"Singkirkan hewan kotor itu dariku!"
Mei Ling berdiri di sofa, berupaya melarikan diri dari gigi tajam Kero. Bayi harimau itu melompat ke arahnya dan dia berteriak saat beberapa helai ruqunnya tertangkap oleh gigi tajam tersebut.
"Sekedar informasi kecil untukmu, Mei Ling, kau memukulnya," ujar Shu Wan dengan nada datar.
"Aku tidak akan melakukannya jika hewan ini memiliki rasa hormat melebihi pemiliknya!” jerit Mei Ling sambil menarik ruqunnya. “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Huangdi hingga memberikan harimau kepada gadis Jepang itu. Hal-hal semacam ini sering dikabarkan membunuh pemiliknya!”
Mei Ling diam sejenak, tak lama sudut bibirnya terangkat. "Kecuali...."
Sakura segera menarik Kero. Bayi harimau itu kembali menjadi ramah dalam pelukannya. Benar-benar membingungkan Sakura atas keanehannya yang tidak bisa ramah pada orang lain.
"Saya memohon maaf, Mei Ling-san," ujar Sakura begitu sungkan sekaligus menyesal. “Saya tidak tahu mengapa dia bersikap seperti ini.”
Kero, telah diamankan oleh Sakura, memungkinkan Mei Ling untuk turun dari sofa dan menenangkan diri. Ia duduk di meja rendah untuk mengulang pengerjaan kaligrafinya.
"Aku bersumpah, dia memakan segalanya…,” gumam Mei Ling, menatap potongan kunyahan kertas berserakan di lantai. Mereka tidak terlalu penting, beruntungnya, karena hanya sekedar coretan acak untuk latihan.
"Sakura-san."
Yun berdiri di ambang pintu ruang bercengkerama mereka. Seseorang berdiri di belakangnya.
"Sesuai permintaan Anda, Iroha-san di sini.”
Yun memberikan ruang bagi Iroha untuk masuk. Gadis itu seperti yang Sakura lihat terakhir kali. Wajahnya dilukis putih, bibirnya semerah batu rubi dengan alis hitam tajam. Rambutnya ditumpuk dengan gaya yang rumit di atas kepalanya. Sisir emas menghiasi bagian depan rambut tersebut. Ruqun hijau tua dan mudanya dirancang sangat indah dan baik. Sesuatu telah berubah dalam diri Iroha, dan Sakura langsung menyadarinya. Iroha terasa tidak sama seperti terakhir kali.
"Ohayou, Sakura-san," sapa Iroha.
"Ohayou," sahut Sakura ceria.
Iroha memandang Shu Wan dan Mei Ling.
"Ah," gumam Sakura sedikit malu karena hampir melupakan tata krama. “Ini Mei Ling-san, Istri Pertama Huangdi. Dan, Shu Wan-san, Selir Resmi pertama Huangdi.”
Iroha membungkuk kepada mereka. Ia bertemu mata Shu Wan dan sebuah pesan tampaknya melintas di antara mereka saat saling memandang. Pada momen itu, Sakura menyadari betapa miripnya mereka berdua. Mereka selalu bersikap tenang, berdandan dengan baik setiap saat sepanjang hari dan memiliki aura yang sangat dewasa.
Tomoyo dan Yi An juga seperti mereka. Itu adalah sesuatu tentang menjadi seorang wanita yang Sakura pahami sejak memulai pelatihannya untuk menjadi geisha. Shu Wan mengalihkan tatapan dari Iroha dan Iroha melanjutkan pembicaraan dengan Sakura menggunakan bahasa ibu mereka.
"Bisakah kita sendirian?"
"Tentu saja.”
Sakura membawa Iroha ke kamar tidurnya dan meminta teh kepada pelayannya. Ketika telah dibawakan dan ditata di meja, Sakura membubarkan para pelayan. Iroha bergerak menuju meja rendah, mengamati ruangan Sakura selagi melakukannya. Sakura masih merengkuh Kero dalam lengannya karena dia tidak ingin harimau itu merasa terancam oleh keberadaan Iroha. Ketika Sakura duduk bersama Kero, harimau emas itu hendak mendekati teko teh. Jadi, Sakura melemparkan kue bulan menyeberangi ruangan yang membuat Kero segera mengejarnya.
Berseberangan dengan Sakura, Iroha terkesiap saat mendudukkan diri.
"Ada apa, Iroha-san?" tanya Sakura.
Iroha menggelengkan kepala. Ia menerima teh yang dituangkan oleh Sakura kemudian mereka menyesapnya dalam diam. Secara otomatis, mereka kembali ke Jepang. Cara upacara minum teh tradisional terlintas dalam pikiran mereka. Mereka tidak melakukan upacara, namun kesan itu hadir dalam gerakan, gestur dan kesopanan mereka.
Penuh keanggunan, Iroha menuangkan teh untuk Sakura yang samar-samar berpikir bahwa dia harus melakukan upacara teh khas Jepang untuk Xiao Lang. Segalanya hening jika saja Kero berhenti menggeram kecil.
Iroha dan Sakura meletakkan cangkir dalam waktu bersamaan.
"Aku minta maaf karena tidak memberikan kesan pendampingan yang baik,” ujar Iroha. "Sepanjang hidupku, aku dilatih untuk menjadi pendamping. Seorang geisha. Sekarang bahkan aku tidak bisa menghibur seorang teman.”
"Kau tidak perlu menghiburku, Iroha-san,” sanggah Sakura seraya melambaikan tangannya.
Iroha tersenyum sedih. Sakura mendekat ke arahnya lalu menggenggam tangan wanita itu. Dia terkejut merasakan tangan itu bergetar.
"Iroha-san, tolong, katakan padaku apa yang salah.”
"Aku sudah terlalu lama hidup dengan banyak wanita,” ujar Iroha memulai. “Mereka sangat pendendam, wanita-wanita itu. Mereka tidak menyukai kita. Mereka tahu persis apa yang harus dilakukan untuk menyakiti. Para wanita di rumah geisha tempatku tinggal tampak jauh lebih baik bagiku sekarang. Dalam kenaifanku, kupikir mereka monster.”
"Apakah seseorang telah menyakitimu, Iroha-san?"
"Apakah kau telah diperlakukan dengan baik di tempat ini?”
"Aku mendapat teman baru.”
"Dan Huangdi? Aku tahu ini privasi, Sakura-san. Tetapi bolehkah aku bertanya, bagaimana beliau… saat kalian berdua sedang sendirian?”
Iroha memperhatikan Sakura dengan penuh arti, dan Sakura tersipu karena memahaminya.
"Kami belum melakukan apa pun,” jawab Sakura. “Tetapi ketika beliau menyentuhku, itu adalah perasaan yang luar biasa. Beliau tegas tapi baik. Kupikir… tidak, aku lebih menyukainya seiring hari berjalan.”
Iroha tampak tercengang. Kemudian, ia tersenyum miris. Ia mengangkat tangannya sampai pelipis, membuat lengan ruqun jatuh meluncur. Sebuah tanda merah dan biru melingkari pergelangannya. Sakura tersentak. Mengambil tangan Iroha, dia menyelipkan lengan ruqun ke atas pundak. Terlihatlah memar biru.
"Iroha-san?" tanya Sakura dengan suara bergetar takut bercampur khawatir.
"Para wanita Pangeran sangat pendendam,” ungkap Iroha seraya menurunkan lengan pakaiannya. Ia hampir menangis, namun tidak ada satu pun yang menetes. “Aku tidak siap untuk semua hal ini. Aku ingin kembali ke Jepang. Dia memiliki belasan istri, tapi mengapa dia selalu memanggilku?”
Sakura segera memeluk Iroha.
"Aku sangat lelah, Sakura-san."
Mata Sakura melebar. Iroha sangat terampil merias wajahnya. Di baliknya, jika seseorang melihat dari dekat, bisa dilihat bahwa Iroha sudah sangat tua. Matanya menyimpan lebih banyak pengetahuan dan kebijaksaan daripada saat Sakura melihatnya terakhir kali.
"Kau harus tetap kuat, Iroha-san,” pinta Sakura memohon.
"Senang untuk melihat dan mendengar sesama Jepang. Aku akan menyimpan momen ini di hatiku.”
"Iroha-san?"
"Jangan biarkan mereka menghancurkanmu, Sakura-san. Tantang mereka dan jadilah bebas.”
"Iroha-san, kau membuatku takut,” resah Sakura, kian panik. “Aku dapat membicarakannya kepada Huangdi! Mungkin beliau dapat melakukan sesuatu untuk menolongmu.”
"Jangan mencoba untuk menempatkan seorang kakak melawan adiknya, Sakura-san." Iroha mengelus rambut Sakura dengan gemas. “Selain itu, aku memiliki firasat bagus. Segalanya akan segera membaik.”
Sakura kembali menarik Iroha ke dalam rengkuhan yang erat dan hangat.
"Ketika aku pertama kali melihatmu, aku cemburu,” ungkap Iroha, “kau cantik, dan kupikir kau adalah pesaing. Aku mengerti sekarang betapa bodohnya diriku. Kita adalah kenangan satu sama lain tentang rumah.”
***
Tubuh Sakura bergetar selama perjalanannya menuju Xiao Lang. Ini adalah pertama kalinya dia menemui pria itu berdasarkan permintaan pribadinya. Kunjungan Iroha telah membuatnya tersentuh. Wanita itu sangat tidak bahagia, dan itu membuat Sakura turut tidak bahagia. Dia harus melakukan apa pun untuk menolongnya.
Sakura tahu lebih dari siapa pun bagaimana perasaan Iroha berada begitu jauh dari rumah di negeri asing. Kebiasaan para gadis China lebih kaku daripada yang biasa dilakukan para gadis. Di Jepang, Sakura telah mempelajari dan melakukan banyak hal sebagai geisha. Dia merawat adik-adik maikonya. Dia penting untuk Okiya. Di sini, di China, dia ditundukkan sedemikian rupa. Dia tidak bisa pergi keluar sesuka hati. Dia harus meminta izin untuk melakukan hal-hal kecil. Terkadang, rasanya seperti berada di dalam sangkar yang terlalu kecil untuk menaunginya.
Xiao Lang sedang duduk di mejanya, membaca sebuah buku. Sakura berdiri dengan punggung bersandar pada pintu kamar tidur selagi menunggu pria itu meladeninya. Jantungnya berdetak kencang dalam rongga dadanya. Akhirnya, Xiao Lang menutup buku dan memberi isyarat pada Sakura. Ia berdiri, dengan satu jari menekan di bawah ujung dagu Sakura, ia mencium bibirnya.
"Ada apa, Ying Hua?"
Sakura terkesiap oleh ciuman itu, dia sejenak lupa niat kedatangannya kepada Xiao Lang. “B—Bisakah saya membicarakan sesuatu dengan Anda?”
Xiao Lang mengangguk.
"Ini tentang Iroha-san," ujar Sakura, dengan cemas memindahkan tumpuan berat badannya dari satu kaki ke kaki lainnya. “Dia memiliki memar di beberapa sisi tubuhnya. Dia berkata beberapa selir Pangeran sering mencelakainya namun selalu berhasil sembunyi tangan sehingga dia tidak bisa mendapatkan bukti apa pun sampai sekarang. Pangeran selalu memanggilnya, tetapi dia tidak memiliki pilihan selain berbohong tentang luka-lukanya.”
Ekspresi menyenangkan di wajah Xiao Lang menghilang. Wajahnya kembali seperti pertama kali Sakura melihatnya. Tanpa emosi dan kaku.
"Bagaimana kehidupan rumah tangga Pangeran bukanlah urusanku maupun urusanmu. Biarkan saja.”
"Tetapi, Xiao Lang, mereka menyakitinya,” seloroh Sakura pedih. “Dia terluka. Dia—”
"Dia milik Pangeran, seperti kau milikku. Dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan dengannya, termasuk keapatisannya terhadap kondisi selirnya.”
Sakura mundur, lehernya menjadi hangat. Dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan mengepalkan tangan. “Apakah itu artinya Anda dapat melakukan apa pun yang Anda inginkan dengan saya?”
"Ya," tandas Xiao keras, lalu menempelkan wajahnya ke wajah Sakura.
Untuk sesaat, Sakura berpikir dirinya akan berakhir penuh memar seperti Iroha, namun Xiao Lang menghela napas berat dan menangkup pipi gadis itu.
"Kau aman bersamaku, Sakura," ujar Xiao Lang dalam nada yang lebih lembut. “Tapi aku tidak bisa sembarang mencampuri urusan adikku untukmu. Sebaiknya, kau melupakan semua yang dikatakan geisha itu padamu.”
Sakura mengangguk meskipun merasa kecewa karena tidak dapat menolong Iroha. Seharusnya dia sudah paham ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa kaisar lakukan. Meski jika pria itu bisa, akankah ia menolong Iroha? Wanita itu keluar dari pikiran Sakura saat Xiao Lang menuju ranjangnya. Sambil menopang dirinya dengan tangan di sisi kepalanya, pria itu menatap Sakura, ekspresinya tidak terbaca.
Lagi, Sakura bergerak canggung. Ranjang Xiao Lang adalah ranjang terbesar yang pernah dia lihat. Kaisar itu tampak berenang dalam lautan kuning dan hijau saat sulaman seprainya berkilauan di sekelilingnya. Sakura membayangkan berbagai gadis yang telah berada di sana bersamanya.
"Xiao Lang, apakah benar bahwa Huangdi dan Pangeran harus memiliki banyak selir?” tanya Sakura.
"Ya."
"Mengapa?”
"Kami memiliki kelebihan Yang."
"Apa?"
Xiao Lang menepuk tempat di sebelahnya di ranjang. Sakura duduk di tempat itu. Kemudian, Xiao Lang memosisikan kepalanya di paha Sakura dan menempatkan tangan kanannya di atas keningnya. Sakura menggerakkan jemarinya melalui sela-sela surai cokelat Xiao Lang. Menggunakan jarinya, Xiao Lang menggambar sebuah simbol tertentu di udara. Dalam imajinasi Sakura, dia mengetahui bentuk simbol itu berupa sebuah lingkaran yang dipecah menjadi dua. Masing-masing bagian memiliki satu lingkaran kecil di ujung yang saling berlawanan. Sakura telah melihat simbol itu di istana tetapi tidak memahami artinya.
"Ini mewakili keseimbangan,” tutur Xiao Lang. “Bersama-sama, Yin dan Yang berlawanan namun setara. Mayoritas Yin ada pada wanita, dan Yang pada pria.”
Sakura diam mendengarkan. Mempertahankan ingatannya tentang bentuk simbol Yin dan Yang.
"Kaisar adalah Putra Surga,” Xiao Lang melanjutkan. “Dia sepenuhnya Yang. Dia harus memiliki keseimbangan. Oleh karena itu, dia membutuhkan Yin. Dibutuhkan banyak wanita untuk menyeimbangkan Yang-nya. Atau begitulah yang dikatakan.”
Ketika Sakura menatap Xiao Lang, ia menambahkan.
"Beberapa berpikir itu hanya alasan yang digunakan kaisar untuk menjelaskan kebutuhannya dalam memiliki banyak wanita. Tapi, aku tidak bisa menghakimi leluhurku sendiri. Jika aku bisa memiliki ratusan Ying Hua, aku akan melakukan hal yang sama.”
Sakura tersipu. Xiao Lang memperbaiki posisinya di pangkuan gadis itu untuk membuatnya lebih nyaman.
"Saya mengerti,” ujar Sakura dengan suara rendah. “Apakah Anda… Anda kelebihan Yang juga?”
"Aku harus,” tandas Xiao Lang. “Tiada satu hari berlalu tanpa mendiang Huangdi tidak memberitahuku untuk membutuhkan lebih banyak wanita.”
"Dan bagaimana Anda mendapatkan Yin mereka?”
Xiao Lang bangkit, duduk. "Aku akan menunjukkannya padamu suatu hari nanti. Malam ini, kau memiliki banyak pertanyaan, Ying Hua.”
Sakura berpaling dari Xiao Lang.
"Ada banyak hal yang tidak saya ketahui. Bahkan di rumah, di Jepang, Wagataki-sensei dan onii-chan selalu menyembunyikan sesuatu dari saya. Mereka pikir saya tidak menyadarinya, tapi tidak, saya menyadarinya.”
"Kau tahu apa yang harus kau ketahui. Kenapa pikiranmu harus tertuju pada hal-hal yang tidak akan pernah kau hadapi, atau tidak dapat kau pahami? Wanita perlu memahami ini.”
"Tapi, mengapa kami tidak boleh tahu?” tanya Sakura putus asa. “Ketidaktahuan bukanlah perasaan yang baik. Ini seperti berjalan di atas tali dalam kegelapan. Anda berjuang untuk mempertahankan keseimbangan selagi jantung berdebar sangat kencang. Dan Anda tahu Anda dapat jatuh kapan saja. Ketakutan adalah semua yang Anda dengar dan lihat—hanya itu yang Anda tahu.”
Xiao Lang meraih satu tangan Sakura. "Apa yang harus kulakukan untuk melihatmu tersenyum lagi?”
Sakura meremas tangan Xiao Lang. “Ini sudah lama sejak saya melihat langit malam.”
Xiao Lang membimbing Sakura berdiri, lalu membawanya menyusuri lorong-lorong panjang Kota Terlarang. Dia tidak memperhatikan wajah heran para pelayan yang melihat mereka bersama. Dia menatap tangannya dan Sakura yang saling menggenggam.
"Kau memiliki genggaman yang kuat."
Sakura segera melonggarkannya.
"Jangan," tolak Xiao Lang said. "Aku menyukainya."
Tangan Sakura kembali mengerat seiring udara malam yang dingin menerpa wajah mereka. Bintang-bintang berkilau di atas selagi dedaunan pohon terbang dibawa angin. Sang kaisar beserta selirnya melangkah ke sebuah taman kecil, lalu mendudukkan diri di rerumputan pendek dalam diam, menikmati keindahan alam yang damai. Sesekali seseorang lewat untuk mengambil risiko mengintip mereka dalam langkahnya.
Sakura mengembuskan napas lalu berbaring di rerumputan seraya menatap langit malam yang berwarna biru gelap. Xiao Lang mengikuti gestur gadis itu, berbaring di sebelahnya.
"Kau sedih,” ujar Xiao Lang selagi menatap temaram bulan.
"Tidak."
"Jangan bohong. Aku dapat merasakannya.”
Sakura menolehkan kepala untuk menatap sang kaisar. "Saya tidak sedih. Saya hanya… merasa kesepian.”
"Tidak. Kau di sini. Bersamaku.”
Tatapan Sakura kembali ke surga di atas, bersenandung kecil di sela napasnya.
"Aku tidak tahu apa yang mendorongku untuk menganggur bersamamu di sini,” ungkap Xiao Lang tiba-tiba. “Sebelum kau hadir di sini, aku tidak melakukan apa pun kecuali tindakan yang memiliki tujuan. Aku tidak pernah berhenti di taman untuk berbaring di rumput dan menatap langit. Kau membuatku melakukan hal-hal aneh. Aku menyukainya. Aku menyukaimu. Lebih dari aku pernah menyukai siapa pun. Sebelumnya, aku hanya diizinkan menjadi pangeran prajurit yang kejam dan menakutkan sebelum kemudian menjadi kaisar. Namun aku merasa aku lebih dari itu. Aku merasakan sebuah perasaan. Dalam pemahamanku selama hidup, perasaan itu berbahaya, tapi aku suka merasakannya bersamamu.”
Tubuh Sakura bertumpu pada sisi kanan, menatap sisi samping wajah Xiao Lang yang terpahat sempurna.
"Aku ingin kau bahagia di sini, bersamaku. Meski kedatanganmu di sini tidak atas keinginanmu. Aku akan melakukan apa pun untuk menjaga keceriaanmu. Kau boleh meminta apa pun padaku,” tutur Xiao Lang lembut.
Sang kaisar menatap selirnya tepat di mata. Ia bertumpu pada sisi kiri tubuhnya seraya menempatkan tangannya pada pinggang selirnya.
"Tapi, jangan memintaku untuk melepaskanmu. Jangan pernah. Mungkin itu adalah satu-satunya harapan yang tidak akan kukabulkan.”
Setetes air mata melarikan diri dari ekor mata hijau Sakura, meluncur membasahi pangkal hidungnya. Bibirnya bergetar.
Mata Xiao Lang melebar. “Tidak. Jangan menangi—”
Suaranya terputus saat Sakura tenggelam padanya. Gadis itu menggenggam bagian depan hanfunya, terisak di sana. Lengan Xiao Lang merengkuhnya seraya dagunya diistirahatkan di puncak kepala Sakura.
"Apa yang kukatakan salah?” tanya sang kaisar.
"Tidak ada,” jawab Sakura dalam isaknya. “Anda mengatakan sesuatu yang saya ingin suami saya untuk katakan. Arigatou, Xiao Lang.”
Sakura tersentak.
"Gomen! Maksud saya—"
Sakura meringis panik tetapi Xiao Lang mengecupnya di kening. “Bicaralah bahasa Jepang apa pun yang kau inginkan, Ying Hua-ku yang cantik.”
Tersenyum, Sakura menyentuh pipi Xiao Lang lalu mengecup bibir pria itu. Dia merasakan sensasi hangat menjalar di punggungnya dan merasakan dirinya menyerahkan diri untuk tenggelam dalam sang kaisar. Xiao Lang menundukkan kepala Sakura, intensitas ciuman tumbuh seiring tiap napas yang mereka tarik.
Untuk pertama kalinya, Sakura memeluk tubuh kokoh Xiao Lang di atasnya. Merasakan otot-otot halusnya tanpa bergetar. Biarkan ia menempatkan salah satu kaki di antara dirinya tanpa gestur kaku.
"Manis,” gumam Xiao Lang tepat di atas bibir Sakura.
"Xiao Lang, apakah Anda berpikir saya dapat melihat keluarga saya lagi suatu hari nanti? Jika saya menjadi seorang istri yang baik untuk Anda? Jika saya memiliki anak Anda? Jika saya merawat mereka dengan baik?”
"Ya."
"Janji?"
"Kau akan melihat mereka suatu hari nanti.”
"Xièxiè nǐ… Anata."
Xiao Lang mengangguk setuju atas panggilan yang Sakura gunakan padanya, lalu menciumnya lagi.
"Sama-sama, Istri. Sekarang kau harus kembali ke istanamu, sebelum aku menjadikanmu wanita malam ini,” Xiao Lang membantunya berdiri dan merapikan pakaiannya. "Aku terpaksa bertanya, karena sekarang kita satu pemikiran, berapa lama lagi aku harus menunggumu?”
Sakura tidak yakin. Itu masih prospek yang menakutkan, untuk polos dengan seorang pria. Menyentuh dan menatap segala hal pada dirinya. Lalu mengandung seorang anak dan melahirkannya. Akan tetapi dirinya adalah istri seorang kaisar, jadi itu harus dilakukan. Dan kaisarnya lebih sabar daripada siapa pun.
"Tidak lama,” jawab Sakura akhirnya.
TO BE CONTINUED
Disclaimer kosakata:
- Ohayou = selamat pagi
- Onii-chan = kakak laki-laki
- Arigatou = terima kasih
- Gomen = maaf
- Anata = sayang
- Xièxiè nǐ = terima kasih