Qin Yun Fei membuka matanya pelan. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah adik kelima dan keenam-nya. Qin Yun Yan dan Qin Wushuang.
"Kakak kedua, kamu sudah bangun?" Pekik adik keenam-nya, Qin Wushuang.
Qin Yun Yan yang mendengar apa yang diucapkan adiknya segera melirik cepat ke arah Qin Yun Fei,"Syukurlah kakak sudah bangun. Seluruh orang sangat panik. Kakak tertua bahkan menggendongmu ke Istanamu dengan berlari sangat kencang!" Kemudian dia tertawa di akhir kalimat.
"Ya, benar! Bahkan mahkota gioknya sampai miring!" Timpal Qin Wushuang.
"Kak, kamu ingin ikut makan malam bersama kami atau di sini saja?" Tanya Qin Yun Yan.
"Bersama saja, bukankah kita sedang ada tamu? Tidak sopan rasanya jika aku yang menjadi bagian tuan rumah tidak ikut," Balas Qin Yun Fei, setelah itu dia berjalan ke arah cermin.
Saat melihat aksesoris menumpuk, dirinya mengerutkan dahi dan bertanya,"Mengapa banyak sekali aksesoris di sini?"
Qin Wushuang terkekeh,"Apa kakak lupa? Kakak masih harus menjalani hukuman Kakek."
Qin Yun Fei segera teringat akan hukumannya, kemudian dia menghela napas.
"Ya, tolong bantu aku."
Qin Yun Yan dan Qin Wushuang mengangguk.
Saat Qin Yun Fei sedang dirias oleh kedua adiknya, dirinya teringat oleh kejadian sebelum dia pingsan. Perasaan kekuatan yang sangat dahsyat yang sempat dia rasakan, itu sangat luar biasa! Apa itu Naga Yin yang selama ini bersemayam dan terkunci di tubuhnya? Pandora?
Dua puluh menit berlalu, Qin Yun Fei sudah siap dengan Hanfu putih polos bercorak Phoenix emas.
Rambutnya disanggul setengah, kemudian ada mahkota Phoenix sederhana yang bertengger di atas kepalanya.
Qin Yun Fei, Qin Yun Yan, dan Qin Wushuang segera berjalan keluar dari kamar. Saat pintu terbuka, Qin Yun Fei melihat Xian dan Wanwan, pelayan pribadinya yang biasa memakai pakaian bela diri, kini sudah berganti menjadi pakaian khas pelayan wanita.
Qin Yun Fei tidak bicara apa pun, kemudian segera melanjutkan jalannya menuju ruang makan.
"Bagaimana keadaan paviliun?" Tanya Qin Yun Fei kepada dua adik adiknya. Pasalnya, seingat dia, dia dan kakeknya bertarung dengan sangat sengit.
Qin Wushuang tersenyum kaku,"Eh...itu, sudah tidak bisa digunakan."
Qin Yun Fei tersenyum tipis. Sepertinya duel dia dan kakeknya sangat sengit.
Saat berjalan masuk ke ruang makan, tiba-tiba dirinya disambut dengan ucapan,"Lihat! Jenderal baru kita sudah tiba!" Itu adalah suara Qin Junfeng.
Qin Yun Fei hanya tersenyum, kemudian memberi hormat kepada Qin Guyin, lalu duduk.
"Yun Fei, apa kamu merasakan hal itu?" Tanya Qin Guyin tiba-tiba.
Qin Yun Fei mengangguk,"Ya, sesuatu yang sangat kuat."
Qin Guyin tiba-tiba menyeringai,"Jika kamu berhasil mengendalikan Naga itu, kamu tahu apa yang akan kamu dapatkan?"
Qin Yun Fei menaikkan alis kirinya,"Apa?"
"Hak milik dunia," balas Qin Guyin, pria itu menatap Qin Yun Fei dengan tatapan dinginnya.
"Ya, tetapi jika naga kakakmu tidak mengganggu," Lanjut Qin Guyin, kemudian dia tersenyum dan memejamkan matanya.
Qin Yun Fei tersenyum tipis,"Yin dan Yang, ya?" Kemudian dia menoleh ke arah kakaknya yang juga menatapnya.
"Yang mulia," Tiba-tiba Xiao Feiye membuka mulutnya.
Qin Guyin kembali membuka matanya dan menatap Xiao Feiye,"Apa ada sesuatu, Putra Mahkota Luwei Zhing?"
Xiao Feiye tersenyum tipis,"Apa aku boleh melihat pertunjukan tari khas kerajaan Kami Fei Ying?"
Qin Guyin menjawab santai,"Tentu saja," kemudian pria itu melirik Qin Yun Fei,"Fei'er, maju dan tunjukan tariannya."
Qin Yun Fei mengerutkan keningnya,"A-aku?".
Qin Guyin mengangkat alis kirinya,"Siapa lagi cucuku yang memilki nama gadis 'Fei'er' di sini?"
Qin Yun Fei protes,"Namun, bagaimana mungkin aku menari, kek?"
Qin Guyin,"Bagaimana bisa tidak mungkin? Kamu adalah wanita. Menari bukan lah aib. Lagi pula, kamu sedang menjalani hukumanmu bukan? Katakan, apa harus kakak pertamamu yang maju?"
Qin Wujing yang mendengar ini segera melotot kaget,"Lelucon besar!" Kemudian dia menoleh ke arah Qin Yun Fei,"Adik kedua, semangat!"
"B*j****n," Umpat Qin Yun Fei diam-diam saat melihat wajah menyebalkan kakak pertamanya.
Qin Yun Fei berdiri, kemudian berjalan ke tengah-tengah ruangan.
"Kamu mau tahu tarian wanita khas Kami Fei Ying?" Tanya Qin Yun Fei kepada Xiao Feiye.
Xiao Feiye mengangguk ringan,"Tentu saja, mengapa tidak?"
Qin Yun Fei tidak menjawab lagi, kemudian dia segera memerintahkan pemusik untuk memulai musiknya.
Saat musik dimulai, Qin Yun Fei segera menari indah. Tatapan matanya yang tajam sangat membuat hati pria mematung dan meleleh.
Hanfu dan rambut panjangnya bergerak kesana kemari dengan indah, kemudian tiba-tiba Qin Yun Fei mengambil salah satu tusuk rambutnya dan dilempar ke sembarang arah.
Tusuk rambut itu jatuh di meja adik Xiao Feiye, Xiao Jiang Li.
Pria itu memakai topeng di setengah wajahnya. Rambut panjang hitam dan pakaian bangsawan berwarna biru Dongker, sangat membangkitkan rasa penasaran yang melihatnya.
Qin Yun Fei menatap dingin Xiao Jiang Li, kemudian berjalan maju ke arah pria itu dan mengulurkan tangannya.
Xiao Jiang Li masih diam saat Qin Yun Fei sudah mengulurkan tangannya. Qin Yun Fei yang merasa kesal segera berkata,"Balas saja, di tarian ini, siapa pun yang mendapat tusuk rambut dari sang penari harus maju."
Xiao Feiye yang melihat ini tertawa, kemudian menyenggol bahu adik ketiganya,"Ambil saja! Siapa tahu kelak, dia menjadi Wangfei-mu!"
Qin Yun Fei menembakan tatapan tajam ke arah Xiao Feiye, hal ini hanya dibalas senyuman ringan oleh pria itu.
Melihat Xiao Jiang Li masih diam, Xiao Feiye menimpal,"Kalau kamu tidak mau, maka biar aku saja yang menjadikan dia sebagai istriku."
"Mimpi! Kamu sudah mempunyai Putri Mahkota, Feiye," Tiba-tiba Qin Wujing ikut berbicara.
Xiao Feiye terkekeh,"Bercanda!"
"Ikut aku atau mati," Ancam Qin Yun Fei diam-diam kepada Xiao Jiang Li. Pasalnya, Qin Yun Fei sudah lelah mengulurkan tangan.
Xiao Jiang Li tiba-tiba tersenyum tipis,"Ini caramu meminta?"
Bola mata hitam pekat milik Xiao Jiang Li bertabrakan dengan mata Qin Yun Fei.
Xiao Jiang Li segera membalas uluran tangan Qin Yun Fei, kemudian membawa Qin Yun Fei ke tengah ruangan untuk melanjutkan tariannya.
Musik kembali dimainkan, Qin Yun Fei kembali menari. Xiao Jiang Li hanya diam sembari menatap mata Qin Yun Fei, sementara Qin Yun Fei, menari mengelilingi Xiao Jiang Li.
Qin Yun Fei tersenyum tipis saat melihat Xiao Jiang Li sudah seperti terlihat terlarut kepada dirinya dan tarian.
Qin Yun Fei mengetes ini dengan berpura-pura jatuh, sesuai dugaan, Xiao Jiang Li segera menangkap pinggangnya.
Qin Yun Fei tersenyum puas, kemudian mengalungkan tangannya ke leher Xiao Jiang Li. Kedua manusia itu kini saling berhadapan dengan jarak yang tipis.
Mata mereka masih fokus menatapi satu sama lain. Tangan kanan Qin Yun Fei bergerak meraba punggung Xiao Jiang Li, kemudian bergerak naik dan mengelus kepala pria itu.
Tangan Qin Yun Fei perlahan mengeluarkan belati dari dalam lengan Hanfu panjangnya.
Saat belati itu siap didekatkan ke leher Xiao Jiang Li, tiba-tiba pria itu menarik tangan Qin Yun Fei yang memegang belati dan meraih pinggang kecil Qin Yun Fei.
"Apa nama tarian ini?" Tanya Xiao Jiang Li, jarak mereka sudah sangat dekat! bahkan napas mereka saling bertabrakan.
"Mawar berduri."
Xiao Jiang Li tersenyum tipis,"Biar aku yang mencabut durinya."
Setelah itu, tak lama, terdengar suara tepukan keras dari para penonton.
"Hei, sudah-sudah! Jangan terlalu dekat!" Oceh Xiao Feiye.
Qin Yun Fei yang mendengar ini tersadar, kemudian segera mendorong Xiao Jiang Li menjauh dan hendak kembali berjalan menuju mejanya.
Saat ingin berjalan, tiba-tiba suara Xiao Jiang Li menghentikannya,"Putri, tusuk rambutmu."
Qin Yun Fei kembali menoleh dan mengambil tusuk rambutnya dengan kasar, kemudian segera bergegas menuju mejanya.
"Benar-benar tarian yang indah! Aku penasaran, apa namanya?" Salah satu perwakilan kerajaan Dongliar An bertanya.
Qin Wujing menjawab dengan senyum ramahnya,"Mawar berduri. Perempuan di kerajaan kami identik dengan kecantikan dan keahlian bela dirinya. Wanita-wanita di sini seperti mawar berduri, kita sebagai kaum lelaki harus pandai mendekati dan mengolah mereka. Jika tidak, maka kita sendiri yang akan kena imbas, atau durinya."
Xiao Feiye tertawa,"Mengerikan, pria jadi tidak berani mendua!"
Qin Wujing ikut tertawa,"Seperti itu lah. Tetapi berbeda untuk Kaisar dan pria yang kekuatannya jauh lebih kuat dari pasangan wanitanya."
"Jika Dongliar An terkenal karena wanitanya yang memilki kelembutan dan cantik yang manis, maka Kami Fei Ying terkenal karena wanitanya yang pandai bela diri dan kecantikan yang tajam," Ujar Xiao Feiye.
Qin Wujing tersenyum tipis,"Lalu bagaimana dengan Luwei Zhing?"
Xiao Feiye mengangkat bahunya santai,"Kami beragam. Ada wanita yang pandai bela diri seperti Kami Fei Ying dan yang lembut seperti wanita Dongliar An. Kami mengizinkan mereka untuk bersikap bebas."
*
Suara gong yang dipukul kencang terdengar. Di tengah lapangan kerajaan, Qin Wujing dan Qin Yun Fei saling berhadapan.
"Kakak pertama! kedua! Semangat!" Teriak Qin Mingxiang dari tepi lapangan.
Di tengah-tengah Qin Wujing dan Qin Yun Fei, ada Qin Junfeng yang memegang bola.
"Kedua pemain sudah mengerti tentang peraturannya?" Tanya Qin Junfeng.
Qin Yun Fei dan Qin Wujing mengangguk bersama.
Qin Junfeng tersenyum, pria itu berjalan mundur sedikit sambil berkata,"Kalau begitu, permaisuri dimulai!" Kemudian Qin Junfeng melemparkan bola itu ke udara.
Bola segera jatuh, Qin Yun Fei dan Qin Wujing segera mengaktifkan tenaga dalam mereka. Qin Yun Fei diselimuti oleh cahaya berwarna biru muda, sedangkan Qin Wujing berwarna ungu.
Qin Wujing dan Qin Yun Fei saling berebut bola, bahkan mereka tidak segan untuk melemparkan serangan.
Jika di dunia modern, mungkin permainan ini disebut "Sepak Bola."
Jika Qin Yun Fei dan Qin Wujing tengah fokus bertanding dengan senyum semangat mereka, Qin Guyin duduk di bangku dan menatap para cucuknya. Baik yang tengah bertanding dan memberi semangat.
Kebetulan di sampingnya adalah Xiao Feiye, seperti biasa, pria itu selalu bertanya dan meminta tanpa takut.
"Saat ini, apa yang paling berharga di hidup anda, Yang mulia?"
Qin Guyin melirik dingin Xiao Feiye sebentar, kemudian kembali menatap para cucuknya,"Senyum mereka."
Xiao Feiye bertanya lagi,"Apa yang saat ini anda paling lindungi?"
"Senyum mereka," Jawab Qin Guyin lagi.