Zian mendekati sang istri namun ia malah di lempar oleh bantal. Matanya melihat koper yang sudah siap untuk diseret keluar. Zian belum paham kenapa Elara bisa marah. Tangan Elara mulai meraih koper lalu berjalan melewati Zian. Zian menahannya, nampak raut wajah bingung menghampirinya seketika Elara memelototinya. "La, Mas salah apa?" tanya Zian. "Suka bikinnya namun ketika sudah jadi tidak mau bertanggung jawab. Aku sadar jika Paman hanya bernafsu saja padaku," ucap Elara. Zian menaikan alisnya mendengar ucapan Elara. Dia memeluk Elara dan meminta maaf yang sebesar-besarnya tentang masalah tadi pagi. Wanita itu mendorong Zian, sorot matanya sangat tajam terlihat tak main-main. "Papaku pun tidak pernah membentakku. Kau siapa rupanya yang berani membentakku? Aku benci denganmu, Paman."

