Pintu mahoni Unit 3402 tertutup perlahan di belakang punggung Sarah, memisahkan lorong sunyi di luar dengan neraka dingin di dalam. Tidak ada sambutan. Tidak ada kehangatan. Hanya aroma pengharum ruangan berbau lavender yang berusaha keras—namun gagal—menutupi bau amis pengkhianatan yang mengambang di udara.
Sarah berjalan dengan langkah terseret ke arah ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti mendadak. Matanya terpaku pada pemandangan di atas karpet Persia tebal di tengah ruangan. Pada serpihan kertas putih yang berserakan di sana.
Itu adalah surat gugatan cerai.
Surat yang dengan gemetar ia serahkan pada Wilson tadi pagi. Surat yang menjadi alasan pipi kirinya kini berdenyut nyeri dan memar.
Ingatan akan kejadian tadi pagi menghantamnya kembali. Wilson tidak hanya menolak tanda tangan. Pria itu menamparnya keras hingga Sarah tersungkur, lalu merobek kertas-kertas itu menjadi serpihan kecil dan melemparkannya ke wajah Sarah.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun sampai aku yang membuangmu!" bentak Wilson saat itu.
Melihat serpihan kertas itu masih teronggok di sana, pertahanan Sarah runtuh seketika. Tubuhnya perlahan melorot. Lututnya membentur lantai marmer yang dingin, dan ia membiarkan dirinya jatuh terduduk di antara sobekan kertas itu.
Jalan keluarnya sudah ditutup. Pintu legal untuk meninggalkan pernikahan neraka ini seolah terkunci rapat. Realitas itu menghantamnya telak: ia akan terjebak selamanya dalam neraka ini!
Dengan tangan gemetar, Sarah mengangkat kantong plastik yang sejak tadi digenggamnya erat. Ia mengeluarkannya. Sebuah kotak merah bergambar tengkorak.
Jika Wilson tidak membiarkannya pergi, maka Sarah harus mencari pintu keluar lain. Ia meletakkan racun tikus dosis tinggi itu di atas coffee table marmer hitam. Di sana, kotak kematian itu kini duduk berdampingan dengan bukti dosa suaminya yang lain.
Mata Sarah beralih menatap nanar ke arah benda-benda di samping racun tikus itu.
Di kanan meja, botol-botol wine kosong tergeletak berantakan. Sementara di lantai, tak jauh dari kakinya, bungkus-bungkus k*ndom perak yang sudah robek sejak semalam, tergeletak pamer di samping asbak kristal, lengket dan menjijikkan.
Hatinya mencelos. Rasa jijik merayapi kulitnya seperti ribuan semut api melihat sampah k*ndom itu. K*ndom yang tidak pernah digunakan Wilson saat menyentuhnya.
Wilson tidak pernah repot-repot menggunakan pengaman dengannya. Pria itu menyentuhnya hanya sebagai kewajiban. Dingin. Cepat. Tanpa ekspresi. Seolah Sarah hanyalah boneka karet yang harus ia pakai untuk menyalurkan hasrat biologis semata, tanpa ada setitik pun cinta.
Namun, bagian paling menyedihkan dari tragedi ini adalah hati Sarah sendiri.
Sarah menengadah, menatap langit-langit penthouse yang tinggi dihiasi chandelier mewah. Air mata panas mulai meleleh, melewati pipi kirinya yang lebam.
"Bodoh..." bisiknya pada kekosongan ruangan. "Kau bodoh, Sarah."
Meski Wilson memperlakukannya lebih buruk dari seekor anjing jalanan, meski pria itu membawa wanita lain ke ranjang mereka, ada bagian kecil, bodoh, dan naif di dalam hati Sarah yang diam-diam menaruh harapan pada pria itu.
Enam tahun hidup bersama, melayani keperluannya, menyiapkan bajunya, menatap punggung tegapnya... Sarah, yang hanya memiliki Wilson di sampingnya, sempat berharap suatu hari Wilson akan berbalik dan melihatnya.
Tapi tamparan pagi ini, robekan surat cerai di lantai, dan racun tikus di atas meja itu adalah jawaban telak dari semesta: Harapan itu sudah mati.
Sarah memeluk lututnya sendiri, membenamkan wajahnya yang basah. Di tengah keheningan yang menyiksa ini, pikirannya melayang mundur. Jauh ke belakang.
Ke masa di mana hidupnya tidak sesuram abu rokok di asbak itu.
Ke masa di mana hidupnya tidak semengenaskan ini.
Dulu, Sarah Christie adalah nama yang diucapkan dengan penuh kekaguman di lingkaran sosialita London.
Ia adalah putri tunggal—meski diadopsi—dari keluarga Christie, pemilik konglomerasi bisnis makanan terbesar di Inggris. Sarah kecil diambil dari panti asuhan yang dingin dan dibawa masuk ke dalam istana hangat keluarga Christie saat ia masih bayi.
Tuan dan Nyonya Christie sebenarnya pasangan yang divonis hampir mandul, dan susah untuk memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun melewati prosedur medis yang menyakitkan dan menguras air mata, mereka akhirnya berhasil memiliki seorang bayi perempuan cantik. Kebahagiaan mereka sempurna saat itu.
Namun, naas. Bayi itu diculik saat masih merah.
Dunia Tuan dan Nyonya Christie hancur. Mereka menggunakan seluruh kekayaan mereka, mengobrak-abrik seluruh negeri, menyewa detektif terbaik, hingga memasang iklan di mana-mana. Namun, hasilnya nihil. Bayi itu hilang tanpa jejak.
Dalam keputusasaan dan kesepian yang mencekik rumah besar mereka, Tuan Christie akhirnya mencari jalan keluar untuk mengobati hati istrinya yang nyaris gila karena duka. Mereka pergi ke panti asuhan, dan di sanalah mereka menemukan Sarah.
Sarah dipilih bukan tanpa alasan. Ia adalah anak tercantik yang mereka lihat di panti itu. Mata bulatnya dan senyum manisnya dianggap obat yang paling pas untuk menambal lubang di hati mereka.
Sarah akhirnya menjadi putri kecil mereka, permata keluarga, pewaris tunggal kerajaan bisnis itu. Ia tumbuh dilingkupi gaun-gaun indah, les piano, liburan musim panas di Swiss, dan cinta yang melimpah ruah. Selama delapan belas tahun, Sarah hidup dalam gelembung kebahagiaan yang sempurna.
Namun, takdir memiliki cara kejam untuk membalikkan keadaan.
Tepat di hari ulang tahun Sarah yang ke-18, dunianya mulai berderak retak perlahan.
Hari itu, pintu rumah besar mereka diketuk. Seorang gadis remaja seusia Sarah, berdiri di sana dengan pakaian lusuh namun wajah yang menantang. Di tangannya, ia menggenggam selembar kertas hasil tes DNA.
Namanya Amanda.
Sarah tidak pernah menduga, kedatangan gadis ini akan menjadi awal mula kehancurannya.
.......................................