Di dalam mobil Alex, Allyson terlihat lebih pendiam di banding sebelumnya.
"Kau ingin makan Allyson? Kau hanya makan kue saja selama meeting tadi" tanya Alex memecah keheningan
"Aku memang lapar, tapi.. bisakah kita makan dirumah saja Alex? Aku butuh mengisi energiku dan menjernihkan pikiranku"
"Tak masalah.. apa yang kau inginkan?" Allyson tersenyum mendengar perkataan Alex
"Apa saja yang bisa kita dapatkan dengan cepat. Aku ini pemakan segalanya, kau lupa?" Alex hanya tersenyum dan langsung mengarahkan mobilnya menuju restauran cepat saji terdekat. Allyson dan Alex melepaskan sabuk pengamannya dan hendak turun sebelum Alex menahan Allyson.
"Kau tunggu saja disini, aku yang akan ke dalam memesankan makanan" ucap Alex yang telah memakirkan mobilnya di sebuah restauran cepat saji
"Sure Lex". Melihat Alex dari dalam kaca mobil menghilang ke dalam restauran menjadi energi terakhir untuk Allyson membuka matanya. Allyson terlelap dan menyandarkan kepalanya ke kaca mobil di samping tubuhnya.
Dua puluh menit kemudian, Alex kembali membawa beberapa bungkus makan malam untuk mereka berdua. Alex yang menemukan Allyson tertidur lelap, hanya bisa tersenyum sendiri melihat Allyson tertidur dengan manis. Alex meletakan makanannya di kursi belakang mobil. Kemudian ia memasangkan sabuk pengaman pada Allyson yang sedang tertidur. Saat Alex menarik kunci pengait di dekat jendela yang Allyson tiduri, wajah Alex menjadi sangat dekat dengan wajah Allyson. Kulit Allyson yang putih kekuningan, hembusan napasnya yang lembut membuat tengkuk Alex berdesir. Dadanya berdegup kencang. Alex langsung menyingkirkan pikiran kotor yang hinggap selama beberapa detik di kepalanya. Kemudian Alex langsung menyalakan mesin mobilnya agar ia segera sampai ke apartemen Allyson. Ia tidak berniat membangunkan Allyson untuk saat ini. Ia ingin Allyson beristirahat selama perjalanan ke apartemennya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Alex sudah terparkir di parkiran gedung apartemen Allyson. Alex memutar tubuhnya menghadap Allyson. Ia menyampirkan rambut Allyson yang menutupi wajahnya ke belakang telinganya
"Gadis yang manis.. kau terlalu memaksakan dirimu" senyum Alex yang sebelah tangannya bersandar pada setir mobil.
"Allyson.. kita sudah sampai.", ucap Alex dengan lembut sambil mengelus pipi Allyson perlahan
Allyson terbangun. Ia memang sangat peka dengan suara dan sentuhan saat ia sedang tidur. Allyson mengangkat wajahnya dan menatap ke kaca depan mobil, menerka-nerka keberadaannya, sekaligus mengumpulkan kesadarannya.
"Oh.. berapa lama aku tertidur Lex?"
"Belum cukup lama" jawab Alex. Mereka berdua turun dari modil dan menaiki lift menuju apartemen Allyson di lantai lima. Allyson menekan tombol password untuk membuka pintu apartemennya. Klikk.. bunyi tanda pintu terbuka.
"Silahkan Alex, kau tidak perlu sungkan. Ini pertama kalinya untukmu kan? Aku yakin apartemenku tidak sebesar milikmu" ucap Allyson sambil tersenyum,dan berjalan ke arah meja bar untuk meletakkan makanan yang telah dibeli Alex.
Alex mengamati apartemen milik Allyson. Tidak terlalu besar memang dibandingkan miliknya. Apartemen ini mungil seperti pemiliknya. Bersih dan rapi seperti karakter Allyson yang dikenal Alex. Begitu masuk, akan langsung disambut dengan ruang tengah berisi televisi dan sofa yang tidak begitu besar, dihiasi karpet berbulu lembut. Dibelakang televisi terdapat jendela kaca besar yang menampakkan sebuah balkon yang diisi oleh tanaman-tanaman, dan pintu geser kaca menuju balkon. Di sebelah kanan pintu masuk terdapat dapur berisi meja makan kecil untuk 4 orang. Di samping dapur adalah kamar tidur yang ditempati Allyson. Di sisi kiri ruangan, terdapat dua buah pintu yang Alex tidak tau apa isi ruangan tersebut. Alex merasakan kehangatan di dalam sini, sama seperti ia ketika bersama dengan Allyson.
"Alex, apa kau keberatan jika aku membersihkan diri dulu baru kita makan?", Tanya Allyson yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar, memecah lamunan Alex.
"Tak apa.. Aku akan menyiapkan makanan kita"
Dua puluh menit kemudian Allyson dan Alex sudah berhadapan di meja makan di dapur, menikmati hidangan mereka. Mereka berbincang-bincang menarik sambil menikmati makan malam. Alex menyukai suasana ini berdua dengan Allyson.
"Apa tamu apartemenmu hanya diriku?" tanya Alex bertanya dengan hati-hati
"Tidak, kau tamuku yang paling baru. Sam, Calie, dan Sara sering kemari datang berkunjung. Kami memasak, menonton film, makan bersama, dan terkadang mereka menginap" jawab Allyson semangat sambil mengingat kegiatannya dengan sahabat-sahabat kantornya
"Berarti kalian bertiga dan Sam tidur bersama?" tanya Alex kaget mendengar kalimat terakhir dari Allyson
Allyson tertawa melihat ekspresi Alex. "Kau berpikiran terlalu buruk terhadap kami. Sam tidak akan berpikir jorok seperti dirimu" Allyson menyanggah dengan tertawa yang memperlihatkan giginya. Alex diam tapi masih merasa tidak tenang.
Allyson membereskan bekas makanan mereka. Beranjak ke kamar dan mengambil handphone nya di atas ranjang. Ia membaca beberapa pesan dari pihak kantor. Allyson keluar kamar dan melihat Alex yang sedang di depan laptop di sofa nyaman miliknya. Allyson teringat bahwa Sara akan mengirimkan profil-profil rumah untuk dipilih. Kemudian Allyson kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil laptop. Ia berpikir mungkin Alex bisa membantunya memilihkan apartemen untuk kliennya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Allyson saat ia sudah duduk di karpet ruang tengah sambil membuka laptop.
"Kolega ku meminta untuk dikirmkan progress terbaru" jawab Alex serius yang belum memalingkan matanya dari layar laptop
"Alex, apa kau mau membantuku memilihkan rumah untuk klienku? Mengingat kau juga akan membuat pengamanan disana" tanya Allyson sambil mendongak menatap wajah Alex yang sedang duduk di sofa. Allyson semakin terlihat mungil di mata Alex saat posisi mereka seperti tuan dan bawahan.
Mereka melihat-lihat foto dan profil dari rumah yang dikirimkan oleh Sara melalui email. "Kurasa ini cocok, seperti kultur disana. Aku akan buat pengamanan disini, sini, dan sisi sebelah sini." Ucap Alex sambil menunjuk-nunjuk layar laptop Allyson dengan jarinya.
"Ya kau benar, aku setuju denganmu. Aku akan mengabari Sara soal ini" ucap Allyson sambil mengirimkan pesan singkat kepada Sara soal keputusan apartemen.
"Kau harus tidur, istirahatkan dirimu. Kau tidak akan mendapat bonus dari Jackson jika kau jatuh sakit sebelum klienmu tiba di sini" ucap Alex dari atas sofa yang tidak digubris serius oleh Allyson
"Sebentar lagi Lex. Aku akan..." laptop Allyson ditutup tiba-tiba oleh Alex sebelum Allyson menyelesaikan kalimatnya.
"Aku akan keluar dari proyekmu kalau kau tidak tidur sekarang" tegas Alex
"Alex.. ancamanmu padaku itu kejam sekali" Allyson kesal tetapi Alex tidak mengubah ekspresinya yang masih terlihat galak.
"aku tidak bercanda. Kau cari saja orang lain," tegas Alex.
"baiklah baiklah.. kau selalu menang tuan Adelard"
"aku akan pulang setelah memastikan kau benar-benar tidur di dalam kamar. Aku akan menunggu disini sambil mengerjakan tugasku. Sekarang cepatlah masuk ke kamar" Allyson bangkit dan beranjak ke kamar tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia merasa kesal dengan ancaman Alex.
Dua jam kemudian Alex masih berada di ruang tengah di depan laptopnya. Ia mengucek matanya, dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tidak terdengar suara dari dalam kamar Allyson.
"Sepertinya ia sudah tidur".
Alex membereskan laptopnya dan segera bergegas keluar dari apartemen, saat ini sudah pukul 10 malam. Sebenarnya ini masih terlalu sore untuk pria sibuk seperti Alex, tetapi ia tidak ingin tetap disana. Alex tidak ingin membuat Allyson tidak nyaman, ia tau gadis seperti apa. Allyson, gadis timur yang akan menjadi lebih hati-hati pada pria seperti Alex saat menjelang malam, terlebih mereka hanya berdua di dalam apartemen. Alex menghargai Allyson dan kebiasaan-kebiasaannya.
Tbc