Sudah satu jam lalu dia pulang sekolah, namun Arsen tidak mau beranjak dari kasur berukuran besar itu. Hari ini terlalu melelahkan. Terlebih lagi tadi dia habis latihan basket untuk lomba yang akan datang dua bulan lagi. Bebannya itu bertambah saat Arsen ditunjuk sebagai ketua basket.
“Kakak!”
Arsen terbelalak. Spontan dia menarik selimut dan memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Bukan tanpa alasan dirinya seperti ini. Biasanya kalau Alista berteriak seperti tadi, akan merengek meminta dibelikan camilan dan Boba. Mengingat stok jajanan di rumah sudah habis.
“Yah, kok tidur, sih?” Alista langsung naik dan menimpuk badan Arsen. Ia membuka selimut yang menutupi wajah Kakaknya itu. “Kak, bangun..., gue laper nih. Beliin mie sana. Ayolah, Kak. Gue lagi mager sama capek nih.” Mohonnya seperti anak kecil. “lo kalau mau bohong, yang totalitas dong. Masa tidur, matanya bergerak gitu. Enggak bisa akting aja sok-sokan mau bohongin gue. Dikira gue bodoh apa,”
Arsen menggumam kesal dalam hati. Ia membuka matanya. Refleks ia tersentak kaget hingga Alista terjatuh ke bawah. Bagaimana tidak, tadi jarak wajah Mereka kelewat dekat.
Sementara Alista meringis merasakan bokongnya yang terbentur lumayan keras. “Sssh. Jahat Lo, Kak!”
“Siapa suruh deketin gue.”
“Jadi Kakak emang lucknut bener Lo!”
Arsen menyingkap selimut dan berpindah ke kamar mandi. Alista berdecak kesal. Dia lihat di televisi kakak laki-laki perhatian pada adik perempuannya, namun realita di kehidupannya begitu berbeda sekali. Tidak terima, Alista beranjak dan berdiri di depan pintu. Tangannya menggedor-gedor pintu dengan keras.
“Kak! Buka dong! Gue laper, Kak! Lo gimana, sih?! Jadi Kakak enggak care banget sama Adiknya! Gue sumpahin lo—“
Handle pintu bergerak, pertanda akan dibuka. Alista mundur tiga langkah. Detik berikutnya, Arsen muncul dengan baju berbeda dan kali ini lebih wangi.
“Ayo,”
Alista terpana. Kening Kakaknya itu basah membuat rambutnya tersibak ke belakang. Baru kali ini Alista menyadari kalau dahi Arsen begitu bening.
Arsen memegang rambutnya sendiri. Ia lihat tidak ada sesuatu yang aneh. Justru Adiknya yang memperhatikannya tanpa alasan jelas. Arsen menyentil dahi Alista hingga Cewek itu bermuka masam tidak terima.
“Kenapa bengong? Gak mau ikut?”
___***___
Selesai membeli semua yang dibutuhkan, Alista dan Arsen memutuskan untuk pulang dengan cara berjalan kaki lantaran sedari tadi mereka sudah menunggu angkutan umum, tapi tak kunjung datang.
“Gue harap berita di sekolah tadi enggak hoax.”
“Berita apa?” Alista menengok ke Arsen.
Arsen menatap Alista sebentar hingga memandang lurus kembali. “Berita kalau Lo putus sama si Marsel,”
“Itu... berita benar,”
“Mana buktinya? Coba sini gue cek HP Lo,”
“Enggak perlu ih.” Alista siaga dua. Jika Arsen sampai membuka benda itu, bisa-bisa semuanya terbongkar. Terlebih lagi Marsel dan dia tidak pernah berhenti saling bertukar kabar.
“Tuh, kan, Lo bohong.’”
Alista mendecak. Tangan satunya menyeluk saku, meraih ponsel. Ia bergeser sedikit menjauh dan mulai membuka aplikasi chat. Belum sampai menghapus semua pesan, Arsen terlebih dahulu merebutnya.
“Kak ja—“
Arsen men-scroll chat yang begitu banyak jumlahnya. Ia bergumam membaca satu persatu pesan tersebut. Mata Alista memicing, ia mengambil alih ponsel miliknya. “I—itu kan chat lama. Gue mau hapus semua biar lebih mudah move on,”
“Pesan terakhir kok jam empat sore tadi? Dan Lo masih pakai sebutan ‘aku-kamu’.” Arsen curiga. Alista gelagapan, memikirkan alasan apa yang akan dia berikan.
“Ya—ya... kan, itu udah jadi kebiasaan. Nanti lama kelamaan biasa aja kok.”
“Kok gugup? Kalian main di belakang gue diam-diam?” Arsen tahu betul Alista sedang gugup seperti memikirkan sesuatu. Dua belas tahun bersama membuat dia mengerti lebih dalam tentang Alista.
“Eng—enggak. Mana mungkin. Udah lah! Lo mah enggak percayaan orangnya.” Alista mendahului Arsen dan mempercepat langkah.
Sebuah mobil melaju ugal-ugalan di depan sana. Melihat itu, Alista semakin menjauh dari tepi jalan. Matanya menyipit, mempertajam penglihatan kala menyadari ada sesuatu yang aneh di dalam mobil itu.
Sampai akhirnya kendaraan itu mendekat dan berhenti di depan Alista. Jaraknya tidak jauh dari Alista. Cewek itu spontan menghentikan langkah. Dia mundur, hingga menabrak d**a bidang Arsen.
“Kenap—“
Bruk!
Seorang laki-laki dikeluarkan dari mobil itu Alista membekap mulut, menahan teriakan yang akan keluar. Seragam yang dikenakan Cowok itu sama persis dengan seragam di sekolahnya. Namun, siapa? Alista berusaha untuk melihat, namun sayangnya posisi Laki-laki tersebut tengkurap.
Mobil itu pergi begitu saja, meninggalkan Laki-laki yang bersimbah darah.
Alista segera menghampirinya, namun berhenti saat Arsen mencekal lengannya. “Apa?”
“Biar gue. Bisa aja itu jebakan.” Arsen berjalan melewati Alista. Dia mendekat dan berjongkok tepat di dekat laki-laki itu. Ia membalikkan pelan tubuh Cowok tersebut hingga wajahnya menghadap Arsen.
“Bagas?”
Mata Bagas yang masih terbuka sedikit itu mengangkat tangan, memohon pertolongan. Alista yang melihat hal itu langsung berteriak histeris.
“BAGAS!” Alista duduk dan meletakkan kepala Bagas pada pahanya. “Bagas! Kenapa Lo bisa kayak gini? Siapa yang ngelakuin ini ke Lo?”
“Al.., Alista...,”
Alista mengangguk-angguk. Dia memegang tangan Bagas dan menggenggam erat.
“Ja...jauhi...dia..., Jauhi dia...,” mata Bagas tiba-tiba terpejam. Tangan yang dipegang Alista seketika melemas.
“Berhenti buang waktu. Kita harus bawa dia ke rumah sakit.”
__**__
Alista tidak berhenti mondar-mandir di depan ruang UGD. Dia tidak sabar mengetahui keadaan Bagas bagaimana nantinya. Sementara Arsen duduk di ruang tunggu. Ia telah memegang ponsel Bagas, namun tidak ada gunanya sebab ponsel itu dikunci dengan kata sandi.
“Aku titip dia sebentar,” Arsen mendongak usai mendengar suara seorang Gadis.
Nandin. Cewek itu sekarang berdiri di hadapannya dengan bayi. Baru saja dia akan membuka suara untuk menjawab, Nandin tiba-tiba menyerahkan bayi itu padanya. Arsen yang tidak ada pilihan lain terpaksa menerima bayi itu ke dalam gendongannya.
“Lo—“
Percuma.
Nandin sudah pergi terlebih dahulu. Arsen geleng-geleng kepala. “Dasar Cewek aneh.” Dia melihat ke arah bayi itu. “apa tadi itu Ibu Lo?” tanyanya pada bayi yang masih tertidur itu. Arsen tersenyum dan mengelus kepala bayi tersebut.
“Ya ampun, Kakak! Ba—“
Arsen meletakkan jari telunjuknya di bibir. “Ssst. Dia bisa bangun nanti,”
“Bayi siapa yang Lo culik?” Alista melirihkan ucapannya. Ia mendarat di samping Arsen. “lo ngebet banget jadi Bapak-bapak, ya, makanya nyulik bayi orang?”
“Apaan. Tadi ada yang nitip bayi ini ke gue,”
“Dari sekian banyaknya orang di sini, kenapa harus Lo yang jagain dia?”