Part 19

2730 Words
Jackson, Sara, Calie, Sam, Allyson, dan Cole sedang berkumpul dalam ruang rapat milik Jackson. Mereka akan membahas proyek besar berikutnya bersama BT1. BT1 akan melakukan konser stadion di Rose Bowl. "jadi Cole.. bagaimana perkembangannya?" tanya Jackson yang membuka meeting hari ini. "kami sudah membuka penjualan tiket. Dan sold out dalam waktu 28 menit. Posisi panggung dan bangku penonton juga sudah kami atur sebaik mungkin. Tim kreatif dari agensi mereka telah mengirimkan rancangannya kepada kami." Jelas Cole "Malam ini mereka akan tiba disini." Tambah Allyson "Tempat tinggal untuk mereka juga sudah siap, tidak jauh dari tempat para member." tambah Sara. "Calie? Sam?" tanya Jackson kembali "kami sudah mencari dan menyiapkan wardrobe yang pas untuk setiap lagu, kita hanya tinggal fitting saja" jawab Sam "Sara, bisa kau carikan studio yang lebih besar untuk mereka latihan? Panggung mereka nanti akan lebih besar. Kurasa mereka membutuhkannya untuk menyesuaikan lagu dan yang lainnya" tanya Allyson "ya tentu" jawab Sara Sudah enam bulan lamanya Allyson berkutat dengan proyek BT1. Fanbase mereka terbilang sangat besar disini. Sehingga pemikiran yang dibutuhkan juga sangatlah besar untuk memuaskan para penggemar mereka di Amerika. Tidak hanya para kru yang bekerja keras, tapi para member pun latihan lebih keras dibandingkan hari-hari sebelumnya "kurasa cukup untuk hari ini" ucap Jackson. "oke semuanya.. aku ingin kalian tetap fokus pada grand plan kita. Grammy bukanlah puncaknya. Jadi aku memerlukan kecerdasan dan fokus kalian kedepan. Kalian paham?" Jackson saat sedang bekerja dan saat di luar pekerjaannya adalah dua sosok kepribadian yang berbeda. Dalam bekerja, dia menginginkan kesempurnaan, tidak ingin cacat sama sekali. Tapi jika sedang tidak bekerja, dia seperti salah seorang di antara kami. "okey Jacks" semua orang berteriak agar menambah semangat mereka. Allyson, Calie, Sara, dan Sam bangkit dari kursi dan keluar dari ruang meeting untuk kembali ke ruangan mereka di lantai lima. "Sara, jemputan untuk nanti malam sudah siap?" tanya Allyson saat mereka berjalan bersama menuju lift "sudah.. kau akan ikut malam ini?" "iya aku akan ikut. Sekarang aku akan ke tempat mereka. Bagaimana kalau kau ikut aku? Kita berangkat bersama dari sana" "emm.. boleh juga." Satu jam kemudian mereka telah sampai di tempat tinggal para member pukul 12.30. Pak Park yang sedang berada di dapur telah selesai menyiapkan makan siang. Pak Park yang jarang melihat Sara memberikan salamnya kepada gadis berambut merah tersebut. "aku senang kau membawa teman, Allyson. Rumah ini memerlukan banyak sentuhan wanita" ucap pak Park yang dibalas tawa oleh mereka berdua. Suara musik terdengar dari ruang latihan. Suara hentakan kaki dan hitungan tarian juga terdengar sampai ke dapur. "mereka masih latihan?" tanya Allyson pada pak Park. "ya.." pak Park mengangguk. "ikutlah denganku" ajak Allyson kepada Sara sambil menarik lengan Sara. Allyson mengajak Sara untuk melihat ke dalam ruang latihan mereka. Karena Sara belum pernah melihat bagaiman proses latihan mereka yang keras dan panjang. Allyson membuka pintu latihan. Dan mereka berdua berdiri di bibir pintu. Para member sedang melatih satu tarian dalam sebuah lagu. Dae Jung banyak mengarahkan blocking para member yang dapat ia pantau dari kaca besar di depan mereka. Dae Jung selalu bersikap sangat tegas soal gerakan dan blocking. "bukankah akan mengecewakan kalau aku gagal mempersiapkan ini dengan baik?" tanya Allyson pada Sara yang sedang menyenderkan tubuhnya di bibir pintu. "hey.. siapa bilang kau akan gagal" Sara menepuk bahu Ally untuk mengomelinya. "God.. help me" balas Allyson sambil menghembuskan nafas dari mulutnya. Suara musik berhenti, dan mereka telihat lelah dengan banyak keringat membasahi baju mereka. Sara dan Allyson bertepuk tangan sambil tersenyum untuk para member yang tidak menyadari kehadiran mereka. "heiii.. kalian datang" Jun menyapa mereka dan menghampiri mereka. Jun memberikan hi five pada Allyson dan Sara, dan member lain pun mengekor di belakang Jun. "berapa jam kalian latihan?" tanya Sara "hmm.. sudah hampir tiga jam kurasa" Ye Suk menjawab sambil melihat jam di dinding. Napas mereka terengah-engah. Mereka menyeka keringat mereka dengan menggunakan handuk. Sebagian dari mereka terkapar di lantai, dan sebagian lagi membasahi tenggorokannya dengan air. "apa pak Park masih ada?" tanya In Su pada Sara atau Allyson "ya, makan siang kalian sudah siap" jawab Sara antusias. "makanlah bersama kami" ajak In Ho pada Allyson dan Sara "aku atau Ally?" spontan Sara bertanya tanpa dipikirkan dulu. In Ho menatap Sara sambil mengerutkan alisnya. "kau ini" Allyson menepuk bahu Sara, dan pergi dari ruang latihan. Sara dan para member kecuali In Ho tertawa kecil di belakang Allyson. "maafkan aku, aku hanya bercanda" ucap Sara pada In Ho. In Ho tersenyum memperlihatkan gigi-giginya. Kemudian Sara pergi ke luar untuk menyusul Allyson. Para member, Allyson, dan Sara makan bersama di meja makan panjang. Sara duduk bersampingan dengan Allyson, Ye Suk, dan Dae Jung. Di seberang mereka ada In Ho, In Su, Jun, dan Tae Yun. Pak Park telah kembali seusai tugasnya, ia hanya datang untuk memasak, jika tugasnya sudah selesai maka ia akan kembali ke pekerjaannya. "kenapa kau jarang mengunjungi kami, Sara?" tanya In Su sambil menyantap makanannya "kalau aku tau makan siang di sini seenak ini, aku akan mampir setiap hari" Sara tertawa memperlihatkan giginya. "tim dari agensi kalian akan tiba malam ini. Jadi aku akan menjemputnya bersama Ally" tambah Sara "benarkah itu? kami memang sudah mendengarnya dari agensi, tapi persisnya kapan tidak tau" ucap Jun "apa mereka akan tinggal di sini bersama kami?" tanya Ye Suk pada Sara "kurasa tidak mungkin, tidak ada kamar lagi disini. Aku sudah menyiapkan tempat lain yang tidak jauh dari sini" semua member mengangguk dan membulatkan mulutnya mendengar penjelasan Sara "besok akan ada meeting bersama dengan semua pihak yang terkait" ucap Allyson, "supir akan mengantarkan kalian ke kantor kami besok" Allyson tersenyum. "kami akan bersiap-siap besok" jawab semuanya. Kemudian mereka melanjutkan makan mereka sampai habis. Setelah makan siang selesai, sebagian dari mereka berkumpul di ruang tengah. Ada yang bernyanyi, bermain gitar, dan ada yang sibuk dengan handphonenya. Ada juga yang kembali ke kamarnya. Sara dan Allyson berada di halaman belakang, sambil menunggu waktu menjemput ke bandara, mereka meneliti persiapan konser stadion BT1. "yang paling mahal justru menonton sambil berdiri?" tanya Sara sambil menunjuk layar laptop Allyson di meja. "karena area itu yang terdekat dengan panggung" jawab Allyson. "bagian event yang mengaturnya. Mereka sudah sering menggelar konser di sana." tambah Allyson. "apa tidak lelah berdiri dua jam lebih?" tanya Sara lagi sambil mengerutkan alis "kau tidak pernah menonton konser ya?" tanya Allyson "memang kau pernah?" Sara balik bertanya "tidak" Allyson tertawa terbahak-bahak di depan Sara. Sara pun ikut tertawa dengan pengetahuan mereka yang minim tentang konser. Maklum saja, karena selama ini mereka bekerja di balik panggung, sehingga kurang memahami persoalan teknis "Allyson.." seorang laki-laki memanggilnya dari arah belakang. Sara dan Allyson menengok ke belakang dan menemukan In Ho sedang berdiri dengan tangan kanan membawa mug dan tangan lainnya berada di dalam kantong celananya. "aku akan ke dalam" Sara beranjak dari bangkunya dan melewati In Ho masuk ke dalam rumah. Sara meninggalkan Allyson di halaman belakang bersama In Ho. Sejak Grammy berakhir, Sara mengetahui ada sesuatu di dalam hati In Ho untuk Allyson. Tatapan In Ho pada Allyson adalah tatapan yang sama dengan tatapan Alex pada Allyson. Tapi Allyson menatap In Ho dengan cara berbeda, sesuatu yang Sara tidak lihat saat melihat Allyson bersama Alex. Kedua laki-laki itu jelas tertarik pada Allyson, tapi jelas di mata Sara bahwa Allyson menatap hanya pada salah satu di antara mereka berdua. "poor Alex.." Sara tersenyum dan masuk ke ruang tengah. Di ruang tengah, Ia melihat Jun sedang memainkan gitar, Sara pun mengisi area kosong sofa di samping Jun. "lagu apa yang kau mainkan?" ucap Sara saat mendengarkan Jun memainkan gitarnya "tebaklah, aku baru mempelajarinya" jawab Jun. "di mana Allyson?" tanya Jun balik "di belakang" Sara menunjuk pintu halaman belakang dengan wajahnya. Jun berhenti memainkan jarinya pada gitar, kemudian ia memutar pandangannya ke seluruh ruangan. "Allyson sendiri?" tanya Jun saat ia tak melihat sosok In Ho di ruang tengah "dengan In Ho.." Sara menjawab dengan santai. Jun, Dae Jung, Ye Suk, dan Tae Yun mulai terkekeh yang membuat Sara bingung. "kenapa kalian tertawa?" tanya Sara lanjut "ini pertama kalinya In Ho tertarik dengan seorang gadis" jawab Jun dengan sedikit berbisik. "yang benar saja.." Sara tak percaya. Tapi empat orang di depannya tak mengubah ekspresinya. "apa itu benar?" tanya Sara tidak percaya. Yang lain hanya menjawab dengan anggukan. "waah aku sempat tidak mempercayainya." "menurutmu apa Allyson akan membalasnya?" tanya Dae Jung "mungkin saja.. Aku juga tidak tau pasti" jawab Sara seadanya. "bagaimana dengan laki-laki bernama Alex itu?" tanya Ye Suk "bagaimana kalian bisa tau soal Alex?" Tanya Sara "kami tau saat seorang laki-laki tertarik pada seorang gadis" jawab Tae Yun "yaa.. mungkin Alex bisa jadi saingan In Ho" jawab Sara sambil berpikir. "tapi jika kalian sangat penasaran, lihatlah ke dalam mata Allyson," lanjut Sara. "untuk apa?" tanya Tae Yun "agar kalian tau siapa yang ada di mata Allyson" senyum Sara riang. Kemudian Jun membulatkan mulutnya. "aku tak menyangka sedikitpun" ucap Sara sambil menerawang dan tersenyum membayangkan sahabatnya sedang tertarik pada seseorang. "In Ho itu seperti apa orangnya?" tanya Sara setalah beberapa menit hening "ia tidak banyak bicara" jawab Tae Yun "Jika ia ingin, ia hanya langsung melakukannya" tambah Dae Jung "hmm.. Aku suka orang seperti itu" tambah Sara. "kalian sudah tinggal bersama berapa lama?" Sara membuka perbincangan di luar topik Allyson dan In Ho. "kami menjalani masa menjadi trainee selama lima tahun sebelum debut." jawan Dae Jung "kemudian ini adalah tahun kelima kami setelah debut" tambah Ye Suk "kau bisa menghitungnya sendiri" lanjut Jun "wow.. kalian baru saja mendapat pengakuan dariku" ucap Sara sambil terkesan. "ah.. jadi selama ini?" tanya Jun lagi. Sara tertawa melihat ekspresi orang-orang di depannya ini. "baiklah.. maafkan aku sebelumnya. Tapi saat Jackson mengatakan akan ada kerjasama dengan kalian, aku benar-benar tidak tau siapa kalian. Dan kutebak Allyson juga sama denganku" jelas Sara sambil terkekeh merasa geli mengingat dulu Jackson meneleponnya karena akan ada proyek besar yang akan dipimpin Allyson. Kemudian mereka berbicara dengan bahasa Korea yang Sara tidak mengerti. Tapi Sara tebak sepertinya mereka sedang bercanda tentang dirinya, melihat ekspresi Jun dan Dae Jung yang sangat lucu sambil menunjuk pada Sara. Sara tertawa haya dengan melihat wajah mereka. Sangat berbeda saat di panggung, pantas saja Calie terus-menerus membicarakan mereka. "hey hey hey.." Tae Yun bangkit dari ruang tengah dan berjalan cepat ke arah pintu belakang saat ia mendengar suara gitar dimainkan. Semua mata mengikuti kemana Tae Yun pergi. Tae Yun mengintip diam-diam di balik pintu yang menuju halaman belakang. "weyo?" tanya Ye Suk "ssstt.." Tae Yun meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Jun, Dae Jung, Ye Suk, dan Sara mengikuti Tae Yun. Mereka melihat In Ho sedang memainkan gitar di depan Allyson. "ternyata dia hebat" bisik Ye Suk di telinga Tae Yun. Semuanya mengangguk menyetujui Ye Suk. Sara tersenyum melihat sahabatnya tersenyum saat ini. Mungkin memang In Ho yang bisa menaklukan hati seorang Allyson. "huft.. rasanya aku tidak ingin mengganggu mereka dulu. Tapi aku harus pergi" Sara melihat jam di tangannya. "hey kau akan merusak suasana" cegah Jun dan Dae Jung sambil menepuk bahu Sara "I'm so sorry" bisik sara dengan wajah sangat menyesal. Jun, Ye Suk, Dae Jung, dan Tae Yun terdengar kecewa dan akhirnya kembali ke ruang tengah. Sara memandangi mereka berdua. Benar apa yang dikatakan Jun dan yang lain, In Ho tertarik dengan Allyson. Tatapannya benar-benar lembut saat didepan Allyson. Sara hanya turut berbahagia untuk Allyson. "Allyson.." Sara memanggil dari bibir pintu. Allyson dan In Ho menengok secara bersamaan ke arah Sara. "maafkan aku, tapi kita harus berangkat sekarang". Sara menunjuk jam tangan di pergelangan tangannya dengan wajah menyesal. "aku mengerti" ucap Allyson agak kencang. Kemudian Sara kembali ke dalam untuk bersiap-siap. ** "kau sedang sibuk?" tanya In Ho setelah Sara pergi ke ruang tengah. "duduklah" ajak Allyson sambil menepuk-nepuk space kosong di sampingnya. In Ho pun mengikuti ajakan Allyson dan duduk di sampingnya. "aku hanya sedang berdiskusi dengan Sara soal konser kalian", In Ho mengangguk mengerti "kau jarang kemari sejak Grammy berakhir" ucap In Ho "Banyak yang harus aku urus di kantor." ucap Allyson "kau sibuk mengurusi para hyung ku?" "mengurusi hyung mu dan juga dirimu" jawab Allyson tertawa. "oiya, bagaimana kabar tuan Shin?" "ia tidak akan bisa kembali ke sini. Istrinya harus menjalani fisioterapi selama tiga bulan kedepan. Saat itu, kami sudah kembali ke Seoul" jawab In Ho "aku menyesal mendengarnya". Angin yang berhembus di halaman belakang, meniupkan rambut Allyson ke wajahnya. In Ho mengambil rambut Allyson yang terbang ke depan wajahnya dan merapihkannya ke belakang telinga Allyson. Ia bisa melihat kembali wajah Allyson lebih jelas. Wajah Allyson berubah menjadi merah dan menghangat, bertolak belakang dengan cuaca di luar. Keheninganpun menghampiri mereka berdua. "oiya In Ho.." ucap Allyson membuka suara, dan In Ho menoleh kapadanya. "terimakasih untuk kalung ini. Aku belum sempat mengucapkannya saat itu" Allyson menyentuh dan melihat kalung di lehernya saat ini. Kemudian In Ho tidak berbicara apapun dan hanya tersenyum. In Ho mencolek hidung Allyson yang membuat Allyson terkejut dan tersipu. Mata In Ho menemukan sebuah gitar tersandar di dinding dekat pintu. Ia mengambil gitar tersebut dan kembali duduk di samping Allyson. In Ho memetik senar gitar tersebut dan memainkan sebuah melodi indah. "Allyson.." In Ho menatapnya masih sambil memainkan senar gitar dengan jari-jarinya. "berjanjilah satu hal padaku", Allyson menatap mata In Ho tanpa kata-kata, menunggu apa yang In Ho ingin katakan. "jika aku telah kembali ke Seoul, dan kau memiliki waktu, temuilah aku di sana" "kenapa aku harus menemuimu di sana?" Allyson mengerucutkan bibirnya. "karena kau akan merindukanku" goda In Ho pada Allyson dengan tawa manisnya. "ada tempat yang ingin kukunjungi bersamamu" kemudian In Ho tersenyum. d**a Allyson mulai bergemuruh mendengar kata-kata In Ho. Ini kesekian kalinya In Ho membuat jantung Allyson berdebar, darah mengalir ke wajah dan membuatnya wajahnya semakin merah "amugeotdo saenggakhaji ma, neon amu maldo kkeonaejido ma, geunyang naege useojwo." In Ho mengeluarkan vokalnya yang sangat lembut. "Is it true? Is it true? You, You, neomu areumdawo duryeowoIa", In Ho tersenyum sambil menatap wajah Allyson. "gyeote meomulleojullae, naege yaksokhaejullae, son daemyeon naragalkka, buseojilkka, geobna geobna geobna" "Butterfly, like a Butterfly, machi Butterfly, bu butterfly cheoreom" In Ho menyanyikan lagu berbahasa korea tanpa Allyson pahami apa artinya, tapi Allyson dapat mendengarnya dengan hatinya. petikan gitarnya diterima dengan baik oleh telinga Allyson. Jari In Ho berhenti memainkan gitarnya. Kemudian ia menatap Allyson sambil tersenyum. "kau menyukai lagu tadi?" tanya In Ho. Allyson hanya tersenyum manis tanpa berkata apapun. "kau tidak pernah berkata apapun setelah aku bernyanyi untukmu" In Ho menekuk wajahnya dan hal tersebut membuat Allyson tertawa. "aku menyukai apapun yang kau nyanyikan untukku" Allyson tersenyum. "saat kau mengajakku berdansa, memainkan sebuah lagu dengan piano, dan lagu barusan meski aku tak paham" Allyson berkata dengan kejujuran yang paling dalam saat ini. Wajah In Ho menggambarkan ia sangat merasa menang kali ini. "Cause when you look at me with those eyes" In Ho mulai memetik senar gitarnya lagi. "I'm speechless.. Staring at you, standing there in that dress.. What it's doing to me, ain't a secret.. Cause watching you is all that I can do.. And I'm speechless" In Ho menghentikkan memetik senar gitarnya dan kembali tersenyum senang. "apa kau sedang mencoba merayuku dengan lagu-lagu?" tanya Allyson sambil menggoda In Ho "jika iya apa kau menerimanya?" pertanyaan candaan dari Allyson justru dijawab In Ho dengan pertanyaan yang serius. Melihat mata In Ho saat itu, mengingatkan Allyson dengan malam sebelum Grammy di kamar hotel In Ho. Tatapan mata yang sama. Allyson bergeming tenggelam dalam mata itu. Keheningan menyusup di antara mereka sampai seseorang memecahnya. "Allyson.." suara seoang wanita memanggil Allyson dari dalam rumah tanpa sempat Allyson menjawab pertanyaan In Ho. Allyson menoleh dan melihat Sara sedang berada di bibir pintu. "maafkan aku, tapi kita harus berangkat sekarang" "aku mengerti" Allyson mengangguk dan Sara telah kembali ke dalam "aku.. aku harus pergi" Allyson merasa bersalah pada In Ho. Tapi ia sedikit lega karena tidak harus menjawab pertanyaan itu. Ia tidak tau harus menjawab apa. "hati-hati lah" In Ho tersenyum. Allyson mengangguk dan membawa laptopnya di meja. Kemudian ia pergi dari hadapan In Ho dan kembali ke dalam ** Sara berada di balik kemudi sedang membawa mobil menuju bandara. Allyson terdiam duduk di samping Sara sambil melihat ke luar jendela di sampingnya. "apa yang kau pikirkan?" Sara memecah lamunan di dalam otak Allyson. "tidak ada" Allyson kembali menoleh ke depan, melihat mobil yang dinaikinya meniti jalan di depan dengan lancar "apa In Ho mengatakan sesuatu padamu? Sesuatu yang mengejutkan sampai membuatmu termenung seperti ini?" tanya Sara kembali tanpa mengalihkan pandangannya ke jalur depan. Tapi Allyson hanya membungkam mulutnya. "kau tidak bisa menutupinya dariku Ally" lanjut Sara tersenyum. "ya, hanya.. beberapa kali" jawab Allyson lemah. Sara mengangguk mendengarnya. "Sam benar, In Ho lebih bernyali dibandingkan Alex" balas Sara "Alex?" Allyson mengerutkan alisnya kerena bingung. Sara terkekeh. "bagaimana kau bisa tau? Siapa lagi yang mengetahuinya?" tanya Allyson "hanya Tuhan, dan semua orang" jawab Sara sambil tertawa lebar. Allyson meninju lengan Sara yang sedang memegang kemudi. "oh tunggu tunggu.. sekarang kau sudah menyadari perasaan Alex? Bagaimana bisa? Apa ia menyatakan perasaannya padamu? Kapan itu terjadi?" Sara memberondongi Allyson dengan pertanyaan dan dugaan. "tidak.. Alex hanya.. ahh aku tidak tau apa itu bisa disebut dengan menyatakan perasaan atau tidak" Allyson bingung sendiri dengan kata-katanya. "aah.. apa yang harus kulakukan?" Allyson berbicara sendiri sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sara terkekeh melihat Allyson yang seperti pertama kali jatuh cinta. "ikuti saja kata hatimu" Sara tersenyum di balik kemudi. "bagaimana kalau kata hatiku menyuruhku yang tidak benar?" "kau tau itu tidak mungkin" Sara tersenyum. Ya, sebenarnya Sara tau siapa yang ada di mata Allyson. Tapi ia tidak ingin melewati batas pertemanannya dengan Allyson dengan mendiktenya. Ia ingin sahabatnya mendapatkan yang terbaik dengan pilihannya sendiri. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD