Part 17

2159 Words
Satu hari sebelum Grammy.. "kami sudah di parkiran" ucap Sam di telepon "okey.. aku segera kesana" Allyson menutup teleponnya. Ia membawa tas, sebuah tas kecil berisi pakaian, dan dress yang akan ia pakai ke Grammy Award. Allyson meninggalkan apartemennya dan menuju ke tempat parkir. Di tempat parkir sudah menunggu Sam, Calie, dan Sara. Mereka berempat berangkat menuju rumah para member dengan mobil milik Sara. "aku ingin ini segera berakhir, agar aku bisa tenang." Ucap Allyson sambil menggigiti jarinya "kau melakukannya dengan baik Ally, tenang saja" ucap Sara menenangkan. Berapa lama kemudian, mereka sampai di tempat tinggal para member. Mereka semua turun dari mobil dan masuk ke dalam. Tak lama kemudian mobil Alex datang dan memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Sara. "hai Alex.. pas sekali" semuanya menyapa, tak terkecuali Allyson. Allyson sebisa mungkin menjaga sikapnya tetap biasa kepada Alex setelah kejadian beberapa hari lalu. Di dalam rumah, para member sedang berada di ruang tengah dengan tas pakaian bawaannya masing-masing. Di sana juga ada pak Kang dan pak Han yang menyambut mereka berempat. Pak Kang dan pak Han selalu menemani para member beraktivitas selama dua hari ini. Terutama pak Kang, ia adalah koreografer yang memberi arahan dan saran untuk performa di panggung. Saat Allyson dan yang lain masuk mereka semua memberi salam ramah. Saat Allyson datang, para member bergegas membawa keperluan masing-masing menuju mobil. Setelah berapa lama kemudian, mereka sampai di hotel di dekat staples center, tempat Grammy akan dilaksanakan. Semua member turun satu persatu dari mobil, juga pak Kang dan pak Han. Sam, Calie, dan Allyson pun ikut turun dari mobil Sara. Sara dan supir mobil yang mengangkut para member memasuki parkiran. Sampai di resepsionis, Sara mengurus keperluan kamar mereka, sedangkan yang lain menunggu di ruang tunggu yang ada di loby. Sara menambahkan dua kamar untuk pak Kang dan pak Han. "okey aku sudah dapat kunci kamarnya. Kita semua berada di lantai 17, begitu juga dengan suite room nya." Sara memberikan kunci berbentuk kartu kepada masing-masing member secara acak. "Sam, ini kuncimu. Allyson, ini milikmu dan Calie. Dan ini suite roomnya. Sara memberikan dua kunci kamar kepada Allyson. Karena sudah masuk jam check in mereka segera naik ke lantai 17. "biar ku bantu" Alex mengambil tas pakaian Allyson dan Calie yang sedang mereka jinjing. "terimakasih Alex" senyum Allyson seperti biasanya. Sampai di lantai 17 mereka keluar dari lift dan berjalan ke lorong sebelah kanan. Mereka mulai mencari nomor kamar masing-masing yang tertera pada kunci kartu. "apa kau menginap disini juga?" tanya Allyson yang berjalan bersisian dengan Alex. "tidak, aku di apartemenku sendiri, dan anak buahku ada di Staples." Beberapa orang memperhatikan pembicaraan antara Alex dan Allyson. Beberapa yang lain sibuk dengan handphone di tangannya. "Allyson, kurasa ini suite room nya" Sara menunjuk suatu kamar dengan nomor sama dengan salah satu kartu yang dipegang Allyson. "berapa nomor kamarmu?" tanya Alex. Allyson mengecek kedua kartu yang ada di tangannya. "ya ini suite roomnya" Allyson mengkonfirmasi nomor kamar dengan kartu suite room. "kamarku 17095", Allyson menemukan kamarnya tepat di depan suite room. "Calie kita disini" kemudian Allyson menempelkan kartu pada gagang pintu dan terdengar bunyi klik. Allyson dan Calie pun mengambil tas pakaian mereka dari Alex. Calie masuk ke kamar lebih dulu. Para member lain mencari nomor kamar masing-masing dan setelah menemukannya mereka mulai masuk ke dalam kamarnya masing-masing. "terimakasih Alex. Kita akan berjumpa besok?" ucap Allyson di depan pintu kamarnya "sure". Alex kemudian berjalan balik arah menuju lift dan berpapasan dengan seorang laki-laki menggunakan jaket hoodie berwarna hitam yang sedang bersandar di dinding lorong. Kepalanya dimasukkan ke dalam kupluknya dan kedua tangannya dimasukkan ke kantung jaketnya. Laki-laki itu menunduk menghadap ke bawah. "In Ho" panggil Allyson saat melihat In Ho berada di arah Alex berjalan. In Ho menoleh ke sumber suara dan tersenyum tipis. Alex yang mendengar Allyson memanggil In Ho pun menghentikan langkahnya dan menengok sedikit ke belakang melalui bahunya. Sekelebat ia melihat Allyson berjalan menghampiri In Ho. Kemudian Alex segera pergi menuju lift. "kau belum menemukan kamarmu?" In Ho hanya diam tanpa mempedulikan Allyson yang sudah ada di hadapannya. Menolehpun tidak. "kenapa kau diam saja? Berapa nomor kamar--" Allyson berhenti bicara karena In Ho menarik tangannya berjalan menyusuri lorong sampai di sebuah kamar dengan nomor 17098. Allyson merasa de javu dengan hal ini. In Ho menyentuhkan kartunya dan langsung membuka pintu. Tangan Allyson masih berada di genggaman tangan In Ho saat mereka sudah berada di dalam kamar. In Ho menjatuhkan tas pakaiannya di lantai, kemudian melepaskan tangan Allyson. "kau ini kenapa?" tanya Allyson kesal. In Ho diam tak menjawab. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ke daun pintu. Tangannya dimasukkan kembali ke kantung jaketnya. "aku tidak nyaman melihatmu bersamanya" jawab In Ho tanpa menoleh sama sekali kepada Allyson "ini soal Alex?", hening tanpa ada jawaban dari In Ho. "kenapa kau tidak nyaman?" In Ho tetap tidak menjawab dan tidak menoleh kepada Allyson. "kau cemburu?" In Ho langsung menoleh ke Allyson yang berdiri di hadapannya. Kata-kata tersebut bagai listrik yang mengejutkan In Ho. Tiba-tiba tangan In Ho menarik tangan Allyson, memutar tubuh Allyson hingga tubuh Allyson bersandar pada pintu. In Ho menghimpit tubuh Allyson dan langsung mencium bibir Allyson tanpa meminta izin pada Allyson. Ya, sebelumnya pun In Ho tidak pernah meminta izin untuk ini. Ciuman ini tidak selembut ciuman In Ho sebelumnya. "ya, aku cemburu" ucap In Ho saat melepaskan pagutan bibirnya di bibir Allyson. Wajah In Ho mulai menjauh dari wajah Allyson. Ia menyandarkan tangan kirinya pada pintu di belakang Allyson. Rasa kesal masih terekspresikan di wajah In Ho . "aku hanya menganggapnya teman" "ia tidak menganggapmu seperti itu" "lalu kau sendiri menganggapku apa?" "Saranghae.." In Ho menatap mata Allyson dengan tajam saat mengucapkannya. Tak ada keraguan sama sekali di dalam matanya. Allyson belum pernah melihat mata In Ho yang seperti itu. Ada keheningan sejenak diantara mereka. "kau tau kau tidak bisa menarik kata-katamu?" jawab Allyson memecah keheningan yang canggung tersebut. "aku tidak akan menariknya" In Ho masih menatap Allyson dengan keyakinan. Seperti seorang prajurit yang siap mati di medan perang. Ddrrttt... dddrrtttt... Handphone Allyson berbunyi, In Ho menarik tangannya yang bersandarr di daun pintu, membuat Allyson memiliki jarak untuk mengambil handphone dari kantung coat nya. Nama Calie muncul di atas layar handphone, In Ho juga bisa melihat bahwa Calie menelepon Allyson. "Calie akan mencariku jika aku tidak segera muncul di kamar", ucap Allyson. "aku mengerti", jawab In Ho. Allyson berbalik untuk membuka pintu di belakangnya dan segera keluar dari kamar In Ho. Di dalam kamar, In Ho berdiri dengan kekosongan. Lagi-lagi Allyson tidak menjawab pernyataannya. ** Allyson mengalirkan air dari shower ke kepala dan tubuhnya dengan air hangat. Percikan air yang jatuh di kepalanya terasa seperti pijatan, membuat ringan kepalanya. Ia membersihkan diri untuk mengakhiri sore hari ini. Beberapa menit kemudian ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang tergantung di kamar mandi kamar hotelnya. Ia mengenakan pakaian dalam dan bathrobe nya. Kemudian ia menggulungkan handuk untuk menutupi rambutnya yang basah, sehingga terlihat seperti ice cream cone di kepalanya. Di depan kaca ia memperhatikan kalung yang melingkar di lehernya. Ia memilin-milin bandul permata yang indah. Pilihan In Ho sangat tepat untuk seorang gadis seperti Allyson. Kalung itu tergantung hanya untuk mempermanis dirinya, tapi tidak memancarkan seorang Allyson secara berlebihan. Allyson memikirkan kejadian-kejadian yang ia alami selama ini bersama In Ho . Mengingat kembali tatapan mata In Ho siang tadi. Tatapan mata seorang laki-laki yang menganggap kata-katanya adalah sebuah janji. Allyson tidak bisa berkata apapun saat In Ho mengatakan bahwa ia mencintainya. Ia tenggelam dalam tatapan yang menghujam hatinya tersebut. Beruntunglah Calie meneleponnya agar ia tidak harus menjawab pernyataan itu. "Allyson.. cepatlah. Kita akan memulai ronde baru" teriak Calie dari luar kamar mandi. Saat ini di kamar hotelnya sedang ada Sam, Calie, dan Sara. Mereka bertiga sedang bermain uno. Allyson akan bergabung di ronde berikutnya karena ia ingin menyegarkan dirinya terlebih dahulu. Allyson menepiskan sementara pikirannya soal In Ho dan segera keluar kamar untuk bergabung bersama sahabat-sahabatnya. Calie, Sam, dan Sara sedang duduk melingkar di atas ranjang king size, di tengah-tengah mereka bertebaran kartu uno yang berantakan tidak teratur. Calie membereskannya untuk dikocok ulang. "kau kalah?" Allyson tertawa melihat Calie membereskan kartu-kartu yang banyak itu. Allyson pun bergabung duduk di atas ranjang. Ia melipat kaki kirinya, dan membiarkan kaki kanannya tergantung di bibir ranjang. Kemudian ia bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya terlihat sangat segar setelah mandi, begitupun pikirannya. Calie mulai mengocok kartu-kartunya. Di sisi kanan Allyson ada Sam. Di sisi kiri Allyson ada Sara dan Calie. "kau memakai kalung baru?" tanya Calie sambil membagikan kartu-kartu di tangannya. Allyson menoleh pada Calie dan tersenyum tipis sambil memilin bandul kalungnya. "apa Alex yang memberikannya padamu?" Sara bertanya sambil tersenyum menggoda Allyson "tidak" jawab Allyson dengan tatapan mata menerawang. Hening sejenak saat Calie sudah selesai membagikan kartunya. "kalau begitu pasti salah satu dari mereka" tebak Calie dengan senyum menggoda. Sam pun ikut terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan kartu. Sara langsung menoleh tak percaya kepada Allyson. Ia membulatkan mulutnya sambil melotot dan menagih penjelasan. Tapi Allyson masih diam tanpa menjawab apapun. Tangannya memilin bandul kalungnya dan matanya menatap ke depan dengan kosong. "kau tidak perlu berpikir sekeras itu, Ally" senyum Sam sambil memeriksa kartu-kartunya. "kalau kau menyukainya kenapa kau ragu?" Sam lanjut berbicara. Calie dan Sara hanya mengangguk-angguk setuju sambil melihat kartunya masing-masing. "bukankah ini tidak benar?" tanya Allyson pada sahabat-sahabatnya. "apa yang salah? Ia menyukaimu dan kau tertarik padanya" jawab Sam "aku tidak tau perasaanku" Allyson menambahkan dengan cepat. Ketiga orang di hadapannya menoleh kepadanya secara bersamaan "kau tau dengan baik.. kau hanya tidak mengakui dan menepisnya" Sara menjawab keheningan di antara mereka. Sam dan Calie mengangguk menyetujui perkataan Sara. Mereka pun mulai melemparkan satu per satu kartu yang ada di tangan mereka, masing-masing dari mereka bergantian menyambungkan kartu yang menumpuk di tengah lingkaran. "jagoanku tidak menang ya" ucap Sara sambil membuang beberapa kartu di tangannya. "jagoanmu bermain aman, terlalu menunggu lama." jawab Sam santai. Percakapan Sara dan Sam tidak didengarkan oleh Allyson, karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri. "jadi yang mana diantara mereka berenam?" tanya Sara memecah lamunana Allyson. Sam terkekeh saat Sara bertanya pada Calie. "aku juga tidak tau" jawab Calie sambil mengangkat bahunya. "kau pasti tau kan Sam?" tebak Sara pada Sam. Ding dong... Ding dong... "biar aku yang buka", Sam bangkit dari ranjang untuk membukakan pintu kamar. Saat Sam membuka pintu, seorang laki-laki dengan celana training hitam dan kaus hitam sedang berdiri di depan pintu. "oh.. maaf, ku-kupikir ini kamar.." "kau mencari Allyson?" Sam tersenyum melihat wajah In Ho yang kebingungan menemukan Sam di kamar Allyson. "siapa Sam?" Allyson tiba-tiba muncul di ujung lorong kamar. Kemudian mata Allyson dan In Ho bertemu. In Ho menunjukkan wajah kebingungan pada Allyson karena Sam yang membukakan pintu kamar. Pikiran buruk langsung terlintas di otak In Ho tentang Allyson dan Sam. "siapa yang datang?" Calie bertanya dan tiba-tiba ikut muncul di samping Allyson. In Ho terkejut dua kali melihat Calie. Pikiran buruknya berubah menjadi rasa malu. Kemudian Sara muncul setelah Allyson dan Calie. Rasa malu In Ho sekarang menjadi tiga kali lipat. "sepertinya aku harus kembali ke kamar" ucap Sam. "masuklah In Ho" Sam berjalan keluar dari kamar Allyson. "hey Sam, aku ikut" Calie berteriak dan Allyson kebingungan kenapa semua teman-temannya pergi. "Ally.. aku harus pulang" tiba-tiba Sara mengekor pada Calie dan Sam "kau juga?" tanya Allyson pada Sara yang ikut-ikutan pergi dari sana. "aku tidak ingin besok terlambat" Sara mengambil tasnya dan menghampiri Allyson, mengecup pipi Allyson kanan dan kiri. "baiklah.. hati-hati di jalan" ucap Allyson "Sampai besok In Ho" senyum ramah Sara saat berpapasan dengan In Ho. In Ho pun membalas dengan membungkukkan bahunya. Sekarang hanya ada Allyson da In Ho di dekat pintu kamar. "masuklah" ucap Allyson. In Ho mengangguk dan menutup pintu di belakangnya. "duduklah" Allyson mempersilahkan In Ho untuk duduk di kursi single yang ada di dalam kamarnya. Allyson pergi ke meja lain untuk menyeduh teh dengan air yang sudah ia masak sebelumnya. Allyson membawa segelas teh dan berbalik menuju In Ho yang sedang melihat tumpukkan kartu uno yang berantakan di atas ranjang. "kami sedang bermain tadi" memecah keheningan diantara mereka berdua. Allyson memberikan gelas berisi teh pada In Ho dan duduk di bibir ranjang berhadapan dengan In Ho. Ia merapatkan bathrobe nya dengan kedua tangannya. "aku mengganggu kalian bermain ya?" "mereka sudah bermain beberapa ronde tadi" senyum Allyson dengan khasnya. "jadi.. ada apa, In Ho? Ada yang kau butuhkan?". Allyson sedikit khawatir dengan kedatangan In Ho saat ini. Tadi siang ia bisa kabur dan menghindari pernyataan cintanya In Ho. Allyson berharap In Ho datang bukan untuk meminta jawaban padanya. "kau gugup untuk penampilan besok?" senyum Allyson menebak-nebak yang In Ho rasakan. Allyson berusaha mungkin mencari topik pekerjaan di antara mereka. "jika aku tampil bersama dengan hyung aku tidak akan gugup", dan In Ho mengikuti arah permainan Allyson "kau sudah berlatih keras. Kau pasti bisa melakukannya dengan baik. Bahkan kau sudah menerima pujian dari teman duetmu" Allyson tersenyum dengan khasnya. Dan In Ho pun jadi tersenyum melihat gadis di depannya tersenyum seperti itu. "sepertinya aku tau yang kubutuhkan" In Ho meletakkan gelasnya di atas meja di samping bangku yang ia duduki. "apa itu?" "senyumanmu" jawab In Ho singkat dengan tatapan mata berseri. Wajah Allyson berubah merah seketika saat mendengarnya. "aku harus pergi" In Ho bangkit dari kursinya, dan Allyson pun ikut berdiri. "baiklah" Allyson menanggapi Kemudian In Ho menarik tengkuk Allyson, dan ia mengecup dahi Allyson. Allyson diam seribu bahasa. Dadanya selalu bergenderang saat bersama dengan laki-laki dihadapannya ini. Terlebih jika In Ho melakukan hal-hal intim seperti ini, tanpa izin darinya. Otak Allyson seperti berhenti memberikan perintah kepada anggota tubuhnya, sehigga Allyson hanya diam seperti batu. "tidurlah yang nyenyak" ucap In Ho dan ia berjalan keluar meninggalkan Allyson sendiri di dalam kamar. Saat bunyi pintu tertutup, Allyson baru bisa bernapas dan berpikir. "ya Tuhan.." Ia menyentuhkan tangan kanannya ke d**a kirinya, mengecek jantungnya normal atau tidak. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD