Part 8

1471 Words
Di sebuah kamar bernuansa hitam dan putih, seorang pria sedang termangu berdiri di depan jendela. Ia menatap ke arah jalanan dan langit malam yang terlihat dari kamar tersebut. Tangan kanannya memegang segelas wine dan tangan kirinya ia sandarkan ke frame jendela. "Allyson..." di pikirannya teringat seorang gadis yang tersenyum manis, senyum yang membuat Alex merasakan desiran di dalam hatinya. Sejak saat itu ia selalu menerima tawaran kerjasama dari perusahaan Luther, meskipun perusahaannya sendiri sudah sangat banyak memegang proyek-proyek besar. Tapi ia tak ingin terburu-buru terhadap Allyson. Allyson gadis yang berbeda di matanya, berbeda dari semua gadis yang pernah dekat dan mencoba untuk mendekatinya. Alex adalah pria tampan, matang, kaya, dan cerdas. Tak ada wanita yang tidak tertarik dengannya. Kecuali hanya seorang gadis saja. Siang ini Alex melihat seorang pria yang baru ia kenal menarik tangan dan membawa pergi Allyson entah kemana. Ia ingin menghentikannya tetapi ia menahan diri karena pria itu adalah klien Allyson saat ini. Selama ini Alex tidak pernah khawatir pada pria-pria di sekitar Allyson. Allyson hanya dekat dengan dua pria, yaitu Jackson dan Sam. Tetapi setelah melihat kejadian siang tadi, kekhawatiran Alex mulai timbul. "kau membuat ku gila, Ally" Alex tersenyum sinis sambil mengepalkan tangannya yang bersandar di frame jendela. ** "benarkah itu?" seorang pria berusia tiga puluhan tahun terkejut saat menerima kabar dari seberang teleponnya. "hyungnim.. apa yang terjadi?" keenam member mengelilingi tuan Shin yang terlihat terkejut dan hampir menitikkan air mata. Mereka menghentikkan latihannya saat mendengar tuan Shin setengah berteriak di telepon. "istriku.. ia mengalamai kecelakaan. Saat ini sudah dibawa ke rumah sakit. Hanya ada anakku yang kecil di Seoul saat ini" tuan Shin akhirnya menjelaskan berita apa yang ia terima. Tuan Shin membungkuk menumpukkan tangannya pada lututnya. Pikirannya sangat frustasi saat ini, semua hal berebut untuk memasuki pikirannya. Istrinya, anaknya, pekerjaannya, pimpinan, dan para member. "hyungnim... hyungnim, tenanglah dulu.. hyungnim" keenam member bergantian memanggil kesadaran tuan Shin agar kembali ke otaknya. "aku harus melakukan panggilan" tuan Shin beranjak ke kamarnya meninggalkan ke enam member di ruang Latihan "Jun-hyung, bagaimana sekarang? Apa kita akan pulang lebih cepat?" "apa jadwal kita akan dibatalkan semuanya?" "apakah itu mungkin?" para member bergantian berbicara dan berdiskusi. Mereka pun terpukul mendengarnya. Mereka ikut resah sama seperti tuan Shin. "entahlah.. aku tidak tau harus berbuat apa. Kita tunggu saja kabar selanjutnya. Tuan Shin juga pasti sedang bingung saat ini." Ucap Jun yang mengheningkan suasana. ** "aku ingin Gucci" ucap Sam saat ia, Calie, Allyson, dan Sara mengadakan meeting untuk jadwal boygroup berikutnya. Tok tok tok.. "maaf aku mengganggu. Allyson, kau dipanggil Jackson ke ruangannya" "sekarang juga Leigh?" tanya Allyson. Leigh hanya mengangguk dan langsung pamit dari ruangan. "Sam, aku ingin kau menghubungi semua calon brand yang akan kita gunakan. Aku akan menemui Jackson dulu" Allyson bangkit dan pergi menuju ruang Jackson. ** Tok tok tok.. "come in" Allyson membuka pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam ruangan. "hai Jacks, kau mencariku?" "ya ya ya.." perintah Jackson. Wajah Jackson sangat serius kali ini, dan ia terlihat khawatir. Kekhawatiran yang ditangkap oleh Allyson ikut membuatnya khawatir dengan apa yang akan dikatakan oleh Jackson. "aku minta maaf karena akan mengatakan ini Allyson." Ucap Jackson saat Allyson sudah duduk di kursi di depan meja Jackson. "huuft.. bagaimana aku harus mengatakannya padamu ya" Jackson melepas kacamatanya dan memijat batang hidungnya "ow.. okey.. kau membuatku takut Jacks." "mmm.. begini Ally. Istri Pak Shin mengalami kecelakaan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit di Seoul" Allyson menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia terkejut mendengar berita ini "sepertinya agensi mereka telah membicarakan soal ini dengan berbagai pihak terkait." "lalu?" tanya Allyson "Pak Shin akan kembali ke Seoul tengah malam ini" "jadii.. proyek ku sudah selesai sampai disini?" tanya Allyson ragu. Ia sangat memahami kondisi yang terjadi saat ini. Dan apabila proyek terhenti, ia akan sangat mengerti . "aku akan membantu persiapannya Jacks" "oh tidak Ally.. hanya pak Shin yang akan kembali ke Seoul. Para member tetap akan disini sesuai jadwal awal". Allyson kebingungan mendengar jawaban Jackson. Ia hanya berpikir dalam pikirannya sendiri "mereka memohon untuk kita memenejeri sisa kegiatan mereka disini Ally.." Jackson menjawab dengan ragu-ragu kebingungan, dan Allyson melotot tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Jackson tau reaksi apa yang akan Allyson berikan. Ia juga mengira mungkin Allyson akan menolak. Meskipun Allyson menerima, Jackson tau ini akan sulit untuk Allyson. "Apa Jacks?! a-aku.." Allyson terkejut mendengar kalimat Jackson yang terakhir "aku tau Ally, aku memahamimu sepenuhnya" Jackson mengerti apa yang akan diucapkan Allyson. "mereka khusus memintamu untuk menggantikan Pak Shin kedepannya. Mereka berpikir karena dirimu adalah yang memimpin proyek ini jadi kau pasti sudah mempelajari jadwal mereka dua bulan ke depan dengan baik. Sehingga kau dianggap mampu untuk menggantikan Pak Shin. Kau.. hanya harus bekerja lebih keras sedikit lagi" jelas Jackson sambil menyatukan ibu jari dan telunjuknya di depan Allyson. "tapi Jacks, bukannya aku merendahkan diriku. Tapi apa tidak sebaiknya kita menyuruh orang lain untuk menggantikan Pak Shin?" "aku sudah memberi opsi tersebut kepada mereka. Tapi mereka tidak nyaman dengan saranku, Ally". Allyson berpikir sejenak. Saat ini ia tidak boleh membuat keputusan lama-lama. Tuan Shin akan kembali malam ini. Allyson sebenarnya sepakat dengan pihak agensi. Jika kita mencari orang lain untuk menggantikan tuan Shin, maka penyesuaian akan dimulai lagi dari nol. Dan Allyson akan lebih sulit lagi jika hal itu terjadi. "aku tidak boleh menolaknya bukan?" tanya Allyson meyakinkan dirinya kepada Jackson. Dan Jackson hanya menggeleng membenarkan perkataan Allyson. "aku akan bersiap" Allyson beranjak dari ruangan Jackson ** "aku turut menyesal mendengarnya, Pak Shin" ucap Allyson kepada tuan Shin saat ia sudah tiba di rumah untuk mengantar tuan Shin ke bandara. "ku harap istri anda baik-baik saja hingga anda sampai di Seoul". Tuan Shin menepuk bahu Allyson sambil tersenyum. Meyakinkan dirinya baik-baik saja. Allyson melihat pikiran tuan Shin sudah tidak ada di sini lagi. Allyson memahami kekhawatirannya saat ini. "aku minta maaf pada kalian jika seperti ini jadinya. Aku tidak bisa menemani kalian" ucap tuan Shin dalam bahasa korea kepada para member. Para member juga sangat terpukul dengan berita ini di tengah-tengah kegembiraan mereka berkunjung ke LA. "jaga diri kalian baik-baik, aku akan sebisa mungkin mencoba untuk selalu mengecek keadaan kalian dari Seoul" "kami mengerti, hyungnim" jawab keenam member dengan sedih. Allyson melihat tuan Shin sudah seperti ayah bagi mereka berenam. Allyson pun tidak akan tega meninggalkan anak-anaknya jika ia menjadi tuan Shin. "bersikap baiklah kepada Allyson. Ia yang akan menggantikanku untuk menyelesaikan jadwal kalian disini. Dewasalah dalam bersikap. Jika ada masalah kalian harus selesaikan bersama. Kalian mengerti?" "kami mengerti, hyungnim" jawab para member dengan kompak. Kemudian tuan Shin memeluk mereka satu-persatu sambil memberikan nasihat untuk masing-masing dari mereka. Semua orang mengantar kepergian tuan Shin ke parkiran. Membawakan kopernya, tasnya, dan mantelnya. In Ho membantu memasukkan koper tuan Shin ke dalam mobil perusahaan Jackson yang Allyson pinjam setelah ia pulang kantor tadi. Lalu tuan Shin dan Allyson berpamitan dan memberikan salam dengan membungkukkan badannya. Mereka melepas kepergiannya dengan lambaian tangan. Mobil Allyson melaju halus di tengah sibuknya jalanan malam Los Angeles. "aku minta maaf kalau aku jadi menambah beban kerjamu, nona" tuan Shin memecah keheningan di dalam mobil "tidak apa-apa.. aku akan mengerahkan segala kemampuanku. Aku mengerti keadaannya akan lebih sulit jika kita menggunakan orang lain. Selagi aku masih bisa membantu, aku akan melakukan yang terbaik" senyum Allyson dengan khasnya kepada tuan Shin yang masih merasakan kesedihan dan ketidaktenangannya. "kau memiliki semangat yang bagus." Jawab tuan Shin. "Aku sudah mengenal mereka selama lima tahun belakangan. Dan kurang lebih sudah sedikit mengenalmu beberapa minggu belakangan ini." Allyson tersenyum mendengar kehangatan seorang tuan Shin. "Hanya dirimu dan Jackson yang bisa kupercaya. Kau gadis yang baik" ucap tuan Shin sambil melihat ke jalanan di depan. Allyson mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya Allyson sedikit malu mendengar perkataan tuan Shin barusan. Tuan Shin terlalu berlebihan menilainya. Tapi ia senang jika tuan Shin menyenanginya dan mempercayainya. "emm.. Apa ada sesuatu tentang mereka yang harus kuketahui? Maksudku, aku hanya membaca profil mereka dari protofolio yang kau berikan. Tapi aku tidak mengenal keseharian mereka sebaik dirimu. Jadii.." "ya ya.. aku mengerti. Tidak ada yg khusus sebenarnya. Hanya saja nanti In Ho akan berduet sendiri dengan salah satu penyanyi disini. Mungkin kau harus lebih menghubungkan mereka berdua saja, nona" "oh yaya.. aku sudah membacanya" "dan aku khawatir mereka akan bosan dikurung di dalam rumah" Allyson tertawa bersama dengan tuan Shin untuk mengurangi ketidaktenangan hati tuan Shin. Mereka akhirnya tiba di bandara. Allyson membantu tuan Shin mengeluarkan koper dari bagasinya. Dan mereka berjalan menuju selasar pintu masuk keberangkatan. "ku harap kita akan bertemu lagi" senyum Allyson menyerahkan tas tangan milik tuan Shin. "aku akan minta maaf duluan sebelum mereka menyusahkan dirimu, nona" tuan Shin tersenyum sambil meletakkan tangannya di dadanya. "mereka belum sampai merepotkanku" senyum Allyson. Akhirnya mereka berpamitan dan saling mengucapkan salam. Tuan Shin menuju pintu masuk dengan menunjukkan tiketnya kepada petugas. Saat di dalam, tuan Shin kembali melambaikan tangannya kepada Allyson sambil tersenyum. Mereka berdua hanya dipisahkan oleh dinding kaca yang sangat besar. Allyson membalasnya dengan membungkukkan badannya. Setelah itu tuan Shin tidak terlihat lagi di mata Allyson. Ddrrttt...ddrrtt... Handphone Allyson berbunyi, dan ia tersenyum melihat nama yang muncul di layar handphonenya. "hey mom.." Allyson mengangkat teleponnya sambil tersenyum "..." "aku sedang di bandara". Allyson berjalan kembali menuju mobilnya sambil berbincang dengan ibunya di telepon. Ia bercerita tentang pekerjaan dan keadaannya hari ini. Allyson memang dekat dengan ibunya. Mereka sering bertukar cerita dengan apa yang terjadi belakangan ini. Lelahnya menjadi hilang saat mendengar suara ibunya. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD