakti, ia akan menyenangkan semua orang. Ayahnya, ibunya, orang tua Wilson. Ia pikir, Wilson pun mungkin akan belajar mencintainya.
Tapi ia salah.
Sarah mengangkat wajahnya, menatap nanar ke arah botol racun tikus di meja, seolah botol itu adalah solusi terbaik dari seluruh penderitaan yang ia alami.
Enam tahun menjadi istri Wilson, ia akhirnya kembali menjadi hantu di rumahnya sendiri. Ia adalah istri yang sah di atas kertas, tapi p*****r di mata suaminya.
Sarah mengulurkan tangannya yang gemetar, jemarinya menyentuh kotak racun tikus itu.
"Mungkin Papa benar," bisiknya parau, suaranya pecah di antara isak tangis. "Aku memang cuma barang pengganti yang tidak berharga."
Dan barang pengganti, tidak berhak bahagia.
.................................