Part 16

1157 Words
Pagi ini Allyson bangun lebih awal sebelum alarmnya berbunyi. Tadi malam ia sangat sulit tidur. Saat bisa tertidur, ia hanya bisa terlelap selama dua jam dan tidak bisa memejamkan matanya lagi. Padahal tubuh dan pikirannya sangatlah lelah. "huft.. aku ingin teh buatan pak Park". Ia beranjak ke kamar mandi dan membasuh mukanya. Ia ingin menjernihkan pikirannya dari bayang-bayang In Ho dan Alex. Ia pergi keluar kamar dan menuju pintu balkon. Angin fajar yang berhembus sangat menenangkan untuk Allyson. Saat seperti ini adalah waktu terbaik untuk mengisi pikirannya dengan hal lain.  Allyson mengambil satu lembar jurnal yang belum dibacanya di ruang tengah dan membacanya di balkon apartemennya. Jurnal itu berisi penelitian terbaru tentang potensi stem cell menjadi obat baru. Ia sangat menikmati waktu sendirinya saat ini. Tidak ada yang tahu kalau Allyson suka mengisi waktunya dengan ini, kecuali In Ho. Sekitar dua puluh menit Allyson telah selesai membacanya. Matahari mulai mengintip di langit. Ia memejamkan matanya dan merasakan angin membelai wajahnya. Kemudian ia masuk kembali untuk bersiap-siap berangkat ke rumah para member. Hari ini adalah dress rehearsal pertama untuk penampilan mereka dan juga penampilan In Ho dengan BM. Allyson berniat datang lebih awal ke tempat para member. Pukul delapan pagi Allyson sudah tiba di sana. Di dapur seperti biasa sudah ada pak Park sedang menyiapkan sarapan. "kau datang lebih pagi Allyson" "iya pak Park" Allyson meletakkan tasnya di sofa dan menuju meja bar. "apa kau tidak tidur semalam?" pak Park memperhatikan rona wajah Allyson yang tidak seperti biasanya "aku hanya tidur dua jam" Allyson menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Lalu pak Park membuatkan minuman hangat untuk Allyson dan memberikannya. "semoga minuman ini membantu harimu dan tidurmu malam nanti", Allyson tersenyum menerimanya. Ia mulai menyeruput segelas minuman yang masih mengepulkan asap. "aku menambahkan beberapa rempah di dalamnya" "rasanya memang berbeda, tapi aku tetap menyukainya" senyum Allyson sambil menghirup aroma minuman tersebut. Pak Park tersenyum mendengarnya. Allyson berputar di atas kursinya. Ia melihat pintu latihan setengah tertutup. Ruangan tersebut masih gelap karena lampunya dimatikan. Kemudian ia bangkit membawa gelasnya dan menuju ruang tersebut. Allyson membuka pintunya dan terlihat ruangan yang bersih dengan kaca yang memenuhi salah satu sisi dinding. Di sudut kiri ruangan terdapat piano dan beberapa alat musik. Di sisi kanan ruangan tersebut terdapat sofa nyaman dan meja yang terdapat beberapa botol minuman dan makanan ringan. Ruangan itu terasa sunyi, cocok dengan tipikal seorang Allyson. Pertama kalinya ia kesini saat ia menyaksikan para member sedang berlatih tarian dan lagunya, sehingga ruangan itu terasa bising. Ia berjalan menuju sisi kiri ruangan dimana terdapat piano berwarna hitam. Gelasnya diletakkan di bagian atas piano, dan ia pun duduk di bangku kecil di depan piano. Ia melihat beberapa kertas nada yang berjudul lagu mereka. Allyson mencoba menekan satu tuts piano, terdengar suara yang lumayan kencang memenuhi ruangan. "tidak ada tulisan do re mi nya ya?" Allyson bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian ia terkekeh sendiri dengan kebodohannya saat ini. Allyson mulai mencoba menekan tuts-tuts piano yang lain. Sehingga menimbulkan bunyi yang berbeda-beda di ruangan tersebut. Kemudian memainkan tuts piano dengan kesepuluh jarinya dengan asal. Allyson hanya ingin bermain-main saja. Setelah pagi ini dibuka dengan sebuah jurnal, segelas teh rempah hangat buatan pak Park, dan tuts-tuts piano abstrak yang ia mainkan, dirinya merasa lebih baik. "lagu apa yang kau mainkan?" suara seorang pria mengagetkan seorang Allyson yang sedang bermain-main dengan tuts piano. Allyson sudah hafal siapa sang pemlik suara itu. Allyson mengintip dari balik piano dan melihat In Ho sedang berdiri di bibir pintu dengan tangan bersilang di depan dadanya. Kemudian In Ho berjalan menghampiri Allyson. "kupikir kau belum bangun" ucap Allyson saat In Ho sudah duduk di kursi piano yang sama dengan Allyson "tidurku tidak begitu baik semalam", ucap In Ho. Allyson mengambil gelas yang ia bawa dan memberikannya pada In Ho. "semoga minuman ini membantu harimu dan tidurmu malam nanti", ucap Allyson, kemudian In Ho menerimanya dan mencium aroma harum dari minuman itu. "pak Park yang mengatakan itu padaku saat membuatkanku ini" senyum Allyson di pagi hari ini adalah yang paling disukai In Ho "kenapa kau tidak bisa tidur?" tanya In Ho "entahlah" Allyson menjawab dengan wajah seperti berpikir dan menerawang sesuatu yang terlah terjadi belakangan ini. Ia tak mungkin mengungkapnya pada In Ho sebab ia tidak bisa tidur adalah karena dirinya dan juga Alex. "bisa kau mainkan ini?" Allyson menekan tombol tuts saat bertanya. In Ho meletakkan gelasnya di atas piano. Ia mulai memainkan tuts-tuts piano hingga terdengar menjadi suatu melodi indah yang menenangkan di telinga dan hati Allyson. "wise man say.. only fools rush in.. but I can't help falling in love with you" In Ho bernyanyi sambil memainkan jarinya di atas tuts piano. "shall I stay.. would it be a sin.. if I can't help falling in love with you" In Ho menatap mata Allyson dengan dalam dan tulus, sambil masih tetap memainkan jari-jarinya. Allyson tersenyum tipis saat mata mereka bertemu. "like a river flows.. surely to the sea.. darling so it goes.. something I meant to be. So take my hand.. take my whole life too.. For I can't help falling in love with you" Allyson tidak bisa mengalihkan pandangan dan telinganya saat ini. Bibirnya tidak berhenti tersenyum mendengar dan melihat In Ho bernyanyi dengan hati. Jari-jarinya lihai memainkan lagu sederhana ini, dan caranya bernyanyi yang memperindah lagu. Sesekali mata mereka bertemu dan In Ho tersenyum dengan manis. Hati Allyson sangat memuji dan menyukai suara In Ho. "So take my hand.. take my whole life too.. For I can't help falling in love with.. you" jari-jarinya berhenti memainkan tuts piano. Mereka berdua saling bertatapan, Allyson canggung dengan senyuman In Ho saat ini. Jantungnya tak bisa tenang saat melihat tatapan dengan In Ho dan melihat ia tersenyum. "berhenti menatapku seperti itu, In Ho" ucap Allyson sambil memalingkan wajahnya dari In Ho. Ia tidak bisa ditatap seperti itu oleh In Ho . "kalau begitu kau juga harus berhenti tersenyum seperti itu kepada pria lain" "senyum seperti apa?" Allyson menuntut jawaban karena tidak mengerti maksud kata-kata In Ho. In Ho tidak menjawab dan hanya tersenyum. In Ho mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak persegi kecil berwarna merah. Ia membukanya dan mengambil sebuah kalung emas putih dengan bandul permata yang tidak terlalu besar. In Ho memasangkannya ke leher Allyson. d**a Allyson berdebar lebih kencang saat In Ho sangat dekat dengan wajahnya. Allyson bisa merasakan hembusan napas In Ho di tengkuknya yang membuatnya tidak bisa bergerak. Allyson juga bisa melihat tengkuk In Ho dengan sangat jelas, jawline yang sangat tegas membuat Allyson tidak bisa bernapas. Kini kalung itu sudah terpasang di leher Allyson. "maaf aku telat memberi hadiahmu" In Ho tersenyum "kau tidak perlu sampai seperti ini, In Ho", Allyson memberikan wajah khawatir. "aku akan kecewa jika hadiah dariku kau tawarkan pada orang lain" In Ho mengeluarkan wajah sedih dan memohonnya. Kemudian In Ho mencubit hidung Allyson karena gadis di depannya ini sangatlah manis. "sebentar lagi Jun-hyung akan turun" In Ho mengecek jam tangannya. "jika ia menemukan kita sedang.. ahh.. Ia akan menggodaku habis-habisan" In Ho membayangkan wajah para hyung nya dengan ekspresi seperti mohon ampun. "sedang apa?" Allyson bingung, dan In Ho tertawa melihatnya. "ayo, kita harus sarapan" In Ho menggenggam tangan Allyson dan membawanya berjalan bersama menuju dapur untuk menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh pak Park. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD