“ Hubungan gua sama Miracle itu ga hanya sebatas antara bos dengan sekretaris. Lo pasti ingat gua pernah di sp? Nah gua di sp itu yang nganterin surat adalah Pak Cle , dia yang nganter sampe ke kost gua. Ga hanya itu, waktu gua kerja gua berniat buat membersihkan nama gua yang kena sp, gua coba menggoda Pak Cle, tapi malah dia mau kasi gua Sp lagi. Gua frustasi ka. Lo bayangin uang gua cuma dari kerja ini, gimana kalo gua dipecat. Yaudah gua mohon-mohon sama dia, tapi dia kasi syarat.”
“ Syarat apa ?” tanya Mika penasaran mendengar penjelasan Rose.
Rose menghembuskan nafasnya kasar. Lumayan berat rasanya menceritakan semuanya pada Mika. Tapi apa boleh buat, tidak ada cara lain agar dirinya dapat pencerahan dari teman baiknya itu.
“ Gua mau jadi p*****r dia.”
Mika terdiam. Matanya melotot menatap Rose, sepertinya gadis itu tidak percaya apa yang dikatakan Rose. Mereka terdiam, Mika yang sedang mencerna perkataan Rose tadi.
“ Lo- serius Ose?” tanya Mika tidak percaya. Rose mengangguk sebagai jawaban.
“ Gua juga kebobolan waktu itu Ka.”
“ Kebobolan apa?”
“ Gua sama pak Cle sebelum persyaratan itu, juga pernah melakukan hubungan intim.”
Wanita yang tengah hamil didepannya ini hanya bisa menggelengkan kepala. Mika benar-benar tidak menyangka apa yang tengah terjadi di antara bos nya dengan teman baiknya itu.
“ Astaga Ose. Lo udah sejauh itu.” lirih Mika.
“ Gua juga ga nyangka bakal sejauh ini Ka. Gua gada cara lain buat mempertahankan posisi gua di perusahaan itu.”
“ Tapi lo bisa aja cerita ke gua, gua pasti bantui lo buat cari cara agar dapat kerja selain menjadi wanita seperti itu Ose.”
“ Gua juga mau cerita ke lo, kalo seandainya gua ga denger kalo lo lagi hamil. “
Rose dan Mika kembali terdiam. Mereka berdua sama-sama berada didalam masalah yang rumit. Pikiran mereka buntu, berusaha memutar balikkan otak agar memikirkan jalan keluar dari setiap masalah.
Rose menggenggam tangan Mika, seolah menyalurkan semangat dalam dirinya. Padahal ia sama sekali tidak punya semangat untuk menjalani hidup yang terlalu kejam kepadanya.
Mendapati tangannya yang digenggam, Mika mengeratkan genggaman nya. Mika menatap mata Rose lekat.
“ Ose. Kalo seandainya gua suruh lo buat berhenti bekerja di perusahaan Cle, lo mau ?” tanya Mika.
“ Kalo itu bisa lepasin gua dari Cle. Gua mau. Gua sepertinya sudah mulai punya perasaan sama pria itu.” jujur Rose.
Mika menghembuskan nafasnya gusar. Ternyata hubungan Rose memang sudah terlalu jauh.
“ Yaudah, gua coba berusaha cari kontak temen lama gua yang punya perusahaan juga.”
Rose mengangguk. Kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Mika. Gadis cantik itu berdiri, disusul oleh Mika yang berada disebelahnya.
“ Kabari gua aja Ka. Gua mau berangkat kerja dulu. Oh iya, nanti gua boleh nginap di kost?”
Mika mengangguk semangat. “ Gua senang kalo lo nginap di kost gua, gua jadi punya temen kalo malam.”
Rose tersenyum.” Gua pergi dulu ya. Hati-hati di kost.” Rose membungkuk mensejajarkan kepalanya di perut Mika. “ Aunty pergi dulu dedek bayi. Jagain Mama ya.”
Kemudian Rose berlalu pergi meninggalkan Mika yang berdiri diambang pintu sambil menatap Rose yang semakin lama semakin menghilang dari gank.
________
Semua pasang mata melihat Rose ketika gadis itu sudah masuk ke kantor. Mungkin karna mereka kaget Rose baru kerja jam sembilan pagi sedangkan seharusnya kerja jam 7.15.
Dengan langkah berani, Rose meraih ganggang pintu ruangan didepannya ini lalu dibukanya. Aroma vanilla menyeruak kedalam penciuman Rose.
Keadaan ruangan kosong, tidak ada Miracle. Entah kemana pria itu Rose juga tidak tau. Tidak biasanya Miracle jam segini, tidak berada diruangannya.
Rose mengedikkan bahunya acuh kemudian berjalan ke arah meja tempat dirinya bekerja. Dilihat begitu banyak berkas-berkas tumpukan yang harus diselesaikannya hari ini.
Rose menghela nafasnya malah, lalu memdudukkan bokongnya di kursi dan mulai berkutat dengan komputer dihadapannya.
Tidak lama suara decitan pintu membuat fokus Rose teralih menatap sumber suara. Dapat dilihat, Miracle dengan jas kantornya sedang berdiri bersidekap d**a.
“ Berani sekali masuk kantor terlambat.” sindir Miracle dari kejauhan.
Rose hanya terdiam, ia tidak ingin berdebat dengan siapa-siapa. Rasanya sudah terlalu capek berurusan dengan Miracle. Mungkin ia akan mengambil jalan sesuai dengan apa yang diucapkan Mika. Ya hanya itu satu-satunya cara agar dirinya terlepas dari Miracle.
“ Saya sedang bicara dengan kamu.” tegur Miracle lagi.
Rose menatap Miracle sejenak, kemudian fokus nya kembali ke komputer. “ Apa si Pak. Saya sedang bekerja.”
Miracle yang melihat kelakuan Rose, lantas berjalan mendekati gadis itu. “ Kamu tidak dengar apa kata saya? Saya tadi mengatakan berani sekali terlambat.”
“ Sengaja.”
“ Rose!” tekan Miracle.
“ Sudahlah pak saya tidak ingin berdebat. Ini tugas saya banyak saya harus selesaikan hari ini.”
“ Salah siapa datang terlambat? Kamu seharusnya sebagai sekretaris harus lebih dahulu datang dari pada saya.”
Rose menghentikan tangannya yang sedang mengetik. Ia menatap pria yang tengah berdiri didekatnya ini. “ Saya sudah tidak betah bekerja dengan bapak.”
Rahang pria didepannya ini mengeras, tatapan tajam kembali dilontarkan kepada Rose.
“ Berani sekali kamu ngomong seperti itu.” kilah Miracle.
Tangan Miracle berada diatas meja Rose. Dengan tubuh nya yang tegap berusaha menyudutkan Rose. Rose menahan nafasnya, ini sudah terlalu dekat.
Rose mencoba mendorong d**a Miracle, tapi sangat sulit karna bobot badan Miracle yang cukup kuat.
“ Pak , ini di kantor.” Ucap Rose agar Miracle menjauh dari nya.
Bukannya menjauh malah pria itu semakin memperkikis jaraknya dengan Rose. “ saya tidak peduli ini dikantor atau tidak. Yang terpenting kamu tidak pernah lancang dengan saya.”
“ emangnya bapak siapa? Bapak cuma sebagai atasan saya disini.” bantah Rose merasa tidak terima dengan perlakuan Miracle yang seenaknya saja.
“ Kamu mungkin lupa kalau kamu juga p*****r ku. “
“ Mungkin sebentar lagi akan berhenti.” ucap Rose yang tiba-tiba berhasil menjauhkan posisi Miracle darinya.
Miracle menatap Rose dingin, tangannya mencengkram dagu Rose kencang hingga membuat gadis itu meringis. Tak lama bibir Miracle menyantap bibir Rose dengan beringas.
“ Jangan pernah bilang seperti itu. Sampai kapan pun, kamu milik aku.”