Hari pertama menjalani tugas

1347 Words
Qin Yun Fei berjalan dengan santai menuju pos penjaga gerbang. Dengan setelan pakaian jubah merah baru, rok pendek selutut berwarna hitam, atasan hanfu sederhana yang juga berwarna hitam, dan pedang kesayangan yang melekat di samping pinggangnya, Qin Yun Fei berjalan kea rah merka dengan penuh percaya diri. Rambut panjang sepinggang miliknya dia ikat sederhana. Di atas kepalanya, terdapat beberapa hiasan emas elegan yang menandakan bahwa dia dari keluarga kerajaan atau minimal keluarga bangsawan kelas satu. Saat penjaga yang tengah beristirahat di pos itu melihat Qin Yun Fei datang, mereka segera berdiri tegak dan menyambutnya dengan nada gugup,”Ya-yang mulia! Selamat datang!” Qin Yun Fei mengangguk singkat, bibirnya tersenyum manis,”Bagaimana? Apa semua aman? Tidak ada yang masuk sembarangan ‘kan?” Penjaga itu segera mengangguk,”Ya, yang mulia, Semua aman. Kami sudah mengecek satu persatu setiap tamu yang datang ke Ibu Kota.” Qin Yun Fei mengangguk puas, kemudian dia melemparkan selembar kertas ke arah penjaga yang tadi bicara. “Aku mendapat laporan terbaru. Buronan kerajaan Dongliar An kabur, dan kabarnya buronan itu berniat melarikan diri ke Kami Fei Ying. Kalian harus hati-hati dalam berjaga. Itu adalah lukisan wajah si buronan, periksa seluruh orang yang berkunjung kemari dengan teliti. Siapa tahu buronan itu menyamar.” “Baik! Perintah diterima!” Qin Yun Fei sekali lagi mengangguk untuk membalas omongan penjaga, kemudian setelah itu dia berbalik dan pergi dari pos penjaga gerbang. “Yang mulia, kita akan mengawasi dari sudut mana?” Tanya Wanwan dengan nada bertanya yang sangat excited. Qin Yun Fei berpikir sebentar, kemudian menjawab,”Xian, kamu berjaga di depan pintu gerbang dengan penjaga yang lain dan ingat untuk teliti.” “Baik!” Jawab Xian, kemudian dia segera melesat pergi menuju gerbang utama Ibu Kota. “Wanwan, kamu awasi tempat umum. Sekiranya ada yang mencurigakan, segera laporkan padaku.” “Baik!” Jawab Wanwan, kemudian dia melebur di keramaian umum. Qin Yun Fei sekarang sendiri, dirinya segera mempercepat langkah menuju kedai teh. Qin Yun Fei bukan ingin bersantai, tetapi dirinya ingin memperhatikan keadaan dari lantai atas. Posisi kedai teh yang dia datangi serta tempat duduk yang dia tempati di dalam ruang VIP lantai tiga sangat pas untuk melihat kejadian yang terjadi di bawah. Saat sedang menyeruput teh dengan santai dan melihat kesibukan manusia di bawah sana, tiba-tiba keningnya berkerut. Qin Yun Fei tersenyum tipis, kemudian turun ke lantai satu dan berjalan keluar dari kedai teh. Qin Yun Fei terus menatap lurus ke depan sepanjang dia jalan, seperti sedang menargetkan sesuatu. Dirinya terus berjalan mengikuti ‘sesuatu’ itu berjalan. Sampai pada akhirnya dia sudah dekat dengan gerbang utama Ibu Kota. Qin Yun Fei Kembali tersenyum tipis, kemudian mempercepat langkahnya menuju Xian. “Xian, kamu bisa bantu Wanwan sebentar? Bia aku yang menggantikanmu.” Xian mengerutkan keningnya,”Tetapi…yang mulia, sepertinya-“ Qin Yun Fei memotong ucapannya dengan,”Turuti saja, aku hanya ingin mengecek pendatang dan orang yang hendak keluar secara langsung.” Xian menghela napas,”Baiklah, saya akan membantu Wanwan.” Kemudian Xian pergi menuju Wanwan. Qin Yun Fei sekarang menggantikan posisi Xian untuk mengecek pendatang dan orang yang hendak pergi dari Ibu Kota. Satu persatu, dirinya mengecek dan meneliti mereka. Sampai pada akhirnya pria buta dengan pakaian lusuh hendak keluar dari Ibu Kota. Qin Yun Fei lagi-lagi tersenyum tipis. “Maaf, bisa rentangkan tanganmu?” Qin Yun Fei berbicara dengan pria buta tersebut. Pria buta itu tersenyum dan mengangguk, lalu merentangkan kedua tangannya ke samping. Kedua matanya yang terlihat buta menatap ke depan dengan kosong. Qin Yun Fei menatap pria buta tersebut yang kini sedang diperiksa oleh prajurit penjaga gerbang. “Hendak pergi ke mana?” Tanya Qin Yun Fei dengan nada yang santai. Pria buta itu tersenyum lagi dan menjawab,”Dongliar An, Yang mulia.” Qin Yun Fei menganggukkan kepalanya mengerti kemudian berkata,”Baru-baru ini kami mendapat kabar bahwa ada buronan yang kabur dari kerajaan tetangga, dan buronan itu hendak melarikan diri ke Kami Fei Ying. Aku harap kamu baik-baik saja dan jangan lupa untuk selalu wadpada.” Orang buta itu mengangguk,”Baik, terimakasih atas peringatan yang mulia. Dongliar An memang banyak kriminal, beruntung aku tinggal di Kami Fei Ying.” Qin Yun Fei tersenyum tipis,”Ya,” kemudian dia melirik prajurit penjaga gerbang,”Tangkap orang buta itu.” Prajurit penjaga gerbang dan orang buta itu terkejut, Qin Yun Fei tidak berkata apa-apa lagi dan segera berjalan pergi. Prajurit penjaga gerbang itu protes,”Namun…Yang mulia, dia hanya orang buta.” Tepat setelah prajurit penjaga gerbang berbicara seperti itu, orang buta itu tiba-tiba berlari kencang. Hal ini membuat prajurit penjaga gerbang terkejut dan Qin Yun Fei segera berbalik dan mengejar pria buta tersebut. Boom! Qin Yun Fei melemparkan serangan besar kepada pria buta tersebut untuk menghentikan Langkah larinya. Xian dan Wanwan yang tadi tidak di tempat segera lari menghampiri Qin Yun Fei saat mendengar ledakan dari serangannya. Wanwan yang melihat pria terkapar di tanah segera berlari menghampiri pria tersebut dan mengikat tangannya. Qin Yun Fei melirik prajurit penjaga gerbang dengan tajam,”Aku sudah perintahkan kalian untuk menangkap dia. Jangan melihat semuanya dari penampilan,” kemudian dia berjalan pergi, namun sebelum itu dia menatap Xian dan Wanwan lebih dulu dan berkata,”Bawa pria itu ke istana. Kita akan menyerahkan dia kepada Yang mulia Kaisar.” “Baik!” Jawab Xian dan Wanwan berbarengan. Qin Yun Fei menaiki kudanya dan pergi menuju Istana. Sampai di sana, dirinya segera turun lalu berjalan ke istana kediaman kakeknya. Di belakangnya ada Xian dan Wanwan yang membawa pria tadi dengan tangan terikat. Pria itu masih belum sadarkan diri. “Di mana Yang mulia?” Tanya Qin Yun Fei kepada salah satu penjaga kediaman kakeknya. “Yang mulia sedang menghadiri rapat pagi. Jika Putri – maksudku Jenderal ingin menemui Yang mulia, yang mulia memerintahkan anda untuk menunggu sebentar di ruang tamu.” Qin Yun Fei mengangguk sebentar, kemudian segera berjalan menuju ruang tamu. Menunggu kakeknya datang. Qin Yun Fei duduk di kursi tamu, Xian dan Wanwan berdiri di belakang kursinya. Pria yang tadi pingsan mereka letakkan di bawah kaki Qin Yun Fei. Dua puluh menit berlalu, Qin Yun Fei mulai merasa bosan menunggu. Sebenarnya apa yang dilakukan di dalam rapat itu, huh? Saat dia hendak berdiri dan pergi, tiba-tiba pengumuman kedatangan kakeknya datang. “Yang mulia Kaisar datang!” Qin Yun Fei Kembali bersemangat dan tersenyum. “Yang mulia,” Saat Qin Guyin sudah masuk, Qin Yun Fei segera memberinya salam hormat. Qin Guyin mengangguk singkat, kemudian berjalan menuju kursi utama. Matanya melirik kea rah pria pingsan yang tangannya diikat. Diam-diam, pria tua itu tersenyum tipis. “Yang mulia, ini adalah buronan dari Dongliar An. Aku menemukan dia hendak pergi dari Kami Fei Ying. Sepertinya dia sebelumnya berhasil lolos dan masuk ke dalam Ibu kota, dan barang itu sudah disebar,” Di akhir kalimat, ekspresi Qin Yun Fei berubah suram. Qin Guyin mengangguk mengerti, kemudian bertanya,”Bagaimana kamu tahu bahwa dia adalah buronan itu sedang dia memiliki penyamaran sebaik ini?” Qin Yun Fei tersenyum tipis, kemudian menjawab,”Rahasia!” Qin Guyin tersenyum lagi, pria itu menggeleng pelan karena Qin Yun Fei. “Baiklah, kalau begitu aku akan memerintahkan kakakmu untuk mengantar orang ini ke Dongliar An.” Saat Qin Yun Fei mendengar ini, dirinya segera mengrutkan kening dan bertanya,”Kenapa harus kakak pertama? Bukankah tugas ini tanggung jawabku?” Qin Guyin,”Aku memintamu untuk menangkap buronan, bukan mengantar.” Qin Yun Fei diam, dia hanya mengangguk seolah tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya, walaupun sebenarnya ada. “Kalau begitu, aku permisi,” Kemudian dia berbalik dan pergi. Berpapasan di pintu, Qin Wujing muncul hendak masuk ke dalam. Pria itu tersenyum hangat sambal melambaikan tangannya,”Yo! Jenderal baru!” Qin Yun Fei membalas senyum Qin Wujing,”Berhenti menggodaku!” Qin Wujing terkekeh, kemudian dia menatap ke depan, masuk ke dalam ruangan. Qin Yun Fei menatap punggung kakak pertamanya, ada tatapan kagum dan iri yang terlintas di matanya. Wanita itu menghela napas, kemudian tersenyum. Kembali melanjutkan jalan sembari berkata,”Aku pasti bisa mengejar kakak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD