“Gan, Boleh tidak aku tinggal di rumah ini selagi Nadia belum ditemukan?” Pertanyaan itu membuat Gandi mengurungkan suapan ke dalam mulutnya. Dia menaruh sendok yang sudah muncung dengan nasi dan lauknya ke atas piring. “Maksud kamu apa masih mau di rumah ini? Kamu sudah punya rumah sendiri yang harus kamu urus.” “Ya… senang saja bisa tinggal di rumah suami. Rumah yang aku tempati itu ‘kan rumah hasil kerjaku sendiri selama ini. Beda dong rasanya tinggal di rumah sendiri sama di rumah suami.” Gandi melirik Putri dan langsung menyuapkan nasi yang tadi urung dimasukan ke dalam mulutnya. Dikunyah perlahan nasi itu. “Ya, boleh. Tapi nanti kalau Nadia sudah pulang, tolong kembali ke rumahmu sendiri.” Saat ini otak Gandi sedang penuh dengan pikiran tentang Nadia. Dia tidak ingin berdebat den

