41.

2419 Words
“Capek gue..., Aduh. Gak kuat,” Rifka mengipasi wajahnya menggunakan buku. Ujian matematika telah selesai belasan menit lalu. Jam istirahat ke dua baru saja berbunyi. Panas terik matahari yang menembus ke jendela membuat Mereka berkeluh kesah. “Woy! Siapa yang mau ke kantin? Gue titip es dong!” seru Adit, Sang ketua kelas. Mungkin ketua kelas dikenal sebagai sosok panutan para siswa di kelas, tapi tidak dengan Adit. Dia kebalikannya dan sering membuat ulah. “Rini! Dia pasti mau ke kantin! “ tutur Raisa. “Rini cantik, gue titip es sama jajan dong,” titah Jaka, dia mengedipkan mata, berniat membuat Rini luluh, tetapi itu hanya membuat murid lain berdesis jijik. “Rin! Mau enggak? Kita mau nitip nih! Jangan diem mulu,” “Iya ih! Si Rini ditanya diem-diem aja. Nanti bisu beneran loh!” Mendengar desakan para murid perempuan dan laki-laki, Rini membuka mulut—akan berbicara. Tangan Rachel langsung memegang pundak teman sebangkunya itu. “Biar gue yang jawab Mereka, Rin.” Rachel mulai berdiri. Dia berdeham keras. Atensi kelas mendadak diam. “Kalian mau jajan? Kenapa harus nyuruh Rini? Kalian bisa minta ke Alista! Dia pasti mau, kok!” “Beli sendiri sana! Kalian punya kaki, kan?” Alista berjalan keluar kelas. Ogah sekali diperlakukan layaknya pembantu di kelas ini. “Wey! Lo mau ke mana? Gue nitip, Al!” Adit berteriak. Alista mengedikkan bahu. Setelah berhasil keluar, dia mendapati Bagas yang masih berdiri persis seperti hukuman yang diberikan Bu Astri. “Hey,” dia menempelkan botol dingin itu ke rahang Bagas. Bagas tersadar dari lamunan. “Buat Lo,” Alista memegang lengan Bagas, kemudian meletakkan botol itu tepat di tangan Bagas. “Lo gimana?” “Gue udah minum tadi. Giliran Lo yang minum. Pasti capek dari tadi berdiri terus,” ujar Alista. Dia menyandarkan tubuhnya di tembok, tepat di samping Bagas. “Kenapa Lo berbohong tadi?” “Gue enggak mau Lo dihukum,” “Makasih, Bagas.” “Sama-sama, Al.” “Kita sahabatan, gimana?” Alista menyunggingkan senyum. Telapak tangannya itu langsung dijabat oleh Bagas. “Gue bersedia jadi sahabat Lo,” ___***___ Cuping hidung Alista bergerak, mendengkus sesuatu di dalam rumahnya ini. Seketika kedua bola matanya membulat sempurna. Dia langsung bergerak ke dalam kamar Arsen. Rasa terkejutnya bertambah ketika melihat Arsen tengah meminum vodka. “Kakak!” Alista langsung merebut botol itu dari genggaman Arsen. Dia melemparnya begitu saja hingga terpecah berkeping-keping. “Lo kok minum beginian?!” Arsen terkekeh kecil. “Perkataan dia benar, Al!” “Perkataan siapa?!” Mata Arsen tiba-tiba menyipit. “Lo adik gue? Alista? Wah, adik gue udah gede. Sini, Adikku sayang.” Arsen merentangkan tangan. Alista berdecih jijik. Tanpa aba-aba, dia menampar Arsen menggunakan tas miliknya. “Ssh. Aduh. Kok gue malah ditampar, Al?” Arsen mengusap rahangnya. “Lo mabuk! Mandi sana!” “Gue enggak mabuk, Al. Gue sadar...” mata Arsen sayu. Alista tidak mau mendengar omong kosong lagi. Dia mendorong tubuh Arsen. Dalam sekejap, tubuh Kakaknya itu terlentang di ranjang berukuran luas itu. Alista melepaskan sepatu yang dikenakan Arsen. Dia langsung menarik selimut. Arsen terus meracau tidak jelas. “Dia benar, Al..., Dia benar....” “Ngomong apa, sih, Lo?” Alista berdecak. Baru saja akan pergi, tetapi cekalan di tangannya membuat dia berhenti. Arsen menariknya hingga Alista jatuh menimpa d**a bidang Cowok tersebut. “Kak! Apaan, sih. Lepasin enggak. Badan lo bau!” “Putusin Marsel, Al. Putusin dia..., Gue... Enggak suka liat orang yang gue suka dekat sama Cowok lain...,” Alista tercengung. “A—apa?” “Jangan pergi...” Kedua tangan Arsen merengkuh tubuh Alista. Alista terdiam, masih mencerna perkataan Arsen. Perlahan terdengar dengkuran BB dari Arsen yang rupanya tertidur. Perlahan rasa kantuk menyerang mata Alista. Alhasil dia perlahan memejamkan mata. Tidur menimpuk Arsen. Satu yang membuat Alista bertanya-tanya; kenapa berada dipelukan Arsen, rasanya nyaman seperti ini? ___***___ Hari sudah menjelang malam. Alista mengerjap. Ia mengusap matanya dan tersentak kaget melihat dirinya sudah di kamar miliknya sendiri. Alista terduduk. Bagaimana bisa? Apa Arsen sudah bangun? Dia menyingkap selimut. Matanya itu semakin terbelalak. Alista sudah tidak memakai seragam! Dan sekarang dia hanya memakai piyama. “AAKKHH!” lengkingnya keras, takut terjadi apa-apa tadi. Arsen yang sedang ada di dapur pun terpanggil. Dia bergegas menghampiri Alista. “Ada apa? Kenapa?” Alista segera berdiri, kemudian mencengkram kerah Arsen. “Lo apain gue, hah?!” “Apain? Tadi gue Cuma ganti seragam Lo.” “Kakak ganti seragam aku tanpa izin?!” Alista geram. Ia menampar keras Arsen hingga suaranya terdengar jelas dari luar. “Enggak usah lebay. Gue pernah gantiin baju Lo waktu TK.” “Tapi, kan, gue udah enam belas sekarang!” “Berisik. Enggak usah pakai teriak bisa?” demi apapun, kuping Arsen pengang saat ini. “Ish!” Alista menarik langkah ke kamar mandi. Arsen tersenyum jahil. Raut Alista ketika marah, menggemaskan juga. “Udah enam belas tahun kok masih datar?!” “NGOMONG GITU LAGI, GUE GUNTING JUGA BIBIR LO, KAK! AWAS LO! NANTI GUE BALES!” Bugh! Sebuah sandal mengenai kepala Arsen. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Alista. “Padahal gue Cuma bercanda,” ___**___ Malam ini adalah malam Minggu. Beda dengan teman-temannya yang menghabiskan waktu bersama dan jalan-jalan ke mall, Alista hanya berdiam diri di rumah. Alasannya jelas. Tidak ada yang mengajaknya keluar rumah. Lagian jika ada yang mengajak, sudah pasti Arsen melarang dan memarahinya. Alista menggulung dirinya dengan selimut. Dia tengkurap dan mulai menyalakan ponsel. Ting! Sebuah pesan masuk dari Marsel. Alista segera membukanya dengan mata berbinar-binar. Siapa tahu kan Marsel bisa menghilangkan rasa bosannya. [Al, gue ada di luar rumah Lo. Liat dari jendela sekarang.] Ampun, deh. Mengapa Marsel sering ke rumahnya tanpa bilang-bilang dahulu? Tanpa membuang waktu lagi, Alista beranjak dan menengok ke luar. Tampak Marsel di bawah sana sedang berdiri di halaman belakang. Marsel mengibaskan tangan. Alista yang melihatnya pun mengangguk cepat. Notifikasi pesan terdengar lagi. Alista beralih melihat ponsel. [Kamu keluar sekarang. Aku mau ngajak kamu jalan.] Alista langsung melihat Marsel lagi dan menggelengkan cepat kepalanya. Hal itu membuat bahu Marsel turun. [Aku enggak bakal dikasih izin] Send. Langsung dibaca oleh Marsel. [Ya udah. Aku sendiri yang ke minta izin ke Ibu kamu.] Setelah mengirim pesan seperti itu, Marsel kembali memasukkan ponsel ke saku. Alista yang melihat Marsel pergi, dia segera keluar kamar tanpa membuang waktu. Dia bersembunyi di balik tembok. Belum sampai satu menit... Suara ketukan pintu membuyarkan fokus Bianca yang sedang berkutat di hadapan laptop. Wanita itu membuka pintu dan tampaklah Marsel di sana. “Hai, Tante.” “Kamu?” “Iya. Alista nya ada di rumah, Tan?” “Ada. Dia lagi di kamar tuh. Ayo masuk dulu,” tawar Bianca. “Enggak, Tante. Marsel ke sini mau mengajak Alista buat jalan. Tante... beri izin?” “Asal sebelum jam sepuluh, bawa dia pulang. Sebentar saya akan panggilkan dia,” Bianca memutar badan, beranjak ke kamar Alista. Sementara di balik tembok sana, Alista buru-buru masuk ke kamarnya kembali dan berlagak sedang tidur. “Marsel datang dan mengajak kamu jalan. Habiskanlah waktu dengan dia dua jam. Sebelum jam sepuluh, kamu harus sudah pulang. Setelah itu, kamu putusi dia.” ___***___ Bimbang. Sepanjang perjalanan Alista memikirkan perintah Sang Ibu. Haruskah dia mengakhiri secepat ini? Usia hubungannya dengan Marsel hanya satu Minggu. Memutuskan Marsel tanpa alasan yang jelas membuat dia terus merasa bersalah nanti. “Kenapa diam aja?” “Huh?” suara Marsel terdengar samar-samar di telinga Alista. “Kita udah sampai,” Marsel menghentikan motor. Tubuh Alista terdorong ke depan. Dahinya seketika membersut. “Kamu yakin ke sini?” Alista turun dari motor. Ia mengibaskan tangan di depan hidungnya ketika bau alkohol menyeruak dari seorang pria yang baru saja keluar. “Iya. Kamu enggak senang?” Marsel melirik Alista. Ia tersenyum puas melihat Alista yang risih. “Ini kelab malam.” “Ya terus? Kamu baru pertama kali ke tempat ini?” Marsel menilik wajah Alista. Alista menggeleng polos. Selama ini memang dia tidak pernah ke tempat seperti itu. Arsen selalu melarangnya. Entah penyebabnya apa. Yang jelas Alista tidak tahu isi club’ malam itu seperti apa. Tapi tampak dari luar sini, Alista bisa menyimpulkan; tempat ini bukanlah tempat yang baik. “Ayo, Al!” Marsel menggandeng Alista masuk ke dalam. Musik dugem menggema terdengar mengganggu telinga Alista. Marsel mengambil botol minuman yang tersedia di sana. Dia menuangkan itu di gelas kecil dan menyerahkannya pada Alista. “Enggak. Aku—“ Marsel meraih tangan Alista, membuat Kekasihnya memegang gelas yang ia serahkan tadi. “Sekali aja, Al. Kamu pasti suka,” dia mencubit pipi Alista. Hal tersebut membuat Alista luluh dan akhirnya meminum minuman itu. Saat dia meluruskan pandangan kembali, tahu-tahu Marsel sudah tidak ada. Alista meletakkan gelas itu kembali dan mencari-cari Marsel. Musik yang terdengar keras itu membuat suara Alista meredam. Alista bergerak menerobos kerumunan orang yang berjoget. Ia menutup hidung lantaran tidak kuat dengan bau di sekitarnya. Grep! Kedua tangan Alista tiba-tiba dipegang. Alista menengok ke kanan kiri. Tampaklah dua orang pria asing yang tidak ia kenal sama sekali. “Lepas!” “Ayo, Sayang...” pria botak itu menggeret Alista ke suatu tempat. Sedangkan Pria yang kelihatan sudah berumur itu tetap memegang lengan Alista untuk berjaga-jaga agar Alista tidak bisa lepas. Alista dibanting ke sofa. Gadis itu menatap ketakutan kala dua pria itu mendekat dengan seringai menyeramkan. Kedua pria tersebut duduk di samping Alista di masing-masing sisi. Tangan Mereka kompak merangkul bahu Alista. Salah satu pria menuangkan alkohol dan mendekatkannya pada Cewek tersebut. “Minumlah,” Alista menggeleng cepat sekaligus berusaha lepas dari Mereka berdua. Tapi Mereka semakin kuat merengkuh badannya. “Lepasin gue!” “Pegang dia,” perintah Pria botak. Laki-laki paruh baya itu memegang pipi Alista, membuat mulutnya terbuka sedikit. Alista memberontak, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk menghentikan Mereka. Pria botak tersebut meminumkan paksa ke mulut Alista. Alista terbatuk-batuk. Kedu matanya mulai berkilauan air mata. Dia tidak tahu minuman itu sudah dicampur apa. Kepalanya dalam sekejap langsung merasa pening, tetapi Alista menolak kuat dirinya untuk tidak sadarkan diri. Dia harus tetap membuka mata agar kedua pria itu tidak punya kesempatan. “Marsel...” panggil Alista lirih. Ia melihat kekasihnya itu berdiri di sana. Dengan senyuman yang sulit diartikan. Alista mengulurkan tangan, berharap Marsel menolongnya. Namun... Marsel malah pergi. Kepala Alista semakin berkunang-kunang. Kesadaran dirinya semakin menurun. Alista spontan memegang kepala. Tenaganya terasa habis saat itu juga. Samar-samar dia melihat kedua Pria kurang ajar itu merambah tubuhnya. Alista kecewa sekaligus sedih. Kenapa Marsel tidak berhenti dan malah membiarkannya dilecehkan seperti ini? Pandangan Alista berubah samar-samar. Tidak lama, seketika semuanya gelap. Tidak ada cahaya sama sekali. “Woy! b*****t!” hanya suara itu yang terakhir Alista dengar. ___***___ Bagas menghempaskan dirinya di ranjang. Rasa sejuk sehabis mandi membuatnya nyaman. Ia melirik jam di dinding, ternyata sudah jam sembilan malam. Sayup-sayup mata itu terpejam. “Bagas! Bangun, Bagas! Buka pintunya!” Suara heboh dari luar membuat kesadaran Bagas kembali. Bagas dengan tatapan jengah langsung membuka pintu. “Ada apa, Bi?” tanyanya pada seorang wanita yang mengetuk pintu. Di rumah ini ada empat orang. Bagas, Garcia—sang bibi, Keyla—anak Garcia dan sang pembantu. Garcia menyerahkan kunci mobil pada Bagas. “Ke club’ malam sekarang!” “Enggak mau. Gak ada gunanya,” Bagas mengembalikan benda tersebut. Saat itu juga Gracia menahan tangannya. “Kok enggak ada gunanya? Keyla masih belum pulang malam ini. Kamu ke club’ sana. Cek dia ada di sana atau tidak,” ujar Gracia. “Ih, ogah. Bibi aja sana,” “Tidak. Bibi kan perempuan. Apa kata Pamanmu jika melihatnya nanti. Sudah sana cepat. Tempat itu tidak baik. Bibi tidak mau Keyla terus terjerumus di tempat itu.” Kata Gracia, menggerakkan tangan layaknya mengusir ayam. Bagas hanya bisa pasrah. Setelah mengganti baju piyama dengan kaus putih, jaket jeans dan celana jeans robek-robek, Bagas keluar dan mengendarai mobil milik Gracia. Hanya butuh waktu belasan menit, dia sampai di tempat itu. Bagas menelepon Keyla. Malas sekali jika dia harus masuk ke dalam. “Gue sekarang ada di depan club buat menjemput Lo. Keluar sekarang,” “Nanti. Masih sore juga,” “Pulang sekarang.” “Lima jam lagi!” Sambungan diputus secara sepihak. Bagas tidak mempunyai pilihan lain. Dia melangkah lebar ke dalam tempat tersebut. Saking seriusnya berjalan, dia sampai menabrak seseorang. Bagas menengok, mencari tahu siapa yang menabraknya. Marsel. Laki-laki tersebut nyelonong begitu saja. Padahal Bagas ingin permintaan maaf terlontar dari mulut Marsel. Tidak membuang waktu lagi, dia masuk ke dalam. Suasana di dalam begitu riuh. Bagas dengan mudahnya menerobos kerumunan itu. Matanya juga bekerja dan mencari keberadaan Keyla. “Sebentar, Ra! Yakin Lo mau pulang? Lo dengan Ibu gue sama aja! Sama-sama ngebosenin.” “Gue mau pulang, Key. Bokap gue pulang sebentar lagi woy. Enggak mau gue dimarahin Bokap,” Perhatian Bagas teralih dan segera mencari sumber suara itu. Lima orang dia lewati, sampai akhirnya tiba di belakang dua orang wanita berpakaian minim. Bagas langsung menghampiri, tapi urung saat mendengar tawa dari dua orang pria. Cowok itu beralih meninjau Mereka. Tangannya seketika mengepal. Kedua matanya terbelalak. Bagaimana Alista ada di sana? Setahunya Alista sepolos itu untuk diajak ke tempat seperti ini. Melihat Alista tidak sadarkan diri, Bagas semakin yakin kalau Alista dijebak. Bagas menghampiri Keyla. Ia membalikkan badan anak bibinya itu secara paksa. “Gue titip ini,” dia meletakkan kunci tersebut di tangan Keyla. “Weh, lo—“ Bagas sudah lebih dulu pergi tanpa mendengar balasan Keyla. “Woy, b*****t!” gertak Bagas pada kedua Pria itu. Ia melepas jaket. Tanpa bilang apapun, dirinya memukul salah satu Pria itu cukup keras hingga terdengar bunyi mengerikan. Semua orang yang ada di sana memekik histeris. Melihat temannya ditonjok seperti itu, Pria yang satunya tidak terima. Dia berdiri dan mengarahkan tangan yang mengepal itu ke Bagas. Dengan sigap Bagas menahannya, lantas memelintir lengan kekar tersebut. Tidak cukup, dia juga menendang kaki Pria asing itu hingga berlutut paksa. Suasana semakin heboh. Orang-orang mundur dan menghindari Mereka. “Sialan Lo!” “LO YANG SIALAN! TEMAN GUE KALIAN APAIN, HAH?!” Bagas melotot mengerikan. Dia menendang d**a bidang Pria yang barusan membentak padanya dan meninju secara bertubi-tubi tanpa ampun. Keringat mulai membasahi badannya. Sampai Pria itu tidak sadarkan diri, barulah Bagas melepaskan. Dia beralih melihat Alista yang masih tidak sadarkan diri dengan beberapa kancing baju yang terbuka. Bagas meraih kembali jaketnya yang terjatuh. Dia pasangkan ke badan Alista untuk menutupi. Tangan kirinya ia tempatkan pada leher Alista, sementara tangan kanannya di belakang lutut Alista. Bagas mengangkat badan Cewek tersebut. Semua orang kompak berbisik-bisik dan memberikan jalan. “Dia pacar Lo?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD