Part 5

2589 Words
Lima bulan kemudian... Hari ini keenam member grup akan datang bersama dengan seorang manager, tuan Shin Ye Seung. Pesawat mereka dijadwalkan akan mendarat di bandara pukul 7.10 pm waktu setempat. Tim Sara sudah siap dengan akomodasi jemputan dan translator yang akan membantu jika mereka sulit berkomunikasi. Allyson tidak ikut menjemput kali ini, ia mempercayakan pada Sara, selain karena ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Alex dan tim juga sudah bersiap membantu tim Sara. Perjalanan dari bandara ke tempat tinggal mereka, lumayan memakan waktu kurang lebih satu jam jika perjalanan lancar. Sebenarnya Allyson langsung ingin bertemu untuk mengucapkan salam, terutama kepada tuan Shin, tetapi Allyson mengerti mereka pasti merasa jet lag setelah perjalanan panjang ini. Akhirnya Allyson menunda pertemuannya esok harinya di kantor. Allyson sudah sering berkomunikasi dengan sang manajer grup, rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka tidak suka meminta yang tidak ada. Selain In Su dan Min Jun yang lancar berbahasa inggris, member lain  juga bisa berbahasa inggris meskipun tidak terlalu lancar, "setidaknya mereka paham", pesan sang manajer beberapa minggu yang lalu. Allyson dan yang lain sudah sering mendapatkan klien yang permintaannya tidak masuk akal. Mungkin ini adalah kemudahan dari Tuhan untuk Allyson. "Hai Josh, bagaimana kabarmu?" tanya Sara saat mereka sedang menunggu member grup keluar dari pintu kedatangan. Harusnya jika tidak ada halangan, pesawat mereka sudah landing setengah jam yang lalu. "Aku sangat baik, lama tidak bertemu Sara. Bukankah seharusnya mereka sudah keluar?" jawab Josh. Josh adalah salah satu bawahan yang sangat dipercayai Alex. Alex tidak menjemput ke bandara, tapi Alex sudah menunggu di tempat tinggal yang akan mereka tempati. Sara ditemani oleh translator yang sudah menuliskan nama sang manager dalam Bahasa korea di sebuah kertas sebagai petunjuk. Mereka berdiri di depan pintuk kedatangan. Sudah beberapa orang keluar dari pintu, tapi belum terlihat ada yang mirip seperti grup mereka. Lima menit kemudian, segerombolan orang berjumlah enam orang berjalan bersama menuju ke arah translator yang sudah disiapkan Sara. "Jackson Luther?" tanya salah seorang pria tinggi berumur sekitar 30 tahun. "saya Shin Ye Seung" memperkenalkan diri dengan Bahasa inggris. Sara langsung maju memperkenalkan diri. "Mr. Shin, saya Sara Thompson, yang ditugaskan oleh Jackson Luther. Silahkan ikutin kami." senyum Sara dengan ramah. Sara memang supel dan cepat akrab dengan orang asing. Tidak disangka di perjalanan menuju mobil banyak para penggemar yang sudah menunggu kedatangan mereka. Para penggemar yang mayoritas adalah kaum wanita memanggil dan meneriaki nama mereka satu persatu, memegang poster-poster kecil yang berisi tulisan nama grup mereka atau apapun yang mereka suka. Keenam orang tersebut membawa koper yang cukup besar sambil menyapa para penggemar mereka yang berada di sisi pagar pembatas. Pengamanan dari Josh dan yang lain mengawali mereka dengan ketat. Keenam member grup yang dijemput Sara kali ini sangatlah menarik. Mereka memiliki warna rambut yang berbeda-beda, ada yang pirang, hitam, warna cherry. Mereka menutupi wajahnya dengan topi, masker, dan juga kacamata hitam. Tim Josh dengan sigap mengawal mereka sampai ke mobil. Tiga mobil van besar berwarna hitam telah berhenti di depan Sara. Sang supir turun untuk membantu. "Tolong bantu masukkan barang". Sang supir langsung sigap menjalankan perintah. Setelah itu semua member masuk ke dalam mobil yang mereka pilih. Mereka memulai perjalanan menuju tempat tinggal. "Mr. Shin, apa kalian sudah lapar? Aku sudah menyiapkan makan malam ketika tiba nanti. Selama anda berada disini, aku yang akan mengurus akomodasi. Sebenarnya aku bukan kepala timnya. Kepala tim kami akan memberi salam pada anda besok di kantor kami" jelas Sara yang berbicara sambil menengok ke belakang karena ia duduk di samping bangku supir. "kau baik sekali.. katakan terimakasih kepada tuan Luther atas sambutannya yang sangat hangat ini. Dan kami akan mencicipi makanan yang kalian sediakan" senyum tuan Shin kepada Sara. Tiga mobil memasuki gerbang besar yang di dalamnya terdapat bangunan rumah tempat tinggal berukuran sedang. Beberapa bodyguard dibawah perintah Alex terlihat berjaga disekitaran titik tempat tinggal. Alex akan menjaga para member grup terjauh dari paparazi. Mereka semua turun dari mobil dan dipandu oleh Sara memasuki rumah yang terlihat hangat. Di depan pintu sudah berdiri Alex untuk memberi salam kepada tuan Shin dan keenam member grup. Alex menundukkan kepala dan membungkukkan punggungnya untuk memberi salam, seperti salam warga Korea pada umumnya. Tempat tinggal tersebut memiliki dua lantai, bergaya minimalis yang dipenuhi interior berwarna abu-abu dan putih. Didalamnya terdapat sembilan kamar yang dapat ditempati masing-masing member. Terdapat dapur, ruang tengah, kamar mandi di setiap kamar, dan halaman belakang yang rindang dan dilengkapi dengan kolam renang. Di lantai dua hanya berisi kamar tidur. Sedangkan tempat latihan mereka berada di lantai satu. Isi rumah tersebut dijelaskan oleh Sara kepada tuan Shin, dan ia sangat mengaperesiasinya. Satu jam kemudian Sara berpamitan kepada tuan Shin. Sara mengabarkan bahwa besok akan ada mobil yang menjemput mereka sekitar pukul sembilan pagi. Sara berpamitan dan pergi bersama Alex. Alex meninggalkan anak buahnya disana yang sudah diperintah oleh Alex. *** "aku telah mengantarkan klienmu dengan aman hingga ke tempat tinggal. Mereka menyenangkan, kau tidak perlu khawatir." Pesan yang masuk ke dalam handphone Allyson dari Sara. Allyson membacanya lega. Ia ingin beristirahat untuk menyiapkan hari esok. "Tomorrow is gonna be a big day" ucap Allyson dalam hati dan pergi kekamar tidur *** Suasana di dalam mobil hitam yang menuju kantor Jackson sangatlah riang dan ramai. "hyungnim, apakah kita masih jauh?" tanya seorang laki-laki berpostur tubuh paling besar, dan berambut coklat gelap dalam Bahasa korea. "sekitar lima menit lagi" jawab sang manager setelah menanyakannya kepada supir. Lima menit kemudian mobil sudah terparkir. Di pintu depan sudah menunggu Jackson Luther untuk menyambut klien besarnya ini. "Halo Mr. Shin.. kami ucapkan selamat datang di kantor kami yang tidak begitu besar ini. Bagaimana penerbangan anda?" mereka berbincang sambil memasuki loby kantor. Tuan Shin memimpin para membernya berjalan didepan bersama Jackson, diikuti oleh keenam member. Mereka berjalan menuju lift seperti yang diarahkan oleh Jackson. "Mr. Jackson.. bisa kau tunjukkan arah toilet kepadaku?" tanya seorang pria berpostur besar itu. "Ah ya.. ia sudah menanyakannya sejak di perjalanan tadi" kata tuan Shin menjelaskan kepada Jackson. Jackson kemudian menunjukkan toilet VIP yang memang Jackson siapkan di setiap lantai. Lelaki yang bernama Jeon In Ho itu bergegas pergi ke arah yang ditunjukkan. Sepuluh menit kemudian In Ho keluar dari toilet dan segera menuju lift. Ia mendapat pesan bahwa teman-temannya pergi ke lantai 5. Di lantai lima, ia keluar dari lift dan merasa bingung. Segera ia mengeluarkan handphone dan megirimkan pesan singkat  "Aku di lantai lima, disini tidak ada siapa-siapa" bunyi pesan singkat In Ho pada Jun. Lama sekali In Ho menerima pesan balasan. Ia memutuskan untuk mencari sendiri ruangan tempat mereka berkumpul. In Ho berjalan menuju sisi kanan lantai gedung tersebut. Ia menemukan sebuah lorong yang menuju sebuah ruang kaca besar transparan di ujungnya. Terlihat seorang gadis di dalam ruangan tersebut. In ho langsung berjalan cepat menuju ruangan kaca tersebut dengan harapan gadis tersebut bisa menolongnya. In Ho masuk membuka pintu, tetapi gadis itu tetap fokus dengan apa yang sedang ia lakukan. Gadis tersebut berpostur tubuh mungil dan tidak terlalu tinggi. Berambut coklat gelap sedikit bergelombang dan dikuncir seperti ekor kuda. Menggunakan dress selutut berwarna nude yang membuatnya semakin terlihat mungil di mata In Ho. Ia tidak seperti berasal dari negara ini. Gadis tersebut sedang berdiri membaca suatu berkas di depan mejanya. "Calie.. apa kau tau dimana berkas yang dikirimkan Leigh untukku? Ia bilang sudah meletakannya di mejaku" Allyson berbicara tanpa menyadari siapa yang masuk melalui pintu itu. "Emm.. permisi" suara seorang laki-laki mengagetkan Allyson yang sedang fokus mencari-cari berkas di atas mejanya. Allyson menoleh ke arah sumber suara karena terkejut. Di hadapannya berdiri seorang lelaki berbadan atletis, berambut coklat gelap mengembang, menggunakan sweater abu-abu gelap dan celana panjang hitam. Tiba-tiba laki-laki itu memberikan salam dengan membungkukkan badannya. Allyson membalas salam dengan cara yang sama. "Maafkan aku, aku mengira kau temanku. Maaf aku tidak melihatmu dengan baik" "Gadis yang lembut", kesan pertama yang timbul dalam pikiran In Ho terhadap gadis itu. "Maaf, aku sepertinya tersesat. Apa kau bisa membantuku nona...??" "Allyson, aku Allyson" balas Allyson dengan senyum ramah sambil menjulurkan tangan untuk berkenalan. "Jeon In Ho" balasnya menerima sambutan salam perkenalan yang diajukan Allyson. Allyson berpikir sejenak, dimana ia mendengar nama yang sepertinya tidak asing itu. Kebingungan terpancar dari wajah Allyson hingga membuat In Ho tersenyum menerka apa yang sedang ada dalam pikiran gadis ini. "Aku mencari Mr. Jackson, aku datang dari Seoul. Aku terpisah dengan rombonganku sewaktu aku pergi ke toilet di loby. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka ada di lantai ini, tapi aku tidak menemukan siapapun selain dirimu di lantai ini" jelasnya panjang dengan berbahasa inggris yang masih kental dengan logat Korea. Penjelasan In Ho seperti menjawab pertanyaan di kepala Allyson. Mendengar penjelasan tersebut, Allyson merasa seperti ada sengatan listrik yang menyetrum sekujur tubuhnya. "Kenapa aku begitu bodoh", ucap Allyson dalam hati. "Aahh.. maaf aku terlambat menyadari", Allyson kembali membungkukkan badannya kepada lelaki itu dengan wajah merasa bersalah. "Duduklah terlebih dahulu, aku akan menanyakan dimana Jackson". In Ho duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kecil di dalam ruangan kaca besar itu, ruang itu adalah ruang istirahat karyawan yang bisa digunakan sebagai ruang tamu. Allyson bergegas kembali kemeja untuk mengambil handphonenya. Mencari kontak Leigh dan segera meneleponnya. In Ho memperhatikan gadis tersebut dari dalam ruangan. Ia tergesa-gesa menelepon seseorang. "Leigh.. Kau ada dimana? Apa mereka tidak kehilangan salah seorang member grupnya?" ucap Allyson berbisik agar tidak terdengar oleh In Ho "Kami di ruang tamu Jackson, di lantai tujuh. Kenapa ia malah pergi ke lantai lima. Semua orang sudah berkumpul di sini. Kapan kau akan ke sini Ally?" Allyson langsung menutup teleponnya begitu mendapatkan jawaban. Allyson segera menyusul In Ho di dalam ruangan. "tuan In Ho anda..." "Jangan memanggilku tuan, cukup In Ho saja, aku tidak setua itu. Kita juga sudah berkenalan sebelumnya kan" potong In Ho dengan senyum ramah. "Maafkan aku. Begini...t-t In Ho, kita akan pergi ke lantai tujuh. Mereka semua ada di atas" "Benarkah? Apa mereka mengganti tempat pertemuannya?" "Tidak ada perubahan tempat, memang Jackson yang ingin menyambut kalian langsung diruangannya" jelas Allyson. "Aah.. mereka mengerjaiku", In Ho meringis dalam bahasa korea, terlihat seperti mengumpat, namun Allyson tidak mengerti. "Kau.. baik-baik saja?" tanya Allyson ragu. "Aku akan mengantarmu ke atas. Kebetulan aku juga sudah ditunggu di sana" ucap Allyson yang masih tidak mengerti. Dari wajah In Ho, sepertinya ia merasa dikerjai oleh teman-temannya. In Ho bangkit dan berjalan beriringan dengan Allyson menuju lift. "Kau seperti gadis Asia" ucap In Ho membuka pembicaraan sambil mereka berjalan ke lift. "Kau benar, aku berasal dari Asia" jawab Allyson dengan senyum manis, membuat jantung In Ho entah kenapa tiba-tiba berdegup. Senyum yang ia belum pernah lihat dimanapun. "Bagaimana penerbanganmu? Maaf aku tidak menyambut kalian semalam." Wajah Allyson merasa bersalah. "Apa ia temanmu? Yang menjemput kami semalam?" Ding.. pintu lift terbuka dan mereka memasuki lift yang kosong. "Iya benar.. dia Saralee" jelas Allyson sambil tersenyum dan melihat In Ho dengan mata hitam yang bening. In Ho tak mengerti kenapa gadis ini selalu tersenyum. Apa gadis ini sedang menggodanya? Rasanya ia ingin cepat keluar dari lift. Ding.. pintu lift terbuka di lantai tujuh. "Ayo, kita sudah sampai" Allyson membawa In Ho berjalan menuju suatu ruangan. Di sana terlihat seorang gadis berambut pirang panjang yang rambutnya dikuncir setengah sedang berdiri gelisah di depan pintu. "Allyson.." panggil Leigh dari jauh, sambil berjalan menuju Allyson. "kau kemana saja?" tanya Leigh gelisah. "Katakan padaku, apa aku akan dipecat?" tanya Allyson kepada Leigh dengan mata melotot yang membuat In Ho tertawa. Leigh dan Allyson menatap bingung In Ho yang tiba-tiba tertawa. "Katakan padaku jika kau dipecat, aku tidak akan membayar Jackson jika ia memecat dirimu" ucap In Ho sambil tertawa yang memperlihatkan gigi putihnya. Hal itu membuat Allyson tersenyum kembali. "Lagi-lagi ia tersenyum" ucap In Ho dalam hati Allyson mengetuk pintu sebelum membukanya. Di dalam sudah ramai dipenuhi oleh teman-temannya dan tentu saja kliennya. "Maafkan aku, apa kalian kehilangan seseorang?" ucap Allyson kepada orang-orang di ruangan tersebut. Kemudian In Ho masuk ke dalam ruangan. "Hey hyungnim" In Ho mengeluh kepada para membernya. Member yang lain tiba-tiba menertawakannya, dan mereka mulai berbicara bahasa korea. Dari suasana yang ditangkap Allyson, sepertinya In Ho memang dikerjai oleh yang lain. Kami semua tertawa melihat suasana di dalam ruangan tersebut. In Ho telah duduk diantara member grup yang lain. Allyson berjalan untuk menempati kursi di samping Calie. "Kenapa kau bisa terlambat dan datang bersamanya?" bisik Calie di telinga Allyson. "Aku mencari berkas yang diletakkan Leigh di atas mejaku, bukan berkas yang kutemukan tetapi dia yang kutemukan di ruangan. Setelah ini Jackson pasti akan membunuhku karena aku tidak mengenali dia sebagai klien kita" jawab Allyson yang di balas tertawa kecil dari Calie In Ho tersenyum karena memperhatikan perbincangan kecil antara Allyson dan Calie. Kurang lebih In Ho mengetahui apa yang sedang dibicarakan jika melihat ekspresi Allyson yang seperti ingin menangis. Kemudian In Ho kembali fokus pada Jackson yang sedang bercerita. *** "Baiklah.. Sepertinya aku akan mengenalkan kepada kalian orang yang kupercyai untuk membantu kalian selama dua bulan penuh. Allyson, kuserahkan padamu" Jackson mempersilahkan Allyson untuk berbicara. Kemudian Allyson berdiri dengan santai dan percaya diri. "Halo semuanya.. aku Allyson Agatha, yang dipercayakan Jackson untuk membantu kegiatan kalian selama disini. Maaf sebelumnya karena aku terlambat.. kuharap kalian memaafkan aku karena aku telah membawa teman kalian yang hilang", semua orang tertawa mendengar kalimat terakhir Allyson. Allyson berbicara sambil sering membungkukkan badan. Teman-teman In Ho memukuli tubuh In Ho sambil tertawa bak pemenang. Allyson tertawa melihat pemandangan itu. Menurut Allyson, In Ho lelaki yang lucu dan masih polos, sehingga disenangi teman-temannya. "Berikutnya, aku akan memperkenalkan teman-teman terbaikku yang akan membantu juga. Yang pertama Sam, kau bisa berdiri Sam?", pinta Allyson pada Sam, dan Sam langsung berdiri memperkenalkan diri. "Sam akan membantu Kim Tae Yun dan Park Ye Suk. Bisa kalian lambaikan tangan ke Sam?" pinta Allyson. Allyson menyebutkan nama mereka sambil membuka catatan. Ia tidak mudah mengingat nama. In Ho tertawa kecil memperhatikan Allyson. Kemudian, Tae Yun, dan Ye Suk berdiri dan mengucapkan salam sambil memperkenalkan diri. "Lalu gadis ini adalah Calie. Calie akan membantu Lee Dae Jung dan Kim In Su. Kalian bisa berkenalan satu sama lain" pinta Allyson, dan Calie berdiri menghampiri Dae Jung dan In Su dan berjabat tangan. "Hey aku penggemar kalian" ucap Calie sangat bangga beremu dengan idolanya. Orang-orang di dalam ruangan tersebut tertawa setelah melihat Calie yang sangat senang bertemu idolanya, dan mengakuinya tanpa malu-malu. "Terimakasih" ucap Dae Jung dan In Su sambil tersipu malu. "Lalu aku sendiri akan membantu Kim Min Jun dan Jeon In Ho, ku harap kita bisa bekerjasama" senyum Allyson sambil bersalaman dengan Min Jun dan In Ho yang telah berdiri. "Panggil saja aku Jun" ucap Jun saat berkenalan langsung dengan Allyson. "Baiklah, Jun" Allyson mengacungkan jempol padanya. "Dan terakhir yang tidak kalah penting, ada Sara yang ku yakin kalian sudah menemuinya tadi malam. Sara akan membantu kebutuhan harian kalian selama di sini. Jika membutuhkan sesuatu kalian bisa mengontak diriku atau Sara. Ini kontak kami" Allyson mengaktifkan slide di layar. Terlihat para member mencatat nomor Sara dan Allyson di ponsel mereka. "Dan untuk Mr. Shin, mengenai masalah keamanan. Kami akan membantu dengan kolega terbaik kami. Mereka telah berpengalaman melakukan pengamanan di acara-acara besar. Jika ada sesuatu bisa ditanyakan kepadaku langsung" jelas Allyson kembali duduk di samping Calie. "Ya betul, memang salah satu masalah kami di Korea adalah soal itu. Karena para penggemar dan paparazi selalu ada dimana-mana, bahkan terkadang mendobrak privasi mereka. Dan mereka terkadang, maaf, sangat brutal kepada idolanya" tuan Shin menjelaskan dengan wajah serius penuh kekhawatiran. Allyson melihat tuan Shin tidak terlalu mempermasalahkan urusan lain selain keamanan. In Ho beberapa kali melirik ke arah Allyson yang sangat serius mendengar tuan Shin bercerita, tak jarang mata mereka bertemu. Saat mata mereka bertemu Allyson menganggukan kepala sambil tersenyum ke arah In Ho, dan memfokuskan kembali pandangannya ke arah lain. Entah kenapa jantung In Ho mulai berdegup saat Allyson tersenyum. Ia belum pernah seperti ini sebelumnya dengan seorang gadis. Di negara asalnya, In Ho sangat berhati-hati dan menjaga jarak dengan seorang gadis. "Bagaimana dengan konser di Rose Bowl?" tanya tuan Shin Kembali. "Ya, tim event kami sudah mengerjakannya. Untuk penjualan tiket akan dibuka bulan depan." Jackson menjelaskan. "Jadi kalian hanya harus fokus berlatih" ucap tuan Shin dalam Bahasa korea pada para member. "Kami mengerti" para member menjawabnya dengan anggukkan. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD