Part 15

2655 Words
Allyson telah tiba di tempat para member pukul sepuluh. Ia masih menemukan pak Park berada di dapur. "pagi pak Park" sapa Allyson sambil membungkukkan badannya. "pagi Allyson.. kau sudah sarapan?" "aku sudah sarapan sebelum ke sini" "akan aku buatkan minum" pak Park membuatkan minuman teh yang disukai Allyson "apa mereka sudah sarapan?" "ya.. mereka sedang latihan. Kau mau ke dalam?" "ah tidak, biarkan saja. Aku takut mengganggu" "sejak kapan kehadiranmu mengganggu mereka" senyum pak Park sambil menyuguhkan segelas teh hangat yang masih mengepulkan asap. Allyson menyeruputnya sedikit sedikit "wahh.. aku tidak pernah bosan meminum ini" pak Park tersenyum melihat Allyson yang sudah seperti putrinyanya sendiri. Pak Park berpikir Allyson adalah gadis yang baik dan pintar karena bisa bertahan sendiri tanpa keluarga di kota yang keras ini. "Allyson.. sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampaikan salamku untuk mereka nanti" "hati-hati di jalan pak" Allyson mengantar kepergian pak Park sampai depan pintu. Saat pak Park sudah pergi Allyson membuka handphonenya dan menelepon Calie. Tak lama Calie menjawabnya "Calie.. kau bisa temani aku hari ini ke Westfield Century City?" "emm... siang ini aku kosong. Kita bertemu di sana saja ya" "baiklah, aku akan menunggumu. Sampai nanti" Allyson menutup teleponnya. Allyson beranjak pergi ke halaman belakang dengan membawa segelas teh, sebuah jurnal dan buku catatan. Ia duduk di tepi kolam, dan menenggelamkan setengah kakinya di air. Mendengarkan sebuah lagu dengan earphone. Dan mulai membaca artikel penelitian yang judulnya membuat ia tertarik. Ia larut dalam suasana itu. Ini adalah salah satu kegiatan yang disukai Allyson. Menikmati bacaan di cuaca yang tidak terlalu panas sambil meminum teh hangat yang nikmat, dan ditemani dengan sebuah lagu. Pikiranya sedang fokus seratus persen selama beberapa menit kemudian. "membaca jurnal lagi?" Allyson menoleh ke sumber suara. Ia sudah hafal dengan suara itu, sudah tau siapa pemilik suara itu. Dilihatnya In Ho sedang berjalan menuju kearahnya. Allyson mengecilkan volume musik di handphonenya tanpa melepaskan earphonenya. In Ho menggulung celana trainingnya sampai selutut dan menenggelamkan kakinya di kolam seperti yang Allyson lakukan. "kau sudah hafal ya?" senyum Allyson kepada In Ho. Allyson berusaha untuk bersikap seperti biasanya pada In Ho. In Ho mengalungkan sebuah handuk putih di lehernya. Ia memakai celana training hitam panjang dengan kaus putih berlengan pendek. Di wajah dan lehernya terlihat banyak keringat karena latihan yang keras. "kau mau ?" Allyson menjulurkan sebuah gelas berisi teh yang dibuatkan oleh pak Park "pak Park yang membuatnya?" In Ho bertanya sambil menerima gelasnya. Allyson hanya mengangguk dan tersenyum. "ahh.. ini lebih nikmat jika diminum setelah latihan", ucap In Ho saat mencicipi teh yang ada dalam gelas, dan Allyson tersenyum mendengarnya. "kalian semakin keras berlatih menuju Grammy" "ini penampilan perdana kami di Grammy. Kami tidak ingin mengecewakan para penggemar." "aku mengerti" Allyson tersenyum melihat mereka sangat bersemangat berlatih. "bersiaplah.. kita akan makan siang di luar" ucap Allyson kepada In Ho. In Ho segera mengangkat kakinya dari kolam dan bangkit berdiri. Saat In Ho berbalik ke arah pintu balkon. Ia melihat para hyung nya sedang berdiri berjajar sambil tersenyum licik, sebagian dari mereka malah berusaha keras menahan tawanya. In Ho terkejut dan memberikan kode untuk diam dengan jari telunjuknya. In Ho bergegas masuk dengan menarik para hyung nya ke dalam rumah. "hyung.. apa yang kalian lakukan?" saat mereka sudah berada di ruang tengah "kami hanya ingin tau sudah sepintar apa maknae kami mengenai masalah perempuan" Jun tertawa terkekeh "apa hanya itu yang bisa kalian bicarakan?" sahut Dae Jung "soal Grammy? yang benar saja" In Su menambahkan. "Tae Yun bahkan bisa lebih baik dari itu" sahut Ye Suk sambil terkekeh "kau ingin aku ajari?" tanya Tae Yun sambil menunjuk dirinya. "aku akan mempraktikannya langsung pada Allyson. Perhatikan baik-baik" Tae Yun hampir pergi ke halaman belakang dimana Allyson berada sebelum In Ho menarik tangannya "hei hei hyung.. aahhh", yang lain tertawa sambil menepuk-nepuk punggung In Ho. In Ho merasa kewalahan dengan kelakuan para hyung nya. Ini memang pertama kalinya In Ho terlihat tertarik dengan seorang gadis. Para member yang lain tak ingin kehilangan momen menyenangkan tersebut. "apa yang kalian lakukan?" suara seorang gadis tiba-tiba muncul dari halaman belakang. Allyson melihat mereka berkumpul di ruang tengah sedang mengerubungi In Ho di tengah-tengah . "ah tidak.. kami akan bersiap-siap" jawab Ye Suk, ia dan yang lain segera bubar meninggalkan In Ho di ruang tengah. "benar-benar" In Ho meniup poni di keningnya dan berkecak pinggang. Kemudian ia segera naik ke lantai dua untuk bersiap-siap. Satu setengah jam kemudian mereka telah sampai di Westfield Century City, salah satu shopping mall terbaik di kota LA. "kita makan siang dulu ya" ajak Allyson kepada yang lain. "ada menu yang kalian inginkan?" "kami sedang ingin pasta" ucap Dae Jung dan In Su. "owh.. perfect choice." Allyson tersenyum gembira. Ia tidak salah memilih mall ini. "Kita ke Eataly saja kalau begitu." Dan mereka pun berjalan mengikuti Allyson. Mereka memakai beberapa atribut agar tidak mudah dikenali, seperti topi dan kacamata. Hanya Jun dan In Ho saja yang tidak peduli dengan hal itu. Tak lama mereka sampai di depan area Eataly. Eataly adalah sebuah area yang berisi berbagai macam hal yang berhubungan dengan Italia, seperti kopi, gelato, wine, dan restaruan khas Italia. "Calie sudah menunggu kita di atas" mereka masuk ke dalam Eatly dan naik satu lantai. "tidak apa apa kan aku mengajak teman?" cengir Allyson kepada para member "kenapa hanya Calie yang kau ajak" tanya Dae Jung. Allyson hanya tersenyum hingga giginya terlihat. Sebenarnya alasan Allyson mengajak Calie adalah agar ia punya teman pelarian. Mereka telah sampai di depan sebuah restauran bernama La Pizza.La Pasta "atas nama Calie" Allyson berbicara dengan seorang pelayan wanita di depan pintu. Kemudian pelayan tersebut mengantarkan mereka ke sebuah meja di pojok di ruangan dengan sofa letter L. "halo semua..." Calie menyalami mereka satu persatu dan mereka membalasanya. "Oh silahkan duduk dimanapun yang kalian suka" Calie, In Ho, Jun, Dae Jung, In Su, dan Tae Yun duduk di sofa letter L. Allyson dan Ye Suk duduk di kursi tambahan yang sudah disiapkan sebelumnya "bagaimana kabarmu Calie?" tanya Ye Suk "aku baik, jika Ally tidak memberiku banyak pekerjaan" senyum Calie "owh benarkah itu?" Allyson menolehkan wajahnya kepada Calie tanda menuntut penjelasan. "hei kita harus mendokumentasikan ini untuk menyapa para penggemar" Ye Suk menyarankan ide sambil menyiapkan tripod mini untuk dipasang ke handphonenya. "oh biar aku bantu" Allyson menawarkan bantuan. Kemudian Calie bertukar tempat duduk dengan Ye Suk agar semua member terlihat jelas berkumpul dalam satu landscape. Kemudian Allyson menyalakan kameranya dan merekam mereka yang sedang menyapa dan berbicara dalam bahasa Korea. Seorang pelayan membawakan beberapa buku menu. "kau mau pesan apa?" bisik Calie di telinga Allyson sambil membuka buka buku menu. "samakan saja denganmu" "aku ingin fettucini" "aku juga itu saja.. oh tambahkan margarita juga" Allyson menjawab dengan pelan agar suarnya tidak masuk ke dalam video. Semua member sudah memilih makanannya masing-masing setelah mereka selesai membuat video. Kemudian Allyson memanggil seorang pelayan untuk menyebutkan pesanannya. Pelayan tersebut kembali ke belakang setelah mencatat semua menunya. Suasana di meja saat ini sangatlah mirip dengan suasana sarapan di tempat tinggal para member. Dimanapun mereka berada, mereka bisa menghidupkan suasana dan tidak canggung. Mereka percaya diri dan selalu jujur dengan kepribadian masing-masing. Mereka saling berbincang dan mengobrol dengan Calie dan Allyson. Tiba-tiba handphone Allyson berbunyi dan nama Alex muncul di atas layar. Allyson sempat diam sebentar mengacuhkan panggilan teleponnya. "itu Alex, kenapa tidak diangkat?" ucap Calie yang di dengar oleh semua orang di atas meja. Tiba-tiba semua orang terdiam setelah Calie menyebut nama Alex, semua mata tertuju ke arah Allyson. "aku permisi sebentar" Allyson bangkit dari kursi dan mengangkat teleponnya dari jauh. "ya Lex", suara rebut terdengar di telinga Alex saat Allyson menjawab telepon "apa kau sedang diluar?" tanya Alex karena mendengar suara bising seperti di mall "ya, aku di century city mall, sedang makan siang dengan para member dan Calie. Ada apa?" "aku ingin mengajakmu makan malam, kalau kau tidak keberatan" Allyson menggigit jari telunjuknya sambil berpikir. Entah kenapa Allyson berpikir untuk menerima ajakan Alex atau tidak, biasanya ia sangat senang jika ditraktir makan oleh Alex. "aku belum bisa menjawabnya sekarang, tapi akan kukabari nanti" "baiklah.. Sampai nanti Ally" "Sampai nanti" Allyson menutup teleponnya dan kembali ke meja. Dua orang pelayan sedang membawakan pesanan saat Allyson berjalan menuju meja. "ada apa Alex menelepon?" tanya Calie saat Allyson sudah kembali duduk di kursi. Semua orang diam menunggu jawaban Allyson. "itu.. bukan apa-apa" Allyson tersenyum kecil kepada Calie. "AGHH" tiba-tiba In Ho berteriak. Dan semua menoleh kearah In Ho. Jun telah menginjak kaki In Ho diam-diam di bawah meja, membuat In Ho teriak kesakitan. "regangkan sedikit wajahmu" bicara Jun dalam bahasa Korea dengan wajah cool. Tiba-tiba semua member terkekeh. Allyson dan Calie tidak menegerti apa yang mereka tertawakan. "mari kita makan" Dae Jung mengajak semuanya untuk mulai makan yang di sambut dengan suara ceria dari semuanya. Mereka semua kembali menyalakan video saat sedang makan. Terkadang diselingi obrolan, canda, dan tawa. ** "Allyson, bukankah kita juga harus membeli sesuatu untuk dipakai saat Grammy?" Calie berbicara dengan Allyson yang sedang berjalan di sampingnya. Mereka telah menyelesaikan makan siangnya dan saat ini mereka sedang berputar-putar di mall. Mereka mampir ke beberapa toko baju, dan kacamata. Saat Ye Suk dan In Su sedang memilih kacamata. In Ho melihat sebuah toko perhiasan tak jauh darinya. "hyung, temani aku" In Ho mengajak Tae Yun sambil menunjuk toko tersebut dengan wajahnya. "hei.. aku akan pergi dengan In Ho dulu" semua member mengangguk. Saat Allyson melihat In Ho dan Tae Yun berpisah dengan member yang lain Allyson memanggilnya. "In Ho, Tae Yun.. kabari jika sudah selesai". In Ho hanya menjawab dengan memberikan jempol. In Ho dan Tae Yun memasuki toko perhiasan tersebut. Dan seorang pelayan menyambutnya "ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang pelayan ramah kepada mereka "aku mencari sebuah kalung" "mari saya antar." In Ho diantar menuju meja berdinding kaca mewah yang didalamnya terdapat berbagai macam model kalung. Mata In Ho menyusuri ke dalam isi meja display tersebut. Ia mencari kalung yang pas dengan pilihannya. "itu.. boleh saya lihat?" In Ho menunjuk sebuah kalung emas putih, yang memiliki satu bandul berlian berukuran sedang. Kalung itu sederhana, tidak berlebihan, tetapi masih tetap cantik. Kemudian pelayan tersebut mengambilnya dan menunjukkannya ke hadapan In Ho "ini untuknya?" tanya Tae Yun dalam bahasa Korea "dia baru saja berulang tahun hyung" "benarkah?" In Ho hanya mengangguk. Mata Tae Yun menyusuri meja display untuk mencari model kalung yang lain. "bisa aku lihat yang ini?" Tae Yun mengganti bahasanya dengan bahasa inggris kembali, dan menunjuk sebuah kalung emas dengan tiga bandul bertingkat berbentuk lingkaran yang berisi berlian-berlian kecil-kecil. Pelayan mengeluarkannya dan meletakkanya di depan Tae Yun. "bagaimana kalau ini? Untuk hadiah ulang tahunnya kan?" tanya Tae Yun dalam bahasa korea memberikan pendapat kedua untuk In Ho. In Ho melihat kalung pilihan Tae Yun dan berpikir. "emm.. sepertinya ini terlalu ramai. Allyson gadis yang sederhana, tidak suka sesuatu yang berlebihan" "kalau begitu ini pilihan yang bagus" Tae Yun menunjuk kalung yang dipilih In Ho. "bungkus yang ini saja" pinta In Ho kepada pelayan. Dan pelayan pun mengambil kalung yang dipilih untuk dipacking dengan cantik. "kapan kau akan memberikannya?" "belum tahu" In Ho menjawab sambil tertawa dengan polosnya. Sebenarnya hal ini juga tidak direncanakan sebelumnya. Ide ini terlintas tiba-tiba saat In Ho menemukan toko perhiasan. Pesan masuk ke dalam handphone In Ho. Allyson memberitau posisi mereka saat ini. In Ho dan Tae Yun langsung menuju sebuah kedai es krim yang dimaksud oleh Allyson. Beberapa menit kemudian In Ho dan Tae Yun sudah bergabung kembali dengan mereka. "apa ada lagi yang kalian butuhkan?" tanya Allyson "kita kembali saja Ally.. sebentar lagi jam sibuk" jawab Jun "baiklah" Allyson dan yang lain bangkit dan keluar dari kedai. Allyson berjalan bersisian dengan Calie. Di depan Allyson ada Jun, Dae Jung, dan Ye Suk. Di belakang Allyson ada In Ho, Tae Yun, dan In Su. Mereka berjalan menuju parkiran untuk mengantar para member kembali ke rumah. "kau tidak ikut kami?" tanya In Ho saat ia akan masuk ke mobil "aku akan pulang bersama Calie" Allyson menunjuk Calie yang sedang berpamitan dengan member lain. "besok kalian akan gladi menggunakan wardrobe. Aku akan menjemput besok" senyum Allyson dengan khasnya. Kemudian In Ho berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam mobil. Mereka melambaikan tangan dan mengucapkan salam. "Sampai besok" Allyson melambaikan tangannya saat mobil tersebut berjalan. Saat mobil mereka hilang dari pandangan, handphone Allyson berbunyi, nama Alex muncul di layar. "ya Lex" "..." "kami baru saja selesai. Aku masih bersama Calie di century city" "...." "emm.. baiklah. Apa Calie boleh ikut? "..." "Sampai nanti". Allyson menutup teleponnya dan mengembalikannya ke dalam coat yang ia kenakan. "Alex mengajakku makan malam. Ia ingin kau juga bergabung" "kau yang menginginkanku bergabung, bukan Alex" Calie terkekeh "jangan memulainya Calie" "Allyson.. kau sungguh tak menyadarinya?" "soal apa?" Allyson menjawab dengan wajah datar "ya Tuhan..", saat ini Calie terlihat lebih dewasa dibanding Allyson. "sudahlah.. aku tidak ingin bicara lebih banyak dari ini. Kita akan makan dimana?" Calie segera mengganti topik "kau saja yang pilih" jawab Allyson ** "hei.. maaf menunggu lama" Alex telah tiba di restaurant yang dipilih oleh Calie. "bagaimana jalanan tadi?" senyum Allyson seperti biasanya kepada Alex "jika aku ceritakan aku akan stress dua kali lipat" jawab Alex dan dibalas dengan tawa dari Calie dan Allyson "kami sudah memesankanmu makanan" ucap Calie "terimakasih. Ada apa kalian membawa mereka kemari?" tanya Alex kepada dua orang gadis di depannya. "mereka ingin membeli sesuatu, dan mungkin mereka mulai bosan di rumah" jawab Allyson "apa rencana mereka besok Ally?" tanya Calie "dress rehearsal selama dua hari kedepan. Oiya besok pak Kang Min Woo dan Han Sang Ok akan datang dari Seoul. Sara akan menjemputnya. Bagaimana perkembangan Grammy lex? Kau juga memegang Grammy secara keseluruhan bukan?" "ya kau benar.. kami sedang sangat sibuk menjelang hari H. Semua tenaga dan personil kukerahkan" "bagaimana untuk para klienku?" Allyson menanggapi "rumah akan aku jaga dengan tiga orang. Kemudian di perjalanan akan aku minta lima orang. Setelah turun dari mobil, empat penjaga sudah cukup. Karena dari Grammy juga akan memberikan pengamanan." "kau memang yang terbaik Lex" Allyson memberikan ibu jarinya kepada Alex. Tak lama kemudian makanan yang dipesan sudah sampai. Merekapun menikmati makanan yang ia pesan masing-masing. Mereka berbincang mengenai pekerjaan dan hal-hal lain. Satu jam kemudian mereka sudah selesai makan dan akan pulang. "aku akan mengantarmu Calie" ucap Alex "dengan senang hati". Mereka bertiga naik ke mobil Alex. Allyson duduk di bangku depan, dan Calie duduk di belakang. Alex mengantar Calie lebih dahulu karena apartemennya yang lebih dekat dari century city mall. "kau terlihat lelah" tanya Alex saat mereka sudah menurunkan Calie di depan apartemennya. Allyson hanya tersenyum. "maaf aku menunda waktu istirahatmu " "asal kau bayar dengan makanan enak aku tak masalah" goda Allyson. Alex hanya tertawa mendengarnya. "aku tidak keberatan mengajakmu makan malam setiap hari" "kau akan bangkrut jika setiap hari mengajakku makan malam" tawa Allyson "tak apa.. asal aku bisa bertemu denganmu" Alex tersenyum tanpa menoleh ke Allyson, ia fokus menyetir di jalanan yang ramai ini. Kata-kata tersebut tidak pernah direncanakan oleh Alex untuk keluar. Ia hanya reflex berbicara. Allyson pun diam tak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil melihat kearah Alex. Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di parkiran apartemen Allyson. "terimakasih sudah mentraktir dan mengantar kami dengan selamat". Allyson melepaskan sabuk pengamannya, tapi sabuknya tidak terlepas dari kuncinya. "apa sabuk pengamanmu rusak?", Alex menoleh kearah Allyson yang sedang berusaha agar sabuknya bisa lepas dari kunci pengaman. Kemudian Alex mencoba membantu Allyson melepaskan sabuk pengamannya. Saat Allyson dan Alex menyadari bahwa wajah mereka begitu dekat, pikiran liar dan insting Alex sebagai laki-laki muncul. Ia melihat bibir Allyson yang berwarna merah muda dan terlihat lembab, membuatnya tertarik untuk merasakannya. Kepalanya semakin mendekati wajah Allyson. Ia sedikit memiringkan kepalanya agar bisa mencapai bibir Allyson dengan mudah. Allyson menyadari apa yang akan dilakukan Alex saat itu juga. Ia gugup, tapi ia tak menginginkan ini, sehingga ia menarik wajahnya menjauhi wajah Alex. "maafkan aku Alex", ucap Allyson pelan tanpa maksud membuat Alex tersinggung. Alex langsung menarik wajahnya saat itu juga dan kembali pada posisi duduk sebelumnya. Keheningan dan kecanggungan menghampiri mereka berdua "emm.. Alex a-aku.." Allyson tidak tahu harus bicara apa pada pria di sampingnya ini. Ia hanya menunduk sambil memilin-milin tali tasnya karena gugup. "masuklah.. agar kau bisa istirahat" wajah Alex sangat dingin saat mengatakan itu. Ia terlihat kecewa dengan penolakan Allyson. "Sampai jumpa Alex. Terimakasih sudah mengantarku" Allyson keluar dari mobil dengan sejuta pikiran di otaknya. Sedetik setelah Allyson keluar dari mobil, Alex merasa bodoh dengan apa yang ia coba lakukan terhadap Allyson. Ia sangat menyesal dengan apa yang tadi ia lakukan jika setelah ini Allyson langsung menjauhinya. "Seharusnya aku lebih bersabar sedikit", ucap Alex dalam hati. ** Malam ini Allyson kembali sulit tidur. Pertama In Ho, dan kemudian Alex. Ia mulai memikirkan apakah Alex memiliki perasaan terhadapnya. Apakah selama ini teman-temannya tidak bercanda menggoda dirinya dan Alex. Tapi Allyson tidak ingin terlalu percaya diri saat Alex tidak pernah mengungkapkan perasaan padanya. Ia tak ingin pertemenannya dengan Alex menjadi tidak baik setelah malam ini. Ia memikirkan bagaimana kedepannya ia harus bersikap ketika bertemu dengan Alex lagi. Saat ini saja ia sudah berusaha keras agar tidak canggung di depan In Ho. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD