Alista mengerjap beberapa kali. Langit-langit dinding berwarna putih polos membuatnya merasa asing. Jenis lampu yang terletak di sana juga berbeda dengan lampu yang ada di kamar miliknya.
“Wey, Lo masak bubur, ya? Minta sini,”
“Masak sendiri. Ini buat teman gue.”
“Teman atau pacar? Zaman sekarang aneh, ya. Katanya temenan, tapi perhatiannya melebihi pacar.”
“Berisik.”
Alista beringsut duduk sambil memegangi kepala. Rasa pusing itu masih ada walau sedikit. Setidaknya dia lega karena sudah berada di tempat yang aman. Tapi suara siapa tadi? Ia menilik ke arah pintu. Tepat saat itu Bagas masuk.
“Bagas?”
“Gimana? Udah baikan?”
“Kok gue bisa ada di sini?” Alista bertanya-tanya.
Bagas mendudukkan diri di dekat Alista. “Gue liat lo di club’ semalam. Kenapa lo ada di sana? Diajak Marsel?”
Alista menunduk, ia menggerakkan kepala ke kanan kiri. “Gue sendiri yang datang ke sana,”
“Terus kenapa bisa gue lihat Marsel keluar dari club’ itu?” tanya Bagas, terkesan mendesak Alista untuk jujur.
“Mungkin Lo salah lihat—“
“Mata gue masih berfungsi dengan normal,” sanggah Bagas. Alista diam, kehabisan alasan untuk diucapkan. “sekarang Lo makan dulu. Mandi dan pakai baju yang gue udah sediain di gantungan kamar mandi. Gue tunggu di bawah,” Bagas beranjak keluar dan menutup pelan pintunya. Alista melihat kepergian Bagas. Tinjauannya teralih pada sebuah mangkuk berisi bubur serta gelas berisi air putih.
Untuk kedua kali; Bagas telah menyelamatkannya.
Setelah semuanya selesai, Alista kini keluar dengan menggunakan kaus putih polos yang dipadukan long cardigan berwarna dusty pink dan celana jeans pendek. Baju ini sangat pas padanya. Apa Bagas mempunyai adik atau kakak perempuan di rumah ini?
Baru saja akan membuka pintu, seorang perempuan nyelonong masuk begitu saja. Alista mundur beberapa langkah saking terkejutnya.
“Santai..., Gue orang baik.” Keyla mengamati Alista dari bawah sampai atas. Alista yang melihatnya merasa risi. Apa penampilannya ada yang aneh?
“Baju lama gue ternyata cakep juga dipakai Lo! Bagus banget woy!” Keyla mengacungkan jempol.
“Siapa dulu yang pakai,” bukannya merasa tersanjung atau terkekeh tidak enak, Alista malah membanggakan diri.
“Gue kira Lo bakal malu-malu kucing. Ternyata Lo asyik. Eh, nama lo Alista, ya?”
“Dari mana Kakak tau?”
“Bagas pernah cerita tentang lo. Katanya Lo itu Cewek yang susah banget diajak akrab. Terus...” Keyla mendekatkan wajahnya. “Dia juga sama Lo,”
“Hah?” Alista mengerjap.
“Gue titip sepupu gue ke Lo!” seru Keyla, menepuk bahu Alista tiga kali.
“Aku bukan—“
“Oh, iya..., Gue lupa.” Keyla mundur, menghadap Alista lagi. Ia mengulurkan tangan satunya yang tidak ia masukan ke saku hoddie-nya. “kenalin, gue Keyla.”
Alista dengan ringan hati menjabat, “Alista,”
“Jangan bikin Bagas kecewa, ya. Dia bucin banget sama Lo. Kemarin malam gue baru liat dia semarah itu,” Alista hanya mengangguk-angguk. Hari ini dia merasa sangat berhutang budi pada Bagas. Namun di sisi lain, dia harus meminta penjelasan dari Marsel sekarang.
Alista menuruni tangga yang lumayan panjang itu. Di bawah sana sudah ada Bagas yang duduk di depan televisi. Alista langsung menegur Bagas. Rupanya Cowok itu akan mengantarkan dirinya ke rumah. Motor sport itu membelah perjalanan yang ramai.
Baru sampai di seperempat jalan, motor Bagas tiba-tiba berhenti. Tubuh Alista terdorong, menabrak punggung Bagas. “Ada masalah apa?”
“Mogok. Bentar gue cek dulu,”
Mereka berdua turun. Bagas mengesah panjang mengetahui ban motornya kempes. Menyebalkan sekali. Jika dia telat mengantar Alista, bisa-bisa dia dimarahi Arsen. Ya, Arsen sendiri lah yang menyuruh Bagas. Cowok itu menceritakan kejadian semalam pada Kakak Alista.
“Kita naik angkutan umum aja,”
“Loh? Motor kamu kenapa?”
Bagas berdiri, “Bannya kempes, Al. Butuh waktu lama buat membenarkannya.”
“Motor Lo ditinggal begini aja?”
“Entar gue telepon Keyla buat bawa motornya ke bengkel.”
“Iya udah ayo,” Alista berjalan mengikuti Bagas. Kebetulan sebuah angkutan umum datang. Bagas menyetopnya. Mereka berdua masuk. Tidak ada seorang pun di dalam.
Mungkin... Ini sudah saatnya.
“Bagas...”
“Hm?”
“Makasih,”
“Sebagai sahabat yang baik, udah jadi kewajiban gue buat jagain lo,” senyum Alista terbit mendengar jawaban Bagas.
“Tetap senyum. Wajah Lo makin cantik,”
“Hah?”
“Maksud gue, jangan senyum ke sembarang orang.”
___***___
Di tempat lain, Bianca terpinga-pinga karena sedari kemarin malam, Arsen tidak bicara dengannya. Sebab di hari biasa, Putranya itu tidak pernah absen untuk berbicara. Entah itu hal yang penting atau tidak. Mengingat hari-hari belakangan, Bianca sadar. Dia tidak membuat kesalahan apapun. Lalu kenapa Arsen bersikap berbeda?
Sekarang Bianca membuka perlahan pintu kamar Arsen. Putranya itu rupanya sedang duduk menghadapi jendela, memunggungi dirinya. Bianca mendekat dan memegang pundak Arsen. “Kamu ada masalah? Atau Ibu yang sudah berbuat salah pada kamu?”
“Ibu masih tanya?!” Arsen menepis kasar tangan Bianca. Dia berbalik badan dengan sirat mata kecewa. “Dari sekian banyaknya laki-laki, kenapa Ibu memilih Om Lorenzo untuk dijadikan pasangan? Ibu enggak mikir bagaimana aku kecewa nanti? Apalagi kalau Alista sampai tau.”
“Dari mana kamu tau?” Bianca tidak menyangkal. Toh, kalau dia menyangkal, akan percuma.
“Gak perlu tanya begitu. Arsen kecewa, Bu! Selama ini Arsen kira Ibu wanita baik-baik, enggak seperti yang Marsel bilang. Tapi ternyata Ibu lebih biadab! Ibu tega jadi wanita simpanan dari Pria yang memiliki istri sedang hamil. Dia kasih Ibu harta sebanyak apa sampai Ibu rela menyerahkan diri?”
“Diam, Arsen!” Bianca mengadahkan tangan. Ia sudah tidak kuat lagi dengan perkataan Arsen yang menusuk ke dalam hatinya. “Ibu jadi wanita seperti itu, demi kalian berdua! Waktu kamu dan Alista berumur sembilan tahun, perusahaan yang diwariskan Kakekmu bangkrut oleh Farhan! Ingat saat Ibu pulang dengan penuh noda hitam di baju? Hari itu sebenarnya Ibu kerja di bengkel, bukan menghadiri pesta ulang tahun teman. Ibu sangat bekerja keras demi biaya makan dan sekolah kalian berdua! Satu tahun Ibu berjuang, Ibu hampir saja terjerumus ke dunia malam, namun saat itu Lorenzo datang dan mengulurkan tangan. Ibu lebih memilih menjadi wanita simpanan daripada perempuan yang diinjak-injak seperti batu kerikil!”
“Tapi enggak gitu juga! Masih banyak kerjaan yang baik daripada menjadi seperti itu, Bu!” Arsen menggeleng-gelengkan kepala dan mulai bertepuk tangan. “Wah! Wah! Selama tujuh tahun ini ternyata Ibu pintar bersandiwara. Arsen kecewa, Bu! Aku mau pergi dari rumah ini aja daripada makan hasil uang dari laki-laki beristri!” Arsen mengambil koper besar yang ternyata sudah tergeletak di dekat jendela.
“Kamu mau pergi ke mana? Jangan pergi! Tetaplah di sini, Nak. Ibu mohon,”
Arsen tetap berjalan melintasi Bianca sambil menggeret koper besar yang berisi barang miliknya.
“ARSEN! TUNGGU, AR!”
“ARSEN!’”
“Kembali! Jangan pergi!”
“Ibu tidak akan menganggapmu sebagai anak lagi jika kamu benar-benar pergi!”
“Arsen!”
Bianca berteriak sekuat tenaga. Bi Hanifah yang tadinya tengah mencuci baju langsung berhenti. Ia menengok ke luar untuk membunuh rasa penasarannya.
Hati Arsen tetap tidak tergerak walau berulang kali mendengar teriakan Ibunya memohon untuk berhenti. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Arsen merasa bodoh karena selama ini tidak mengetahui rahasia Sang Ibu.
___***___
“Ini bukan rumah gue, Ja.” Alista mengedarkan pandangan ke sekitar rumah tersebut.
“Ja?” Bagas mengerjap tidak mengerti.
Alista menoleh. Senyum di bibirnya menambah kadar gula dalam wajah Gadis itu. “Karena mulai sekarang kita sahabat, gue mau panggil Lo ‘Eja’ aja biar beda dari yang lain,”
Bagas terpana. Baru kali ini ada Perempuan yang membuat sebutan seperti ini padanya. “Boleh,”
“Ja! Lo salah alamat. Ini bukan rumah gue,”
“Sekarang bakal jadi rumah Lo. Tunggu sepuluh menit lagi. Kakak Lo bakal datang,”
“Hah? Jadi benar gue pindah ke rumah itu? Tapi... kenapa?” Alista berpikir keras. Perasaan tidak ada sesuatu yang terjadi di rumahnya. Untuk apa Mereka pindah coba.
“Gue enggak tau kalau soal itu,”
Setelahnya Mereka saling diam, memikirkan pikiran masing-masing. Namun itu hanya berlangsung lima menit saja. Setelahnya Bagas lah yang angkat bicara.
“Al,”
“Hm?”
“Lo masih tetap mempertahankan hubungan Lo sama Marsel? Gue bukan bermaksud ikut campur, tapi menurut gue, Marsel bukan Cowok yang tepat buat Lo. Kentara dari sikapnya semalam.” Bagas harap Alista tidak membencinya setelah ia berkata demikian.
“Aku tau,” Alista menengok ke Bagas. “tapi gue yakin itu bukan sepenuhnya salah dia. Marsel udah berubah, Ja.”
“Lo maaafin dia?”
Alista mengangguk polos.
“Mending—“
“Kalian nunggu lama?” Arsen datang. Alista mendongakkan wajah. Melihat koper besar yang dibawa Sang Kakak, Alista semakin bingung serta bertanya-tanya.
“Kok bawa koper segala?”
“Tugas gue udah selesai. Gue pamit, Sen, Al.” Bagas berpamitan ke Mereka berdua. Setelah tubuh Cowok itu sudah benar-benar jauh, Alista kembali memandang Arsen. Dia masih menunggu jawaban.
“Ibu lagi ada perjalanan bisnis keluar negeri beberapa bulan. Akhir-akhir ini ayah Lo sering meneror Ibu. Jadi buat memastikan keamanan kita, Ibu nyuruh kita buat tinggal di rumah itu.” Arsen terpaksa berbohong. Dia tidak mau Alista kecewa lagi. Terlebih saat mengetahui semalam Alista yang nyaris mengalami kejadian mengerikan.
“Putusin Marsel sekarang. Dia bahkan nyerahin Lo ke lelaki hidung belang. Apa Lo masih bersikukuh?”