Secara mendadak, tanpa disangka-sangka, sang Ibu Suri membungkuk untuk memberikan kecupan di pipi Sakura.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, kau benar, Tomoyo,” ujar Ye Lan. “Dia… menggemaskan.”
Tomoyo mengembuskan napas bahagia.
"Aku merasakan kekuatan dan energi positif darimu, Nyonya Terhormat Sakura,” imbuh Ye Lan serius. “Tetap dekat dengan Xiao Lang.”
Setelah itu, Ye Lan pergi bersama Tomoyo dan Yi An. Taman menjadi sunyi, tersisa Sakura, Yukito dan dayang gadis itu yang sedang memegang Kero, Yao Yan.
"Sakura-san," panggil Yukito. "Apakah Anda ingin melihat kolam?”
Mereka melangkah menuju salah satu kolam, Yao Yan mengekor di belakang. Duduk di bangku batu, beberapa meter dari tepi kolam, Sakura menatap Yukito dari sela poninya. Pria itu sedang fokus pada bebek yang mengarungi kolam, wajahnya setenang biasanya. Hati Sakura berdesir oleh rasa hangat. Yukito memergoki tatapan Sakura, membuat gadis itu segera mengalihkan pandangannya.
"Saya dengar, beberapa hari yang lalu Anda memanggil saya,” tutur Yukito. “Tetapi, Yamato yang datang. Apakah dia bersikap tak berkenan pada Anda?”
Sakura menggelengkan kepala, padahal dia merasa merinding mengingat mata tajam Yamato.
"Baguslah," tukas Yukito cerah. “Saya di sini sekarang. Apa yang Anda inginkan?”
Sakura tidak merasa yakin lagi untuk mengungkapkan perasaannya kepada Yukito sebab, di satu sisi dia sedang mencoba menerima perasaannya kepada Xiao Lang. Namun, kesempatan tidak datang dua kali, Sakura harus mencobanya.
"S—Saya ingin mengatakan….”
Kenangan tentang tubuh sang kaisar terhadap dirinya membuat pikiran Sakura mengabur. Seluruh ucapan Xiao Lang tidak mengandung kebohongan. Dan ia selalu berusaha bersikap masuk akal dengan Sakura. Tidak seharusnya Sakura menimbulkan masalah.
"Saya ingin memberitahu Anda… bahwa saya….”
"Saya mengerti,” sela Yukito dengan sorot pengertian.
"Benarkah?” tanya Sakura, tertegun.
Yukito tersenyum.
Sakura merasakan jantungnya merosot dari tempatnya. Mungkinkah Yukito memiliki perasaan yang sama kepadanya? Pria itu melirik Yao Yan yang baru saja menjauh, berada di luar jangkauan mereka, menulikan telinga dan membutakan mata dari percakapan ini.
"Saya bersyukur melihat Anda merasa lebih senang di Kota Terlarang sekarang,” ujar Yukito. “Anda telah semakin dekat dengan Huangdi.”
Sakura bangkit, berdiri di hadapan Yukito. Rok sutra ruqunnya tertiup oleh angin, menerpa kaki Yukito dengan lembut.
"Saya tahu bahwa terlarang untuk menyukai—”
"Anda dibawa kemari di luar keinginan Anda,” sela Yukito diikuti senyuman manis. “Wajar bagi Anda untuk sedikit memberontak.”
Sakura merasa seperti ditampar. Bagaimana bisa Yukito menganggap perasaan Sakura serendah itu?
"Yukito, Saya—"
Yukito mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata Sakura.
"Anda tidak merasakan perasaan yang sama?” tanya Sakura.
"Saya merasakannya juga,” pungkas Yukito. “Tetapi dengan cara yang sama yang saya rasakan pada Yamato, kakak saya. Cari tahu perasaan Anda. Bukankah itu bersifat kekeluargaan?”
Sakura menatap ke kolam. “Saya rasa tidak, mungkin….”
Yukito memang terasa seperti Touya—saat Touya bersikap baik pada Sakura.
"Tapi, biarpun saya merasakan sesuatu yang lain,” imbuh Yukito. “Di Kota Terlarang, kami menempatkan tugas di atas segalanya. Melepaskan tugas menyebabkan kekacauan. Pemrakarsa kekacauan akan dihukum mati.”
Yukito mengambil selangkah menjauh dari Sakura.
"Anda belum dan tidak akan kehilangan apa pun. Saya tidak bisa memberikan apa yang bisa Huangdi berikan.”
"Kakak Anda mengatakan hal yang sama.”
"Apakah Anda tidak bertanya-tanya bagaimana seorang pria bisa bertanggung jawab atas Harem Kerajaan? Semua pria dilarang mendekatinya. Bahkan Huangdi dan Putra Kekaisaran Agung pun tidak diizinkan. Hanya kasim.”
"Oh…," gumam Sakura. Lalu dia tersentak. “Oh! Maksud saya—”
Yukito tersenyum geli. "Merupakan kehormatan besar untuk melayani Huangdi Xiao Lang. Mari, saya akan menunjukkan sisa taman sebelum mengantarkan Anda kembali ke istana Anda.”
***
"Kau sudah mengirimkan surat kita?” tanya Lu Zhong.
Xue An mengangguk singkat selagi berjalan ke perkemahan mereka.
"Kau membutuhkan waktu lebih lama dari yang kuperkirakan,” tukas Lu Zhong. “Dan bagaimana dengan mata-mata kita?”
Xue An memberikan selembar kertas yang masih disegel kepada Lu Zhong. Melepaskan segelnya, pria itu membacanya dalam diam.
"Aku mengerti," pungkas Lu Zhong. "Kaisar telah meningkatkan penjagaan di Kota. Kita akan memiliki sedikit kesulitan untuk menyusupinya. Tapi, kau akan menemukan caranya. Bagaimanapun, kau berhasil mencapai Gerbangnya.”
Xue An mengangguk lagi.
"Ada kabar tentang pangeran?” tanya Yi Fen. Dia sedang melahap sepotong kaki ayam yang besar.
"Ya," sahut Lu Zhong, menjatuhkan kertas ke api unggun. Dalam sekejap, kertas itu berubah menjadi abu dan asap. “Tapi informasi ini tidak mungkin benar. Aku akan menunggu pembaruannya lebih lanjut. Barulah aku akan memberitahumu nanti.”
***
Beberapa hari telah berlalu, Xiao Lang masih tidak bisa lepas dari ingatan tentang kelembutan kulit Sakura yang menempel dengannya. Dia telah memikirkan kejadian hari itu secara terus-menerus. Menganalisis semua yang telah terjadi dan terucapkan. Apa yang Xiao Lang cari? Sesuatu mengganggunya. Dia kesal karena dia memiliki memiliki urusan yang lebih penting untuk dipertimbangkan daripada selir Jepangnya, namun pada akhirnya dia tidak bisa fokus pada apa pun selain gadis itu lagi. Emosi yang muncul dalam dirinya ini membuatnya gila.
Tiba-tiba, Xiao Lang duduk tegak. Dia berbicara dengan Tohma dan Sakura terus meliriknya. Xiao Lang tahu ini, dia melihat gadis itu sepanjang waktu. Bagaimanapun, pandangan gadis itu tampak sedikit melenceng. Ya, sedikit. Berikutnya, Yukito bangkit berdiri untuk pergi bermain dengan Kero. Sakura pun berhenti menatap Xiao Lang. Yukito berdiri… dan Sakura….
Tangan Xiao Lang mengepal erat, giginya bergemeletuk tajam. Sakura telah berkata kepadanya bahwa dirinya tidak memiliki perasaan kepada Yukito. Tidak, Sakura tidak pernah mengklaimnya dengan jelas. Xiao Lang, dalam kearoganannya, yang berasumsi demikian.
Tentu saja, Yukito tidak menyadari fakta terkait Sakura. Menjadi penjaga harem membuatnya buta terhadap kasih sayang yang ditujukan padanya. Kasim atau bukan, hidup Yukito bergantung pada kemampuan itu. Karena meskipun kasim tidak dapat melakukan penetrasi terhadap seorang wanita dan menjadi ayah untuk anak-anak, mereka dapat melakukan tindakan seksual lainnya terhadap seorang wanita.
Xiao Lang perlu memastikan bahwa Yukito dapat dipercaya.
Xiao Lang berjalan ke Harem Kerajaan meskipun itu terlarang untuknya. Para penjaga, kasim dan pelayan membungkuk saat dia lewat, meski di sisi lain mereka pasti ingin menghentikan langkahnya. Jika Ibu Suri mengetahui bahwa Xiao Lang berada di sana, nyawa mereka mungkin dirampas. Oleh karena itu, yang terbaik adalah berpura-pura tidak melihat sang kaisar di sana, selama beliau tidak melakukan kontak dengan para putri maka tak masalah.
Xiao Lang dengan mudah menemukan pintu masuk meskipun telah lama tidak menginjakkan kaki di area itu. Yang terakhir adalah saat dia berusia tiga tahun.
"Panggil Yukito," perintah Xiao Lang pada salah satu kasim.
Kasim tua itu bergegas pergi. Selagi menunggu, Xiao Lang berusaha menenangkan diri. Dia menjadi emosional lagi. Dia benci itu. Yukito adalah teman dekatnya. Bagaimana bisa dia mencurigainya melakukan pengkhianatan? Yukito pasti akan mengerti.
"Huangdi!" panggil Yukito dengan cemas. "Apa yang Anda lakukan di sini?”
Yukito melihat sekeliling seolah berharap melihat Huangdi Zhao Yun hadir di sekitar mereka dengan wajah tidak setuju. Pria itu masih bersikap sama secara reflek, melupakan fakta bahwa Huangdi Zhao Yun telah lama meninggal.
"Masih mencoba untuk melindungiku?” tanya Xiao Lang.
Yukito meringis. "Dulu, beliau bisa sangat kejam.”
"Itu perlu,” tukas Xiao Lang. "Huangdi sedang membesarkan seorang pangeran. Orang yang berpotensi menjadi kaisar di masa depan.”
"Anda masih kecil saat itu,” tukas Yukito. "Beliau tidak memperlakukan saudara-saudara Anda dengan cara yang sama. Terkadang, saya bertanya-tanya seperti apa diri Anda, jika seandainya tidak dipengaruhi… oleh pelatihan yang keras.”
"Aku akan lemah,” tandas Xiao Lang.
"Anda telah berubah dalam beberapa minggu terakhir.”
Untuk pertama kali sejak percakapan mereka dimulai, Yukito mengalihkan pandangan dari Xiao Lang.
"Ying Hua," cetus Xiao Lang. "Mungkin dialah pelakunya. Apa pendapatmu tentangnya?"
Yukito memasukkan tangannya di lengan pakaiannya. “Dia wanita yang cantik.”
"Siapa pun dapat melihatnya. Apa lainnya?”
Xiao Lang mengamati Yukito secara seksama. Pria itu tersenyum dengan bibirnya, namun tidak dengan matanya. Dan ia ambil satu langkah yang sangat kecil, menjauh dari Xiao Lang.
"Dia senang diajak berbicara, dan memiliki hati yang baik.”
"Ya," tandas Xiao Lang setuju. "Bagaimana tugasmu malam ini?”
"Menantang seperti biasanya saat berurusan dengan wanita. Tapi akhirnya saya bisa mempertahankan keseimbangan kondisi mereka.”
"Aku yakin itu. Kau melakukan tugasmu dengan baik. Jagalah Ying Hua untukku juga. Siapa tahu apa yang akan kulakukan jika menemukan dia berperilaku buruk. Dengan pria lain.”
Tatapan tajam Xiao Lang menusuk Yukito seperti tombak yang menembus semangka.
"Orang-orang akhirnya akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka. Apakah aku ini seperti iblis atau justru aku memang seorang iblis?”
"Saya yakin Anda tidak perlu menakuti apa pun,” pungkas Yukito.
Xiao Lang melangkah menghampiri Yukito. “Apakah kau mengenaliku sebagai pria yang menakutkan?”
"Tidak."
Saat Xiao Lang pergi beberapa saat kemudian, dia melirik ke belakang. Yukito bersandar di dinding dengan lelah—atau dengan perasaan bersalah, menurut sudut pandang Xiao Lang. Datang ke harem membutuhkan keberanian yang besar. Jika respon Yukito sedikit saja tidak sama seperti dahulu, siapa tahu bagaimana nasibnya sekarang di tangan Xiao Lang. Jadi, melihatnya tidak berubah membuat kecurigaan pada pria itu menghilang.
***
Langit bersinar cerah oleh cahaya matahari. Awan tidak melakukan apa pun untuk menghalangi sinarnya, tetapi pada hari ini sinarnya terasa menghangatkan kulit daripada membakarnya sampai garing. Angin bertiup di antara pepohonan dengan merdu saat penduduk desa bergegas kesana-kemari. Bahkan anak-anak kecil disibukkan oleh tugas mereka, bersusah payah menyeimbangkan kendi air di atas kepala mereka.
Jalan yang diambil sudah tidak asing lagi. Terukir dengan sempurna di otak. Setiap rumah, anjing liar, aroma, pemandangan, pria, wanita dan anak kecil sesuai ingatannya. Semua orang balas menatap juga. Itu wajar. Sudah lama sekali sejak mereka tidak melihat wajahnya.
Langkah terakhir dari perjalanan itu hampir dirampungkan olehnya. Banyak hal telah berubah sejak dimulai.
Tidak secara eksternal, melainkan internal. Pengetahuan yang dicari, diperoleh sepuluh kali lipat. Kekuatan yang sebelumnya tidak ada, kini mengalir kuat dalam nadinya. Keterampilan yang dipelajari telah melampaui semua ekspektasinya. Namun, terdapat jurang di dalam jiwanya yang tidak dapat diisi sampai dia bertemu kembali dengannya. Itu tidak tergantikan. Semua yang dia pelajari adalah semata-mata untuk keluarganya; terutama untuk satu orang tersayang di hatinya.
Sebuah bangunan mewah tertangkap oleh matanya lantas membuatnya mempercepat langkah. Bagi orang awam, bangunan itu identik dengan keburukan-keburukan para wanita malam, namun sesungguhnya tidak bagi para warga Jepang yang bangga oleh tradisi mereka. Menjadi geisha adalah salah satu impian murni para wanita, seniman kebanggaan Jepang. Walau sering disalahartikan sebagai wanita kupu-kupu malam, geisha memiliki harga diri yang kokoh dan tak dapat digoyahkan.
Ketika dia memasuki pintu utama, bertemu dengan resepsionis yang tidak berubah, gadis itu tampak membelalak.
Sesuatu sedang tidak beres.
"Aku ingin bertemu dengan si kaiju."
Dia menjatuhkan tas yang berisi perlengkapan perjalanannya sembari menunggu respon. Anehnya, respon tidak kunjung datang. Dia jadi menegakkan punggung, menatap si resepsionis yang gerak-geriknya kian aneh.
"Aku ingin bertemu dengan si kaiju. Kau tidak mengenaliku? Kinomoto Touya, kakak kembar Kinomoto Sakura, si kaiju. Aku berkunjung terakhir kali delapan tahun yang lalu.”
Yanagisawa Nonoko, resepsionis Okiya Wagataki, menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. “Aku mengingatmu. Kau berjanji akan membawa Sakura-chan pergi dari Okiya setelah menyelesaikan perjalanan panjang untuk melatih dirimu dalam banyak hal.”
Nonoko cukup mengetahui latar belakang kehidupan Sakura. Keluarga Kinomoto sangat miskin, tinggal di pinggir desa tanpa memiliki harapan hidup yang jelas. Ibu Sakura meninggal usai melahirkan Touya dan Sakura sehingga keduanya hidup bersama sang ayah, Kinomoto Fujitaka. Awalnya, Fujitaka teguh mengais hidup demi putra-putrinya, namun kesengsaraan itu semakin terasa mencekik.
Saat Touya dan Sakura berumur enam tahun, Touya dibawa pergi oleh Amamiya Masaki—kakek dari pihak ibu—untuk dilatih menjadi ahli waris Amamiya, keluarga yang telah menjadi tozama daimyo di wilayah Edo selama ratusan dekade. Setelah tujuh tahun berpisah dengan Fujitaka dan Sakura, Touya kembali ke Oita usai berhasil melarikan diri dari sang kakek, tidak ingin menjadi ahli warisnya. Touya tahu pernikahan ayah dan ibunya tidak disetujui oleh sang kakek karena Fujitaka berasal dari kalangan jelata. Lantas dipaksa menjadi pewarisnya membuat Touya merasa tidak sudi.
Touya berjanji akan membawa Sakura pergi dari Okiya Wagataki. Walau menjadi geisha bukanlah aib, melainkan sebuah kebanggaan, Touya tidak ingin Sakura berkubang di dalamnya. Dia akan membawa Sakura bersamanya tanpa sang ayah karena dia juga merasa sangat kecewa atas keputusan beliau menyerahkan Sakura kepada Okami Wagataki.
Kini Touya menepati janjinya setelah berhasil melakukan perjalanan pelatihan yang panjang, Nonoko tidak bisa berhenti gemetar.
“Kenapa kau diam saja dari tadi?” tanya Touya mulai kehabisan kesabaran pada Nonoko. Touya memandang ke koridor-koridor di dalam Okiya. “Panggil dia.”
“I—Itu… Sakura-chan….”
Touya mengerutkan kening. “Apa?”
Nonoko menundukkan kepala, tak berani bersuara lagi, tubuhnya gemetar hebat. Ini membuat Touya kesal. Tanpa permisi, dia melangkah memasuki Okiya dengan langkah tegas. Nonoko membelalak melihatnya, lantas buru-buru mengekor untuk menghentikannya. Kegaduhan dari langkah Touya terdengar nyaris ke seluruh penjuru Okiya yang luas. Para geisha dan maiko yang berpapasan pun terkejut melihat seorang lelaki menyeruak masuk ke dalam Okiya diikuti oleh Nonoko yang panik.
Dengan mudah, Touya menemukan bilik kamar yang selama ini ditinggali oleh Sakura. Secara kasar, dia menggeser shoji, lalu mengamati seisi kamar yang tak berpenghuni. Tidak ada barang-barang Sakura, tidak ada aroma manis khas gadis itu, dan tidak ada tanda kamar itu ditempati oleh seseorang. Touya tidak dapat merasakan aura Sakura. Tidak ada satu pun jejak Sakura di sini.
Realita menghantam Touya lebih keras dari yang bisa diberikan oleh pukulan manusia atau senjata.
Touya keluar dari kamar Sakura, atau mungkin lebih tepat disebut bekas kamar, kemurkaan mengalir dalam darahnya. Okami Wagataki melangkah menghampirinya, sorot matanya memohon pada Touya.
"Di mana dia?!"
"Touya...." ujar Okami dengan ekspresi memohon di wajah tuanya.
"Siapa yang membawanya?!"
Okami kehabisan kata-kata. Ini membuat Touya semakin murka. Para geisha dan maiko berhenti bekerja, menatap kemurkaan Touya tanpa bisa membantu Okami mereka. Mereka telah mengetahui segala kronologi tentang Sakura sejak lama. Dan memutuskan tidak pernah membicarakannya demi menghormati gadis itu yang telah berkorban untuk menyelamatkan impian mereka sebagai geisha.
"Kau menikahkannya, bukan?! Siapa yang memiliki adikku?!” hardik Touya tak mempedulikan kondisi Okiya sedang melayani tamu atau tidak. “Kau berjanji kau tidak akan melakukannya selama aku pergi!”
Okami masih tidak berbicara.
"Katakan di mana dia, aku akan membawanya kembali,” desak Touya.
"Tidak bisa," jawab Okami.
Wajahnya terluka, tetapi Touya membakar seluruh simpati yang dia miliki dengan kemurkaan.
"Di. Mana. Dia?" ulang Touya, menekan seluruh kata.
Ibu pengganti atau bukan, Okami harus memberitahu apa yang harus Touya ketahui.
"China."
Touya sedikit terhuyung di tempat. Apakah telinganya berfungsi dengan benar? Selanjutnya, Okami tampak memaksakan diri untuk melanjutkan jawabannya.
"Dia telah menjadi selir Kaisar Kerajaan Li di China.”
"Aku mempercayakanmu untuk menjaga Sakura selama aku pergi! Dan kau malah membuatnya menjadi seorang selir? Seorang selir!”
Mata Okami tidak menunjukkan kehidupan, hanya ada rasa penyesalan di sana.
"Segala sesuatu yang bisa kau katakan padaku, telah kukatakan pada diriku sendiri,” tandas Okami. “Touya, maafkan aku.”
"Maaf?" ulang Touya, semakin dibakar oleh amarah. "Maaf, katamu?”
"Jika aku tidak membiarkannya pergi, Okiya ini akan mengalami kehancurannya dan para putriku termasuk Sakura akan menderita,” jelas Okami. “Aku tidak bisa membiarkan para putriku merasakannya.”
"Kata-kata yang bagus untuk menyampul niat aslimu; mengorbankan adikku demi kepentinganmu semata!” air mata mulai membasahi mata Touya. “Tidakkah kau berpikir dia sedang menderita sekarang? Menurutmu apa yang kaisar itu lakukan padanya?!”
Kata-kata berikutnya yang Touya sampaikan kepada Okami mengandung racun dari seluruh rasa sakit hati dan kebencian.
"Aku akan membawa adikku kembali dari orang yang disebut Kaisar Li itu. Kuucapkan terima kasih atas keegoisan dan kekosongan dari janji yang kau buat denganku delapan tahun yang lalu.”
Okami tidak bisa melakukan apa pun selain menatap punggung Touya menjauh. Dia membubarkan gerombolan geisha dan maiko di sekitarnya, meminta mereka untuk kembali ke tugas masing-masing tanpa membicarakan kejadian ini.
"Sakura," gumam Okami saat menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya, berdiri di salah satu sudut Okiya yang terpencil. “Maafkan aku.”
Yang Fujitaka dan Touya minta kepada sang Okami hanyalah memberi Sakura kehidupan yang terbaik di Okiya. Wagataki Yumeko, sang Okami, mencoba mendidiknya menjadi geisha yang sempurna dan senantiasa melindunginya dari jangkauan pria-pria m***m. Dia pikir, dia mampu melakukannya. Namun kenyataannya berbanding terbalik. Dia tidak benar-benar mampu untuk melindungi Sakura.
Walau Wagataki Yumeko tidak memiliki hubungan darah dengan para geisha dan maiko yang dia naungi, dia benar-benar menganggap mereka seperti putrinya sendiri, tak terkecuali Sakura. Yumeko memahami kondisi keluarga Kinomoto dengan baik, dan setuju untuk membuat hidup Sakura tidak menderita kemiskinan lagi. Dia juga menjanjikan Touya untuk menjaganya sampai tiba waktunya Touya membawanya pergi. Dan Yumeko mengingkarinya, sangat terpaksa mengorbankan Sakura demi menjaga harapan hidup para geisha dan maiko lainnya.
Yumeko senantiasa berdoa kepada leluhurnya agar Sakura tetap aman. Setiap keberuntungan dan berkah baik yang mereka miliki untuknya, dia mohon agar itu diberikan seluruhnya kepada Sakura, putri cantik yang pernah dia besarkan dan sayangi sepenuh hati.
Ketika Touya berhasil membawa Sakura kembali ke Jepang, akankah Sakura memaafkan ketidakberdayaan Yumeko?
TO BE CONTINUED
Kaiju = monster (bahasa Jepang)
Daimyo = samurai yang menguasai banyak wilayah atau memiliki banyak bawahan. Tozama daimyo adalah jenis ketiga dari daimyo, artinya daimyo yang menempati wilayah yang jauh dari ibu kota pada zaman Tokugawa Ieasu memimpin Jepang, yakni Edo (Tokyo). Bisa dikatakan daimyo adalah bangsawan sekaligus orang penting di Jepang.
Di kasus Amamiya Masaki, beliau menjadi Tozama Daimyo di Edo sebagai penguasa wilayah dan terdesak untuk memiliki ahli waris sehingga terpaksa memilih Touya, cucunya, meski itu lahir dari pernikahan putrinya yang tidak dia restui.